Jumat, 07 Juni 2013

Sahabat Jadi Cinta *1







Disaat senang dan duka, kita selalu bersama. Saling menghibur satu sama lain. Saling menanggung beban bersama. Itu lah yang dinamakan SAHABAT.

*

Yap, SAHABAT. Satu kata itu memang terlihat sepintas hanya sebuah huruf yang tergabung dalam satu kata. Namun memiliki banyak arti yang tersirat di dalam nya.

bisa kita artikan kepada sekelompok siswa-siswi berseragam SMA yang sedang duduk di meja sebuah Cafe. Dimana mereka sedang bercanda tawa riang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Persahabatan mereka sangat erat dan patut untuk diacungi jempol. Jika salah satu dari mereka ada yang ditimpa masalah seperti hal nya Sivia. Sivia shock, sangat ambruk ketika tahu Papa nya meninggal karena sakit jantung.  

Bukan hanya Sivia yang bersedih dalam Duka nya. Namun ke lima sahabat nya –Gabriel, Cakka, Rio, Ashilla, dan Ify- juga ikut bersedih. Karena itu lah yang dinama kan sahabat. Dalam keadaan apapun, senang maupun duka mereka akan sama-sama menghadapinya.

Tidak heran dengan ke solidaritasan ke enam sahabat itu, karena mereka bersahabatan memang sejak kelas 6 SD. Dan bayangkan saja, sekarang mereka sudah duduk dibangku kelas 2 SMA. Sudah 6 tahun mereka bersama-sama dalam suka ataupun duka.

‘Sahabat jadi Cinta’ ya.. kalimat itulah yang dirasakan cewek ini –Ashilla biasa disebut Shilla- kepada salah satu sahabat nya –Gabriel-. Mula nya Shilla hanya merasa nyaman saat sedang berbincang dengan Gabriel, merasa nyambung. Dan entah kapan perasaan aneh itu muncul, Shilla merasakan sakit yang sangat menusuk dari lubuk hati nya yang paling dalam ketika melihat sahabat nya itu bermesraan dengan pacar nya -Angel-

Shilla sangat pintar dalam hal berbohong dan menyembunyikan sesuatu yang memang seharusnya tidak dietahui oleh siapapun, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan. Seperti hal nya ini. Menyembunyikan perasaan nya kepada sahabat nya sendiri.

Dia sadar bahwa perasaan ini tidak wajar. Dia-Ashilla –Sahabat-Gabriel. Berulang kali dia menegaskan hati nya untuk selalu mengingat bahwa Gabriel itu sa-ha-bat-nya. Namun tiang penegasan itu selalu roboh setiap kali Gabriel menatap nya lekat-lekat.

Tatapan itu bukan tatapan cinta atau lain sebagainya. Jika dia berbicara dengan Gabriel, mata Gabriel selalu menatapnya dengan tatapan lain. Beda dengan tatapan ke sahabat cewek nya yang lain.

Bahkan sahabat-sahabat mereka yang lain beranggapan bahwa Gabriel dan Shilla saling punya perasaan. Namun selalu disanggah cepat oleh Gabriel yang akhirnya membuat hati Shilla tersayat-sayat.

Wajar saja tatapan Gabriel berbeda kepada nya. Berhubung mereka berdua lah yang duluan saling kenal. Shilla dan Gabriel sudah bersahabat sejak kelas 4 SD. Ketika kelas 5 SD mereka berdua sekelas lagi dan bertemu dengan ke empat sahabat lainnya.

“Shil temenin gue yuk” suara yang sangat tak asing baginya itu memecahkan tawa riang mereka. Shilla sangat hafal itu suara siapa. Gabriel.

“eh kemana?” tanya Shilla heran. 

Dengan terburu-buru Gabriel mengambil jaket kulit hitam nya dari sandaran kursi yang di dudukinya tadi, lalu menarik tangan Shilla “guys gue sama kecebong satu duluan ya, ada urusan.” Pamit Gabriel kepada sahabat-sahabat nya.

Tak heran, dalam keadaan terburu-buru seperti ini, Gabriel masih sempatnya mengejek Shilla.

“Kecebong satu? Kecebong? Siapa kecebong maksud lo?” Shilla menghentikan langkah nya. melotot ke arah Gabriel dan hanya dibalas dengan cengiran khas Gabriel. “sekali lagi lo bilang gue kecebong, ga bakal sudi gue nemenin lo kemana-mana lagi.” ancam Shilla.

“eh.. eh iya deh Shilla. Shilla cantik jangan ngambek ya. Gue kan becanda. Ah lo mah ga asik.” Bujuk Gabriel sedikit mencolek dagu Shilla. Tingkah mereka berdua memang selalu begini. Hanya geleng-geleng dan ketawa-ketiwi yang dapat dilakukan sahabat mereka ketika melihat mereka berdua bertengkar seperti ini.

“yaudah ayo, ngajak pergi mah ngajak aja, gausah colek-colek segala.” Jawab Shilla ketus akrena sudah merasa risih.

“iya deh iya..” pasrah Gabriel. “gue pergi dulu ya.” Pamit nya lagi kepada ke empat sahabat nya yang masih tertawa melihat tingkah mereka berdua.

“iya.. hati-hati ya lo.” Teriak Rio yang langsung disambung oleh Cakka “pacaran jangan sampe malem-malem hahaha.” Yang diikuti tawa sahabat-sahabat nya. Gabriel menarik tangan Shilla hingga kini berada di samping motor gede merah milik Gabriel.

Shilla heran, langsung melepaskan cengkraman erat tangan Gabriel dari pergelangan tangan nya dan bertanya “kita mau kemana sih Iel? Tiba-tiba narik tangan gu…” perkataan Shilla terhenti.

Gabriel mengulurkan helm nya kepada Shilla yang membuat perkataan Shilla tadi terhenti. “tuh pake buruan.” Suruh Gabriel. Shilla masih bingung, heran, terdiam.

“ck.. lo pake bengong lagi etdah. Ga bisa pake helm sendiri lo? perlu gue pakein? sini gue pakein” Gabriel  menarik helm yang berada ditangan Shilla dan memasangkan nya ke kepala Shilla. Shilla makin heran, terdiam dan seperti orang yang habis dihipnotis. Benar saja, Shilla habis di hipnotis. Bukan, bukan karena penjahat. Tapi karena ketampanan Gabriel yang saat ini sedang dilihat nya dengan sangat dekat.

Hembusan nafas Gabriel kini sangat terasa diwajah Shilla berhubung Gabriel sedang memasangkan helm nya ke kepala Shilla. Tanpa disadari, tangan Gabriel memegangi dagu Shilla dan memutar kepala Shilla ke kiri karena kesulitan mencari pengunci helm nya.

Cklek. Kini helm sudah terkunci. Shilla masih terdiam, membisu. “heh, ngapain lo diem? Ayo buruan naik.” Suara Gabriel membuyarkan lamunan Shilla. Shilla baru sadar kalo kini Gabriel sudah naik ke motornya. “eh.. i.. iya.. iya.” Shilla berusaha menghilangkan kesaltingannya.
Tumben sekali Gabriel memakai motor nya ini untuk nongkrong bersama sahabat-sahabat nya. Dalam perjalanan Shilla bertanya kepada Gabriel “tumben banget lo pake motor? Biasanya juga pake mobil mahal lo. mana tuh mobil mahal? Udah lo jual? Apa lo ancurin tuh mobil?” tanya Shilla menyindir.

Tak heran, Gabriel memang anak orang kaya. Dia anak tunggal, orang tua nya sibuk di luar negeri. Jadi dia hanya diberi kasih sayang dengan barang-barang mahal. Apa saja yang dia mau, tinggal tunjuk, minta ke Papi nya pasti bakal langsung dikirim ke Indonesia.

Bukan hanya Gabriel saja yang latar belakang nya anak orang kaya atau terpandang. Namun ke enam sahabat ini semua nya berlatar belakang baik. Dengan keluarga yang kaya raya dan terpandang. Bahkan sekolah mereka yang bernama SMA BEROEMD itu kepunyaan Papa Gabriel.

Tak heran semua guru-guru disekolah itu sangat menghormati Gabriel. Karena warisan atas kepemilikan sekolah ini nanti akan diberikan sepenuhnya oleh papa Gabriel kepada Gabriel. Bahkan dari kelas 1 hingga kelas 2 SMA sekarang, Gabriel bersama ke lima sahabat nya selalu sekelas. Siapa lagi yang mengatur jika bukan Gabriel yang memintanya?

*

Di Restoran yang baru ditinggali Gabriel dan Shilla tadi, ke empat sahabat mereka sedang berbincang serius

“kalian nyadar ga sih, si Gabriel perhatian banget ke Shilla?” mulai Cakka. benar saja, kecurigaan itu terlihat jelas oleh ke empat sahabat nya ini. “bener banget tuh, kayak orang pacaran aja.” Jawab Sivia dengan polosnya, yang langsung disambung oleh Ify “tiap kita tanyain mereka saling suka apa engga, eh selalu aja jawabnya engga.” Rio menggelang-geleng kan kepala nya heran.

Ify yang tadi nya sedang menyedot minuman nya, kini meletakkan gelas nya ke meja dan mulai membuka suara “jangan nethink dulu lah, kan mereka udah kenal sejak lama sebelum mereka kenal kita. Makanya mereka dekat banget.” Bela Ify. Cakka, Sivia, dan Rio heran. Kenapa Ify selalu membela hubungan Gabriel dan Shilla.

Ify selalu berbeda pendapat dengan sahabat nya yang lain dalam hal ini. Ify selalu membela hubungan Gabriel dan Shilla. Lebih tepatnya dia membela Gabriel. Ify selalu cemburu setiap melihat kedekatan Gabriel dan Shilla. Apalagi melihat Gabriel pacaran dengan Angel.

Benar saja, Ify suka dengan Gabriel. Namun Ify sama dengan Shilla, sangat hebat mengunci rapat-rapat perasaan nya. Dia membela Gabriel sebenarnya demi perasaannya sendiri. Agar dia tidak merasakan sakit yang sangat pedih. Dan juga sebagai tiang di hati nya, menegaskan hatinya bahwa Shilla dan Gabriel itu hanya sahabat. Ga lebih.

Rio yang sedari tadi melihat kegelisahan diwajah Ify semenjak Shilla dan Gabriel pergi tadi, merasa heran. Dia sudah tak tahan untuk bertanya dan memastikan kebenarannya kepada Ify

“gue liat lo dari tadi lo gelisah Fy, kenapa?” tanya Rio curiga. Yang diikuti anggukan Sivia dan Cakka. “eh.. ga.. gapapa kok.. gapapa. Gerah aja gue. Panas ya?” alasan nya menghilang kan kecemburuannya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

“Oh.. kirain.” sindir Rio sinis. Ify yang takut sahabat-sahabatnya mencurigainya, dengan gugup bertanya “ki.. kirain ap..a Yo?” tanya Ify gugup. Belum sempat Rio menjawab, dengan polos nya Sivia menjawab “kirain lo itu cemburu ngeliat Gabriel sama Shilla. Mana tau aja kan lo suka sama Gab… aww.” Sivia yang sedang menyuap ice cream nya kini meringis kesakitan karena Cakka baru saja menginjak kaki Sivia mengkode agar jangan sampai keceplosan. Cakka menyuruh Sivia untuk diam.

Sivia memang sangat polos seperti anak-anak dan tidak bisa menjaga rahasia. Sivia protes kepada Cakka karena kaki nya sakit diinjak Cakka barusan “apaan sih lo Cak pake nginjek kak…” lagi-lagi Sivia terhenti berbicara. Kali ini Cakka membekap mulut Sivia agar diam. Cakka melotot kepada Sivia memberitahu agar diam dan tidak membahas masalah tadi lagi. sivia kini mengangguk tanda mengerti dan membentuk huruf O dimulutnya.

Ify yang heran melihat tingkah sahabatnya yang satu ini, mengerutkan kening nya dan bertanya “lo kenapa Vi?” tanya Ify heran kepada Sivia. “eh.. gaada kok Fy.. ga ada.. hehe..” jawab Sivia bohong. Rio yang melihat tingkah Sivia dan Cakka hanya senyum-senyum dan menggelengkan sedikit kepala nya.

Bersambung...

1 komentar: