@
Kamar Shilla
Shilla sedang duduk di meja belajar nya. Tapi
bukan belajar, melainkan memandangi foto-foto dirinya bersama
sahabat-sahabatnya waktu SMP. Shilla menatap foto itu dengan wajah yang tak
bisa diartikan.
“gue ga tau. Gue sekarang ga tau mau seneng apa
sakit disaat lo selalu kasih perhatian ke gue selayaknya lebih dari sahabat
Iel” ucap Shilla masih memandai foto itu. dia mengusap lembut foto itu. tangan
kiri nya mengusap lembut foto bagian wajah Gabriel dan tangan kanan nya mengusap
lembut foto bagian wajah gadis yang berdagu panjang. Siapa lagi, Ify.
“di satu sisi, gue seneng. Senenggggg… banget,
karena lo perhatian sama gue Iel. Di sisi lain, gue sedih. Gue ngerasa jahat,
gue ngerasa gue itu egois” perlahan air mata Shilla mulai menitik merambah
bingkai foto.
“gue udah nyakitin perasaan sahabat gue
sendiri. Sahabat yang udah gue anggap saudara gue. gue ga bisa gini terus. Gue
harus relain lo jatuh ditangan saudara gue Iel. Asalkan dia bahagia, gue rela”
Shilla langsung menghapus air matanya lalu
mengambil handphone nya dengan cepat. Dia mengetik beberapa digit nomor yang
sudah dia hafal.
“hallo” sapa Shilla.
“ada apa Shil?” tanya cowok disebrang sana.
“besok lo ga usah jemput gue. gue mau pergi
sendiri” ucap Shilla seadanya dan dengan nada cuek. Sebenarnya dia sakit harus
berbicara jutek kepada Gabriel. tapi dia harus melakukan ini.
“loh kenapa Shil? Kan tadi lo m….”
“gue bilang ga usah jemput ya ga usah jemput,
Iel” bentak Shilla kepada cowok disebrang sana yang tak lain adalah Gabriel.
dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipi nya, Shilla langsung
memutuskan sambungan telfonnya dengan Gabriel. kini dia menangis semakin
menjadi. Dia merasa caranya ini salah. Tapi dia ga ada jalan lain, dia harus
melakukan ini.
*
@
Kamar Gabriel
Dia
memikirkan sebenarnya ada apa dengan Shilla. Baru saja tadi mereka masih akur.
Tapi sekarang Shilla langsung berubah 180 derajat. Ga biasanya Shilla seperti
ini kepada Gabriel.
“kenapa sih tuh anak?” heran Gabriel. padahal
tadi sebelum Shilla menelfonnya, mata dia ngantuk banget. Tapi pas denger
Shilla ngebentak dia, mata dia jadi ga bisa tidur.
“pms kali tuh anak. Udah ah mending gue tidur
aja”
*
Sivia perlahan masuk ke dalam rumah nya setelah
diantar Cakka tadi. Di lihatnya mama dan papa nya beserta gadis tadi sedang
duduk bertiga di ruang keluarga. Mereka sedang berbincang-bincang. Suasana
sekarang tidak seperti tadi yang sangat mencekam. Sivia menjadi heran sendiri.
“eh kamu udah pulang Vi?” tanya mama Sivia yang
sadar anaknya sudah tiba dirumah. Sivia mengangguk saja, lalu menghampiri ruang
keluarga dimana mama, papa dan gadis itu sedang duduk.
“Vi, sini dulu deh” ajak papa Sivia menunjuk
kursi disebelahnya yang kosong. Dengan patuhnya Sivia duduk begitu saja. Seperti
terhipnotis, dia tidak ingat akan kejadian tadi.
“gini loh Vi, sebelumnya kamu kenalan dulu sama
kak Febby” kata mama Sivia. Febby tersenyum tulus ke[ada nya.
“apaan sih nih mama pake ngenalin gue sama
selingkuhan papa? Apaan coba maksudnya?” batin Sivia. Dia melirik Febby sinis.
Perlahan Febby mengulurkan tangannya duluan untuk berkenalan.
Dengan hanya menyentuh ujung jari Febby, Sivia
memperkenalkan diri Sivia” jawab Sivia seadanya.
“kenalin, aku Febby” ujar Febby lembut dan
tersenyum.
“Vi, maafin papa ya tadi udah nampar kamu. Papa
Cuma kebawa suasana aja kok. Sebenarnya kamu dan mama itu tadi salah paham.
Untung aja mama mau dengerin penjelasan papa” ujar papa Sivia kini. Dia semakin
heran apa yang sedang terjadi sekarang.
“iya Vi. Febby ini anak Papa dari istri pertama
papa yang udah meninggal dulu” sambung mama Sivia kini. Kaget. Hanya itu yang
bisa dilakukan Sivia kini. Dia tidak mengira bahwa anak papa dari istri pertama
papa nya yang sudah meninggal dulu itu Febby.
Sivia terdiam mencerna semua nya “kamu tau kan
Febby yang pernah papa ceritain ke kamu?” tanya papa Sivia. Sivia mengangguk.
“nah, sekarang orang nya udah ada disini”
“maaf ya Fy, gara-gara kedatangan aku tadi kamu
sama tante jadi di tampar sama papa. Aku ga tau kalo kedatangan aku bisa bikin
semuanya kacau kayak tadi” ujar Febby meminta maaf kepada SIvia dan menggenggam
kedua tangan Sivia.
Sivia tersenyum lega. Ternyata semua nya hanya
salah paham “iya, gapapa kok. Jadi sekarang kamu tinggal disini?” tanya Sivia.,
Febby mengangguk.
“iya Vi, Febby bakalan tinggal sama kita. Kan
selama ini dia tinggal sama oma nya” jawab papa Sivia. Sivia mengangguk tanda
mengerti.
“dan… besok Febby bakalan masuk di sekolah
kamu” lanjut mama Sivia. Sivia semakin kaget. Kaget karena senang.
“beneran ma? Pa? asik… nanti Via bisa pergi
bareng deh sama Febby. Kalo perlu papa minta sama kepala sekolah biar Febby
sekelas sama aku. trus nanti ke kantin bareng sama aku. trus…” perkataan Sivia
dipotong oleh papa nya. Mama dan Febby sudah senyum-senyum sendiri melihat
reaksi histeris dari Vial
“Vi.. Vi. Febby itu ga bakalan sekelas sama
kamu” kata Papa.
Sivia mengernyitkan dahi nya “maksud papa?”
tanya Sivia.
“Febby bakalan jadi kakak kelas kamu nantinya”
lanjut mama Sivia. *perasaan dari tadi mama SiVia Cuma ngelanjutin kata-kata
papa Sivia aja ya?._.v*
“hah? Jadi Febby lebih tua setahun dari aku? ya
ampun kak, maaf maaf maaaaaaffff banget aku ga tau. Papa sama mama sih ga
ngasih tau aku. jadi sebut nama aja kan” protes Sivia memanyunkan bibirnya dan
dengan tangan dilipat di depan dada. Papa dan Mama Sivia beserta Febby tertawa
melihat sikap Sivia.
“gapapa kok Fy. mulai sekarang, kita saudaraan
kan? Ya walaupun…”
“ya iyalah kak. Papa kakak papa aku juga. Dan..
mama aku juga mama kakak juga. Mulai sekarang, kakak ga boleh panggil tante
lagi ke mama. Tapi, panggil MA-MA” tegas Sivia pada kata terakhirnya.
“iya kan ma?” tanya Sivia kepada mama nya. Mama
Sivia mengangguk dan tersenyum.
“makasih ya tan, eh Mama maksudnya hehe makasih
Via” lalu Febby memeluk Sivia. Begitu juga dengan Sivia, membalas pelukan
Febby. Kini mereka berdua menjadi adik-kakak walaupun beda Ibu.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar