Kini Shilla da Ify sudah berada dirumah Shilla.
Mereka membaringkan badan dulu di sofa ruang tamu Shilla.
“Fy, ke kamar yuk?” ajak Shilla.
“ngg.. ga usah deh Shil disini aja” jawab Ify
sedikit gelagapan. Shilla mengangguk saja.
“ya udah, gue ganti baju dulu Ya. Gerah..” kata
Shilla yang diangguki Ify. Lalu Shilla pergi ke kamar nya.
Ify memperhatikan Shilla dengan seksama
memastikan Shilla sudah masuk kamar apa belum. Setelah dilihatnya Shilla sudah
masuk kamar dan tutup pintu, dengan cepat Ify langsung mengambil handphone nya
dan menelfon seseorang.
“hallo.. lo dimana? Buruan kesini. Keburu
Shilla tidur nih” kata Ify cepat kepada seseorang disebrang sana.
“……………”
“yaudah, buruan” lalu Ify menutup sambungan
telfonnya dengan seseorang disebrang sana.
*
Gabriel sibuk memainkan aplikasi twitter di handphone nya sedangkan Rio
masih sibuk konsentrasi mengendarai mobil.
Tiba-tiba handphone Rio berbunyi menandakan ada
telfon masuk. Dilihat nya nama yang tertera di layar handphone nya. Agak lama
dia mengangkat karena ragu ada di Gabriel disamping nya sekarang.
“berisik. Kenapa ga lo angkat aja?” kata
Gabriel yang merasa terganggu dengan bunyi handphone Rio.
“iya iya” jawab Rio.
“……………………..” belum sempat Rio berbicara, suara
cempreng disebrang sana sudah lebih dulu ngoceh.
“lo ngomong kayak orang kesurupan aja. Iye
sabar aja” jawab Rio.
“……………” lalu sambungan telfonnya langsung
berakhir.
“siapa Yo?” tanya Gabriel.
“kepo lo” jawab Rio.
“ck..” desis Gabriel menyesal kenapa dia harus
bertanya seperti itu.
*
10 menit setelah Ify menelfon tadi, sebuah
mobil datang dan sudah terparkir di halaman rumah Shilla. Shilla sendiri masih
di kamar dan nganggurin Ify dari tadi.
Dengan cepat Ify langsung menghampiri dua cowok
yang baru keluar dari mobil. Satu tersenyum kepada Ify, yang satu lagi menatap
Ify dan Rio bingung. Dua orang cowok yang datang itu tak lain adalah Rio dan
Gabriel.
“lama banget lo berdua dateng. Bosen nih gue dari
tadi dianggurin si Shilla” kata Ify sambil memanyunkan bibirnya.
“ya maap Fy. lo kayak ga tau Jakarta aja” jawab
Rio menghampiri Ify yang berdiri di depan pintu rumah Shilla. Diikuti Gabriel
dibelakang Rio yang masih bertanya-tanya kenapa tumben-tumbennya dia dibawa ke
rumah Shilla tanpa diberi tahu tempat tujuan dari awal.
“ngapain kesini Yo? Kalo kesini mah ga perlu
pake rahasia-rahasiain tempat nya segala kali” kata Gabriel.
“jadi Rio ga kasih tau lo Iel kalo mau
kesini?”tanya Ify. Gabriel menggeleng.
“sorry sorry. Emang kalo gue bilang mau kesini,
lo mau ikutan dengan keadaan perang dingin gini?” jawab Rio. Gabriel hanya
nyengir saja.
“ya udah yuk masuk aja dulu. Tungguin Shilla.
Kayaknya dia lagi mandi deh” ajak Ify yang diangguki Gabriel dan Rio. Mereka
bertiga memilih duduk di ruang tamu rumah Shilla dulu.
Gabriel menurut saja di ajak duduk. Namun
perasaan nya cemas. Takut nanti Shilla akan dingin lagi jika Shilla tahu ada
dirinya disini.
*
Shilla baru keluar kamar mandi di kamar nya.
Tadi waktu ganti baju, dia langsung kefikiran buat mandi. Karena gerah, Shilla
memilih mandi saja. Ketika Shilla melewati jendela kamar nya, dilihatnya ada
sebuah mobil yang taka sing lagi bagi nya sudah terparkir di halaman rumahnya.
“loh? Itu mobil Rio kan? Dia ada disini? Kapan
dateng nya?” kata Shilla. Segera Shilla bersiap-siap lalu keluar kamar nya dan
menuruni tangga berniat menghampiri Ify di ruang tamu.
“Fy.. itu kok ada Mobil Ri…” tanya Shilla
berteriak karena belum sampai ke ruang tamu. Tapi perkataan Shilla terputus
karena ketika sampai di ruang tamu, kaki Shilla terhenti melihat siapa yang
kini sedang duduk di ruang tamu nya.
“Iel? ngapain dia disini? Ada Ify lagi duh gue
harus gimana ya? Ngusir? Ga enak juga..” batin Shilla. Dia masih diam mematung
berdiri.
“ha.. hai Shil” sapa Gabriel gelagapan. Kini
dia pasrah saja apa reaksi Shilla nanti.
Seketika Shilla langsung tersadar dari lamunan
nya. Dia hanya mengangguk membalas sapaan Gabriel.
“Fy, sejak kapan Rio ada disini?” tanya Shilla.
“Shilla Cuma nanyain Rio doang? Gue engga?”
batin Gabriel.
“baru kok Shil. Dia sama Iel juga” jawab Ify.
Shilla hanya membulatkan mulutnya ber O ria.
Shilla memilih duduk di samping kiri Ify menjauh dari Gabriel. disamping kanan
Ify ada Rio, lalu Gabriel. suasana ruang tamu hanya sunyi senyap tanpa suara.
Ify yang merasa sekarang waktu yang tepat, menyenggol siku Rio.
Rio menatap Ify seakan-akan bertanya “apaan?”.
Ify memberi kode “sekarang”. Rio mengangguk
tanda mengerti maksud Ify.
“hmm.. Iel” kata Rio.
“hmm.. Shil” kata Ify.
“apa?” jawab Gabriel dan Shilla barengan.
Rio memilih tidak menjawab pertanyaan Gabriel.
dia memberi kesempatan untuk Ify dan Shilla berbicara berdua dan didengar oleh
Gabriel.
“gue boleh nanya?” tanya Ify hati-hati. Shilla
mengernyitkan dahi nya sebentar lalu dengan ragu mengangguk.
Ify menghela nafas sebentar “hmm… lo sebenernya
kenapa sih?” tanya Ify.
“kenapa apanya?” tanya Shilla tak mengerti.
“oke. Gue ga mau basa-basi lagi. lo sebenernya
ada problem apa sama Iel sampe-sampe lo ngejauhin dia beberapa hari ini” tanya
Ify to the point.
Shilla terdiam. Dia bingung harus jawab apa
“mampus gue harus jawab apaan nih? Masa iya gue bilang gue ngejauhin Iel
gara-gara Ify? Ga mungkin banget gitu” batin Shilla.
“Shil?” tanya Ify lagi membuyarkan lamunan
Shilla.
“eh iya Fy? lo nanya apaan tadi? Gue rada
ngantuk dikit nih” alibi Shilla sambil pura-pura menutup mulutnya seperti
menguap.
Ify menghela nafas sebentar “jujur Shil. Lo
ngejauhin Iel gara-gara gue kan?” telak Ify. Sontak Shilla kaget tak bisa
berkata-kata lagi. Ify menatap Shilla tajam dan penuh selidik.
“If.. Ify tau dari mana kalo alasan gue
sebenernya itu?” batin Shilla kaget.
Gabriel dan Rio yang mendengar perkataan Ify
barusan juga tak kalah kagetnya. Rio sendiri belum tahu apa-apa tentang ini.
Ify hanya memberitahu Rio tentang rencana mereka membuat Shilla dan Gabriel
akur lagi.
“ma.. maksud lo apa Fy?” tanya Gabriel tak
mengerti. Ify tidak menjawab pertanyaan Gabriel. Ify masih terus menatap Shilla
tajam.
“jujur Shil” kata Ify lagi agak keras.
“lo ngomong apaan sih Fy? gue ga ngerti” elak
Shilla.
Ify berdiri dari duduk nya. Dia sudah emosi
kali ini dengan Shilla yang menurutnya tindakan Shilla kali ini sangat bodoh
dan tidak masuk akal “lo pura-pura bego atau emang bego?” sinis Ify.
“serius. Gue ga ngerti sama kata-kata lo tad…”
perkataan Shilla terputus karena disela Ify.
“lo masih belum jujur Shil? Apa perlu gue sebut
semuanya di depan Iel sekarang?” kata Ify. Kini Shilla tertunduk dan perlahan
sebulir air mata bening jatuh di pipi Shilla.
“Oke kalo itu mau lo. tadi pas lo pergi dari
kantin, gue ngikutin lo sampe taman belakang. Lo nangis kan disana? Dan gue
denger sendiri lo bilang…” kini perkataan Ify yang terputus karena disela
Gabriel.
“cukup Fy, cukup” bentak Iel. Dia tidak tega
melihat Shilla yang kini mulai terisak tangis. Gabriel kini berpindah duduk
kesamping Shilla. Rio yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menyaksikan drama
mini gratis ini (?)
“udah Shil, udah jangan nangis ya. Walaupun gue
ga tau apa salah gue yang bisa bikin lo ngejauh sama gue, gue minta maaf.
Beribu maaf” bisik Gabriel lembut menenangkan Shilla.
Mendengar ucapan tulus Gabriel, Shilla
mengangkat kepalanya perlahan lalu menatap Gabriel lemah “lo ga marah sama gue?
ga marah gara-gara gue ngejauhin lo? cuekin lo?” tanya Shilla tak percaya.
Gabriel menggeleng dan tersenyum. Perlahan kedua tangan Gabriel menyentuh pipi
Shilla. Dengan lembut, dia hapus air mata yang sudah membasahi pipi Shilla.
Shilla masih menatap Gabriel tak percaya.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar