Sabtu, 08 Juni 2013

Sahabat Jadi Cinta *6







@ UKS

“Iel..“ panggil Shilla lirih.

“iya Shil?“ jawab Gabriel.

“tadi pas gue bangun kok gue kayak denger ribut-ribut gitu ya? Siapa yang ribut?“ tanya Shilla.

“oh itu, ga ada kok. Biasa si Cakka kesel sama Via gara-gara... ya lo tau sendiri lah.“ Jawab Gabriel. “udah ah lo jangan mikirin itu dulu. Lo istirahat aja dulu.“ Suruh Gabriel kepada Shilla. Kini di UKS hanya ada mereka berdua, Sivia dan Cakka sudah balik ke kelas sedangkan Ify ke taman belakang dan diikuti oleh Rio.

@ taman belakang sekolah

Ify masih menangis terisak mengingat Gabriel dan Shilla yang sangat mesra layaknya sepasang kekasih. Ify melepaskan tangannya yang menutupi wajah nya tadi karena merasa ada seseorang yang baru saja berdiri di hadapannya.

Benar saja. Ketika Ify mengangkat kepala nya, dilihatnya cowok tinggi, hitam manis kini tengah berdiri di hadapannya. “Rio?“ kaget Ify. Segera dia menghapus air mata nya. Kini Rio duduk disamping Ify.

“udah lah Fy, lupain dia. Cukup selama ini lo sakit hati ngeliat dia kayak gitu.“ Ujar Rio to the point. Sontak Ify kaget mendengar perkataan Rio seperti itu. “maksud lo?“ tanya Ify kaget.

“lo pikir gue ga tau? Selama ini lo suka kan sama iel? Bahkan lo udah jatuh cinta kan sama Iel? Lo selama ini cemburu sama Shilla gara-gara dia selalu dapat perhatian dari Iel. Perhatian yang lebih. Engga seperti perhatian seorang sahabat, melainkan...“ Rio memutuskan perkataannya. Dia tidak sanggup melanjut kan perkataan nya lagi. Dia tidak ingin Ify menangis.

“lo ga perlu lanjutin perkataan lo Yo. Gue rasa lo udah tau semua nya. Emang bener kata lo. Gue selama ini emang suka bahkan cinta sama Gabriel. Tapi gue ga berani ngungkapinnya. Gue takut. Gue takut persahabat gue sama ielo selama ini bakalan ancur Cuma gara-gara perasaan gue ini. Gue ga tau harus gimana lagi Yo.“ Lirih Ify. Sedikit demi sedikit air mata nya kembali menetes.

Rio sudah tak tega melihat gadis yang di cintai selama ini menangis dihadapannya. Yap benar. Selama ini diam-diam Rio juga seperti Ify. Rio suka bahkan mencintai Ify. Alasannya sama dengan Ify. Namun Rio bisa mengendalikan emosi nya. Tanpa berfikir panjang lagi, Rio langsung memeluk gadis yang dia cintai ini.

Ify kaget dengan tindakan Rio yang langsung memeluk dirinya. Ify pun pasrah dipeluk Rio. Karena saat ini dia memerlukan seseorang untuk mencurahkan isi hati nya saat ini. “lo cukup buka hati lo buat orang lain Fy. Buat orang yang tulus mencintai lo.“ Bisik Rio. Ify kaget mendengar ucapan Rio.

“gue mau nya juga gitu Yo. Tapi sampe seekarang gue masih belum nemuin orang yang tulus Cinta sama gue.“ Lirih Ify masih dalam pelukan Rio.

Rio melepaskan pelukan nya dari Ify. Dia memegang kedua bahu Ify. Ditatap nya Ify lekat-lekat, begitupun Ify. “nanti lo juga bakal tau Fy siapa orang itu.“ Jawab Rio. Ify hanya mengangguk.

*

Malam ini Sivia tengah berdiri di balkonnya dengan perasaan bersalah. Sedari UKS hingga pulang sekolah tadi, dia memikirkan perkataan Cakka kepada nya tadi. Benar juga kata Cakka. Dia harus berubah. Dia ga boleh lagi seperti ini. Dia harus lebih dewasa.

Sivia berniat ingin menelfon Cakka bermaksud ingin meminta maaf. Namun dia ragu. Takut nantinya Cakka akan membentak dirinya lagi seperti di UKS tadi. Entah keberanian dari mana, Sivia langsung saja menelfon Cakka.

“hallo..“ sapa orang disebrang sana yang tak lain adalah Cakka.

“hallo Cak..“ sapa Sivia ragu.

“.........“

“lo marah ya sama gue soal di UKS tadi? Gue mau min...“

“..........“

“lo bener Cak. Gue harus berubah. Gue ga bisa gini terus.“ Lirih Sivia.

“.............“

“yaudah Cak, thanks ya saran lo.“ Sivia menutup sambungan telfonnya dengan Cakka. Kini Sivia merasa lega dan malam ini dia bisa tidur dengan tenang.

*

Cakka sedang melamun dikamar nya. Entah apa yang dilamunkan nya, dia sendiri bingung. Tiba-tiba ponsel nya bunyi tanda telfon masuk. Di lihat nya nama Sivia tertera di layar ponsel nya.

“hallo..“ sapa Cakka.

“hallo Cak..“ sapa Sivia dari seberang sana.
“ada apa Vi?“ tanya Cakka.

“gue ga marah kok. Soal di UKS tadi gue Cuma kebawa emosi aja. Sorry ya. lo juga ga perlu merasa bersalah dan minta maaf gitu sama gue. Lo itu Cuma butuh introspeksi diri aja Vi.“

“jangan sedih gitu dong. Semangat! Lo pasti bisa.“

Cakka sudah memutuskan sambungan telfonnya dengan Sivia. Dia senang dan sangat mendukung keputusan Sivia kali ini.

*

“thanks ya Iel udah anterin gue.“ Ucap Shilla. Kini dia sudah berada di depan pagar rumah nya. Gabriel mengantarkannya pulang.

“sama-sama Shil. Besok gue jemput ya, kayak biasa hehe.“ Jawab Gabriel. Shilla hanya mengangguk. “ohiya satu lagi. Thanks juga udah nemenin gue tadi di UKS sampe lo ga masuk jam pelajaran sampe pulang.“ Shilla yang tadi beranjak pergi ingin masuk ke rumah nya langsung berbalik lagi menghadap Gabriel.

“biasa aja lagi Shil. Kan kita udah sahabatan dari kecil. Ya wajar lah gue nemenin sahabat gue yang lagi kesakitan. Ya ga bong?“ Gabriel mengacak-acak rambut Shilla. “hhhh gue harus nya sadar. Gue itu Cuma dianggap sahabat sama Iel. Ga lebih.“ Batin Shilla.

“yaudah deh gue masuk dulu ya.“ Shilla langsung pergi masuk ke dalam rumah nya.

“kenapa tuh anak? Aneh ga kayak biasanya. Lebih kalem. Ga marah lagi guee panggil bong.“ Batin Gabriel. Gabriel tak terlalu memikirkan. Mungkin Shilla masih kurang enak badan makanya gitu. Dia langsung menstarter motornya dan segera pergi pulang ke rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar