Selasa, 18 Juni 2013

Rival In Love *4


Lima cewek cantik ini kini sedang duduk di taman belakang sekolah. Mereka sedang duduk tertawa-tawa bersama. Mereka tertawa puas karena kali ini mereka berhasil buat redbag gagal mengerjai nya. Yap, ke lima cewek cantik ini tak lain adalah blink. Musuh besar redbag.

“mampus tuh redbag, kali ini mereka gagal ngerjain kita hahaha.” Kata Via disela tawanya.

“bener tuh bener hahaha tapi kok lo yakin sih Shil kalo mereka bakal ngerjain kita?” tanya Prissy yang kini sudah bisa mereda tawa nya kepada Shilla

“coba kalian pikir deh. Tadi aja kita masih musuhan sama mereka di depan pintu kelas. Nah ga cukup sehari tiba-tiba mereka ikutan gabung sama kita trus mau ngambilin makanan kita lagi? pasti tuh makanan kita udah dimasukin sesuatu sama mereka.” jawab Shilla. Yang lainnya berpikir sebentar lalu mengangguk membenarkan perkataan Shilla.

“bener juga kata kamu Shil. Tadi aku liat Cakka lari-lari ke toilet sambil megang perut nya gitu. Kayaknya dia makan makanan kita deh. Jadinya kayak gitu.” Kata Febby kini.

Keempat sahabat nya menatap Febby penuh tanya. Febby hanya bisa diam kebingungan. “pasti tuh makanan kita udah dimasukin obat pencuci perut sama mereka.” kata Ify.

“tapi kenapa Cakka makan makanan kita Fy? Kan dia sendiri yang masukin ke makanan kita.” Tanya Febby. “hell-o. Febby, semua itu bisa terjadi. Apalagi si Cakka itu otak nya lemah dibandingin personil redbag yang lain.” Kata Prissy.

“bener. Bisa aja kan dia lupa kalo tadi udah masukin obat pencuci perut ke makanan kita, eh trus dia makan tuh makanan.” Kata Shilla kini.

“bener juga ya.” Ujar blink minus Shilla serentak sambil mengangguk.

*

Redbag sedang berkumpul di dalam kelas mereka. kelas mereka kosong. Soalnya, redbag sangat disegani oleh anak-anak kelas mereka. jadi, kalo redbag lagi mau ngumpul dikelas, biasanya anak-anak yang lagi dikelas disuruh keluar dulu.

“sial. Lo kok ga bilang sih Deb kalo tuh makanan udah kita kasih obat pencuci perut?” protes Cakka kepada Debo. Dia masih memegangi perut nya. Masih terasa sedikit melilit.

“salah gue? Salah nyokap gue? Salah bokap gue? Salah kakak gue? Salah adik gue? Salah nenek gue? Salah kakek gue? Salah buyut gue? Salah tukang kebun gue? Salah…” omongan Debo terhenti karena dipotong oleh Cakka.
“stop stop stop. Ini emang salah lo. salah lo kenapa lo pake nyuruh gue makan tuh makanan. Ini juga salah bokap nyokap lo, salah mereka ngapain lahirin anak kayak lo. kalo salah kakak atau adek lo, gue rasa bukan salah mereka. karena lo anak tunggal.” Kata Cakka.

Belum sempat Debo dan yang lainnya protes, Cakka langsung melanjutkan perkataannya. “Salah nenek kakek buyut lo? mereka ga salah. Karena mereka udah ga ada kan? Salah tukang kebun lo? bukan juga. Karena gue ga kenal tukang kebun lo. tapi ga tau deh tukang kebun lo kenal am ague apa engga. Tapi maybe kenal. Siapa sih yang ga kenal sama cowok ganteng nan imut kayak gue?” kesal Cakka.

Sekesal-kesal nya Cakka, dia masih tetap narsis (?). Redbag minus Cakka cengo mendengar Cakka ngomong panjang lebar gitu.

“udah siap ngomel nya?” sindir Rio. “hmm kayaknya udah. Oke, sekarang siapa yang mau ngomong? Silahkan aja.” Jawab Cakka dengan tampang polos dan tak berdosa nya. Redbag minus Cakka sudah sangat geram melihat tingkah bodoh sahabat nya ini. wajah redbag minus Cakka kini seperti benteng yang siap-siap menyeruduk orang dengan tanduk nya.

Cakka sudah merasa ada hawa-hawa tak enak disini. Cakka siap siaga, kalo ada apa-apa dia sudah siap untuk lari seribu langkah. “CAAAAKKKKAAA” geram redbag kepada Cakka. Suara mereka  masih belum terlalu keras. Cakka langsung berlari meninggalkan kelas dengan gerakan seribu langkah.

“AWWWWAASSS LOOO CAAKKKAAA” teriak redbag minus Cakka dan langsung berlari mengejar Cakka yang berhasil kabur. Cakka berlari ke taman belakang sekolah agar lebih aman. Ternyata salah, sahabat-sahabat nya kini sedang berlari dibelakang mengejar nya. Trjadi lah aksi kejar-kejaran mereka di taman belakang ekolah. Banyak sorot mata yang melihat aksi lucu mereka.

Unik nya, mereka artis namun sikap mereka sama seperti anak-anak SMA lainnya. Sama-ssama masih menikmati masa sekolah, bercanda seperti anak kecil dan lainnya. Hanya berbeda kekuasaan dan ketenaran saja.

*

Blink yang sedang asik bercanda di taman belakang sekolah tempat mereka biasanya ngumpul mendengar ada keributan. Suaranya lebih dari satu orang. m

“awas lo ya, sampe gue dapetin lo gue cincang lo.” suara teriakan dari salah satu keributan itu.

Blink mendengar dengan teliti suara keributan itu. Mereka masih belum melihat siapa yang sedang ribut-ribut “suara siapa sih? ribut banget.” Kata Shilla. Sivia, Ify, Pricilla melihat ke sekeliling taman. Ternyata lima orang cowok yang sangat mereka kenal sedang kejar-kejaran sambil berteriak-teriak. Seorang cowok tinggi, putih sedang dikejar oleh empat orang cowok lainnya.

“MEREEKKAA??!!” sontak Via, Ify, Pricilla serentak kaget melihat siapa yang teriak-teriak. Shilla dan Febby yang dari tadi Cuma duduk diam jadi penasaran .
“emang siapa Vi, Fy, Pris?” tanya Febby masih diam duduk. “siapa sih siapa?” tanya Shilla penasaran. Dia langsung berdiri disebelah Via, Ify dan Pricilla. Dilihatnya lima orang cowok ngeselin sedang kejar-kejaran layak nya anak TK berebut robot-robotan. Siapa lagi kalau bukan Redbag. Via, Ify, dan Pricilla masih sibuk memandangi lima orang cowok itu. Namun ekspresi wajah mereka berbeda dengan Shilla.

Ekspresi Shilla menatap redbag dengan geram, wajah setan *maaf shivers. Penulis juga shivers kok. Real shivers lagi. sumpahdeh* tatapan tajam. Sedangkan VIP malah memandangi redbag senyum-senyum.

Sivia senyum-senyum sendiri menatap cowok tinggi dengan senyum yang biasanya miring *bayangin aja ya gimana senyum miring* tapi kini cowok itu tersenyum lepas bahkan tertawa lepas. Tidak seperti biasanya. “ternyata lo ganteng juga ya Deb kalo lagi ketawa gitu. Sekarang gue baru tau gimana asli lo. senyum lo yaampun manis banget Deb.” Batin Sivia. Ternyata cowok itu Debo toh….

Ify senyum-senyum sendiri menatap cowok tinggi, cungkring, item tapi manis tapi…. Pesek.*maaf banget rise maaf. Cuma cerita aja kok. Beneran deh ga maksud* yap, dia Rio. Berlari dengan cool nya layaknya atlit lari, namun dengan wajah seperti anak-anak. Tertawa lepas. “lo beda banget ya Yo dari yang biasanya. Biasanya dingin, cuek, kalo natap gue itu kayak benteng ngamuk. Tapi kalo liat lo sekarang, gue serasa liat gula. Manis banget.” Batin Ify.

Pricilla senyum-senyum sendiri menatap cowok putih, sipit, tinggi, ya seperti orang korea campur jepang campur eropa gitu deh. Dia juga seperti Debo dan Rio yang tersenyum lepas. Memang bukan pemandangan asing melihat cowok itu tersenyum. Bahkan dia –Alvin- terkenal personil redbag yang ramah dan murah senyum. Tapi bagi Pricilla kali ini senyuman Alvin itu beda. Senyuman Alvin kali ini seperti tulus dari hati.

“ga salah fans lo tergila-gila sama lo Vin. senyum lo menawan. Kalo lo senyum atau ketawa matalo ilang. Tapi tetap ga ngurangin ganteng lo.” batin Pricilla.

VIP masih senyum-senyum melihat redbag yang sedang kejar-kejaran itu. Sedangkan Shilla dan Febby - udah berdiri disamping Shilla- kini malah cengo melihat tingkah aneh tiga temannya itu. Ga biasanya.

“mereka kenapa Shil?” tanya Febby polos kepada Shilla. Shilla hanya mengangkat bahu tandanya dia juga ga tau kenapa.

“woy” teriak Shilla mengagetkan VIP –Via Ify Pricilla- sontak VIP langsung tersadar dari lamunan nya. “apaan sih lo Shil ngagetin aja.” Protes Sivia. “iya nih jantung gue hampir copot.” Timpal Ify. Sedangkan Pricilla hanya memanyunkan bibirnya.

“kalian sih pake ngelamun. Ngelamunin apaan sih?” tanya Shilla. VIP saling bertatapan. “Ify sama Prissy ngelamun juga?” batin Via bertanya-tanya. “Via sama Prissy ngelamun? Kok sama kayak gue?” batin Ify bertanya-tanya. “mereka juga ngelamun? Ngelamunin apaan ya?” batin Pricilla bertanya-tanya.
Shilla dan Febby kembali heran melihat ketiga temannya itu bengong. “woy pake bengong lagi. tadi ngelamun massal, lah sekarang bengong massal. Kalian kenapa sih? janjian? Hah?” kesal Shilla.

“udah yuk Feb ke kelas aja, gila gue lama-lama disini.” Ajak Shilla yang hanya diangguki oleh Febby. Sedangkan VIP masih saling bertatapan dengan pikiran masing-masing penuh pertanyaan. Sampai-sampai mereka ga sadar kalo Shilla sama Febby udah pergi.

“eh eh Shilla Febby kemana?” tanya Pricilla yang sudah sadar dari lamunan nya duluan. “eeh iya ya, mereka kemana?” tanya Ify lagi heran.

“mereka pergi kok ga ngajak-ngajak sih?” Sivia memanyunkan bibirnya kesal.

“yaudah yuk. Kita susulin aja. Mungkin mereka ke kelas.” Ajak Ify yang diangguki Via dan Pricilla. 

Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar