Di dalam
mobil seorang cewek cantik sedang menelfon seseorang disebrang sana. Terdengar
bunyi sambungan nada telfon yang akhirnya diangkat juga oeh orang disebrang
sana.
“hallo..”
sapa suara disebrang sana. Gadis ini lantas senyum mendengar suara orang itu.
“hai..”
balas cewek itu riang.
“ada apa
say? Kok seneng gitu sih kedengeran nya?” balas cowok disebrang sana.
“tau ga?
Rencana kita berhasil loh.” Balas gadis ini histeris.
“haha jadi
kamu seneng gara-gara rencana kita berhasil? Udah tau kok.” Balas cowok itu
dengan sedikit tertawa mendengar gadis nya ini teriak senang seperti anak
kecil.
“iya. Hmm
menurut kamu mereka bakalan punya perasaan beneran ga sih?” tanya cewek ini
sudah tidak terlalu histeris seperti tadi lagi.
“hmm kalo
diliat-liat sih nanti mereka bakalan saling punya perasaan kok. Kayak kita say
hehe.” Balas cowok itu gombal.
“ah kamu
ah.. yaudah nanti telfonan lagi ya aku mau nyetir dulu. Bye sayang..” cewek itu
mengakhiri pembicaraan nya dengan cowok disebrang sana yang sepertinya itu
kekasihnya.
*
Selama di
perjalanan dari sekolah tadi, tak ada yang membuka pembicaraan. Hanya
keheningan yang tercipta. Baik Shilla ataupun Gabriel tidak ada yang bersuara.
“kita mau
kemana sih?” kini Shilla membuka suara duluan.
“ikut aja.”
Jawab Gariel seadanya. Shilla hanya mendengus kesal mendengar jawaban Gabriel.
15 menit
kemudian. kini mobil sport putih milik Gabriel berhenti di depan sebuah
restoran mewah. Gabriel turun dari mobil lebih dulu. Shilla hanya diam di dalam
mobil masih bingung dengan semua ini. Gabriel mutari mobil nya dan tiba di
pintu tempat Shilla duduk. Gabriel membuka kan pintu Shilla. Shilla masih diam
menatap lurus ke depan. Seperti enggan menatap Gabriel.
“ayo turun.”
Ucap Gabriel. Shilla masih diam tak menjawab dengan memasang wajah manyun nya.
Gabriel melihat ekspresi Shilla seperti itu rasanya ingin tertawa namun dia
hanya tertawa di dalam hati saja.
“buruan
turun. Atau ga gue anter pulang nih.” Ancam Gabriel. Shilla yang mendengar
ancaman Gabriel langsung mendongakan kepala nya menatap Gabriel.
“iya iya.
Ngancem aja lo bisanya.” Desis Shilla. Kini Shilla sudah turun dari mobil
Gabriel. Mereka kini memasuki restoran itu dan duduk di pojok restoran. Mereka
masih diam tak bersuara.
“ngapain sih
kita kesini?” tanya Shilla.
“ya makan
lah. Emang ada gitu sejarah nya orang ke restoran pergi shopping? Ga kan..
yaudah diem aja deh lo. tunggu aja pelayannya dateng.” Shilla hanya diam
mendengar jawaban Gabriel. Bener juga asih. Shilla merutuki dirinya sendiri
kenapa dia melontarkan pertanyaan bodoh semacam itu?
Pelayan
sudah datang dan mereka sudah memesan pesanan mereka. Tak perlu menunggu lama
pesanan pun sudah datang. Seperti nya pelayan disini sudah sangat hafal dengan
Gabriel. Mereka sangat sopan dan hormat kepada Gariel. Yaiyalah, Gariel kan
artis.
Namun
seperti nya pelayan disini menghormati Gabriel bukan seperti menghormati artis
yang berkunjung ke restoran mereka. Bahkan ketika Gabriel dan Shilla datang ke
restoran ini, semua pelayan langsung mengosongkan restoran. Mereka menghormati
Gabriel seperti…
“silahkan
tuan.” Ujar Manager restoran yang berdiri di dekat meja kami duduk setelah
pelayan meletakan pesanan ke meja Gariel dan Shilla. Gabriel hanya mengangguk.
Shilla heran kenapa sampai ada Manager restoran ini berdiri disini? Apa segitu
terhormat nya Gabriel makan disini?
Pelayan
serta manager restoran itu kini sudah pergi meninggalkan meja makan Gabriel dan
Shilla. Gabriel sudah mulai menyuap makanan nya namun Shilla masih bengong.
“ngapain lo
liatin gue gitu? Kagum sama ke gantengan gue? Iya gue sadar kok gue itu
ganteng. Udah ga usah terpana gitu. Makan aja tuh makanan lo.” pede Gabriel.
Kira nya dia sadar kalo Shilla menatap nya bengong.
“ye pede
gila lo. gue heran aja, kok pas kita dateng pelayan pada ngosongin restoran ini
ya? Kan orang-orang lagi makan. Trus manager nya juga manggil lo tuan. Kayak lo
yang punya ini restoran aja.” Ujar Shilla.
Gabriel
tertawa kecil mendengar pertanyaan Shilla. “emang.” Jawab Gabriel seadanya.
Shilla semakin heran dengan jawaban singkat Gabriel. “maksudnya?” tanya Shilla
lagi meyakinkan.
“ya.. emang.
Emang gue yang punya ini restoran.” Kata Gabriel.
“HAAHH?”
Shilla menganga dibuatnya. Jadi, ini benar milik Gabriel? Benar-benar salut
sama Gabriel. Masih muda tapi udah ada investasi.
“biasa dong
biasa ekspresinya. Jelek lo kalo kayak gitu.” Ledek Gabriel masih santai
menyantap makanan nya.
“yee biarin
aja.”
*
Angin sepoi-sepoi
menerpa tubuh gadis ini dan rambut indah nya yang terurai. Dia sangat menikmati
tempat ini. disamping nya kini telah berdiri seorang cowok yang sedang menatapnya
lekat-lekat. Cowok ini menatap setiap lekuk wajah cantik nya. Wajah cantik nya
yang kini terlihat lebih jelas karena rambut nya berterbangan ke belakang.
Cowok ini
menikmati setiap lekuk wajah cantik gadis ini. dia baru sadar bahwa gadis
disebelahnya ini tidak seburuk yang dilihatnya selama ini. gadis ini cantik.
Hidung nya mancung. Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata bagaimana wajah gadis
ini. hanya dial ah yang tahu.
“enak ya
disini.” Ucap gadis ini masih menutup mata dan merentangkan tangannya menikmati
angin yang menerpa tubuhnya. Gadis itu tak lain adalah Shilla.
Rio tersadar
dari keterpanaan nya menatap wajah cantik Shilla. “iya. Gue kalo lagi stres
suka kesini.” Jawab Rio. Dia ikut-ikutan menutup mata nya menikmati angin
pantai yang menerpa tubuhnya. Menikmati angin.
“Iel..”
panggil Shilla. Kini dia sudah menoleh ke samping nya. Tepatnya menoleh kea rah
Rio.
“Ya?” jawab
Rio dan kini juga menoleh ke Shilla. Mata mereka saling bertaut. Shilla manatap
mata bening Gabriel. Seperti lautan. Mata yang sangat menyejukan hatinya.
Begitu juga
Gabriel. Menatap mata indah Shilla. Mata bening. Pancaran mata Shilla membuat
jantung Gabriel berdegup cepat tak karuan. Kenapa sama hati gue? Kenapa gue
natap mata dia seakan gue.. ah jangan sampe jangan sampe. Sadar woy sadar.
Batin Gabriel merutuki dirinya.
“eh..”
mereka berdua sadar karena sudah cukup lama mereka hening karena saling
bertatapan. Kedua nya langsung mengalihkan pandangan ke depan, tengah laut.
“hmm tadi lo
manggil ada apa?” tanya Gabriel masih berusaha memecah kesaltingan yang terjadi
antara mereka berdua.
“hmm ada apa
ya? Lupa hehe ga jadi deh.” Jawab Shilla masih salting.
“udah sore.
Pulang yuk” ajak Shilla. Dia tidak mau Gabriel semakin melihat wajah nya yang
malu-malu. Gabriel mengangguk menyetujui ajak Shilla. Mereka berdiri,
meninggalkan ombak yang bergelombang menuju mobil dan pergi dari pantai indah
itu.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar