Disaat senang dan duka, kita selalu bersama. Saling menghibur satu sama lain. Saling menanggung beban bersama. Itu lah yang dinamakan SAHABAT.
*
Yap, SAHABAT. Satu kata itu memang terlihat
sepintas hanya sebuah huruf yang tergabung dalam satu kata. Namun memiliki
banyak arti yang tersirat di dalam nya.
bisa kita artikan kepada sekelompok siswa-siswi
berseragam SMA yang sedang duduk di meja sebuah Cafe. Dimana mereka sedang
bercanda tawa riang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Persahabatan mereka sangat erat dan patut untuk
diacungi jempol. Jika salah satu dari mereka ada yang ditimpa masalah seperti
hal nya Sivia. Sivia shock, sangat ambruk ketika tahu Papa nya meninggal karena
sakit jantung.
Bukan hanya Sivia yang bersedih dalam Duka nya.
Namun ke lima sahabat nya –Gabriel, Cakka, Rio, Ashilla, dan Ify- juga ikut
bersedih. Karena itu lah yang dinama kan sahabat. Dalam keadaan apapun, senang
maupun duka mereka akan sama-sama menghadapinya.
Tidak heran dengan ke solidaritasan ke enam
sahabat itu, karena mereka bersahabatan memang sejak kelas 6 SD. Dan bayangkan
saja, sekarang mereka sudah duduk dibangku kelas 2 SMA. Sudah 6 tahun mereka
bersama-sama dalam suka ataupun duka.
‘Sahabat jadi Cinta’ ya.. kalimat itulah yang
dirasakan cewek ini –Ashilla biasa disebut Shilla- kepada salah satu sahabat
nya –Gabriel-. Mula nya Shilla hanya merasa nyaman saat sedang berbincang
dengan Gabriel, merasa nyambung. Dan entah kapan perasaan aneh itu muncul,
Shilla merasakan sakit yang sangat menusuk dari lubuk hati nya yang paling
dalam ketika melihat sahabat nya itu bermesraan dengan pacar nya -Angel-
Shilla sangat pintar dalam hal berbohong dan
menyembunyikan sesuatu yang memang seharusnya tidak dietahui oleh siapapun,
kecuali dirinya sendiri dan Tuhan. Seperti hal nya ini. Menyembunyikan perasaan
nya kepada sahabat nya sendiri.
Dia sadar bahwa perasaan ini tidak wajar. Dia-Ashilla
–Sahabat-Gabriel. Berulang kali dia menegaskan hati nya untuk selalu mengingat
bahwa Gabriel itu sa-ha-bat-nya. Namun tiang penegasan itu selalu roboh setiap
kali Gabriel menatap nya lekat-lekat.
Tatapan itu bukan tatapan cinta atau lain
sebagainya. Jika dia berbicara dengan Gabriel, mata Gabriel selalu menatapnya
dengan tatapan lain. Beda dengan tatapan ke sahabat cewek nya yang lain.
Bahkan sahabat-sahabat mereka yang lain
beranggapan bahwa Gabriel dan Shilla saling punya perasaan. Namun selalu
disanggah cepat oleh Gabriel yang akhirnya membuat hati Shilla tersayat-sayat.
Wajar saja tatapan Gabriel berbeda kepada nya.
Berhubung mereka berdua lah yang duluan saling kenal. Shilla dan Gabriel sudah
bersahabat sejak kelas 4 SD. Ketika kelas 5 SD mereka berdua sekelas lagi dan
bertemu dengan ke empat sahabat lainnya.
“Shil temenin gue yuk” suara yang sangat tak asing
baginya itu memecahkan tawa riang mereka. Shilla sangat hafal itu suara siapa.
Gabriel.
“eh kemana?” tanya Shilla heran.
Dengan terburu-buru Gabriel mengambil jaket
kulit hitam nya dari sandaran kursi yang di dudukinya tadi, lalu menarik tangan
Shilla “guys gue sama kecebong satu duluan ya, ada urusan.” Pamit Gabriel
kepada sahabat-sahabat nya.
Tak heran, dalam keadaan terburu-buru seperti
ini, Gabriel masih sempatnya mengejek Shilla.
“Kecebong satu? Kecebong? Siapa kecebong maksud
lo?” Shilla menghentikan langkah nya. melotot ke arah Gabriel dan hanya dibalas
dengan cengiran khas Gabriel. “sekali lagi lo bilang gue kecebong, ga bakal
sudi gue nemenin lo kemana-mana lagi.” ancam Shilla.
“eh.. eh iya deh Shilla. Shilla cantik jangan
ngambek ya. Gue kan becanda. Ah lo mah ga asik.” Bujuk Gabriel sedikit mencolek
dagu Shilla. Tingkah mereka berdua memang selalu begini. Hanya geleng-geleng
dan ketawa-ketiwi yang dapat dilakukan sahabat mereka ketika melihat mereka
berdua bertengkar seperti ini.
“yaudah ayo, ngajak pergi mah ngajak aja,
gausah colek-colek segala.” Jawab Shilla ketus akrena sudah merasa risih.
“iya deh iya..” pasrah Gabriel. “gue pergi dulu
ya.” Pamit nya lagi kepada ke empat sahabat nya yang masih tertawa melihat
tingkah mereka berdua.
“iya.. hati-hati ya lo.” Teriak Rio yang
langsung disambung oleh Cakka “pacaran jangan sampe malem-malem hahaha.” Yang
diikuti tawa sahabat-sahabat nya. Gabriel menarik tangan Shilla hingga kini
berada di samping motor gede merah milik Gabriel.
Shilla heran, langsung melepaskan cengkraman
erat tangan Gabriel dari pergelangan tangan nya dan bertanya “kita mau kemana
sih Iel? Tiba-tiba narik tangan gu…” perkataan Shilla terhenti.
Gabriel mengulurkan helm nya kepada Shilla yang
membuat perkataan Shilla tadi terhenti. “tuh pake buruan.” Suruh Gabriel.
Shilla masih bingung, heran, terdiam.
“ck.. lo pake bengong lagi etdah. Ga bisa pake
helm sendiri lo? perlu gue pakein? sini gue pakein” Gabriel menarik helm yang berada ditangan Shilla dan
memasangkan nya ke kepala Shilla. Shilla makin heran, terdiam dan seperti orang
yang habis dihipnotis. Benar saja, Shilla habis di hipnotis. Bukan, bukan
karena penjahat. Tapi karena ketampanan Gabriel yang saat ini sedang dilihat
nya dengan sangat dekat.
Hembusan nafas Gabriel kini sangat terasa
diwajah Shilla berhubung Gabriel sedang memasangkan helm nya ke kepala Shilla.
Tanpa disadari, tangan Gabriel memegangi dagu Shilla dan memutar kepala Shilla
ke kiri karena kesulitan mencari pengunci helm nya.
Cklek. Kini helm sudah terkunci. Shilla masih
terdiam, membisu. “heh, ngapain lo diem? Ayo buruan naik.” Suara Gabriel
membuyarkan lamunan Shilla. Shilla baru sadar kalo kini Gabriel sudah naik ke
motornya. “eh.. i.. iya.. iya.” Shilla berusaha menghilangkan kesaltingannya.
Tumben sekali Gabriel memakai motor nya ini
untuk nongkrong bersama sahabat-sahabat nya. Dalam perjalanan Shilla bertanya
kepada Gabriel “tumben banget lo pake motor? Biasanya juga pake mobil mahal lo.
mana tuh mobil mahal? Udah lo jual? Apa lo ancurin tuh mobil?” tanya Shilla
menyindir.
Tak heran, Gabriel memang anak orang kaya. Dia
anak tunggal, orang tua nya sibuk di luar negeri. Jadi dia hanya diberi kasih
sayang dengan barang-barang mahal. Apa saja yang dia mau, tinggal tunjuk, minta
ke Papi nya pasti bakal langsung dikirim ke Indonesia.
Bukan hanya Gabriel saja yang latar belakang nya anak orang kaya atau
terpandang. Namun ke enam sahabat ini semua nya berlatar belakang baik. Dengan
keluarga yang kaya raya dan terpandang. Bahkan sekolah mereka yang bernama SMA
BEROEMD itu kepunyaan Papa Gabriel.
Tak heran semua guru-guru disekolah itu sangat menghormati Gabriel.
Karena warisan atas kepemilikan sekolah ini nanti akan diberikan sepenuhnya oleh
papa Gabriel kepada Gabriel. Bahkan dari kelas 1 hingga kelas 2 SMA sekarang,
Gabriel bersama ke lima sahabat nya selalu sekelas. Siapa lagi yang mengatur
jika bukan Gabriel yang memintanya?
*
Di Restoran yang baru ditinggali Gabriel dan
Shilla tadi, ke empat sahabat mereka sedang berbincang serius
“kalian nyadar ga sih, si Gabriel perhatian
banget ke Shilla?” mulai Cakka. benar saja, kecurigaan itu terlihat jelas oleh
ke empat sahabat nya ini. “bener banget tuh, kayak orang pacaran aja.” Jawab
Sivia dengan polosnya, yang langsung disambung oleh Ify “tiap kita tanyain
mereka saling suka apa engga, eh selalu aja jawabnya engga.” Rio menggelang-geleng
kan kepala nya heran.
Ify yang tadi nya sedang menyedot minuman nya,
kini meletakkan gelas nya ke meja dan mulai membuka suara “jangan nethink dulu
lah, kan mereka udah kenal sejak lama sebelum mereka kenal kita. Makanya mereka
dekat banget.” Bela Ify. Cakka, Sivia, dan Rio heran. Kenapa Ify selalu membela
hubungan Gabriel dan Shilla.
Ify selalu berbeda pendapat dengan sahabat nya
yang lain dalam hal ini. Ify selalu membela hubungan Gabriel dan Shilla. Lebih
tepatnya dia membela Gabriel. Ify selalu cemburu setiap melihat kedekatan Gabriel
dan Shilla. Apalagi melihat Gabriel pacaran dengan Angel.
Benar saja, Ify suka dengan Gabriel. Namun Ify
sama dengan Shilla, sangat hebat mengunci rapat-rapat perasaan nya. Dia membela
Gabriel sebenarnya demi perasaannya sendiri. Agar dia tidak merasakan sakit
yang sangat pedih. Dan juga sebagai tiang di hati nya, menegaskan hatinya bahwa
Shilla dan Gabriel itu hanya sahabat. Ga lebih.
Rio yang sedari tadi melihat kegelisahan
diwajah Ify semenjak Shilla dan Gabriel pergi tadi, merasa heran. Dia sudah tak
tahan untuk bertanya dan memastikan kebenarannya kepada Ify
“gue liat lo dari tadi lo gelisah Fy, kenapa?”
tanya Rio curiga. Yang diikuti anggukan Sivia dan Cakka. “eh.. ga.. gapapa
kok.. gapapa. Gerah aja gue. Panas ya?” alasan nya menghilang kan
kecemburuannya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Oh.. kirain.” sindir Rio sinis. Ify yang takut
sahabat-sahabatnya mencurigainya, dengan gugup bertanya “ki.. kirain ap..a Yo?”
tanya Ify gugup. Belum sempat Rio menjawab, dengan polos nya Sivia menjawab
“kirain lo itu cemburu ngeliat Gabriel sama Shilla. Mana tau aja kan lo suka
sama Gab… aww.” Sivia yang sedang menyuap ice cream nya kini meringis kesakitan
karena Cakka baru saja menginjak kaki Sivia mengkode agar jangan sampai
keceplosan. Cakka menyuruh Sivia untuk diam.
Sivia memang sangat polos seperti anak-anak dan
tidak bisa menjaga rahasia. Sivia protes kepada Cakka karena kaki nya sakit
diinjak Cakka barusan “apaan sih lo Cak pake nginjek kak…” lagi-lagi Sivia
terhenti berbicara. Kali ini Cakka membekap mulut Sivia agar diam. Cakka
melotot kepada Sivia memberitahu agar diam dan tidak membahas masalah tadi
lagi. sivia kini mengangguk tanda mengerti dan membentuk huruf O dimulutnya.
Ify yang heran melihat tingkah sahabatnya yang
satu ini, mengerutkan kening nya dan bertanya “lo kenapa Vi?” tanya Ify heran kepada
Sivia. “eh.. gaada kok Fy.. ga ada.. hehe..” jawab Sivia bohong. Rio yang
melihat tingkah Sivia dan Cakka hanya senyum-senyum dan menggelengkan sedikit
kepala nya.

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus