Menjelang putaran ke tujuh, tiba-tiba….
BRUUKK!!!
Tubuh Shilla jatuh ke lantai. Ke lima
sahabatnya yang melihat itupun langsung panic terlebih Gabriel. Wajah Shilla
terlihat sangat pucat. Segera Gabriel menggendong Shilla ke UKS diiringi
sahabat nya. Mereka semua sangat panic terjadi apa-apa dengan Shilla. Tak
biasanya Shilla yang biasanya kuat, tegar bisa ambruk seperti ini.
Shilla sudah ditidurkan di kasur UKS. Gabriel
tampak panic sekali. “Shil Shil bangun Shil bangun. Lo ga apa-apa kan Shil?”
Gabriel menepuk-nepuk pipi Shilla pelan. Ify menyerahkan minyak angin yang dia
dapat dari kotak P3K di UKS kepada Gabriel agar dioleskan dihidung dan dahi
Shilla.
Sedangkan Rio dan Cakka memanggil Dokter UKS.
Tumben sekali Dokter jaga di UKS tidak ada diruangannya. Sivia sendiri sibuk
membuatkan Shilla teh panas.
Ify yang melihat kepanikan Gabriel akan kondisi
Shilla rasanya ingin menangis. “engga Fy. Jangan. Jangan nangis sekarang.”
Batin Ify menguatkan dirinya.
Tak lama kemudian Rio dan Cakka datang membawa
dokter jaga UKS. Shilla segera diperiksa oleh dokter.
“Shilla Cuma kecapean aja karena lari tadi.
Tolong jaga dia, suruh dia istirahat cukup ya.” Ujar Dokter itu lalu segera
pergi meninggalkan UKS. Semuanya hanya mengangguk mengerti.
30 menit sudah Shilla pingsan. Semuanya masih
panic menunggu Shilla bangun. Cakka sedari tadi menatap Sivia sinis. Dia sangat
kesal dengan Sivia kali ini. sangat kesal dengan kapasitas otak Sivia.
“gara-gara lo kita semua jadi dihukum gini tau
ga? Ndan gara-gara lo juga Shilla sekarang pingsan!” bentak Cakka kepada Sivia.
“maaf.” Lirih Via yang sedari tadi sudah sangat
takut karena dari tadi sahabat-sahabat nya itu menyalahi dirinya.
“maaf aja bisa nya. Otak lo tuh di upgrade.
Bego banget jadi orang. Pantesan ya ga ada cowok yang mau sama lo. mana ada
cowok yang mau punya pacar lemot, bego, tolol, telmi, manja kayak lo. ga guna.”
Bentak Cakka semakin kasar kepada Sivia.
Sivia tertegun mendengar bentakan Cakka. Baru
kali ini Cakka kasar kepada nya. Gabriel, Ify dan Rio yang mendengar bentakan
Cakka yang kasar tadi pun tak kalah kaget nya mendengar bentakan Cakka.
Kini Sivia sudah menangis terisak mendengar
cacian dari Cakka. “Cak lo apa-apaan sih? Udah lah jangan salahin Via mulu.
Kasihan kan Via nya.” Kata Ify. Kini Ify memeluk Sivia yang sedang menangis.
“lo masih belain dia Fy? Jelas-jelas dia yang
udah bikin kita dihukum kayak gini dan bikin Shilla pingsan. Orang kayak gini
masih lo belain Fy? Buka mata lo buka! Gara-gara dia semua jadi gini! Coba aja
dia pinter kita ga bakalan dihukum dan Shilla sekarang ga bakaln terbaring di
UKS kayak gini” bentak Cakka semakin kasar. Ify hanya terdiam melihat sikap
Cakka sekarang. Tak biasanya Cakka se-emosi ini.
“Cak lo itu cowok. Lo seharusnya bisa ngertiin
gimana keadaan. Lo kenapa sih? Lo kesel sama Sivia? Kita tau lo kesel sama
Sivia, tapi lo jangan ngehina Sivia gitu Cak. Dia sahabat kita, kita udah
sama-sama dari SD. Dari SD Cak dari SD! Dan kali ini Cuma gara-gara Sivia
keceplosan lo jadi kayak gini? Logika Cak Logika!” bentak Rio membela Sivia dan
Ify.
Rio sendiri juga merasa berapi-api mendengar
sahabatnya Cakka membentak Sivia dan Ify seperti itu. Ini bukan Cakka yang ia
kenal. Gabriel tidak memperdulikan perkelahian sahabatnya itu. Yang terpenting
bagi dia sekarang Shilla sadar.
Mendengar suara perkelahian itu, sedikit demi
sedikit Shilla tersadar, menggerakan jari jemari nya yang sedang dipegang oleh
Gabriel sedari tadi. “Shil.. Shil. Lo udah sadar Shil?” ucap Gabriel. Mendengar
ucapan Gabriel, perkelahian tadi pun langsung terhenti. Semua menatap ke kasur
Shilla. Benar saja, Shilla sudah terbangun.
“gu.. gue kenapa?” tanya Shilla memegangi
kepala nya.
“lo tadi pingsan Shil. Lo kecapean. Mending lo
tidur lagi aja ya, ada gue kok nemenin lo disini. Lo istirahat aja ya.” Ujar
Gabriel lembut. Ify semakin tak tahan melihat sikap Gabriel kepada Shilla
layaknya seorang pacar mengkhawatirkan kekasihnya.
Melihat itu semua rasanya saat ini juga Ify
ingin berteriak sekeras mungkin meluapkan sakit hatinya. Namun tak bisa. Ify
memilih untuk pergi meninggalkan UKS menuju taman belakang sekolah. Dia memilih
untuk menangis sendirian disana.
@ taman
belakang sekolah
“kenapa Iel? Kenapa? Kenapa harus Shilla?
Kenapa harus Shilla?! Lo ga tau Iel? Lo ga tau kalo ada gue? Gue yang sakit
ngeeliat kalian berdua. Gue yang selalu sakit ngeliat kalian mesraan layak nya
orang pacaran. Gue benci sama kalian, gue sebel, pengen rasanya gue maki-maki
kalian berdua. Tapi gue gabisa. Gue ga bisa Iel ngelakuin itu semua. Lo berdua
sahabat gue dari kecil. Shilla selalu ada buat gue kapan pun dan lo juga orang
yang cintai Iel. Gue ga bisa hiks hiks hiks…” Ify meluapkan semua emosi nya
disini. Mengeluarkan semua unek-unek nya dengan tangisan.
“gue ingin jadi Shilla. Gue ingin diperhatiin.
Gue juga ingin ada yang sayang sama gue. Selama ini gue berharap orang itu elo
Iel. Tapi mustahil.” Lanjut Ify. Dia menutup wajah nya dengan kedua tangannya.
Di balik pohon, seorang cowok tinggi hitam
manis memandangi Ify. Dia tidak tega melihat Ify menangis seperti itu hanya
karena Gabriel. Ingin sekali cowok itu memeluk Ify untuk menenangkan Ify.
Argghh.. gue samperin Ify aja deh. Batin cowok itu. Dia berjalan mendekati Ify.
[FLASHBACK]
Rio melihat wajah Ify murung melihat sikap
Gabriel kepada Shilla yang begitu sangat cemas. Rio tahu kalau Ify sekarang
sedang cemburu. Rio bisa melihat itu dari mata Ify. Dilihat nya Ify pergi
meninggalkan ruang UKS menuju taman belakang sekolah. Rio yang penasaran dengan
Ify dan tidak mau ada apa-apa dengan Ify segera menyusul Ify. Mengikuti Ify
dari belakang secara diam-diam.
[FLASHEND]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar