@
taman belakang sekolah
Shilla duduk dibawah Pohon Rindang sambil
terisak tangis. Dia merasa bersalah dengan Gabriel atas sikap kasar nya tadi.
Dia tidak tega sebenarnya, tapi ini demi menjaga perasaan Ify. Dia tidak mau
kehilangan sahabat baik nya.
“maafin gue Iel, maaf beribu maaf. Gue harus
ngelakuin ini demi persahabatan kita” lirih Shilla. Ingin rasanya saat ini juga
dia berteriak sekencang mungkin tapi rasanya tidak mungkin.
“gue ga mau kehilangan Ify, Iel Cuma gara-gara
lo selalu kasih perhatian ke gue. gue ga tega ngeliat Ify selalu terpuruk kalo
ngeliat lo kasih perhatian ke gue. maaf gue harus ngelakuin ini. gue mau lo
sama Ify bersatu. Gue rela kok ngerelain cinta gue buat Ify” ujar Shilla masih
terisak tangis.
Di balik pohon lain yang jarak nya tidak
terlalu jauh dari tempat Shilla duduk, seorang gadis sedang mendengar perkataan
Shilla tadi. Dia membekap mulutnya kaget tak percaya ternyata ini alasan dari
semuanya. Ini alasan kenapa Shilla menjauh dari Gabriel.
“lo ga harus ngelakuin ini semua Shil. Lo ga
harus ngerelain cinta lo. gue yakin suatu saat nanti lo akan bersatu sama Iel.
Gue yakin” ujar gadis itu lalu dia pergi meninggalkan taman belakang sekolah.
*
Lagi-lagi Shilla tidak konsen belajar. Semenjak
kejadian di kantin tadi, Shilla tidak membuka suara sedikit pun. Tak ada satu
pun sahabat nya yang berani mengajak Shilla berbicara atau menyinggung masalah
di kantin tadi.
Ify juga ikut-ikutan tak konsen belajar karena
memikirkan masalah Shilla dan Gabriel di kantin tadi.
“gue harus ngelakuin sesuatu biar Shilla sama
Gabriel baikan lagi. gue harus minta bantuan Rio. Cuma dia yang bisa tolongin
gue” batin Ify. Ify langsung mengambil handphone nya yang ada di saku baju.
Seperti nya dia mengirim pesan kepada seseorang.
*
Di meja Gabriel dan Rio juga sama dengan meja
Shilla dan Ify. Rio melihat Gabriel yang melamun seperti tadi pagi. Tapi kali
ini Gabriel tampak lebih frustasi. Rio juga tak tega melihat Gabriel yang
terus-terusan seperti itu.
Tiba-tiba handphone Rio bergetar menandakan ada
pesan masuk. Langsung Rio meraih handphone nya yang di saku celana nya.
Dilihatnya pesan dari Ify.
From:
Ify
Yo, lo
harus bantuin gue. nanti pulang sekolah gue jelasin. Ini genting masalah
Gabriel sama Shilla.
Rio langsung melihat ke meja sebelah kiri nya.
Dimana Ify duduk disana. Ify memasang wajah memelas nya menandakan “please Yo
bantuin gue”. Rio mengangguk menandakan “oke”. Ify senang sekali karena Rio
akhirnya mau membantu.
Sebenarnya Rio bingung kenapa Ify sangat ingin
membantu Shilla dan Gabriel. Rio sendiri juga masih bingung apa tujuan dan
rencana Ify.
*
TEEETTT
Bel pulang sekolah sudah berkumdang (?).
murid-murid pun dengan riang nya menginjakan kaki keluar kelas.
“Shil, pulang sama siapa?” tanya Ify sambil
membereskan buku-buku di meja ke dalam tas nya.
“gue bawa mobil kok” jawab Shilla juga sambil
membereskan buku nya.
“hmm.. main ke rumah gue yuk” ajak Ify. Dia
sudah mengatur semua strategi nya. Selama belajar tadi dia tidak memperhatikan.
Dia sibuk sms-an dengan Rio mengatur semua strategi nya.
“yaudah, jalan sekarang yuk” Shilla tidak
curiga kenapa Ify mengajaknya ke rumah Ify. Karena Ify memang sering mengajak
Shilla sepulang sekolah ke rumah Ify.
Mereka berjalan meninggalkan kelas menuju
parkiran dimana mobil Shilla parkir. Sepanjang jalan menuju parkiran, Ify sibuk
mengetik handphone nya. Shilla heran. Tidak biasanya Ify mengetik sambil jalan.
“Fy..” panggil Shilla.
“hmm” jawab Ify masih menunduk mengetik di
handphone nya.
“sibuk banget lo. emang ngapain sih?” tanya
Shilla.
“ngg.. ga ada. Lagi ngestalk twitter orang aja
hehe” alibi Ify lalu langsung memasukan handphone nya ke saku baju.
Shilla mengangguk saja. Lalu mereka berdua
langsung masuk ke dalam mobil Shilla.
*
“Yo, kita kemana sih?” tanya Gabriel di dalam
mobil Rio. Sedari tadi dia di paksa masuk ke dalam mobil sama Rio. Padahal dia
sendiri bawa motor.
“udah, lo diem aja. Duduk manis aja disana”
jawab Rio sibuk menyetir mobil nya. Gabriel bingung sendiri kenapa tiba-tiba
Rio memaksa nya begini.
“trus motor gue gimana?” tanya Gabriel.
“lo masih punya mobil kan? Ya udah besok pake
mobil aja. Ribet amat idup lo” jawab Rio santai yang langsung mendapat toyoran
dari Gabriel di kepala nya.
“sakit sarap”
“lo tuh yang ngomong asal jeplak aja. Kalo itu
gue juga tau kali. Maksud gue, nasib motor gue gimana? Tuh motor kesayangan gue
masih di sekolah dodol” kesal Gabriel.
“oh itu.. gampang. Lo kan orang kaya, banyak
uang, punya supir kan pastinya? Punya banyak suruhan kan? Yaudah suruh aja tuh
pembokat atau supir lo jemput” jawab Rio santai.
Gabriel ngangguk-ngangguk “bener juga. Tumben
lo pinter” jawab Gabriel sambil mengacak-acak rambut Rio.
“rusak item rambut gue” protes Rio.
“ye.. kayak lo yang ga item aja” balas Gabriel.
“gue itu hitaci. Beda sama lo” balas Rio.
“hitaci?” tanya Gabriel bingung.
“iya. HItam TApi CIna” jawab Rio garing.
“cina engkong lo muda. Pesek iye” ledek
Gabriel.
“enak aja. Emang dirumah lo kagak ada kaca
Iel?” tanya Rio kini sedikit serius.
“ada, kenapa?” tanya Gabriel.
“tapi kenapa lo masih ga nyadar juga sih kalo
lo itu item, cungkring?”
PLETAAKK
Gabriel berhasil menoyor kepala Rio lagi.
“lo kira kepala gue pintu apa di ketok-ketok?
Sakit, item” protes Rio. Gabriel tidak memperdulikan Rio. Kalo semakin dia
lawan, semakin masalah ga selesai-selesai. Gabriel memilih mengambil handphone
nya lalu membuka aplikasi twitter.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar