“ya naik ke motor gue lah, lo mau gue anterin ga? Kalo engga yaudah,
gue pergi. Tapi, kalo sampe preman tadi dateng, jangan salahin gue.” Ancam nya
sambil mengulurkan helm yang satunya lagi kepada Shilla. Shilla masih diem.
Takut di apa-apain sama Cakka. Kan dia selama ini kenal Cakka sebagai musuhnya.
“kenapa diem? Lo ragu? Apa lo takut gue apa-apain? Atau gue bawa
kemana-mana? Ga bakal… gue anak baik-baik kok. Ayo naik.” Lanjut Cakka yang
seakan-akan sudah tahu maksud Shilla. Kali ini dia ga ngomong kasar seperti
biasanya, malahan dia memancarkan senyuman tipis dari bibirnya kepada Shilla.
Senyuman itu… Shilla tersadar dari lamunan nya.
“awas lo ya, kalo sampe gue kenapa-kenapa, gue tuntut lo.” Shilla
menerima helm yang ditawari Cakka tadi dan memakaikan ke kepalanya tetapi dia
kesusahan ketika mengunci helm nya. “ini gimana sih ngunci nya?” Shilla
bertanya seperti orang bodoh ke Cakka dan masih sibuk dengan helmnya sedari
tadi.
“yee.. gini aja masa ga bisa? Sini sini..” Cakka membantu Shilla
mengunci helm nya, tapi ada sesuatu yang membuat Shilla kaget. Wajah Cakka
hanya berjarak kurang dari 30cm dari wajah nya, tampak jelas mata indah Cakka
olehnya. Shilla meneguk ludah. Dia baru sadar kalo Cakka memang ganteng. Mereka
bertatapan cukup lama sampe akhirnya CKLEK bunyi helm terkunci pun memudarkan
pandangan mereka.
“eh.. hm.. tuh udah tuh. Ayo naik.” Cakka memasang helm nya sendiri
dan Shilla menaiki motor nya. Lagi-lagi Shilla dibuat salting oleh cowok ini.
Cakka menstarter motor nya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
**
Di perjalanan Shilla merasa
lapar. Karena perjalanan kerumah nya masih jauh, dia mengajak Cakka mampir
untuk makan dulu. Dia ga peduli siapa yang dia ajak makan sekarang. Yang
penting sekarang dia kelaparan.
“eh gue laper nih, mampir makan disitu dulu yuk.” Ajak nya ke Cakka.
Kebetulan Shilla melihat ada Restoran. Di ajak nya aja Cakka buat minggir
mampir dulu.
“yee.. lo mah makan mulu. Yaudah deh iya iya..” Cakka memarkirkan
motor nya di depan Restoran itu.
Sekarang Shilla sama Cakka sudah duduk di meja Restoran itu. Mereka
sudah memesan makanan. Namun setelah nya hanya ada keheningan. Tak ada yang
bersuara baik Shilla maupun Cakka. 20 menit lama nya mereka menunggu makanan,
akhirnya datang juga pelayan dengan kemeja putih dan rok hitam nya ke meja
Shilla dan Rama duduk mengantar kan pesanannya.
Shilla melahap makanan nya dengan sangat cepat seperti orang yang
berhari-hari tidak makan. Maklum saja, sedari pagi dia tidak makan karena Ify
sudah datang lebih awal dari yang di bayangkannya. Jadilah dia tidak sarapan.
Cakka yang melihat Shilla makan dengan sangat lahap seperti itu hanya
melihat aneh kea rah Shilla. Gadis ini tidak memperdulikan apa yang sedang ada
di otak cowok rese satu itu. Yang dia tau hanya MAKAN.
“lo laper atau apa sih? Rakus banget.” Shilla melihat tajam kea rah
Cakka yang masih lanjut menyantap makanan nya setelah berbicara seperti itu
kepada Shilla.
“biarin.”
“tadi pagi ga sarapan lo?” tanya Cakka kali ini yang menghentikan
melahap makanan nya.
“ga” jawab Shilla seadanya. Shilla tak begitu menghiraukan pertanyaan
Cakka. Dia masih berkonsentrasi dengan makanan lezat yang ada dihadapannya saat
ini.
“yee.. di tanyain baik-baik juga.”
“trus lo mau gue jawab apa? Lo mau gue jawab dengan senyuman trus
dengan kata-kata yang manis gitu?” sinis Shlla. kini Shilla sudah menghentikan
aktifitas makan nya.
“setidak nya yang lebih baik gitu.”
“males banget.” Jawab Shilla jutek. Cakka hanya mendengus kesal.
Terdengar jelas oleh Shilla dia menarik nafas pelan lalu membuang nya. Mencoba
bersabar sepertinya.
Shilla tersenyum licik karena merasa puas mengerjai cowok rese di
depan nya saat ini. Walaupun cowok ini sudah membantu nya dari preman-preman
tadi, tapi dia masih ingin membalas dendam kepada cowok itu atas kejadian
beberapa hari belakangan ini.
Ide jail pun datang lagi dari otak Shilla. Shilla meneguk air putih
sedikit lalu langsung berdiri dan mengambil tas nya “yuk pulang.” Ajak nya
tanpa menoleh sedikit pun kepada Cakka. Tapi dia tahu kalo Cakka sekarang tengah melotot menatapnya. karena
memang itu lah tujuan Shilla, membuat Cakka marah, kesal.
Shilla sengaja mengajak nya untuk pulang, sebenarnya Shilla masih nyaman
untuk duduk dulu di Restoran ini. Namun ide jail di otak nya sudah
menggebu-gebu untuk mengerjai cowok rese ini.
“lo gila apa ya? Makanan gue belum habis udah lo ajak pulang aja.”
Cakka itu melotot dengan makanan masih dimulut. Kini Shilla menatap nya
kembali, mendekatkan wajah nya kepada Cakka. “ga peduli.” Tegas Shill.. Dengan
senyum puas dia langsung pergi meninggalkan Cakka untuk keluar dari Restoran
itu duluan.
*
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar