Sivia yang sedang tertidur mendengar ada keributan di lantai bawah rumah
nya. Dengan setengah sadar Sivia turun ke lantai bawah. Dilihatnya mama dan
papa nya sedang bertengkar dan ada… satu orang cewek lagi sedang dirangkul papa
nya.
“mama? Papa?” lirih Sivia dari atas tangga.
“Sivia?” ujar Mama Sivia yang sedang terisak tangis. Sivia menghampiri
mama nya yang sedang terduduk lemah dilantai. Pipi kiri mama Sivia merah
seperti ada jejak tangan. Sepertinya mama Sivia baru saja di tampar oleh papa
nya.
“mama kenapa ma? Pipi mama kenapa merah?” Sivia ikut duduk seperti mama
nya dilantai.
“mama gapapa Vi. Udah, kamu tidur lagi aja ya.mama gapapa kok sayang”
alibi mama Sivia sambilo menahan tangisnya dan sedikit fake smile.
“engga ma. Mama bohong.” Ujar Sivia. Kini dia menatap papa nya “pa, mama
kenapa? Papa apain mama?” lirih Sivia. Papa Sivia tak menjawab pertanyaan anak
tunggal nya ini.
“jawab pa jawab. Ini lagi, kamu siapa?” kini Sivia sudah emosi. Dia
menunjuk-nunjuk gadis yang sedang dirangkul papa nya itu.
Papa nya tidak terima Sivia menunjuk-nunjuk gadis itu “Sivia. Jaga sikap
kamu.” Suara papa Sivia meninggi karena emosi.
“kenapa pa? kenapa papa malah belain dia dari pada aku sama mama? Emang
dia siapa? Siapa pa? Oh.. aku tau. Dia selingkuhan papa kan?” Sivia juga tak
kalah emosi dengan papa nya.
Reflex papa Sivia mendarat kan tangannya di pipi kiri Sivia. “jaga
omongan kamu Vi. Dia ga seburuk yang kamu pikirkan” kata papa Sivia.
Mama Sivia semakin terisak melihat anak kesayangannya ditampar “papa?
Papa berani nampar Via? Sejak kapan pa? seumur-umur papa belum pernah pa nampar
Sivia” lirih Sivia sambil memegangi pipi nya yang merah akibat tamparan papa
nya. Badan Sivia bergetar hebat.
Dia memilih untuk menenangkan diri sebentar. Dia pergi ke taman komplek
nya. Dia duduk disana dan menangis hebat disana. Dia tidak peduli taman itu
sepia tau gelap nya karena sudah malam.
*
Cakka merasa bosan di kamar karena tidak tahu mau ngapain. Dia ga mau
lagi ngebayangin Ify sama Rio. Cakka memilih untuk pergi mengitari komplek nya
saja dengan Cagiva merah nya. Ketika jalan di dekat taman komplek, Cakka
melihat seorang gadis sedang duduk disana. Penasaran, Cakka mengehntikan
motornya dan menghampiri gadis itu.
“Via?” kaget Cakka ketika melihat siapa yang sedang duduk dibangku taman
sambil terisak. Cakka memilih duduk disamping Sivia. Fyi guys, rumah Cakka sama
Sivia satu komplek. Cuma beda Blok aja.
“Cakka?” secepat mungkin Sivia menghapus air matanya agar tidak ketahuan
dengan Cakka.
“lo ngapain malem-malem disini? Tanya Cakka. Dia amati wajah Sivia. Mata
Sivia bengkak dan hidung Sivia merah seperti orang habis menangis “lo habis
nangis?” tanya Cakka lagi.
Sivia hanya menggeleng “ck.. boong lo” sinis Cakka.
“kenapa lo nangis?” tanya Cakka.
Dengan ragu Sivia bertanya “gue boleh pinjem bahu lo?” tanya Sivia.
Cakka mengangguk dan tersenyum. Lalu Sivia menyender kan kepala nya di bahu
kiri Cakka.
“sekarang lo mau cerita?” ujar Cakka. Sivia mengangguk. Sivia
menceritakan semua nya mulai dari A-Z. Cakka merasa kasihan dengan Sivia.
Ternyata dibalik sifat manja Sivia, dalem nya itu rapuh.
“udah, lo jangan sedih lagi. kan udah ada abang Kka yang ganteng” goda
Cakka sambil mengusap lembut rambut Sivia.
“narsis lo” kata Sivia dengan sedikit tertawa.
“nah gitu dong. Ketawa. Lebih keliatan cantik kan?” ujar Cakka sambil
menghapus air mata Sivia. Sivia hanya tersenyum.
DEGGG
“kenapa ini sama jantung gue? Tatapan nya, tangan lembut nya. Ya Tuhan,
ternyata Cakka orang nya lembut dan punya senyum yang tulus” batin Sivia
“yaampun, gue baru sadar ternyata Sivia punya senyum yang manis. Dia
juga lebih cantik dari dekat. Kenapa jug ague baru nyadar ? padahal gue sama
dia udah sahabatan dari kecil.” batin Cakka.tangannya berhenti di pipi Chubby
Sivia. Mata mereka berdua beradu.
“eh sorry sorry” ujar Cakka tersadar dari lamunan nya menatap mata Sivia
dan melepaskan tangannya dari pipi Sivia.
“iya gapapa kok” jawab Sivia malu. Mereka berdua salting ga jelas.
“hmm gue anter pulang ya?” kata Cakka. Seketika Sivia langsung kembali
murung.
“tenang aja, kan ada gue” ujar Cakka. Sivia pasrah saja diajak pulang
oleh Cakka. Lagian sekarang juga sudah malam.
*
“hmm thanks ya Cak udah anterin gue sama udah minjemin bahu lo tadi”
ujar Sivia tersenyum.
DEGGG
Lagi-lagi senyuman Sivia mampu membuat detak jantung Cakka cepat. “baru
tau gue Vi selama ini lo gadis yang cantik dan tegar” batin Cakka.
“iya sama-sama” jawab Cakka. “oh iya besok gue jemput ya” ujar Cakka
lagi.
“tumben mau nawarin. Kan biasanya gue yang minta” sindir Sivia yang
langsung dihadiahi cubitan dari Cakka di pipi Chubby nya.
“lo ya protes terus. Pokok nya besok lo harus bangun pagi, setengah
tujuh lo udah harus siap depan pagar.” Kata Cakka melepaskan cubitannya dari
pipi Chubby Sivia.
“gaya lo. ntar telat lagi, kena hukum lagi” sindir Sivia. Dia masih
memegangi pipi nya yang habis dicubit Cakka.
“ga bakal. Gue jamin” kata Cakka meyakinkan Sivia.
“yaudah gue pulang dulu ya. Inget. Lo ga boleh nangis, gue ga mau liat
lo nangis lagi” peringat Cakka. Sivia mengangguk tanda mengiyakan peringatan
Cakka. Lalu Cakka mulai melajukan Cagiva merah nya meninggalkan rumah Sivia.
Dia menuju rumah nya.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar