Selasa, 18 Juni 2013

Sahabat Jadi Cinta *9


@ Kamar Shilla

Shilla sedang duduk di meja belajar nya. Tapi bukan belajar, melainkan memandangi foto-foto dirinya bersama sahabat-sahabatnya waktu SMP. Shilla menatap foto itu dengan wajah yang tak bisa diartikan.

“gue ga tau. Gue sekarang ga tau mau seneng apa sakit disaat lo selalu kasih perhatian ke gue selayaknya lebih dari sahabat Iel” ucap Shilla masih memandai foto itu. dia mengusap lembut foto itu. tangan kiri nya mengusap lembut foto bagian wajah Gabriel dan tangan kanan nya mengusap lembut foto bagian wajah gadis yang berdagu panjang. Siapa lagi, Ify.

“di satu sisi, gue seneng. Senenggggg… banget, karena lo perhatian sama gue Iel. Di sisi lain, gue sedih. Gue ngerasa jahat, gue ngerasa gue itu egois” perlahan air mata Shilla mulai menitik merambah bingkai foto.

“gue udah nyakitin perasaan sahabat gue sendiri. Sahabat yang udah gue anggap saudara gue. gue ga bisa gini terus. Gue harus relain lo jatuh ditangan saudara gue Iel. Asalkan dia bahagia, gue rela”

Shilla langsung menghapus air matanya lalu mengambil handphone nya dengan cepat. Dia mengetik beberapa digit nomor yang sudah dia hafal.

“hallo” sapa Shilla.

“ada apa Shil?” tanya cowok disebrang sana.

“besok lo ga usah jemput gue. gue mau pergi sendiri” ucap Shilla seadanya dan dengan nada cuek. Sebenarnya dia sakit harus berbicara jutek kepada Gabriel. tapi dia harus melakukan ini.

“loh kenapa Shil? Kan tadi lo m….”

“gue bilang ga usah jemput ya ga usah jemput, Iel” bentak Shilla kepada cowok disebrang sana yang tak lain adalah Gabriel. dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipi nya, Shilla langsung memutuskan sambungan telfonnya dengan Gabriel. kini dia menangis semakin menjadi. Dia merasa caranya ini salah. Tapi dia ga ada jalan lain, dia harus melakukan ini.

*

@ Kamar Gabriel

 Dia memikirkan sebenarnya ada apa dengan Shilla. Baru saja tadi mereka masih akur. Tapi sekarang Shilla langsung berubah 180 derajat. Ga biasanya Shilla seperti ini kepada Gabriel.

“kenapa sih tuh anak?” heran Gabriel. padahal tadi sebelum Shilla menelfonnya, mata dia ngantuk banget. Tapi pas denger Shilla ngebentak dia, mata dia jadi ga bisa tidur.

“pms kali tuh anak. Udah ah mending gue tidur aja”

*

Sivia perlahan masuk ke dalam rumah nya setelah diantar Cakka tadi. Di lihatnya mama dan papa nya beserta gadis tadi sedang duduk bertiga di ruang keluarga. Mereka sedang berbincang-bincang. Suasana sekarang tidak seperti tadi yang sangat mencekam. Sivia menjadi heran sendiri.

“eh kamu udah pulang Vi?” tanya mama Sivia yang sadar anaknya sudah tiba dirumah. Sivia mengangguk saja, lalu menghampiri ruang keluarga dimana mama, papa dan gadis itu sedang duduk.

“Vi, sini dulu deh” ajak papa Sivia menunjuk kursi disebelahnya yang kosong. Dengan patuhnya Sivia duduk begitu saja. Seperti terhipnotis, dia tidak ingat akan kejadian tadi.

“gini loh Vi, sebelumnya kamu kenalan dulu sama kak Febby” kata mama Sivia. Febby tersenyum tulus ke[ada nya.

“apaan sih nih mama pake ngenalin gue sama selingkuhan papa? Apaan coba maksudnya?” batin Sivia. Dia melirik Febby sinis. Perlahan Febby mengulurkan tangannya duluan untuk berkenalan.

Dengan hanya menyentuh ujung jari Febby, Sivia memperkenalkan diri Sivia” jawab Sivia seadanya.

“kenalin, aku Febby” ujar Febby lembut dan tersenyum.

“Vi, maafin papa ya tadi udah nampar kamu. Papa Cuma kebawa suasana aja kok. Sebenarnya kamu dan mama itu tadi salah paham. Untung aja mama mau dengerin penjelasan papa” ujar papa Sivia kini. Dia semakin heran apa yang sedang terjadi sekarang.

“iya Vi. Febby ini anak Papa dari istri pertama papa yang udah meninggal dulu” sambung mama Sivia kini. Kaget. Hanya itu yang bisa dilakukan Sivia kini. Dia tidak mengira bahwa anak papa dari istri pertama papa nya yang sudah meninggal dulu itu Febby.

Sivia terdiam mencerna semua nya “kamu tau kan Febby yang pernah papa ceritain ke kamu?” tanya papa Sivia. Sivia mengangguk.

“nah, sekarang orang nya udah ada disini”

“maaf ya Fy, gara-gara kedatangan aku tadi kamu sama tante jadi di tampar sama papa. Aku ga tau kalo kedatangan aku bisa bikin semuanya kacau kayak tadi” ujar Febby meminta maaf kepada SIvia dan menggenggam kedua tangan Sivia.

Sivia tersenyum lega. Ternyata semua nya hanya salah paham “iya, gapapa kok. Jadi sekarang kamu tinggal disini?” tanya Sivia., Febby mengangguk.

“iya Vi, Febby bakalan tinggal sama kita. Kan selama ini dia tinggal sama oma nya” jawab papa Sivia. Sivia mengangguk tanda mengerti.

“dan… besok Febby bakalan masuk di sekolah kamu” lanjut mama Sivia. Sivia semakin kaget. Kaget karena senang.

“beneran ma? Pa? asik… nanti Via bisa pergi bareng deh sama Febby. Kalo perlu papa minta sama kepala sekolah biar Febby sekelas sama aku. trus nanti ke kantin bareng sama aku. trus…” perkataan Sivia dipotong oleh papa nya. Mama dan Febby sudah senyum-senyum sendiri melihat reaksi histeris dari Vial

“Vi.. Vi. Febby itu ga bakalan sekelas sama kamu” kata Papa.

Sivia mengernyitkan dahi nya “maksud papa?” tanya Sivia.

“Febby bakalan jadi kakak kelas kamu nantinya” lanjut mama Sivia. *perasaan dari tadi mama SiVia Cuma ngelanjutin kata-kata papa Sivia aja ya?._.v*

“hah? Jadi Febby lebih tua setahun dari aku? ya ampun kak, maaf maaf maaaaaaffff banget aku ga tau. Papa sama mama sih ga ngasih tau aku. jadi sebut nama aja kan” protes Sivia memanyunkan bibirnya dan dengan tangan dilipat di depan dada. Papa dan Mama Sivia beserta Febby tertawa melihat sikap Sivia.

“gapapa kok Fy. mulai sekarang, kita saudaraan kan? Ya walaupun…”

“ya iyalah kak. Papa kakak papa aku juga. Dan.. mama aku juga mama kakak juga. Mulai sekarang, kakak ga boleh panggil tante lagi ke mama. Tapi, panggil MA-MA” tegas Sivia pada kata terakhirnya.

“iya kan ma?” tanya Sivia kepada mama nya. Mama Sivia mengangguk dan tersenyum.

“makasih ya tan, eh Mama maksudnya hehe makasih Via” lalu Febby memeluk Sivia. Begitu juga dengan Sivia, membalas pelukan Febby. Kini mereka berdua menjadi adik-kakak walaupun beda Ibu.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar