Selasa, 18 Juni 2013

Sahabat Jadi Cinta *8


Sivia yang sedang tertidur mendengar ada keributan di lantai bawah rumah nya. Dengan setengah sadar Sivia turun ke lantai bawah. Dilihatnya mama dan papa nya sedang bertengkar dan ada… satu orang cewek lagi sedang dirangkul papa nya.

“mama? Papa?” lirih Sivia dari atas tangga.

“Sivia?” ujar Mama Sivia yang sedang terisak tangis. Sivia menghampiri mama nya yang sedang terduduk lemah dilantai. Pipi kiri mama Sivia merah seperti ada jejak tangan. Sepertinya mama Sivia baru saja di tampar oleh papa nya.

“mama kenapa ma? Pipi mama kenapa merah?” Sivia ikut duduk seperti mama nya dilantai.

“mama gapapa Vi. Udah, kamu tidur lagi aja ya.mama gapapa kok sayang” alibi mama Sivia sambilo menahan tangisnya dan sedikit fake smile.

“engga ma. Mama bohong.” Ujar Sivia. Kini dia menatap papa nya “pa, mama kenapa? Papa apain mama?” lirih Sivia. Papa Sivia tak menjawab pertanyaan anak tunggal nya ini.

“jawab pa jawab. Ini lagi, kamu siapa?” kini Sivia sudah emosi. Dia menunjuk-nunjuk gadis yang sedang dirangkul papa nya itu.

Papa nya tidak terima Sivia menunjuk-nunjuk gadis itu “Sivia. Jaga sikap kamu.” Suara papa Sivia meninggi karena emosi.

“kenapa pa? kenapa papa malah belain dia dari pada aku sama mama? Emang dia siapa? Siapa pa? Oh.. aku tau. Dia selingkuhan papa kan?” Sivia juga tak kalah emosi dengan papa nya.

Reflex papa Sivia mendarat kan tangannya di pipi kiri Sivia. “jaga omongan kamu Vi. Dia ga seburuk yang kamu pikirkan” kata papa Sivia.

Mama Sivia semakin terisak melihat anak kesayangannya ditampar “papa? Papa berani nampar Via? Sejak kapan pa? seumur-umur papa belum pernah pa nampar Sivia” lirih Sivia sambil memegangi pipi nya yang merah akibat tamparan papa nya. Badan Sivia bergetar hebat.

Dia memilih untuk menenangkan diri sebentar. Dia pergi ke taman komplek nya. Dia duduk disana dan menangis hebat disana. Dia tidak peduli taman itu sepia tau gelap nya karena sudah malam.

*

Cakka merasa bosan di kamar karena tidak tahu mau ngapain. Dia ga mau lagi ngebayangin Ify sama Rio. Cakka memilih untuk pergi mengitari komplek nya saja dengan Cagiva merah nya. Ketika jalan di dekat taman komplek, Cakka melihat seorang gadis sedang duduk disana. Penasaran, Cakka mengehntikan motornya dan menghampiri gadis itu.

“Via?” kaget Cakka ketika melihat siapa yang sedang duduk dibangku taman sambil terisak. Cakka memilih duduk disamping Sivia. Fyi guys, rumah Cakka sama Sivia satu komplek. Cuma beda Blok aja.

“Cakka?” secepat mungkin Sivia menghapus air matanya agar tidak ketahuan dengan Cakka.

“lo ngapain malem-malem disini? Tanya Cakka. Dia amati wajah Sivia. Mata Sivia bengkak dan hidung Sivia merah seperti orang habis menangis “lo habis nangis?” tanya Cakka lagi.

Sivia hanya menggeleng “ck.. boong lo” sinis Cakka.

“kenapa lo nangis?” tanya Cakka.

Dengan ragu Sivia bertanya “gue boleh pinjem bahu lo?” tanya Sivia. Cakka mengangguk dan tersenyum. Lalu Sivia menyender kan kepala nya di bahu kiri Cakka.

“sekarang lo mau cerita?” ujar Cakka. Sivia mengangguk. Sivia menceritakan semua nya mulai dari A-Z. Cakka merasa kasihan dengan Sivia. Ternyata dibalik sifat manja Sivia, dalem nya itu rapuh.

“udah, lo jangan sedih lagi. kan udah ada abang Kka yang ganteng” goda Cakka sambil mengusap lembut rambut Sivia.

“narsis lo” kata Sivia dengan sedikit tertawa.

“nah gitu dong. Ketawa. Lebih keliatan cantik kan?” ujar Cakka sambil menghapus air mata Sivia. Sivia hanya tersenyum.

DEGGG

“kenapa ini sama jantung gue? Tatapan nya, tangan lembut nya. Ya Tuhan, ternyata Cakka orang nya lembut dan punya senyum yang tulus” batin Sivia

“yaampun, gue baru sadar ternyata Sivia punya senyum yang manis. Dia juga lebih cantik dari dekat. Kenapa jug ague baru nyadar ? padahal gue sama dia udah sahabatan dari kecil.” batin Cakka.tangannya berhenti di pipi Chubby Sivia. Mata mereka berdua beradu.

“eh sorry sorry” ujar Cakka tersadar dari lamunan nya menatap mata Sivia dan melepaskan tangannya dari pipi Sivia.

“iya gapapa kok” jawab Sivia malu. Mereka berdua salting ga jelas.

“hmm gue anter pulang ya?” kata Cakka. Seketika Sivia langsung kembali murung.

“tenang aja, kan ada gue” ujar Cakka. Sivia pasrah saja diajak pulang oleh Cakka. Lagian sekarang juga sudah malam.

*

“hmm thanks ya Cak udah anterin gue sama udah minjemin bahu lo tadi” ujar Sivia tersenyum.

DEGGG

Lagi-lagi senyuman Sivia mampu membuat detak jantung Cakka cepat. “baru tau gue Vi selama ini lo gadis yang cantik dan tegar” batin Cakka.

“iya sama-sama” jawab Cakka. “oh iya besok gue jemput ya” ujar Cakka lagi.

“tumben mau nawarin. Kan biasanya gue yang minta” sindir Sivia yang langsung dihadiahi cubitan dari Cakka di pipi Chubby nya.

“lo ya protes terus. Pokok nya besok lo harus bangun pagi, setengah tujuh lo udah harus siap depan pagar.” Kata Cakka melepaskan cubitannya dari pipi Chubby Sivia.

“gaya lo. ntar telat lagi, kena hukum lagi” sindir Sivia. Dia masih memegangi pipi nya yang habis dicubit Cakka.

“ga bakal. Gue jamin” kata Cakka meyakinkan Sivia.

“yaudah gue pulang dulu ya. Inget. Lo ga boleh nangis, gue ga mau liat lo nangis lagi” peringat Cakka. Sivia mengangguk tanda mengiyakan peringatan Cakka. Lalu Cakka mulai melajukan Cagiva merah nya meninggalkan rumah Sivia. Dia menuju rumah nya.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar