Selasa, 25 Juni 2013

Sahabat Jadi Cinta *13


@ taman belakang sekolah

Shilla duduk dibawah Pohon Rindang sambil terisak tangis. Dia merasa bersalah dengan Gabriel atas sikap kasar nya tadi. Dia tidak tega sebenarnya, tapi ini demi menjaga perasaan Ify. Dia tidak mau kehilangan sahabat baik nya.

“maafin gue Iel, maaf beribu maaf. Gue harus ngelakuin ini demi persahabatan kita” lirih Shilla. Ingin rasanya saat ini juga dia berteriak sekencang mungkin tapi rasanya tidak mungkin.

“gue ga mau kehilangan Ify, Iel Cuma gara-gara lo selalu kasih perhatian ke gue. gue ga tega ngeliat Ify selalu terpuruk kalo ngeliat lo kasih perhatian ke gue. maaf gue harus ngelakuin ini. gue mau lo sama Ify bersatu. Gue rela kok ngerelain cinta gue buat Ify” ujar Shilla masih terisak tangis.

Di balik pohon lain yang jarak nya tidak terlalu jauh dari tempat Shilla duduk, seorang gadis sedang mendengar perkataan Shilla tadi. Dia membekap mulutnya kaget tak percaya ternyata ini alasan dari semuanya. Ini alasan kenapa Shilla menjauh dari Gabriel.

“lo ga harus ngelakuin ini semua Shil. Lo ga harus ngerelain cinta lo. gue yakin suatu saat nanti lo akan bersatu sama Iel. Gue yakin” ujar gadis itu lalu dia pergi meninggalkan taman belakang sekolah.

*

Lagi-lagi Shilla tidak konsen belajar. Semenjak kejadian di kantin tadi, Shilla tidak membuka suara sedikit pun. Tak ada satu pun sahabat nya yang berani mengajak Shilla berbicara atau menyinggung masalah di kantin tadi.

Ify juga ikut-ikutan tak konsen belajar karena memikirkan masalah Shilla dan Gabriel di kantin tadi.

“gue harus ngelakuin sesuatu biar Shilla sama Gabriel baikan lagi. gue harus minta bantuan Rio. Cuma dia yang bisa tolongin gue” batin Ify. Ify langsung mengambil handphone nya yang ada di saku baju. Seperti nya dia mengirim pesan kepada seseorang.

*

Di meja Gabriel dan Rio juga sama dengan meja Shilla dan Ify. Rio melihat Gabriel yang melamun seperti tadi pagi. Tapi kali ini Gabriel tampak lebih frustasi. Rio juga tak tega melihat Gabriel yang terus-terusan seperti itu.

Tiba-tiba handphone Rio bergetar menandakan ada pesan masuk. Langsung Rio meraih handphone nya yang di saku celana nya. Dilihatnya pesan dari Ify.

From: Ify
Yo, lo harus bantuin gue. nanti pulang sekolah gue jelasin. Ini genting masalah Gabriel sama Shilla.

Rio langsung melihat ke meja sebelah kiri nya. Dimana Ify duduk disana. Ify memasang wajah memelas nya menandakan “please Yo bantuin gue”. Rio mengangguk menandakan “oke”. Ify senang sekali karena Rio akhirnya mau membantu.

Sebenarnya Rio bingung kenapa Ify sangat ingin membantu Shilla dan Gabriel. Rio sendiri juga masih bingung apa tujuan dan rencana Ify.

*

TEEETTT

Bel pulang sekolah sudah berkumdang (?). murid-murid pun dengan riang nya menginjakan kaki keluar kelas.

“Shil, pulang sama siapa?” tanya Ify sambil membereskan buku-buku di meja ke dalam tas nya.

“gue bawa mobil kok” jawab Shilla juga sambil membereskan buku nya.

“hmm.. main ke rumah gue yuk” ajak Ify. Dia sudah mengatur semua strategi nya. Selama belajar tadi dia tidak memperhatikan. Dia sibuk sms-an dengan Rio mengatur semua strategi nya.

“yaudah, jalan sekarang yuk” Shilla tidak curiga kenapa Ify mengajaknya ke rumah Ify. Karena Ify memang sering mengajak Shilla sepulang sekolah ke rumah Ify.

Mereka berjalan meninggalkan kelas menuju parkiran dimana mobil Shilla parkir. Sepanjang jalan menuju parkiran, Ify sibuk mengetik handphone nya. Shilla heran. Tidak biasanya Ify mengetik sambil jalan.

“Fy..” panggil Shilla.

“hmm” jawab Ify masih menunduk mengetik di handphone nya.

“sibuk banget lo. emang ngapain sih?” tanya Shilla.

“ngg.. ga ada. Lagi ngestalk twitter orang aja hehe” alibi Ify lalu langsung memasukan handphone nya ke saku baju.

Shilla mengangguk saja. Lalu mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil Shilla.

*

“Yo, kita kemana sih?” tanya Gabriel di dalam mobil Rio. Sedari tadi dia di paksa masuk ke dalam mobil sama Rio. Padahal dia sendiri bawa motor.

“udah, lo diem aja. Duduk manis aja disana” jawab Rio sibuk menyetir mobil nya. Gabriel bingung sendiri kenapa tiba-tiba Rio memaksa nya begini.

“trus motor gue gimana?” tanya Gabriel.

“lo masih punya mobil kan? Ya udah besok pake mobil aja. Ribet amat idup lo” jawab Rio santai yang langsung mendapat toyoran dari Gabriel di kepala nya.

“sakit sarap”

“lo tuh yang ngomong asal jeplak aja. Kalo itu gue juga tau kali. Maksud gue, nasib motor gue gimana? Tuh motor kesayangan gue masih di sekolah dodol” kesal Gabriel.

“oh itu.. gampang. Lo kan orang kaya, banyak uang, punya supir kan pastinya? Punya banyak suruhan kan? Yaudah suruh aja tuh pembokat atau supir lo jemput” jawab Rio santai.

Gabriel ngangguk-ngangguk “bener juga. Tumben lo pinter” jawab Gabriel sambil mengacak-acak rambut Rio.

“rusak item rambut gue” protes Rio.

“ye.. kayak lo yang ga item aja” balas Gabriel.

“gue itu hitaci. Beda sama lo” balas Rio.

“hitaci?” tanya Gabriel bingung.

“iya. HItam TApi CIna” jawab Rio garing.

“cina engkong lo muda. Pesek iye” ledek Gabriel.

“enak aja. Emang dirumah lo kagak ada kaca Iel?” tanya Rio kini sedikit serius.

“ada, kenapa?” tanya Gabriel.

“tapi kenapa lo masih ga nyadar juga sih kalo lo itu item, cungkring?”

PLETAAKK

Gabriel berhasil menoyor kepala Rio lagi.

“lo kira kepala gue pintu apa di ketok-ketok? Sakit, item” protes Rio. Gabriel tidak memperdulikan Rio. Kalo semakin dia lawan, semakin masalah ga selesai-selesai. Gabriel memilih mengambil handphone nya lalu membuka aplikasi twitter.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar