Selasa, 18 Juni 2013

Why Did I Fall In Love With You *3


@ taman belakang sekolah

Dicky, Bisma, Rangga, Morgan dan Reza sedang duduk di taman belakang sekolah ini. ini tempat mereka biasa ngumpul selain di kantin. Mereka sedang berbincang-bincang tentang lima siswa MOS yang bakalan jadi anak bimbing mereka.

”eh kalian inget kan sama lima cewek yang gue tegur di lapangan tadi?” tanya Dicky kepada empat sahabatnya itu.

”yang mana?” tanya Rangga. “yang itu loh, yang mereka ketawa pas gue lagi nunjuk kelompok.” Kata Dicky mengingat kan Rangga.

“ohiya iya gue inget. Kenapa mereka? cari masalah dia sama lo?” ujar Bisma kini.

“yap. Bener banget kata lo mang. Baru gue kasih tugas pertama aja udah berani ngatain gue budek lah, hidung prrosotan lah, setres lah, songong lah, suara cempreng. Errr bisa gila gue ngebimbing mereka.” Dicky mengacak-acak rambutnya.

“HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA” tawa mereka minus Dicky pecah mendengar cerita Dicky.

“hebat juga tuh anak kecil berani-berani nya ngatain lo hahaha.” Kata Reza disela tawanya.

“tapi kok mereka ga terpesona ya sama pesona lo? biasanya kan cewek-cewek kalo sekalinya ngeliat elo tuh langsung teriak histeris. Coba contohin mang contohin.” Kata Morgan kepada Bisma. Bisma lebih akrab dipanggil Mamang sama sahabat-sahabat nya.

“aaa Dicky. Aa’ Dicky aaaaa ganteng banget. Ganteng pisan euy.” Kata Bisma menirukan gaya cewek-cewek yang histeris kalo ngeliat Dicky.

“dih ngondek lo ah.” Gidik Rangga geli. “HAHAHAHHAHA” mereka semua tertawa.

“eh iya. Gue punya ide.” Kata Dicky kepada sahabat-sahabatnya. “apaan?” tanya mereka serentak.

“gimana kalo kita kerjain mereka aja? Gue yakin kalo mereka ketemu kalian, lo semua juga bakal ngerasain apa yang gue rasain. Mending kita kerjain aja.” Kata Dicky menaik turunkan alisnya.

“boleh juga tuh.” Kata Reza menyetujui. “gimana? Lo semua setuju ga?” tanya Dicky lagi kepada empat sahabatnya. “setuju.” Jawab mereka serentak.

“tadi gue nyuruh mereka nyari kalian. Nah, sekarang kalian copot tuh kokarde di leher kalian. Ntar dia gampang lagi nyari kalian. yaudah, sekarang gue cabut duluan. Kalo mereka liat gue sama kalian, bisa-bisa mereka curiga lagi.” kini Dicky pergi meninggalkan keempat sahabatnya. Dan sahabatnya juga sudah melepas kokarde dileher mereka masing-masing.
*

Kini SISFP sedang bingung mencari orang yang bernama Bisma, Rangga, Reza dan Morgan yang dimaksud Dicky tadi. Mereka sudah mengelilingi sekolahan dan juga sudah bertanya-tanya kepada senior yang sedang nongkrong. Tapi mereka juga ga tau dimana. Ada juga yang ga mau ngasih tau. Pelit banget ye? Ck..

Satu-satu nya tempat yang belum mereka kunjungi Cuma satu. Taman belakang sekolah. Tiba lah mereka kini di taman belakang sekolah. Lumayan sepi disini. Karena kebanyakan siswa-siswi sekolah ini nongkrong nya di kantin.

Shilla melihat ada empat orang cowok sedang duduk di gazebo taman. Mereka sedang bercandaan gitu. “guys, coba kita tanyain mereka aja yuk? Siapa tau aja mereka kenal.” Usul Shilla kepada Ify, Sivia, Febby dan Pricilla sambil menunjuk ke empat orang cowok yang sedang duduk di gazebo itu.

“yaudah yuk.” Serentak semua nya melangkah kan kaki menuju gazebo.

“guys, liat deh.” Kata Reza kepada teman-temannya. Reza melihat ada lima orang cewek berpakaian MOS sedang menuju ke arah mereka.

“kenapa emang?” tanya Bisma polos. “ck.. Mang.. Mang. Lo ga liat tuh lima cewek?” kata Reza yang berhasil menoyor kepala Bisma.

“ya liat lah bego. Kan gue kagak buta.” Kata Bisma sambil mengusap-usap kepala nya yang sakit.

“maksud si Reza tuh, ada lima cewek ngarah kesini. Pake pakaian MOS lagi. jangan-jangan mereka lagi yang dimaksud Dicky tadi.” Kata Rangga menjawab pertanyaan Bisma mewakilkan Reza.

“Oh.” Jawab Bisma santai.

1 detik..
2 detik..
3 detik..

“HAAHH??!! Lima cewek yang dimaksud Dicky tadi? Anak MOS yang nyolot itu?” kageet Bisma dan melotot ke pada tiga sahabat nya itu.

“Ck.. iya dodol. Dari tadi kemana aja lo? baru sadar sekarang?” kesal Morgan. tak lama Morgan selesai bicara, lima cewek yang mereka maksud tadi –SISFP- sudah datang di depan mereka.

“misi kak.” Kata Shilla memberanikan diri karena teman-temannya yang lain ga berani.

“ya? Ada apa?” jawab Rangga jutek. “jutek banget ya.” Bisik Sivia kepada Pricilla. Pricilla hanya mengangguk.

“mm gini kak, duh, gimana ya?” Shilla juga takut. Dia menggaruk-garuk kepala nya yang ga gatal.

“gini kak, kita disuruh sama Dicky, eh kak Dicky maksud nya buat nyari yang nama nya Bisma, Rangga, Morgan sama Reza. Kakak tau ga mereka yang mana trus dimana?” kini Ify yang memberanikan diri bertanya.

“parah nih adek kelas. Main sebut nama aja sama kakak senior.” Kata Bisma.

“ya maaf kak. Kan orang nya ga ada disini juga jadi ga bakalan marah kan orang nya.” Kata Febby.

“enak aj…” Morgan memotong perkataan Bisma.

“kalian beneran mau tau yang mana Bisma, Rangga, Morgan sama Reza?” kata Morgan kini. SISFP mengangguk cepat dengan mata yang berbinar-binar seperti anak kecil mendapat ice cream.

“ada syaratnya tapi.” Timpal Reza kini. “apa kak?” tanya SISFP kompak.

“kalian beliin dulu kita makanan di kantin.” Jawab Bisma menaik turunkan alisnya dengan senyuman mupeng (?)

“sial. Ada mau nya nih kakak senior ngeselin.” Bisik Pricilla pelan kepada Sivia namun cukup terdengar oleh Bisma, Rangga, Reza dan Morgan.

“lo bilang apa tadi?” sinis Rangga. “eh ga ada kak ga ada.” Alibi Pricilla.

“yaudah kak kita beliin. Kakak semua mau kita beliin apa?” pasrah Febby.

“beliin kita bakso, jus jeruk, lays ukuran jumbo, sama…” omongan Bisma terhenti karena berpikir apalagi yang akan diminta nya kepada adik MOS nya ini.

“sama kacang atom ukuran jumbo trus chitato ukuran jumbo. Udah itu aja.” Cengir Rangga.

“udah kak? Itu aja? Ga kurang tuh?” sindir Sivia.

“oh, lo mau yang banyak? Ya udah, tambah sama….” Perkataan Reza terpotong. “ga usah kak ga usah, udah. Itu aja kan? Yaudah, kita beliin ya.” Kata Pricilla. Bisma, Reza, Morgan dan Rangga tersenyum puas. “nah gitu dong.” Kata Rangga.

*

SISFP kini sudah dikantin ingin memesan makanan pesanan kakak-kakak senior rese tadi.

“rese banget ya mereka. Cuma nanya orang aja pake minta dibeliin makanan segala.” Kesal Sivia.

“ya udah. Kalo gitu ga usah aja kita beliin.” Kata Shilla santai. Ke empat temannya menatap Shilla penuh tanya.

“kenapa? Kalian pasti bingung kan? Haha.” Kata Shilla.

“maksud lo apa Shil?” Tanya Ify bingung.

“kalian emang ga liat tag name di baju mereka tadi?” tanya Shilla. Seemua nya menggeleng dengan tampang cengo (?)

“hhhh. Tadi itu, gue liat tag name di dada mereka. yang pake behel itu nama nya Bisma, yang pesek itu nama nya Reza, yang pipi buntel trus rada bule itu nama nya Rangga. Nah yang satu nya lagi Morgan. apa lagi coba? Mereka itu orang yang kita cari-cari.”  Kata Shilla.

Ify, Sivia, Febby dan Pricilla masih bengong. “jadi kita dikerjain gitu?” kata Sivia.

“yap. 100 buat lo Vi.” Shilla mengacungkan ibu jari nya. Sivia lebih akrab dipanggil Via.

“sialan. Ya udah, kalo gitu ogah gue beliin makanan buat mereka.” kesal Pricilla memanyunkan bibirnya.

“kalo gitu sekarang kita balik lagi aja. Ga usah bawa makanan. Ntar kalo mereka tanyain makanan nya, langsung aja kita to the point.” Usul Febby.

“setuju.” Serentak Shilla, Ify, Sivia dan Pricilla. “pinter juga Shil, Feb.” kata Ify.

“iya dong, Shilla gitu.” Shilla mengibas-ngibaskan rambut nya bak bintang iklan shampoo.

“yee narsis lo.” teriak Ify, Via, Febby dan Pricilla serentak lalu mereka berjalan meninggalkan kantin dan menuju taman belakang sekolah lagi. 

Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar