Pagi ini Ify sedang bersiap-siap berangkat ke
sekolah. Seperti biasanya, dia menjalankan kewajibannya sebagai anak dan
sebagai murid. SEKOLAH.
TOOKK TOOKK TOOK
Pintu kamar Ify di ketuk dari luar oeh
seseorang “masuk” jawab Ify dari dalam kamar nya.
CKLEK
“eh Bi? Ada apa?” tanya Ify kepada Bibi yang
mengetuk pintu kamar Ify tadi.
“maaf non, ganggu. Di luar ada den Rio. Katanya
mau jemput non” ujar Bibi.
Ify mengernyitkan dahi nya. Semalam Rio tidak
janji akan menjemputnya “Rio? Jemput gue? kok ga bilang-bilang sih?” batin Ify.
“non?” panggil Bibi.
“eh iya Bi. Bilang sama Rio, tunggu bentar.
Bentar lagi aku turun” jawab Ify. Bibi mengangguk lalu keluar dari kamar Ify.
Tak lupa menutup pintu kamar Ify.
“Rio jemput gue?” tanya Ify kepada dirinya
sendiri. Reflex senyum manis mengembang di bibirnya. Dia merasa senang Rio
menjemputnya. Biasanya dulu-dulu kalo Rio jemput dia, perasaan dia biasa saja.
Tapi sekarang berbeda. Apa jangan-jangan… hmm….
Langsung Ify bergegas mengambil tas nya lalu
segera keluar meninggalkan kamar menuju lantai bawah. Tepatnya ruang tamu,
dimana Rio sudah menunggu dirinya.
“eh Yo?” sapa Ify sehabis menuruni tangga.
“hai Fy” sapa Rio balik.
“kok mau jemput ga bilang-bilang sih? biasanya
juga lo yang nawarin kalo engga gue yang minta hehe”
“ga ada. Tadi sengaja gue bangun pagi, tus
langsung ke rumah lo deh. Pengen aja hehe” Rio menggaruk tengkuk nya yang tak
gatal.
“Oh..” jawab Ify seadanya. Sebenarnya pipi dia
sudah memerah karena salting. Ga biasanya Ify salting begini di depan Rio.
“duh.. gue kenapa sih jadi salting gini? Kan ga
biasanya gue salting depan Rio. Kayaknya gue beneran udah bisa ngelupain Iel
deh sedikit demi sedikit berkat Rio” batin Ify.
“yaudah Fy, berangkat sekarang aja. Dari pada
ntar telat. Sekarang jam pertama kan sama Miss Heni. Emang lo mau kayak Cakka
sama Sivia minggu kemaren?”
“ya ga mau lah. Yaudah ayo” ajak Ify. Rio
mengangguk, reflex dia menggandeng tangan Ify.
“eh” kaget Ify.
“so., sorry Fy reflex” Rio ingin melepas
tangannya dari tangan Ify. Namun dicegah oleh Ify “udah, gapapa lagi. biarin
aja kayak gini” jawab Ify. Rio kaget mendengar ucapan Ify barusan.
“gue ga mimpikan Ify bilang gitu?” Batin Rio.
“ye.. malah bengong. Kenapa? Ga suka? Yaudah
gue lepasin” ancam Ify.
“eh.. eh ga usah hehe”
Mereka berjalan ke mobil Rio dengan posisi
tangan mereke bergenggaman. Sampai di dekat mobil, Rio membuka kan pintu mobil
untuk Ify.
*
Pagi ini terasa berbeda sekali bagi Sivia.
Karena nya, pagi ini dia datang ke sekolah membawa kakak nya, Febby. Dia sangat
senang ketika tahu dia punya kakak, apalagi cewek. Dari dulu Sivia sangat ingin
punya kakak atau adik cewek dan akhirnya sekarang kesampaian juga.
Semalam Via sudah menceritakan semua nya kepada
Cakka lewat telfon. Via juga sudah izin sama Cakka kemaren bahwa besok dia akan
bawa Febby berangkat bareng Cakka, dan Cakka menyetujui saja.
“pagi Pa, Ma, kak” sapa Via kepada Papa dan
Mama nya beserta Febby yang sudah lebih dulu berada di meja makan.
“Pagi Via” jawab semuanya.
“kenapa kamu? Ga biasanya pagi-pagi senyum
merekah gitu?” tanya mama Via menggoda.
“iya dong Ma. Kan Via sekarang ke sekolah nya
bareng kak Febby. Kan sekarang Via udah punya kakak” jawab Via senang melirik
kea rah Febby.
“Via.. Via.. papa senang akhirnya kamu menerima
Febby juga disini” ujar Papa Sivia geleng-geleng kepala melihat tingkah anak
nya ini.
“siapa juga yang nolak kak Febby disini? Wlek..
kalo aja dari awal papa bilang, pasti aku bakalan nerima dengan senang hati
kok. Ga kayak kemaren pake acara salah paham segala” sinis Sivia meledek papa
nya.
“oh iya Vi, kita berangkat sekarang aja yuk?
Aku ga mau telat nih, kan hari pertama sekolah” ajak Febby.
“bentar kak, kita tunggu Cakka jemput dulu. Aku
udah bilang kok kemaren sama dia kalo kakak ikutan sama kita berdua” jawab Ify
sambil meminum Susu nya.
“Cakka? Cakka siapa? Pacar kamu ya?” goda
Febby. Pipi Sivia memerah mendengar ucapan Febby. Semenjak kejadian semalam,
Sivia mulai ada rasa sama Cakka.
“apa sih kak, engga ah. Dia itu Cuma sahabat
aku dari SD aja. Ntar deh aku kenalin sama sahabat-sahabat aku yang lainnya,
mereka baik-baik loh” alibi Sivia. Febby mengangguk-angguk tanda mengerti.
TEETT TEETT
Klakson mobil terdengar dari luar rumah Sivia.
Kemungkinan itu mobil Cakka.
“nah, kayaknya itu Cakka deh. Yaudah Pa, Ma,
Sivia berangkat dulu ya. Yuk kak” pamit Sivia kepada Papa dan Mama nya lalu
mengajak Febby berangkat. Febby mengangguk. Tak lupa dia juga berpamitan dengan
Papa beserta Mama barunya. Segera dia mengikuti Sivia keluar rumah.
“Hai Cak” sapa Sivia kepada Cakka yang sudah
berdiri di depan mobilnya.
“Hai Fy” sapa Cakka balik. Kini mata Cakka
beralih melihat gadis yang berdiri dibelakang Sivia. Siapa lagi kalo bukan
Febby. Cakka tersenyum kepada Febby, begitu juga Febby membalas senyuman Cakka.
“eh iya sampe lupa. Kak kenalin, ini yang nama
nya Cakka. Cak, kenalin ini kakak gue yang gue ceritain semalam” ujar Sivia
memperkenalkan Cakka dan Febby.
“hai, gue Cakka. Sahabat nya Sivia” Cakka mengulurkan
tangannya kepada Febby.
“sahabat. Ya, dia Cuma anggap gue sahabat, ga
lebih” batin Sivia.
Febby balik mengulurkan tangannya kepada Cakka
“aku Febby” jawab Febby. Lalu mereka berdua melepaskan jabatan tangannya.
“yaudah yuk, berangkat sekarang” ajak Cakka.
Sivia dan Febby mengangguk. Cakka masuk ke bangku pengemudi, Sivia duduk
disebelahnya dan tentunya Febby duduk dibelakang. Febby juga tahu diri makanya
dia memilih duduk dibelakang.
Sepanjang perjalanan, Febby melihat Sivia dan
Cakka sangat dekat. Sering bercanda-gurau dan lainnya. Febby merasa menjadi
obat nyamuk antara Sivia dan Cakka.
“aku curiga deh. Mereka ga kayak orang
sahabatan, tapi kayak orang pacaran: batin Febby. Dia melihat kelakuan Cakka
dan Sivia yang seperti sepasang kekasih. Dia senyum-senyum sendiri melihat
tingkah Sivia dan Cakka.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar