“Iel..“ panggil Shilla lirih.
“iya Shil?“ jawab Gabriel.
“tadi pas gue bangun kok gue kayak denger ribut-ribut gitu ya? Siapa
yang ribut?“ tanya Shilla.
“oh itu, ga ada kok. Biasa si Cakka kesel sama Via gara-gara... ya lo
tau sendiri lah.“ Jawab Gabriel. “udah ah lo jangan mikirin itu dulu. Lo
istirahat aja dulu.“ Suruh Gabriel kepada Shilla. Kini di UKS hanya ada mereka
berdua, Sivia dan Cakka sudah balik ke kelas sedangkan Ify ke taman belakang
dan diikuti oleh Rio.
@ taman belakang sekolah
Ify masih menangis terisak mengingat Gabriel dan Shilla yang sangat
mesra layaknya sepasang kekasih. Ify melepaskan tangannya yang menutupi wajah
nya tadi karena merasa ada seseorang yang baru saja berdiri di hadapannya.
Benar saja. Ketika Ify mengangkat kepala nya, dilihatnya cowok tinggi,
hitam manis kini tengah berdiri di hadapannya. “Rio?“ kaget Ify. Segera dia
menghapus air mata nya. Kini Rio duduk disamping Ify.
“udah lah Fy, lupain dia. Cukup selama ini lo sakit hati ngeliat dia
kayak gitu.“ Ujar Rio to the point. Sontak Ify kaget mendengar perkataan Rio
seperti itu. “maksud lo?“ tanya Ify kaget.
“lo pikir gue ga tau? Selama ini lo suka kan sama iel? Bahkan lo udah
jatuh cinta kan sama Iel? Lo selama ini cemburu sama Shilla gara-gara dia
selalu dapat perhatian dari Iel. Perhatian yang lebih. Engga seperti perhatian
seorang sahabat, melainkan...“ Rio memutuskan perkataannya. Dia tidak sanggup
melanjut kan perkataan nya lagi. Dia tidak ingin Ify menangis.
“lo ga perlu lanjutin perkataan lo Yo. Gue rasa lo udah tau semua nya.
Emang bener kata lo. Gue selama ini emang suka bahkan cinta sama Gabriel. Tapi
gue ga berani ngungkapinnya. Gue takut. Gue takut persahabat gue sama ielo
selama ini bakalan ancur Cuma gara-gara perasaan gue ini. Gue ga tau harus
gimana lagi Yo.“ Lirih Ify. Sedikit demi sedikit air mata nya kembali menetes.
Rio sudah tak tega melihat gadis yang di cintai selama ini menangis
dihadapannya. Yap benar. Selama ini diam-diam Rio juga seperti Ify. Rio suka
bahkan mencintai Ify. Alasannya sama dengan Ify. Namun Rio bisa mengendalikan
emosi nya. Tanpa berfikir panjang lagi, Rio langsung memeluk gadis yang dia
cintai ini.
Ify kaget dengan tindakan Rio yang langsung memeluk dirinya. Ify pun
pasrah dipeluk Rio. Karena saat ini dia memerlukan seseorang untuk mencurahkan
isi hati nya saat ini. “lo cukup buka hati lo buat orang lain Fy. Buat orang
yang tulus mencintai lo.“ Bisik Rio. Ify kaget mendengar ucapan Rio.
“gue mau nya juga gitu Yo. Tapi sampe seekarang gue masih belum nemuin
orang yang tulus Cinta sama gue.“ Lirih Ify masih dalam pelukan Rio.
Rio melepaskan pelukan nya dari Ify. Dia memegang kedua bahu Ify.
Ditatap nya Ify lekat-lekat, begitupun Ify. “nanti lo juga bakal tau Fy siapa
orang itu.“ Jawab Rio. Ify hanya mengangguk.
*
Malam ini Sivia tengah berdiri di balkonnya dengan perasaan bersalah.
Sedari UKS hingga pulang sekolah tadi, dia memikirkan perkataan Cakka kepada
nya tadi. Benar juga kata Cakka. Dia harus berubah. Dia ga boleh lagi seperti
ini. Dia harus lebih dewasa.
Sivia berniat ingin menelfon Cakka bermaksud ingin meminta maaf. Namun
dia ragu. Takut nantinya Cakka akan membentak dirinya lagi seperti di UKS tadi.
Entah keberanian dari mana, Sivia langsung saja menelfon Cakka.
“hallo..“ sapa orang disebrang sana yang tak lain adalah Cakka.
“hallo Cak..“ sapa Sivia ragu.
“.........“
“lo marah ya sama gue soal di UKS tadi? Gue mau min...“
“..........“
“lo bener Cak. Gue harus berubah. Gue ga bisa gini terus.“ Lirih Sivia.
“.............“
“yaudah Cak, thanks ya saran lo.“ Sivia menutup sambungan telfonnya
dengan Cakka. Kini Sivia merasa lega dan malam ini dia bisa tidur dengan
tenang.
*
Cakka sedang melamun dikamar nya. Entah apa yang dilamunkan nya, dia
sendiri bingung. Tiba-tiba ponsel nya bunyi tanda telfon masuk. Di lihat nya
nama Sivia tertera di layar ponsel nya.
“hallo..“ sapa Cakka.
“hallo Cak..“ sapa Sivia dari seberang sana.
“ada apa Vi?“ tanya Cakka.
“gue ga marah kok. Soal di UKS tadi gue Cuma kebawa emosi aja. Sorry
ya. lo juga ga perlu merasa bersalah dan minta maaf gitu sama gue. Lo itu Cuma
butuh introspeksi diri aja Vi.“
“jangan sedih gitu dong. Semangat! Lo pasti bisa.“
Cakka sudah memutuskan sambungan telfonnya dengan Sivia. Dia senang dan
sangat mendukung keputusan Sivia kali ini.
*
“thanks ya Iel udah anterin gue.“ Ucap Shilla. Kini dia sudah berada di
depan pagar rumah nya. Gabriel mengantarkannya pulang.
“sama-sama Shil. Besok gue jemput ya, kayak biasa hehe.“ Jawab Gabriel.
Shilla hanya mengangguk. “ohiya satu lagi. Thanks juga udah nemenin gue tadi di
UKS sampe lo ga masuk jam pelajaran sampe pulang.“ Shilla yang tadi beranjak
pergi ingin masuk ke rumah nya langsung berbalik lagi menghadap Gabriel.
“biasa aja lagi Shil. Kan kita udah sahabatan dari kecil. Ya wajar lah
gue nemenin sahabat gue yang lagi kesakitan. Ya ga bong?“ Gabriel mengacak-acak
rambut Shilla. “hhhh gue harus nya sadar. Gue itu Cuma dianggap sahabat sama
Iel. Ga lebih.“ Batin Shilla.
“yaudah deh gue masuk dulu ya.“ Shilla langsung pergi masuk ke dalam
rumah nya.
“kenapa tuh anak? Aneh ga kayak biasanya. Lebih kalem. Ga marah lagi
guee panggil bong.“ Batin Gabriel. Gabriel tak terlalu memikirkan. Mungkin
Shilla masih kurang enak badan makanya gitu. Dia langsung menstarter motornya
dan segera pergi pulang ke rumahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar