Selasa, 25 Juni 2013

You Are My Dream *3


“emang lo habis jalan sama siapa Yo?” tanya Gabriel kali ini serius.

“Ify” jawab Rio singkat. Rio sibuk memainkan bb nya.

“HAAHHH??!” teriak Gabriel, Cakka dan Alvin serentak.

“kenapa?” tanya Rio polos tak berdosa (?)

“lo habis jalan sama Ify yang kutu buku, behelan, pake kacamata dan…?” pertanyaan Cakka terhenti. 

“dan apa? jelek gitu maksud lo? iya. Kenapa? Kaget? Biasa aja kali. Lagian tadi gue juga ga jalan sama dia, Cuma anter dia pulang trus mampir bentar dirumah nya.” Jawab Rio lagi dengan tampang polos nya.

“HAAHHH??!” lagi-lagi Gabriel, Cakka dan Alvin teriak kaget.

“kalian kenapa sih? aneh banget.” Tanya Rio mengernyitkan dahi nya.

“lo ga jalan sama dia tapi nganterin dia pulang??!” tanya Gabriel memastikan.

“yap.” Jawab Rio seadanya dan mengangguk.

Gabriel, Cakka dan Alvin menatap Rio cengo. Mereka bertiga saling bertatapan tak percaya.

“oh iya dan perlu lo semua tau. Ify itu ga secupu dan sejelak yang kalian kira selama ini.” kata Rio lagi.

“maksud lo?” tanya Alvin tak mengerti.

“mau gue ceritain nih?” tanya Rio. Ketiga sahabatnya mengangguk cepat.

“beneran?” goda Rio. Ketiga sahabatnya mengangguk.

“beneran nih beneran?

“beneran?”

“pengen banget ya?”

“Kepo banget?”

“beneran ga nih?”

“ciyus beneran mau?”

“beneran beneran?”

PLETAAKK PLETAAKK PLETAAKK!

Gabriel, Cakka dan Alvin berhasil menoyor kepala Rio serentak. Mereka kesal karena Rio dari tadi ga jadi-jadi cerita.

“awww… sakit gila!.” Protes Rio sambil mengusap-usap kepala nya.

“lo sih ngeselin banget.” Ujar Cakka.

“itu balasan karena lo tadi juga mukul kepala gue.” Sinis Alvin.

“itu hadiah karena lo bikin kita bertiga penasaran.” Timpal Gabriel.

Rio pasrah “yaudah iya gue ceritain.” Mulai lah Rio bercerita panjang lebar gimana asli nya Ify. Awalnya ketiga sahabat Rio tak percaya, namun akhirnya percaya juga karena Rio akan kasih buktinya.

“penasaran gue. Secantik apa sih si Ify asli nya?” ujar Gabriel.

“liat aja besok.” Tantang Rio. Ketiga sahabatnya hanya mengangguk-angguk masih membayangkan Ify.

“emang lo udah suka ya sama si Ify?” tanya Cakka dan Alvin dengan tampang kepo mereka.

“hmm.. engga.” Jawab Rio enteng. Entah lah, dia sendiri masih belum tahu akan perasaannya. Tapi dia merasa senang dan nyaman kalo dekat Ify.

Cakka dan Alvin hanya ber Oh ria.

*

Ify sedang melamun di balkon kamar nya. Dia membayangkan kejadian tadi siang. “gue ga mimpikan? Itu tadi beneran Rio yang nganterin gue? Dan dia juga bilang gue cantik?” Ify senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi siang.

1 detik..
2 detik..
3 detik..

Ify langsung berlari ke kaca rias nya di dalam kamar. Dia menatap dirinya di kaca. Memutar-mutar badannya. Lalu melepas kaca matanya. Dan mematut dirinya di depan kaca

“apa iya ya gue cantik? Masa sih?” tanya Ify sendiri masih tak percaya. Dia malah bergaya senarsis mungkin di depan kaca. Gaya dua jari didekat kepala nya, lalu dengan lidah melet (?) *bayangin deh ya* lalu dengan gaya semanis mungkin ala-ala model._.

“apa gue pake soft lense aja kali ya?” minus mata gue kan ga tebal-tebal banget.” Ujar Ify. “besok gue minta temenin anak-anak deh ke optik  beli soft lense.” Ujar Ify lalu tersenyum dan berjalan ke kasur nya. Dia memilih untuk tidur.

*

Shilla sedang kesal dengan mobil nya. Malem-malem gini mobil Shilla mogok di jalan yang sepi banget.

“sialan nih mobil pake acara mogok segala. Mana sepi lagi ihh.” Ujar Shilla.

Tak lama muncul dua orang laki-laki bertampang seram, berpakaian seperti preman. Shilla melihat dua orang itu takut. “mampus gue ada preman.” Batin Shilla ketakutan.

“ada cewek cantik nih.” Ujar preman yang berambut botak ke teman nya.

“yoi. Ngapain neng sendirian malem-malem? Mobil nya mogok ya? Mending temenin abang-abang yuk.” Goda preman satu nya lagi yang berambut (?)

“ga.” Jawab Shilla jutek.

“duh cantik-cantik kok jutek sih? ayo laah ikut kita.” Preman yang berambut botak mulai menarik-narik tangan Shilla.

“ih apaan sih lepasin ga.” Shilla mencoba menepis kasar tangannya dari tangan preman itu namun percuma. Preman itu lebih kuat dari pada Shilla.

“lepasin.” Shilla terus berusaha melepas tangan preman itu dari tangannya.

“WOY LEPASIN DIA!”

Bersambung…  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar