Jumat, 07 Juni 2013

Sahabat Jadi Cinta *4










 Tanpa kita sadari, perasaan itu semakin lama semakin besar. Semakin besar perasaan itu, semakin menggebu-gebu pula hati kita untuk mengungkap kan nya.


*

Sivia sudah gelisah menunggu di depan pagar rumah nya sedari 15 menit yang lalu. Tapi Cakka belum juga muncul menjemput nya. Semalam Sivia menelfon Cakka sebelum tidur untuk berangkat sama ke sekolah. Awal nya Cakka keberatan, namun Dengan paksaan manja sivia akhirnya Cakka pun menurut saja.

20 menit sudah Sivia berdiri di depan pagar rumah nya. Namun Cakka tak kunjung datang. Sekarang sudah menunjukan pukul 06.45. 15 menit lagi bel masuk sudah berbunyi namun sampai sekarang Cakka saja belum menjemput Sivia.

Jam 06.55 baru muncul mobil Ferrari merah dari kejauhan yang sangat dikenal Sivia dan berhenti tepat di depan Sivia. Ya, itu mobil Cakka. Dengan memasang wajah marah Sivia tetap berdiri di depan pagar rumah nya itu dan enggan masuk ke dalam mobil Cakka.

Berkali-kali Cakka klakson menyuruh Sivia untuk masuk ke mobil nya, namun tidak juga dihiraukan. Akhirnya Cakka membuka kaca mobil nya dan berteriak menyuruh Sivia untuk masuk.

“Vi buruan masuk! Lo mau telat? Udah tau kita udah telat lo malah pake acara ngambek segala.” Teriak Cakka. Mendengar kata Cakka barusan, Sivia akhirnya masuk juga ke dalam mobil Cakka. Benar juga kata Cakka. Batin Sivia.

*

Pagi ini semua kembali pada aktifitas rutin mereka sebagai pelajar. Rio dan Ify sudah sampai disekolah duluan daripada sahabat mereka yang lain. Tak lama kemudian muncul Gabriel dan Shilla yang juga berangkat bersama ke sekolah. 5 menit lagi bel masuk seharusnya berbunyi. Namun sampai sekarang Cakka dan Sivia belum sampai juga ke sekolah.

Bel pun berbunyi. Miss Heni sudah masuk ke kelas XI 2. Kelas Rio, Ify, Gabriel, Shilla, Cakka dan Sivia. Pelajaran Miss Heni sudah berlangsung 10 menit namun Sivia dan Cakka tak kunjung datang. Ke empat sahabat Cakka dan Sivia sudah cemas kenaoa Cakka dan Sivia tak juga datang. Apa mereka janjian untuk bolos hari ini?

Tok tok tok. Pintu kelas diketok seseorang dari luar sana. Rio, Ify, Gabriel dan Shilla harap-harap cemas bahwa yang mengetuk pintu into sahabat mereka Cakka dan Sivia.

“ya silahkan masuk.” Sorak Miss Heni dari kelas.

Cklek.. pintu kelas dibuka. Dua orang memakai seragam SMA BEROEMD. Cowok tinggi berkulit putih membuka pintu kelas dan disamping kiri nya berdiri gadis chubby yang agak pendek dari cowok itu. Mereka berdua memasang tampang cemas takut dimarahi oleh Miss Heni yang terkenal killer. Dua orang itu tak lain adalah Cakka dan Sivia. Gabriel, Shilla, Rio dan Ify menarik nafas lega.

“Cakka Sivia? Kenapa kalian telat?” tanya Miss Heni.

“ma.. maaf Miss. Tadi kita ga sengaja nyenggol motor orang di lampu merah.” Alibi Cakka sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tak gatal.

“loh kok? Kan tadi sqbewd wv#/uice8*U*&^$@qw00ier103r” mulut Via ditutup oleh Cakka. Cakka tahu bahwa Sivia akan member jawaban yang jujur kalo Cakka telat jemput dia. Empat sahabat mereka yang duduk dibangku hanya bisa menahan tawa mereka. siswa-siswi dikelas pun tidak berani membuka suara mereka karena takut akan Miss Heni.

“lalu bagaimana keadaan orang itu? Apa kamu sudah bertanggung jawab?” tanya Miss Heni kini penuh selidik. Raut wajah nya yang tadi seperti ingin memakan orang, kini berubah khawatir.

“u.. udah kok Miss udah. Tadi saya udah minta tolong warga sekita buat nganterin orang itu ke rumah sakit. Udah saya kasih juga uang buat berobat nya.” Karang Cakka. Sivia hanya diam manyun saja tak mau dibekap lagi oleh Cakka.

“yaudah. Syukur kalo gitu. Lain kali hati-hati bawa mobil. Dan untuk sekarang kamu saya izinkan untuk masuk jam pelajaran saya kali ini. kalian berdua segera duduk.” Miss Heni kembali dengan raut wajah marah nya dan hentakan suaranya. Sivia dan Cakka kini bernafas lega.

*

“HAHAHAHA” tawa Gabriel, Shilla, Rio dan Ify serentak mendengar cerita dari Cakka dan Sivia yang sebenarnya apa yang membuat mereka telat tadi pagi.

“parah lo Cak parah. Hebat banget lo bisa bikin Miss Heni percaya gitu aja sama cerita lo haha.” Kata Rio disela tawa nya. “haha bener tuh. Mana tuh ekpresi Miss Heni khawatir banget tadi. Lo liat ga? Liat ga Shil, Fy, Yo?” sambung Gabriel. Cakka dan Sivia yang tadi menjadi bahan tertawaan sahabat-sahabatnya kini ikut tertawa membayangkan ekspresi khawatir Miss Heni tadi.

“liat-liat. Haha sumpah pengen ketawa tadi. Tapi ya.. you know lah ya apa fek nya kalo tadi kita ketawa.” Ujar Shilla kini yang diangguki Ify. Mereka tertawa puas dikantin kali ini. tak mereka hiraukan pandangan tajam orang-orang kantin terhadap mereka.

“ehem..” suara deheman itu menghentikan tawa mereka berenam. Serentak mereka melihat seisi kantin. Tatapan orang-orang di kantin tadi ternyata bukan tatapan kesal karena mereka tertawa keras-keras tapi karena…. WHAT??!!

“guys guys.. kalian denger kan siapa yang dehem tadi?” tanya Shilla takut sambil menatap Miss Heni yang tengah berdiri tidak terlalu jauh dari meja mereka dengan tangan sudah dipinggang dan mata melotot nya.

“denger..” jawab semuanya minus Shilla dengan ekspresi sama dengan Shilla.

“kalian juga tau kan itu suara siapa?” tanya Shilla lagi.

“tau.. banget.” Jawab semuanya lagi serentak.

“kalian liat orang nya kan disana?”

“liat Shil liat..”

“gue ga salah liat kan kalo itu…. Miss Heni?  WHAT??!! MISS HENI?! OMG! MAMPUS GUE! MAMPUS KITA! HAA GIMANA INI GIMANA?” panic Shilla memecah lamunan sahabat-sahabatnya yang melihat keberadaan Miss Heni disana.

“KITA TAU SHILLAAAA LO TENANG DONG KITA MAKIN BINGUNG NIH MAU GIMANA.” Protes Sivia yang sudah takut karena Miss Heni kini tengah berjalan mendekati meja mereka. mampus gue bakalan ditelan nih. Batin Gabriel. Cakka meneguk ludah nya takut. Rio melotot serasa mata nya hampir keluar. Shilla panic, Sivia panic, Ify panic juga namun panic nya malah menggigit sedotan minumannya. Parah…

“apa yang sedang kalian tertawakan?” tanya Miss Heni geram. Semua pandangan mata di kantin sudah tertuju kepada enam orang sahabat ini.

“ngg.. ini Miss itu mm..” gugup Gabriel menjawab. Dia mengkode Cakka, Cakka menatap pasrah ke Rio. Rio berbisik ke Ify “gimana Fy?” Ify hanya mengangkat bahu. Ify menatap Shilla, tanggapan Shilla sama dengan dirinya hanya mengangkat bahu. Shilla melirik Sivia, Sivia hanya manyun….

“ngg.. ga.. ga ada kok Miss.. tadi kita lagi ceritain OVJ semalem. Nah iya kita lagi ceritain OVJ semalem. Bener kan guys?” alibi Ify. Dia melotot kearah sahabat-sahabatnya. Sahabatnya mengerti apa maksud Ify.

“i.. iya Miss bener” serentak semuanya minus Sivia. Miss Heni tahu bahwa murid nya ini sedang berbohong. Diliriknya Sivia yang hanya diam tak berbicara. Miss Heni tahu bahwa Sivia ini anak nya polos.

“benar begitu Sivia?” tanya Miss Heni. Sivia kaget mendengar Miss Heni bertanya kepadanya. Langsung Sivia menjawab “engga Miss engga tadi kita lagi ngetawain ekspresi Miss tadi beneran deh suer Miss beneran ga boong.” Jawab Sivia cepat dan ceplas ceplos. Karena terlalu takut Sivia menjawab sambil menutup mata. Miss Heni menatap ke lima sahabat Sivia yang kini tengah menahan emosi dan dengan raut wajah sebentar lagi akan menelan Sivia hidup-hidup.

“LARI KELILING LAPANGAN 10 PUTARAN CEPAAATTT.” Teriak Miss Heni. Ke enam murid itu langsung sontak berdiri dan menuju lapangan.


*

Di lapangan Sekolah yang luas itu, tiga pasang siswa-siswi tengah berlari mengitari lapangan luas itu. Sudah 6 putaran yang mereka kelilingi. Nafas mereka sudah tak beraturan. Keringat sudah turun deras di wajah mereka. baju mereka poun sudah basah karena panas nya terik matahari.

Gabriel memang pemilik sekolah ini, namun orang tua nya memerintahkan kepada guru-guru disekolah ini untuk menghukum Gabriel seadil mungkin apabila Gabriel melakukan kesalahan. Apa boleh buat? Gabriel terpaksa menjalan hukuman nya kali ini.

Menjelang putaran ke tujuh, tiba-tiba….

BRUUKK!!!

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar