Jumat, 07 Juni 2013

Sahabat Jadi Cinta *2









*

Motor gede merah yang tak lain kepunyaan Gabriel kini berhenti disalah satu Toko buku terkenal –yang ga perlu disebut nama nya-. Kini Gabriel dan Shilla sudah turun dari motor Gabriel. Shilla yang tahu tujuan tepat nya Gabriel kesini hanya pasrah saja ditarik kesana-kemari oleh Gabriel. Sudah 10 menit mereka berputar-putar di took buku itu, namun sampai sekarang belum saja ada yang ditemukan oleh Gabriel.

“lo kesini mau beli apaan sih Iel sebenernya?” tanya Shilla jutek. Shilla sudah tak sabar untuk pulang. Ia sudah tak sabar untuk pulang karena sedari tadi tidak ada yang dibeli Gabriel.

“ga tau hehe…” Gabriel lagi lagi mengeluarkan cengiran khas nya yang selalu membuat kesal Shilla. Kini Shilla sudah emosi, tak sabar untuk teriak-teriak didepan wajah tampan Gabriel ini. “trus ngapain lo ajak gue kesini begoo?” geram Shilla. Shilla masih menahan emosi, Shilla sadar bahwa disini tempat umum. Malu-maluin banget kalo sampe dia marah ditempat umum seperti ini.

“ya.. abisnya gue bosen tadi. Anak-anak nongkrong nya disana mulu.. gue bete ya gue ajak lo aja buat jalan hehe” jawab Gabriel santai dengan menggaruk-garukan kepala nya yang tak gatal.

Shilla kini meredakan emosi nya. Muncul ide jail di otak Shilla untuk mengerjai Gabriel. Sebagai ganti rugi karena Gabriel sudah buat Shilla marah. “tau gitu mending tadi gue ajak aja lo nemenin gue. Kan gue juga punya urusan sendiri.” Shilla memulai ide jail nya.

“sebagai ganti rugi nya, lo mesti nemenin gue sekarang.” Tuntut Shilla ke Gabriel. Gabriel yang sangat hafal dengan sifat Shilla kalo ga diturutin bisa ngambek, ia hanya pasrah saja. “yaudah, emang lo mau kemana? Gue temenin deh.. sampe pagi gue temenin.” Gabriel menyombong kan diri nya.

“yaudah, sekarang kita cabut.” Shilla mulai melangkah kan kaki nya untuk pergi dari took buku itu. Baru beberapa langkah ia berjalan, Shilla merasa Gabriel tidak mengikuti nya. Benar saja, Gabriel masih diam ditempat nya dengan beribu kepasrahan.

Shilla kembali ketempat semula dan menarik tangan Gabriel “ayo buruaaan…” ajak Shilla sedikit manja. Dengan pasrah nya Gabriel hanya mengikuti Shilla sampai ke parkiran tempat motornya tadi diparkirkan.

*

Sudah pukul 19.00. kini Cakka, Sivia, Rio, Ify segera pulang setelah asik mengelilingi Mall. Sehabis dari Café tadi, mereka berniat untuk jalan-jalan dan sampailah ditujuan terakhir mereka di Mall ini. Kebetulan Sivia lagi nyari boneka incaran nya selama ini.

Ketika mereka asik bercanda-canda, Cakka terhenti di depan salon. Rio, Sivia, Ify sudah jalan duluan meninggalkan Cakka. Mata Cakka tertuju kepada Cowok tinggi yang sedang tertidur di sofa salon itu. Seperti nya cowok itu sedang menunggu seseorang disana.

Karena merasa ada yang kurang, Rio membalikan badannya kebelakang. Ternyata Cakka teridam didepan salon. Entah apa yang cowok itu lihat. Rio, Ify dan Sivia pun menghampiri Cakka.

“ngapain lo Cak disini? Mau nyalon lo? haha” tanya Rio. Rio, Sivia dan Ify masih belum menyadari ada nya cowok tinggi yang sedang tertidur di sofa dalam salon itu. “eh.. ga. Gue Cuma mastiin aja. Itu yang tidur di sofa di dalem salon si Gabriel bukan sih?” Cakka sibuk mengucek-ngucek mata nya memastikan yang dilihat nya. Ternyata benar saja, cowok yang sedang duduk tertidur di sofa itu tak lain adalah Gabriel.

Rio, Ify dan Sivia serentak melihat ke arah dalam salon itu. Benar saja, mereka mendapati Gabriel yang sedang tertidur di sofa itu. Antara sadar dan tidak sadar lebih tepatnya. “eh iya tuh, si Gabriel. Ngapain ya dia disana?” tunjuk Ify. “kita samperin aja yuk.” Lanjut Sivia. “yaudah yuk..” jawab Ify, Cakka dan Rio serentak.

Kini Rio, Cakka, Ify dan Sivia sudah berada dalam salon tadi. Tepat nya berada di depan sofa yang sedang di duduki Gabriel. Mereka berniat ingin mengejutkan Gabriel. Seperti biasa, ide-ide  jail  selalu terfikirkan oleh mereka.

“DUUUAARRRRR” teriak Rio, Cakka, Ify, Sivia sambil menepukkan tangan mereka . sesuai pemikiran mereka, benar saja. Gabriel kaget dan langsung berdiri “emak lo setaaann gempa woy gempa badai banjir tsunami…” kaget Gabriel. Di depannya kini ada 4 makhluk yang sedang menertawakan diri nya. Rio, Cakka, Ify dan Sivia. Mereka sangat puas tertawa melihat ekspesi kaget Gabriel tadi.

“sialan.. ngagetin aja sih kalian arghh..” kata Gabriel dengan kesal nya. “haha lo nya juga sih Iel, tidur ga liat-liat tempat. Ya, kebetulan kita lewat, kita kagetin aja haha ya ga?” jawab Ify jujur dengan masih menahan tawa nya. Rio, Cakka dan Sivia hanya mengangguk karena masih belum sanggup berbicara akibat tawa mereka.

Baru terfikirkan oleh Gabriel kenapa bisa ada ke empat sahabat nya disini “eh kalian kok bisa ada disini? Ngapain?” tanya Gabriel heran. “ini kan tempat umum, ya terserah kita dong mau ngapain disini.” Jawab Cakka asal. “yee.. gue serius nih.” Jawab Gabriel.

“kita itu tadi lewat habis jalan-jalan sekalian beli boneka Sivia. Eh kebetulan liat Cakka ngeliat lo tidur. Ya kita samperin aja.” Jawab Rio kali ini serius. “eeh iya lo sendiri ngapain disini?” tanya Sivia yang sedari tadi sibuk dengan Ice Cream yang baru saja dibelikan oleh Cakka tadi.

Sivia merengek-rengek kepada Cakka minta dibelikan Ice Cream, awalnya Cakka ga mau. Sivia malah nangis maksa minta di beliin, yaudah mau ga mau Cakka beliin. “Ice Cream mulu lo oneng.” Lirik Gabriel kepada Sivia yang sibuk dengan Ice Cream nya.

Sivia hanya manyun mendengar ucapan Gabriel barusan. lalu Gabriel melanjutkan menjawab pertanyaan Sivia tadi “nih, si kecebong minta ditemenin. Udah 3jam gue nungguin belum kelar-kelar. Gue dikerjain tau ga” kesal Gabriel.

“kecebong siapa?” tanya Sivia santai dan masih menjilati Ice Cream nya. Maklum saja, Sivia memang sangat telmi, lola, dan lemot. Persis seperti anak-anak “SIVIAAAAA” teriak Gabriel, Cakka, Rio dan Ify. Mereka sangat kesal melihat Sivia. Selalu saja begini.

“ih.. kenapa? Ga usah teriak-teriak. Via kan ga budek tau” kesal Sivia manja. Seberapapun kesal Sivia, masih besar kekesalan sahabat-sahabat nya yang lain melihat ulah Sivia. Sejenak Ify terdiam, ia cemburu dengan Shilla.

Shilla selalu mendapat perhatian lebih dari seorang Gabriel yang biasanya sangat cuek dan dingin kepada cewek-cewek. Ify mendengus kesal dalam hati nya karena merasa tidak adil. Dulu Ify pernah minta ditemani ke salon sama Gabriel, tapi Gabriel ga mau dengan alasan males nunggu berjam-jam.

Tapi kenyataannya sekarang, Demi Shilla Gabriel mau menunggu berjam-jam seperti sekarang ini. Rio yang menyadari kemurungan Ify, langsung membuyarkan lamunan Ify “eh Fy kenapa lo? capek ya? Gue anter pulang ya.. letih banget lo kayak nya.” Rio berusaha mengajak Ify agar Ify tak meelihat kemesraan Gabriel dan Shilla setelah ini.

Ify yang kaget dengan sentakan Rio tersadar, lalu mengangguk dengan ragu. Ify juga tak ingin melihat kemesraan Gabriel dan Shilla nanti. Lebih baik dia memilih pulang “iya Yo..” jawab Ify singkat dengan sedikit senyum terpaksa.

“yaudah, guys gue anter Ify dulu ya. Kasihan anak orang udah kecapean.”pamit Rio kepada Sivia, Cakka dan Gabriel dan diangguki oleh 3 sahabat nya itu. Lalu Sivia terfikir sesuatu “Ify dianter Rio, lah trus Via sama siapa dong pulang nya?” tanya Sivia. Ia melirik kea rah Gabriel dan Cakka penuh harap. berharap salah satu dari Gabriel atau Cakka mau mengantari nya pulang.

Gabriel dengan cepat nya menjawab “apaan lo liat-liat? Ga bisa.. ga bisa.. gue masih nungguin Shilla nih.” Jawab Gabriel. Sivia langsung manyun dan jalan satu-satu nya minta anterin pulang sama Cakka. Sivia melirik kea rah Cakka. Sivia mengeluarkan senyum manis nya dan mengedip-ngedipkan mata manja nya kea rah Cakka.

Cakka yang sudah tau maksud Sivia langsung berpura-pura melihat ke sekeliling salon. Sivia manyun. Namun Cakka yang tak tega melihat Sivia pulang sendirian, langsung membuka suara “yaudah iya iya.. gue anterin” jawab Cakka pasrah.

Sivia yang mendengar pernyataan Cakka barusan langsung tersenyum riang “ye…. Cakka baik deh. Makasih ya Cakka.” Sivia tersenyum riang dan mencubit pipi Cakka “iya.. iya ah.. tapi ga perlu cubit cubit segala bisa kan?” jawab Cakka jutek.

“iya deh.. maaf hehe.” Jawab Sivia.

*

Dalam perjalanan, hanya keheningan yang terjadi. Ify masih diam memikirkan Gabriel. Rio bingung harus ngapain. Ia berusaha memecahkan keheningan yang terjadi.

“Fy lo kenapa?” tanya Rio takut namun memberanikan dirinya. Ify diam, sepertinya tidak mendengar Rio. Ify masih meelamun menatap kearah luar jendela

“Fy?” tanya Rio sedikit lebih keras. Namun sama saja, Ify tetap tidak mendengarkan nya. Rio menghela nafas lalu berusaha memanggil Ify lagi berharap Ify mendengarkan nya. “Ify…” kini suara Rio semakin keras. Ify kaget, tersentak dengan panggilan Rio.

“eh.. eh iya.. kenapa Yo?” jawab Ify berusaha tenang. Berusaha menghilang kan kegalauan nya. “lo kenapa?” tanya Rio curiga.

“gue? Kenapa? Emang gue kenapa?” Ify malah berbalik tanya ke Rio. Ify berusaha tersenyum. Namun Rio tau senyuman Ify tadi hanya senyum belaka. “gimana sih.. gue nanya ke lo, lo malah balik nanya ck” jawab Rio sedikit kesal.

“sorry.. sorry. Gue Cuma kecapean aja kok.” Jawab Ify berbohong. Rio tau Ify sedang berbohong, namun Rio tak mau mengungkit hal itu sekarang.

Tak lama kemudian, mobil Rio sudah berhenti di depan pagar tinggi rumah Ify “udah sampe Fy” kata Rio. Lalu Ify bersiap untuk turun, pintu mobil Rio sudah terbuka. Kaki kiri Ify kini sudah turun. Namun ketika Ify ingin menurun kan kaki kanan nya, tangan kanan Ify serasa ada yang menahan. Benar saja, Rio menahan tangan kanan Ify.

Ify menatap heran kepada Rio. Kini Rio menatap Ify dengan sangat serius, lekat-lekat. Tatapan Rio berbeda. Tatapannya sangat tajam, membuat Ify takut “ke.. kenapa… Yo?” tanya Ify. Seketika Rio tersadar dan tatapannya pun berubah seperti biasa.
Rio melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Ify. “eh engga, besok pagi gue jemput ya” entah kenapa Rio mengurungkan niat awal nya. Rio tersenyum kepada Ify. “yaudah, gue masuk dulu ya Yo.” Jawab Ify dengan senyuman manis nya. Senyuman yang membuat siapapun melihatnya meleleh.

Rio hanya mengangguk. Lalu setelah melihat Ify masuk kedalam rumah nya, Rio mulai melajukan mobil nya. 

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar