Selasa, 25 Juni 2013

Rival In Love * 11


Kini tinggal Blink dan Redbag diruang meeting dengan beribu pertanyaan di otak masing-masing.

1…
2…
3…

BRUUKK

Kaki  Gabriel diinjek Shilla.

“aww..” Gabriel meringis kesakitan.

“gila lo main injek kaki gue aja. Lo kira kaki gue rokok apa main di injek-injek?” protes Gabriel.

“injekan kaki gue tadi belum seberapa sama apa yang lo berlima lakuin sama kita” jawab Shilla sinis.

“lo kira kita tau kalo akhirnya bakalan gini? Kalo akhirnya bakalan gini kita ga bakalan lakuin dari awal” jawab Gabriel. Redbag yang lain mengangguk setuju.

Shilla terdiam karena merasa benar dengan jawaban Gabriel.

“gini aja, kita buat perjanjian. Setiap pasangan harus ada peraturan masing-masing. Gimana?” usul Pricilla.

Semuanya berpikir sebentar lalu mengangguk “oke. Pertama, ga boleh pegang-pegang gue” kata Ify kepada redbag.

“ga nafsu juga” jawab redbag serentak.

“ga boleh panggil-panggil sayang atau semacamnya” kata Shilla.

“pait lidah gue kalo nyebut lo sayang” sinis Gabriel.

“whatever..” jawab Shilla.

“ga boleh punya perasaan suka, sayang apalagi cinta pada akhirnya. Pokoknya ga boleh semua settingan kita menjadi kenyataan” kata Sivia.

“dih.. pede gila lo. yang pertama, gue ga nafsu sama lo. kedua, lo bukan tipe gue” jawab Debo. Sivia hanya manyun mendengar jawaban Debo.

“oke. Bagus kalo gitu” kata Pricilla.

“udah peraturan lo semua? segitu doang?” sinis Rio. Blink menggeleng. Febby sedari tadi hanya diam tidak ikut member peraturan seperti sahabat-sahabatnya.

Sivia yang berdiri disamping Febby menyenggol siku Febby “apa?” tanya Febby polos.

“giliran lo kasih peraturan” bisik Sivia. Febby tampang bingung.

“masih ada. Ka.. kalian ga boleh deket-deket sama kita berlima selain disekolah, di depan big bos, dan diluar sekolah.” kata Febby gugup.  Redbag hanya mengangguk malas.

“loh? Kok gitu?” tanya Cakka. Dia tidak terima dengan peraturan yang disebutkan Febby barusan. Berarti itu artinya dia tidak boleh dekat dengan Febby dilain waktu yang disebutkan Febby tadi.

“kenapa? Ga suka? Beres tinggal bilang big bos aja” ancam Pricilla.

“i..iya deh iya” jawab Cakka pasrah.

“terakhir, ga boleh saling bbm-an, sms-an, telfonan” kata Shilla.

“sarap lo emang. Nah kalo gue mau jemput lo gimana? Kalo gue ga bisa anter lo pulang atau jemput lo gimana ngabarinnya?” kata Gabriel.

Blink berembuk sebentar “oke.  Cuma boleh sms-an itu pun kalo ada perlu nya. Buat ngabarin kalo ga bisa jemput atau ngabarin mau jemput aja” kata Ify memberi keringanan kepada Redbag.

Cakka bernafas lega akhirnya dia bisa sms-an dengan Febby walaupun hanya ada keperluan saja.

“oke. Setuju. sekarang giliran kita. pertama, jangan sampe terpesona sama ketampanan pasangan masing-masing” kata Rio.

“pede” jawab Blink serentak dengan santai dan malas nya.

“ke dua, lharus turutin apa kata pasangan masing-masing kalo di depan umum. Karena semua orang tau nya status kita berpacaran. dan lo semua harus yakinin semua orang” kata Debo.

“hah? Males banget harus nurutin apa kata kalian” protes Sivia.

“gampang. Tinggal bilang big bos aja kok. Ga susah” ancam Alvin.

“iya deh iya..” jawab Blink pasrah.

“ketiga, lo semua harus professional di depan wartawan” kata Alvin.

Blink hanya mengangguk saja.

“udah?” tanya Shilla malas-malasan. Redbag mengangguk.

“oke. Siapa aja yang ngelanggar peraturan yang udah kita setujuin, harus siap nerima hukuman” kata Shilla.

“hukuman?” kaget Redbag serentak. Blink mengangguk.

“yap, hukuman. Siapa yang ngelanggar, harus dapat hukuman dari pasangan masing-masing” lanjut Pricilla.

“lo kira ini sekolahan pake hukuman segala?” protes Debo.

“big bos siap ngegorok kalian kok” ancam Sivia.

Redbag melongos pasrah saja setiap kali mendengar ancaman dengan nama big bos mereka.

“dikit dikit big bos.. dikit dikit big bos” kata Rio pelan.

“apa lo bilang?” tanya Ify.

“ga ada” jawab Rio jutek.

“gimana? Simple kan?” tanya Shilla lagi.

“oke. Deal” jawab Gabriel. Blink minus Febby mengangguk dan tersenyum menang. Febby tidak terlalu suka dengan semua peraturan-peraturan ini.  menurutnya jika ini memang tuntutan pekerjaan mereka, seharusnya dilakukan professional saja tanpa ada nya aturan.

Bersambung…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar