Jumat, 07 Juni 2013

Love Game *4


Di dalam mobil seorang cewek cantik sedang menelfon seseorang disebrang sana. Terdengar bunyi sambungan nada telfon yang akhirnya diangkat juga oeh orang disebrang sana.

“hallo..” sapa suara disebrang sana. Gadis ini lantas senyum mendengar suara orang itu.
“hai..” balas cewek itu riang.

“ada apa say? Kok seneng gitu sih kedengeran nya?” balas cowok disebrang sana.

“tau ga? Rencana kita berhasil loh.” Balas gadis ini histeris.

“haha jadi kamu seneng gara-gara rencana kita berhasil? Udah tau kok.” Balas cowok itu dengan sedikit tertawa mendengar gadis nya ini teriak senang seperti anak kecil.

“iya. Hmm menurut kamu mereka bakalan punya perasaan beneran ga sih?” tanya cewek ini sudah tidak terlalu histeris seperti tadi lagi.

“hmm kalo diliat-liat sih nanti mereka bakalan saling punya perasaan kok. Kayak kita say hehe.” Balas cowok itu gombal.

“ah kamu ah.. yaudah nanti telfonan lagi ya aku mau nyetir dulu. Bye sayang..” cewek itu mengakhiri pembicaraan nya dengan cowok disebrang sana yang sepertinya itu kekasihnya.

*

Selama di perjalanan dari sekolah tadi, tak ada yang membuka pembicaraan. Hanya keheningan yang tercipta. Baik Shilla ataupun Gabriel tidak ada yang bersuara.

“kita mau kemana sih?” kini Shilla membuka suara duluan.

“ikut aja.” Jawab Gariel seadanya. Shilla hanya mendengus kesal mendengar jawaban Gabriel.

15 menit kemudian. kini mobil sport putih milik Gabriel berhenti di depan sebuah restoran mewah. Gabriel turun dari mobil lebih dulu. Shilla hanya diam di dalam mobil masih bingung dengan semua ini. Gabriel mutari mobil nya dan tiba di pintu tempat Shilla duduk. Gabriel membuka kan pintu Shilla. Shilla masih diam menatap lurus ke depan. Seperti enggan menatap Gabriel.

“ayo turun.” Ucap Gabriel. Shilla masih diam tak menjawab dengan memasang wajah manyun nya. Gabriel melihat ekspresi Shilla seperti itu rasanya ingin tertawa namun dia hanya tertawa di dalam hati saja.

“buruan turun. Atau ga gue anter pulang nih.” Ancam Gabriel. Shilla yang mendengar ancaman Gabriel langsung mendongakan kepala nya menatap Gabriel.

“iya iya. Ngancem aja lo bisanya.” Desis Shilla. Kini Shilla sudah turun dari mobil Gabriel. Mereka kini memasuki restoran itu dan duduk di pojok restoran. Mereka masih diam tak bersuara.

“ngapain sih kita kesini?” tanya Shilla.

“ya makan lah. Emang ada gitu sejarah nya orang ke restoran pergi shopping? Ga kan.. yaudah diem aja deh lo. tunggu aja pelayannya dateng.” Shilla hanya diam mendengar jawaban Gabriel. Bener juga asih. Shilla merutuki dirinya sendiri kenapa dia melontarkan pertanyaan bodoh semacam itu?

Pelayan sudah datang dan mereka sudah memesan pesanan mereka. Tak perlu menunggu lama pesanan pun sudah datang. Seperti nya pelayan disini sudah sangat hafal dengan Gabriel. Mereka sangat sopan dan hormat kepada Gariel. Yaiyalah, Gariel kan artis.

Namun seperti nya pelayan disini menghormati Gabriel bukan seperti menghormati artis yang berkunjung ke restoran mereka. Bahkan ketika Gabriel dan Shilla datang ke restoran ini, semua pelayan langsung mengosongkan restoran. Mereka menghormati Gabriel seperti…

“silahkan tuan.” Ujar Manager restoran yang berdiri di dekat meja kami duduk setelah pelayan meletakan pesanan ke meja Gariel dan Shilla. Gabriel hanya mengangguk. Shilla heran kenapa sampai ada Manager restoran ini berdiri disini? Apa segitu terhormat nya Gabriel makan disini?

Pelayan serta manager restoran itu kini sudah pergi meninggalkan meja makan Gabriel dan Shilla. Gabriel sudah mulai menyuap makanan nya namun Shilla masih bengong.

“ngapain lo liatin gue gitu? Kagum sama ke gantengan gue? Iya gue sadar kok gue itu ganteng. Udah ga usah terpana gitu. Makan aja tuh makanan lo.” pede Gabriel. Kira nya dia sadar kalo Shilla menatap nya bengong.

“ye pede gila lo. gue heran aja, kok pas kita dateng pelayan pada ngosongin restoran ini ya? Kan orang-orang lagi makan. Trus manager nya juga manggil lo tuan. Kayak lo yang punya ini restoran aja.” Ujar Shilla.

Gabriel tertawa kecil mendengar pertanyaan Shilla. “emang.” Jawab Gabriel seadanya. Shilla semakin heran dengan jawaban singkat Gabriel. “maksudnya?” tanya Shilla lagi meyakinkan.

“ya.. emang. Emang gue yang punya ini restoran.” Kata Gabriel.

“HAAHH?” Shilla menganga dibuatnya. Jadi, ini benar milik Gabriel? Benar-benar salut sama Gabriel. Masih muda tapi udah ada investasi.

“biasa dong biasa ekspresinya. Jelek lo kalo kayak gitu.” Ledek Gabriel masih santai menyantap makanan nya.

“yee biarin aja.”

*

Angin sepoi-sepoi menerpa tubuh gadis ini dan rambut indah nya yang terurai. Dia sangat menikmati tempat ini. disamping nya kini telah berdiri seorang cowok yang sedang menatapnya lekat-lekat. Cowok ini menatap setiap lekuk wajah cantik nya. Wajah cantik nya yang kini terlihat lebih jelas karena rambut nya berterbangan ke belakang.

Cowok ini menikmati setiap lekuk wajah cantik gadis ini. dia baru sadar bahwa gadis disebelahnya ini tidak seburuk yang dilihatnya selama ini. gadis ini cantik. Hidung nya mancung. Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata bagaimana wajah gadis ini. hanya dial ah yang tahu.

“enak ya disini.” Ucap gadis ini masih menutup mata dan merentangkan tangannya menikmati angin yang menerpa tubuhnya. Gadis itu tak lain adalah Shilla.

Rio tersadar dari keterpanaan nya menatap wajah cantik Shilla. “iya. Gue kalo lagi stres suka kesini.” Jawab Rio. Dia ikut-ikutan menutup mata nya menikmati angin pantai yang menerpa tubuhnya. Menikmati angin.

“Iel..” panggil Shilla. Kini dia sudah menoleh ke samping nya. Tepatnya menoleh kea rah Rio.

“Ya?” jawab Rio dan kini juga menoleh ke Shilla. Mata mereka saling bertaut. Shilla manatap mata bening Gabriel. Seperti lautan. Mata yang sangat menyejukan hatinya.

Begitu juga Gabriel. Menatap mata indah Shilla. Mata bening. Pancaran mata Shilla membuat jantung Gabriel berdegup cepat tak karuan. Kenapa sama hati gue? Kenapa gue natap mata dia seakan gue.. ah jangan sampe jangan sampe. Sadar woy sadar. Batin Gabriel merutuki dirinya.

“eh..” mereka berdua sadar karena sudah cukup lama mereka hening karena saling bertatapan. Kedua nya langsung mengalihkan pandangan ke depan, tengah laut.

“hmm tadi lo manggil ada apa?” tanya Gabriel masih berusaha memecah kesaltingan yang terjadi antara mereka berdua.

“hmm ada apa ya? Lupa hehe ga jadi deh.” Jawab Shilla masih salting.

“udah sore. Pulang yuk” ajak Shilla. Dia tidak mau Gabriel semakin melihat wajah nya yang malu-malu. Gabriel mengangguk menyetujui ajak Shilla. Mereka berdiri, meninggalkan ombak yang bergelombang menuju mobil dan pergi dari pantai indah itu.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar