“emang lo habis jalan sama siapa Yo?” tanya
Gabriel kali ini serius.
“Ify” jawab Rio singkat. Rio sibuk memainkan bb
nya.
“HAAHHH??!” teriak Gabriel, Cakka dan Alvin
serentak.
“kenapa?” tanya Rio polos tak berdosa (?)
“lo habis jalan sama Ify yang kutu buku,
behelan, pake kacamata dan…?” pertanyaan Cakka terhenti.
“dan apa? jelek gitu maksud lo? iya. Kenapa?
Kaget? Biasa aja kali. Lagian tadi gue juga ga jalan sama dia, Cuma anter dia
pulang trus mampir bentar dirumah nya.” Jawab Rio lagi dengan tampang polos
nya.
“HAAHHH??!” lagi-lagi Gabriel, Cakka dan Alvin
teriak kaget.
“kalian kenapa sih? aneh banget.” Tanya Rio
mengernyitkan dahi nya.
“lo ga jalan sama dia tapi nganterin dia
pulang??!” tanya Gabriel memastikan.
“yap.” Jawab Rio seadanya dan mengangguk.
Gabriel, Cakka dan Alvin menatap Rio cengo.
Mereka bertiga saling bertatapan tak percaya.
“oh iya dan perlu lo semua tau. Ify itu ga
secupu dan sejelak yang kalian kira selama ini.” kata Rio lagi.
“maksud lo?” tanya Alvin tak mengerti.
“mau gue ceritain nih?” tanya Rio. Ketiga
sahabatnya mengangguk cepat.
“beneran?” goda Rio. Ketiga sahabatnya
mengangguk.
“beneran nih beneran?
“beneran?”
“pengen banget ya?”
“Kepo banget?”
“beneran ga nih?”
“ciyus beneran mau?”
“beneran beneran?”
PLETAAKK PLETAAKK PLETAAKK!
Gabriel, Cakka dan Alvin berhasil menoyor
kepala Rio serentak. Mereka kesal karena Rio dari tadi ga jadi-jadi cerita.
“awww… sakit gila!.” Protes Rio sambil
mengusap-usap kepala nya.
“lo sih ngeselin banget.” Ujar Cakka.
“itu balasan karena lo tadi juga mukul kepala
gue.” Sinis Alvin.
“itu hadiah karena lo bikin kita bertiga
penasaran.” Timpal Gabriel.
Rio pasrah “yaudah iya gue ceritain.” Mulai lah
Rio bercerita panjang lebar gimana asli nya Ify. Awalnya ketiga sahabat Rio tak
percaya, namun akhirnya percaya juga karena Rio akan kasih buktinya.
“penasaran gue. Secantik apa sih si Ify asli
nya?” ujar Gabriel.
“liat aja besok.” Tantang Rio. Ketiga
sahabatnya hanya mengangguk-angguk masih membayangkan Ify.
“emang lo udah suka ya sama si Ify?” tanya
Cakka dan Alvin dengan tampang kepo mereka.
“hmm.. engga.” Jawab Rio enteng. Entah lah, dia
sendiri masih belum tahu akan perasaannya. Tapi dia merasa senang dan nyaman
kalo dekat Ify.
Cakka dan Alvin hanya ber Oh ria.
*
Ify sedang melamun di balkon kamar nya. Dia
membayangkan kejadian tadi siang. “gue ga mimpikan? Itu tadi beneran Rio yang
nganterin gue? Dan dia juga bilang gue cantik?” Ify senyum-senyum sendiri
membayangkan kejadian tadi siang.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
Ify langsung berlari ke kaca rias nya di dalam
kamar. Dia menatap dirinya di kaca. Memutar-mutar badannya. Lalu melepas kaca
matanya. Dan mematut dirinya di depan kaca
“apa iya ya gue cantik? Masa sih?” tanya Ify sendiri
masih tak percaya. Dia malah bergaya senarsis mungkin di depan kaca. Gaya dua
jari didekat kepala nya, lalu dengan lidah melet (?) *bayangin deh ya* lalu
dengan gaya semanis mungkin ala-ala model._.
“apa gue pake soft lense aja kali ya?” minus
mata gue kan ga tebal-tebal banget.” Ujar Ify. “besok gue minta temenin
anak-anak deh ke optik beli soft lense.”
Ujar Ify lalu tersenyum dan berjalan ke kasur nya. Dia memilih untuk tidur.
*
Shilla sedang kesal dengan mobil nya.
Malem-malem gini mobil Shilla mogok di jalan yang sepi banget.
“sialan nih mobil pake acara mogok segala. Mana
sepi lagi ihh.” Ujar Shilla.
Tak lama muncul dua orang laki-laki bertampang
seram, berpakaian seperti preman. Shilla melihat dua orang itu takut. “mampus
gue ada preman.” Batin Shilla ketakutan.
“ada cewek cantik nih.” Ujar preman yang
berambut botak ke teman nya.
“yoi. Ngapain neng sendirian malem-malem? Mobil
nya mogok ya? Mending temenin abang-abang yuk.” Goda preman satu nya lagi yang
berambut (?)
“ga.” Jawab Shilla jutek.
“duh cantik-cantik kok jutek sih? ayo laah ikut
kita.” Preman yang berambut botak mulai menarik-narik tangan Shilla.
“ih apaan sih lepasin ga.” Shilla mencoba
menepis kasar tangannya dari tangan preman itu namun percuma. Preman itu lebih
kuat dari pada Shilla.
“lepasin.” Shilla terus berusaha melepas tangan
preman itu dari tangannya.
“WOY LEPASIN DIA!”
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar