Sahabat dan kekasih. 2 hal yang sangat sulit untuk dipilih.
*
Sudah berjam-jam cowok ini menunggu seseorang
yang sedang memanjakan diri nya. Bahkan cowok ini sudah tertidur entah berapa
lama nya disini. Tak terbayangkan oleh nya bagaimana para pengunjung disini melihat
nya tertidur.
Setelah mondar-mandir tak jelas disana,
akhirnya seseorang yang ditunggu nya sedari tadi pun keluar dengan senyum
merekah dan tanpa dosa nya.
“ssshh akhirnya selesai juga lo. ngapain aja
sih didalem? Lama banget lo.” kesal cowok itu. Orang yang ia rutuki hanya
tersenyum puas kea rah nya.
“sabar kek. Nama nya juga cewek lagi perawatan
di salon ya pasti lama lah.” Cewek itu tak tahan melihat ekspresi cowok yang
sedang kesal dihadapannya ini yang tak lain adalah Gabriel. Ia hanya senyum-senyum
melihat ekspresi kesal sahabat nya yang satu ini.
“ngapain lo senyum-senyum? Puas lo? puas?! Lo
kira gue ga tau apa lo ngerjain gue hah?” kini Gabriel sudah tak bisa menahan
emosi nya yang sedari tadi ia tahan. Cewek dihadapannya kali ini yang tak itu
Shilla langsung mengeluarkan tawa nya tanda ia memang puas mengerjai sahabat
nya ini.
“hahahaha puas gue puas hahaha” kini Shilla
sudah tak bisa menahan tawa puas nya. “lagian siapa yang mulai duluan? Lo kan
yang ngajak gue ke toko buku? Udah lama disana tau tau nya lo gatau mau beli
apaan.” Lanjut Shilla kini mulai bisa mengontrol tawa nya.
Sebenarnya Shilla itu bukan tipe cewek yang
suka merawat diri ke salon, karena dia sendiri tergolong cewek tomboy. Ketika
pertama kali sampai di salon tadi, sebenarnya Gabriel sudah bertanya kepada
Shilla kenapa dia mendadak perawatan di salon. Namun tak dihiraukan oleh
Shilla.
“ck.. udah ah sekarang gantian lo yang ikut
gue.” Gabriel menarik tangan Shilla seperti hal nya di cafĂ© tadi siang. Shilla
kini hanya bisa pasrah apa yang akan dilakukan oleh Gabriel kepada dirinya.
*
Tidak perlu menunggu waktu lama. 20 menit dari
salon di Mall tersebut mereka sudah sampai di sebuah danau yang sangat indah.
Dimana di danau ini sangat nyaman, tentram dan nyaman. Karena mereka ke danau
ini di malam hari, jadi keindahan tidak begitu terlihat jelas. Namun Shilla
bisa merasakan indah nya tempat ini.
“waw.. indah banget tempat nya.” Kagum Shilla
masih menganga. Gabriel yang tidak menghiraukan kekaguman Shilla terhadap
tempat ini pun sudah berjalan duluan meninggalkan Shilla ke tepi danau
tersebut.
Shilla kini sudah bisa mengontrol kekaguman nya
atas keindahan tempat ini. Dia berjalan dengan sedikit berlari menyusul Gabriel
yang sudah berdiri sedari tadi di tepi danau.
“ehmm..” dehem Shilla. Namun Gabriel masih diam
dan menatap ke depan. Keliatannya Gabriel sedang memikirkan sesuatu namun
Shilla tidak tahu apa yang sedang difikirkan Gabriel itu.
“indah ya?” tanya Shilla kini membuka
pembicaraan. “iya.” Jawab Gabriel seadanya. Shilla menghela nafas bersabar jika
sifat Gabriel sudah seperti ini. Dia sangat tau bagaimana sifat Gabriel. Jika
seperti ini Gabriel sedang ingin tenang meredakan fikiran nya.
“lo kenapa?” tanya Shilla yang sedari tadi juga
penasaran dengan apa yang difikirkan Gabriel. “ga apa-apa kok..” alibi Gabriel.
Shilla tau jika Gabriel ditanyai seperti itu pasti jawabannya selalu ‘ga
apa-apa’.
Shilla kini hanya diam tak mau terlalu mengorek
pribadi orang lain karena Shilla sendiri bukan tipe orang yang selalu ingin tau
masalah orang lain. “eh iya duduk yuk.” Ajak Gabriel kini. Shilla hanya
mengangguk dan duduk disebelah kiri Gabriel.
Mereka berdua menikmati keindahan malam di
danau ini. Tak ada suara. Hening. Diam. Kedua nya kini masing-masing menatap
kea rah langit yang banyak bintang.
“lo sering kesini?” tanya Shilla. Kini Shilla
sudah beralih menatap Gabriel. “banget. Ini itu tempat favorit gue kalo gue
lagi galau, putus cinta, banyak tugas, capek. Pokoknya kalo gue kesini pasti
semua beban fikiran gue hilang.” Jawab Gabriel yang masih memandang langit.
Shilla hanya mengangguk mengerti. “gue suka
tempat ini. Karena tenang, ga banyak orang. Lagian banyak orang yang ga tau
tempat ini.” Kini Gabriel sudah mengalihkan pandangan nya kea rah Shilla dan
tersenyum. Shilla balik memandang Gabriel.
“trus ngapain lo sekarang ngajak gue kesini?”
tanya Shilla. Gabriel seperti sedikit berfikir akan pertanyaan Shilla barusan.
“hmm.. kenapa ya? Ga tau. Gue pengen aja ngajak lo kesini. Gue pengen berbagi kesenangan
gue ke lo. kan lo sahabat gue dari kecil hehe.” Cengir khas Gabriel keluar.
Gabriel mengapitkan leher Shilla ke tangannya.
“woy sakit woy lepasin ga. Ga bisa nafas gue.”
Jerit Shilla. Namun Gabriel masih mengapit nya. “lepasin ga.” Jerit Shilla
lagi. kini Shilla memukul-mukul tangan Gabriel. “aww sakit gila.” Ringis
Gabriel. Kini ia sudah melepaskan Shilla dari rangkulan hebat nya tadi yang
membuat Shilla tidak bisa bernafas.
Kini Shilla hanya mengusap-usap leher nya yang
masih terasa sakit. Gabriel kini balik memandanga langit. “lo tau ga?” kata
Gabriel.
“ga.” Jawab Shilla ketus.
“ck.. gue belom selesai ngomong.” Geram Gabriel
melihat tingkah sahabatan nya sambil mencubiti pipi chubby Shilla.
“ah.. apaan sih. Lepasin.” Gabriel melepaskan
cubitan nya dari pipi chubby Shilla.
“lo satu-satu nya orang yang gue ajak kesini.”
Gabriel melanjutkan perkataannya tadi.
Shilla melotot kaget mendengar perkataan
Gabriel barusan. “biasa aja dong ekspresi lo.” Gabriel yang melihat ekspresi kaget
Shilla langsung menepis pipi kanan Shilla. “jangan geer dulu gue bilang gitu.”
Lanjut Gabriel yang sudah melihat ekspresi senang Shilla.
Shilla meneguk ludah mendengar kata-kata
terakhir Gabriel tadi. Shilla yang sadar akan ekspresi nya langsung mengontrol
ekspresi nya seperti semula. “oh” jawab Shilla datar. Gabriel yang mendengar
jawab Shilla seperti itu langsung mendengus kesal “kok oh aja sih jawab nya?”
“trus mau lo gue jawab apa? Hah?” kata Shilla
dengan nada sedikit menantang. Gabriel hanya diam merasa sudah skak mat dengan
pertanyaan Shilla barusan. entah mengapa Gabriel merasa sakit ketika mendengar
Shilla menjawab ‘oh’ tadi. Padahal Gabriel ingin sekali membagi kebahagiaan nya
dengan Shilla.
Terlihat raut wajah marah di wajah manis Gabriel.
Shilla tau pasti saat ini Gabriel pasti sedang marah dengannya. Karena merasa
bersalah, Shilla kini angkat bicara “yaudah iya.. gue salah. Gue minta maaf ya
Iel.” Bujuk Shilla. Tidak ada jawaban dari Gabriel. Gabriel hanya menatap
sebentar kearah Shilla lalu mengalihkan pandangannya lagi.
“lo marah sama gue? Gara-gara gue jawab ‘oh’
tadi iya? Kan gue udah minta maaf.” Lanjut Shilla. Lagi lagi Gabriel hanya
diam. Shilla yang sudah pasrah tidak bisa membujuk Gabriel kini berdiri berniat
meninggalkan danau itu. “yaudah, kalo gitu gue pulang aja. Ga guna juga gue
disini.” Shilla memutar badan ingin melangkah pergi. Namun Shilla merasa
tangannya ditahan. Ternyata Gabriel yang menahan tangan Shilla.
“lo mau kemana?” tanya Gabriel yang masih duduk
ditempat nya. “mau pulang.” Jawab Shilla jutek. Gabriel melepaskan tangannya
yang menahan tangn Shilla tadi lalu ikut-ikutan berdiri bersama Shilla. “gue
anter.” Tawar Gabriel masih dengan nada cuek nya.
“ga usah. Lo nya ga ikhlas juga.” Jawab Shilla
sinis. Gabriel yang mendengar perkataan Shilla langsung mendengus kesal lalu
menarik kasar tangan Shilla sampai berdiri di samping motor Gabriel. “Shilla
menepis kasar tangan Gabriel. “lo kalo ga ikhlas yaudah ga usah anterin gue.
Udah gue bilang kan tadi? Gue bisa pulang sendiri.” Kini Shilla sudah kesal
melihat kelakuan Gabriel.
Shilla berjalan meninggalkan Gabriel. Baru 2
langkah meninggalkan Gabriel, telapak tangan Shilla sudah digenggam oleh
telapak tangan Gabriel. Refleks Shilla kaget “eh..” Shilla berbalik badan
kearah Gabriel. Dilihatnya mata Gabriel yang terlihat jelas bahwa Gabriel
sedang marah.
Shilla selalu takut jika mata Gabriel sudah
seperti ini. Shilla menunduk takut. “gue Cuma ga mau ntar lo kenapa-kenapa trus
gue yang disalahin.” Sinis Gabriel. Tangan Gabriel masih menggenggam tangan
Shilla.
“maaf…” lirih Shilla ketakutan.
“buat?”
goda Gabriel. Sedari tadi Gabriel memang
tidak marah kepada Shilla. Gabriel hanya mengerjai Shilla saja.
“ya.. maaf aja.” Jawab Shilla gugup. Dia
sendiri pun bingung dia meminta maaf buat apa. “ck.. dasar. sifat lo ga pernah
berubah dari dulu.” Gabriel mencubit pipi chubby Shilla.
Shilla risih karena Gabriel selalu saja
mencubit pipi nya. Sudah kebiasaan rutin Gabriel sepertinya. “lo juga. Ga
pernah berubah dari dulu. Selalu aja nyubitin pipi gue.” Kesal Shilla manyun.
“udah ayo naik gue anterin.” Kini Shilla nurut saja dengan perkataan
Gabriel.
*
Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai
kerumah Shilla dari danau tersebut. Kini Shilla sudah berada di depan pagar
rumah nya. “thanks ya.” Ucap Shilla yang hanya diangguki oleh Gabriel.
“eh iya soal di danau tadi sorry gue jawab Oh
doang.” Shilla masih merasa tidak enak dengan Gabriel.
“haha gapapa lagi. lo kayak ga kenal gue aja.”
Jawab Gabriel santai. Yang hanya dibalas dengan ketawa kecil Shilla. “eh yang
tadi beneran loh. Yang tau danau itu Cuma lo aja. Pacar-pacar gue aja ga pernah
gue bawa kesitu.” Lanjut Gabriel.
Shilla merasa diri nya special karena ucapan
Gabriel barusan. karena hanya dirinya lah yang diajak oleh Gabriel ketempat
Gabriel menghibur dirinya. Kini mungkin pipi Shilla sudah memerah karena
tersipu malu. Namun sebisa mungkin Shilla menyembunyikan semuanya.
“yaudah kalo gitu gue masuk dulu.” Shilla
berusaha membiasakan nada bicara dan ekspresi wajahnya.
“oke. Besok gue anter ke skolah ya. Besok gue
pake mobil kok.”
“mau lo pake mobil kek, mau lo pake motor kek
pake sepeda punya kakek lo kek emang apa hubungannya coba? Yang penting selamat
sampe tujuan kan?” celoteh Shilla. Ini lah salah satu alasan kenapa Gabriel
sangat senang bersahabat dengan Shilla.
Sifat sederhana gadis ini yang ia kagumi.
Walaupun Shilla berlatar baik, kaya dan terpandang, namun Shilla tidak sombong
seperti anak-anak di SMA BEROEMD. Anak-anak SMA BEROEMD selalu menyombongkan
apa yang mereka punya. Selalu membanggakan harta orang tua mereka.
SMA BEROEMD terkenal dengan SMA yang dimana
anak-anak pejabat, kaya dan terpandang bersekolah disana. Dan SMA itu hanya
orang-orang terpilih saja lah yang masuk disana.
“salut gue sama lo bong, lo beda sama pacar
gue. Pacar gue nih ya, kalo udah denger gue jemput dia pake motor, langsung
protes ga jelas tuh. Takut rambutnya rusak lah, bau matahari lah, blablabla.
Bosen gue.” Shilla tersipu malu dengan pujian Gabriel itu. Shilla merasa makin
teristimewakan dibanding pacar Gabriel.
Namun sesuatu yang mengganjal di otak Shilla di
dalam kalimat pujian Gabriel tadi. “bentar bentar. Lo tadi bilang ‘bong’ siapa
tuh maksudnya?” geram Shilla sudah tau apa itu ‘bong’ maksud Gabriel tadi.
Gabriel yang merasa ada bau-bau tak enak hanya nyengir “hehehe..” dan dengan
gerakan cepat langsung bersiap-siap dan
melajukan dengan cepat motornya.
Karena Shilla merasa sudah capek dan ngantuk,
ia pun meredakan semua emosi nya kepada Gabriel barusan. Shilla masuk ke dalam
rumah nya dan langsung masuk ke kamar nya saja.
*
Kamar
Shilla
Sesampai nya di kamar Shilla langsung menuju
kasur empuk nya dan berbaring disana. Namun bukannya berbaring untuk tidur,
tapi Shilla malah senyum-senyum sendiri menatap langit-langit atap kamar nya.
Yang ada dalam fikiran Shilla kini hanya
bayangan-bayangan indah yang dilakukan Gabriel kepada nya. Sikap Gabriel yang
perhatian. Sifat Gabriel yang selalu tidak suka jika Shilla sedang PDKT dengan
cowok kenalannya.
Apakah ini hanya perasaan Shilla saja atau ini
memang benar jadi nya kalau Gabriel cemburu jika Shilla dekat dengan cowok.
*
Kamar
Gabriel
Gabriel masuk ke kamar nya dengan sangat lelah
nya dan langsung berbaring di kasur nya itu. Tak lama ia tertidur handphone
berdering tanda pesan masuk. Dengan malas nya Gabriel mengambil handphone nya
dan melihat layar ponselnya.
Ternyata dari Angel sang kekasih. Entah sudah
tak cinta lagi atau sudah merasa bosan, akhir-akhir ini Gabriel selalu malas
membalas pesan, menelfon ataupun mengangkat telfon, bertemu dengan sang pacar.
From: My Angel :*
Malam sayang :* besok kamu mau nemenin aku ke
Mall ga ada yang mau aku beli. Yayaya please. Udah lama loh kita ga jalan :’)
Dengan malas nya Gabriel langsung membalas
pesan dari pacar nya itu dan langsung melempar begitu saja handphone nya ke
kasur setelah membalas pesan.
To: My Angel :*
Beli apa?
Tak butuh waktu lama, handphone Gabriel
berdering lagi. benar saja, itu balasan dari Angel.
From: My Angel :*
Ada deh. Besok jemput aku ya di sekolah, jangan
pake motor. Okey? Good night sayang :*
Gabriel tidak berniat untuk membalas pesan
pacar nya itu. Selalu saja seperti itu. Pacar nya selalu menuntut untuk
dijemput pake Mobil, beda dengan Shilla.
Mengingat Shilla, Gabriel menjadi senyum-senyum
sendiri mengingat wajah Shilla dan tingkah laku sahabat kecil nya itu. Semua
kelelahan dan kekesalannya hilang begitu saja ketika mengingat Shilla sampai
akhirnya Gabriel tertidur dengan senyuman yang masih keluar dari bibir nya.

sukaa :D walau agak kecewa karena couple nya bukan cakshill :( but keren :))
BalasHapus