@
taman belakang sekolah
Dicky, Bisma, Rangga, Morgan dan Reza sedang
duduk di taman belakang sekolah ini. ini tempat mereka biasa ngumpul selain di
kantin. Mereka sedang berbincang-bincang tentang lima siswa MOS yang bakalan
jadi anak bimbing mereka.
”eh kalian inget kan sama lima cewek yang gue
tegur di lapangan tadi?” tanya Dicky kepada empat sahabatnya itu.
”yang mana?” tanya Rangga. “yang itu loh, yang
mereka ketawa pas gue lagi nunjuk kelompok.” Kata Dicky mengingat kan Rangga.
“ohiya iya gue inget. Kenapa mereka? cari
masalah dia sama lo?” ujar Bisma kini.
“yap. Bener banget kata lo mang. Baru gue kasih
tugas pertama aja udah berani ngatain gue budek lah, hidung prrosotan lah,
setres lah, songong lah, suara cempreng. Errr bisa gila gue ngebimbing mereka.”
Dicky mengacak-acak rambutnya.
“HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA” tawa mereka minus
Dicky pecah mendengar cerita Dicky.
“hebat juga tuh anak kecil berani-berani nya
ngatain lo hahaha.” Kata Reza disela tawanya.
“tapi kok mereka ga terpesona ya sama pesona
lo? biasanya kan cewek-cewek kalo sekalinya ngeliat elo tuh langsung teriak
histeris. Coba contohin mang contohin.” Kata Morgan kepada Bisma. Bisma lebih
akrab dipanggil Mamang sama sahabat-sahabat nya.
“aaa Dicky. Aa’ Dicky aaaaa ganteng banget.
Ganteng pisan euy.” Kata Bisma menirukan gaya cewek-cewek yang histeris kalo
ngeliat Dicky.
“dih ngondek lo ah.” Gidik Rangga geli.
“HAHAHAHHAHA” mereka semua tertawa.
“eh iya. Gue punya ide.” Kata Dicky kepada
sahabat-sahabatnya. “apaan?” tanya mereka serentak.
“gimana kalo kita kerjain mereka aja? Gue yakin
kalo mereka ketemu kalian, lo semua juga bakal ngerasain apa yang gue rasain.
Mending kita kerjain aja.” Kata Dicky menaik turunkan alisnya.
“boleh juga tuh.” Kata Reza menyetujui.
“gimana? Lo semua setuju ga?” tanya Dicky lagi kepada empat sahabatnya.
“setuju.” Jawab mereka serentak.
“tadi gue nyuruh mereka nyari kalian. Nah,
sekarang kalian copot tuh kokarde di leher kalian. Ntar dia gampang lagi nyari
kalian. yaudah, sekarang gue cabut duluan. Kalo mereka liat gue sama kalian,
bisa-bisa mereka curiga lagi.” kini Dicky pergi meninggalkan keempat
sahabatnya. Dan sahabatnya juga sudah melepas kokarde dileher mereka
masing-masing.
*
Kini SISFP sedang bingung mencari orang yang
bernama Bisma, Rangga, Reza dan Morgan yang dimaksud Dicky tadi. Mereka sudah
mengelilingi sekolahan dan juga sudah bertanya-tanya kepada senior yang sedang
nongkrong. Tapi mereka juga ga tau dimana. Ada juga yang ga mau ngasih tau.
Pelit banget ye? Ck..
Satu-satu nya tempat yang belum mereka kunjungi
Cuma satu. Taman belakang sekolah. Tiba lah mereka kini di taman belakang
sekolah. Lumayan sepi disini. Karena kebanyakan siswa-siswi sekolah ini
nongkrong nya di kantin.
Shilla melihat ada empat orang cowok sedang
duduk di gazebo taman. Mereka sedang bercandaan gitu. “guys, coba kita tanyain
mereka aja yuk? Siapa tau aja mereka kenal.” Usul Shilla kepada Ify, Sivia,
Febby dan Pricilla sambil menunjuk ke empat orang cowok yang sedang duduk di
gazebo itu.
“yaudah yuk.” Serentak semua nya melangkah kan
kaki menuju gazebo.
“guys, liat deh.” Kata Reza kepada
teman-temannya. Reza melihat ada lima orang cewek berpakaian MOS sedang menuju
ke arah mereka.
“kenapa emang?” tanya Bisma polos. “ck.. Mang..
Mang. Lo ga liat tuh lima cewek?” kata Reza yang berhasil menoyor kepala Bisma.
“ya liat lah bego. Kan gue kagak buta.” Kata
Bisma sambil mengusap-usap kepala nya yang sakit.
“maksud si Reza tuh, ada lima cewek ngarah
kesini. Pake pakaian MOS lagi. jangan-jangan mereka lagi yang dimaksud Dicky
tadi.” Kata Rangga menjawab pertanyaan Bisma mewakilkan Reza.
“Oh.” Jawab Bisma santai.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
“HAAHH??!! Lima cewek yang dimaksud Dicky tadi?
Anak MOS yang nyolot itu?” kageet Bisma dan melotot ke pada tiga sahabat nya
itu.
“Ck.. iya dodol. Dari tadi kemana aja lo? baru
sadar sekarang?” kesal Morgan. tak lama Morgan selesai bicara, lima cewek yang
mereka maksud tadi –SISFP- sudah datang di depan mereka.
“misi kak.” Kata Shilla memberanikan diri
karena teman-temannya yang lain ga berani.
“ya? Ada apa?” jawab Rangga jutek. “jutek
banget ya.” Bisik Sivia kepada Pricilla. Pricilla hanya mengangguk.
“mm gini kak, duh, gimana ya?” Shilla juga
takut. Dia menggaruk-garuk kepala nya yang ga gatal.
“gini kak, kita disuruh sama Dicky, eh kak
Dicky maksud nya buat nyari yang nama nya Bisma, Rangga, Morgan sama Reza.
Kakak tau ga mereka yang mana trus dimana?” kini Ify yang memberanikan diri
bertanya.
“parah nih adek kelas. Main sebut nama aja sama
kakak senior.” Kata Bisma.
“ya maaf kak. Kan orang nya ga ada disini juga
jadi ga bakalan marah kan orang nya.” Kata Febby.
“enak aj…” Morgan memotong perkataan Bisma.
“kalian beneran mau tau yang mana Bisma,
Rangga, Morgan sama Reza?” kata Morgan kini. SISFP mengangguk cepat dengan mata
yang berbinar-binar seperti anak kecil mendapat ice cream.
“ada syaratnya tapi.” Timpal Reza kini. “apa
kak?” tanya SISFP kompak.
“kalian beliin dulu kita makanan di kantin.”
Jawab Bisma menaik turunkan alisnya dengan senyuman mupeng (?)
“sial. Ada mau nya nih kakak senior ngeselin.”
Bisik Pricilla pelan kepada Sivia namun cukup terdengar oleh Bisma, Rangga,
Reza dan Morgan.
“lo bilang apa tadi?” sinis Rangga. “eh ga ada
kak ga ada.” Alibi Pricilla.
“yaudah kak kita beliin. Kakak semua mau kita
beliin apa?” pasrah Febby.
“beliin kita bakso, jus jeruk, lays ukuran
jumbo, sama…” omongan Bisma terhenti karena berpikir apalagi yang akan diminta
nya kepada adik MOS nya ini.
“sama kacang atom ukuran jumbo trus chitato
ukuran jumbo. Udah itu aja.” Cengir Rangga.
“udah kak? Itu aja? Ga kurang tuh?” sindir
Sivia.
“oh, lo mau yang banyak? Ya udah, tambah
sama….” Perkataan Reza terpotong. “ga usah kak ga usah, udah. Itu aja kan?
Yaudah, kita beliin ya.” Kata Pricilla. Bisma, Reza, Morgan dan Rangga
tersenyum puas. “nah gitu dong.” Kata Rangga.
*
SISFP kini sudah dikantin ingin memesan makanan
pesanan kakak-kakak senior rese tadi.
“rese banget ya mereka. Cuma nanya orang aja
pake minta dibeliin makanan segala.” Kesal Sivia.
“ya udah. Kalo gitu ga usah aja kita beliin.”
Kata Shilla santai. Ke empat temannya menatap Shilla penuh tanya.
“kenapa? Kalian pasti bingung kan? Haha.” Kata
Shilla.
“maksud lo apa Shil?” Tanya Ify bingung.
“kalian emang ga liat tag name di baju mereka
tadi?” tanya Shilla. Seemua nya menggeleng dengan tampang cengo (?)
“hhhh. Tadi itu, gue liat tag name di dada
mereka. yang pake behel itu nama nya Bisma, yang pesek itu nama nya Reza, yang pipi
buntel trus rada bule itu nama nya Rangga. Nah yang satu nya lagi Morgan. apa
lagi coba? Mereka itu orang yang kita cari-cari.” Kata Shilla.
Ify, Sivia, Febby dan Pricilla masih bengong.
“jadi kita dikerjain gitu?” kata Sivia.
“yap. 100 buat lo Vi.” Shilla mengacungkan ibu
jari nya. Sivia lebih akrab dipanggil Via.
“sialan. Ya udah, kalo gitu ogah gue beliin
makanan buat mereka.” kesal Pricilla memanyunkan bibirnya.
“kalo gitu sekarang kita balik lagi aja. Ga
usah bawa makanan. Ntar kalo mereka tanyain makanan nya, langsung aja kita to
the point.” Usul Febby.
“setuju.” Serentak Shilla, Ify, Sivia dan
Pricilla. “pinter juga Shil, Feb.” kata Ify.
“iya dong, Shilla gitu.” Shilla
mengibas-ngibaskan rambut nya bak bintang iklan shampoo.
“yee narsis lo.” teriak Ify, Via, Febby dan
Pricilla serentak lalu mereka berjalan meninggalkan kantin dan menuju taman
belakang sekolah lagi.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar