Selasa, 25 Juni 2013

First Love Until The Die *16


Shilla sedang menatap langit cerah malam ini dengan senyuman. Entah apa yang bisa membuat dia tersenyum malam ini. namun tiba-tiba Shilla merasakan pusing yang sangat hebat. Pusing yang sering menghampiri tubuh nya. Dia mengerang kesakitan sambil memegangi kepala nya kuat.

“arrggghh sakit” Shilla mengerang kesakitan. Dia mencoba menahan tubuhnya agar tidak pingsan. Namun apa daya? Tubuhnya sudah tidak kuat bertahan. Kaki nya bergetar hebat dan sangat lemas. Dia merasakan sakit yang sangat hebat. Tubuhnya sudah mulai tidak bisa menyeimbangi lagi. tiba-tiba..

BRUUKK…

Tubuh Shilla sudah tak kuat lagi menahan dan akhirnya tubuh Shilla jatuh terhempas keras ke lantai balkon kamarnya. Suara hantaman itupun terdengar sampai ke lantai 1 rumahnya. Papa dan Mama Shilla yang sedang di ruang tv pun kaget mendengar suara hantaman keras itu. sontak mereka langsung berlari menuju lantai 2 kamar Shilla.

TOOKK TOOKK TOOKK

Mama Shilla mengetuk pintu kamar Shilla namun tak ada jawaban dari dalam kamar Shilla. Tidak mungkin Shilla sudah tidur. Jam segini belum waktu tidur nya Shilla.

“Shilla?” panggil mama Shilla. Namun tak ada jawaban dari kamar Shilla.

“Shilla? Buka pintunya nak.. kamu kenapa sayang? Kamu gapapa kan?” tanya Mama Shilla sudah mulai cemas.

“Pa, gimana ini pa. ga ada jawaban juga dari Shilla. Mama takut Shilla kenapa-kenapa pa” tangis mama Shilla kini.

“tenang ya ma, tenang. Papa coba dobrak pintu nya dulu” ujar Papa Shilla dan bersiap-siap mendobrak pintu kamar Shilla.

“ga usah pa. kita ada kunci duplikat kan? Coba tolong papa ambilin deh” cegah mama Shilla. Papa Shilla mengangguk dan mengambil kunci duplikat kamar Shilla. Tak lama papa Shilla kembali dengan menggenggam berbagai kunci duplikat di tangannya.

“ayo pa buruan buka. Mama takut Shilla kenapa-kenapa” desak mama Shilla.

“iya ma, iya sabar sebentar” papa Shilla mencoba-coba berbagai kunci duplikat ditangannya.

CKLEEKK

Akhirnya salah satu kunci itu ada yang pas dengan kunci kamar Shilla. Langsung papa dan mama Shilla membuka pintu kamar Shilla. Dilihatnya keadaan kamar kosong, sepi. Tidak ada Shilla. Mereka mencari-cari Shilla disekitar kamar Shilla.

Mama Shilla melihat pintu menuju balkon kamar Shilla terbuka. Batin mama Shilla mengatakan bahwa anak nya berada disana. Benar saja, baru mama Shilla melangkah beberapa langkah menuju balkon, dia sudah melihat anak nya tergeletak di lantai.

“PAPAAA SHILLA PA SHILLA” teriak mama Shilla.

“Shilla, kamu kenapa nak? Ya ampun Shilla” tanya mama Shilla terisak. Shilla kini tergeletak tak sadar kan diri dengan muka yang sangat pucat.

“kenapa ma? Ya ampun Shilla?” kaget papa Shilla yang baru datang menghampiri mama Shilla.

“ayo pa kita angkat. Bawa ke rumah sakit” ujar mama Shilla. Papa Shilla mengangguk dan langsung menggendong anak tunggal nya itu menuju mobil. Mereka langsung membawa Shilla ke rumah sakit.

“kamu bertahan ya nak” kata mama Shilla mengikuti papa Shilla yang membopong Shilla. Hanya itu yang bisa diucapkan mama nya. Mama Shilla sudah semakin terisak melihat anak nya seperti ini lagi.

*

@ Rumah Sakit

Setiba nya di Rumah Sakit, Shilla langsung dibawa ke ruang UGD oleh pihak medis Rumah Sakit. Sudah hampir 1 jam Shilla ditangani Dokter namun Dokter masih juga belum keluar memberi kabar tentang perkembangan Shilla. Mama Shilla sudah menelfon Ify memberitahu Ify kalau Shilla masuk rumah sakit. Dan Ify pun langsung menyusul ke rumah sakit.

Mama Shilla rencana nya ingin menelfon Cakka untuk mengabari keadaan Shilla. Tapi karena mama Shilla tidak tahu nomor handphone Cakka jadinya mama Shilla ga bisa ngabari Cakka.

*

Ify sedang tiduran di kasurnya. Dari tadi perasaan nya ga enak. Tiba-tiba handphone Ify berdering tanda telfon masuk.

“hallo” sapa suara wanita paruh baya disebrang sana.

“iya tan?” jawab Ify.

“Fy, kamu ke Rumah Sakit ya sekarang. Shilla msauk rumah sakit lagi. tadi dia pingsan di kamarnya” kata mama Shilla –wanita paruh baya-

“hah? Shilla down lagi tan? Ya udah iya aku kesana sekarang” kaget Ify dan langsung memutus sambungan telfonnya dengan mama Shilla.

“ya ampun Shil, lo kenapa bisa gini lagi sih?” batin Ify. Dia bolak-balik sendiri di kamarnya seperti sedang berpikir.

“Kasih tau Cakka ga ya? Ntar kalo gue kasih tau, Shilla marah lagi” batin Ify. Ify duduk sebentar diatas kasurnya. Dia terbayang 2 tahun yang lalu waktu Shilla menceritakan rahasia besar nya kepada Ify. Lebih tepatnya waktu mereka jadi sahabat waktu kelas 3 SMP.

Ify tidak sanggup mengingat semuanya. Dia sangat sayang terhadap Shilla. Dia menganggap Shilla bukan seperti sahabat, melainkan sudah seperti saudara. Shilla selalu ada disamping nya walaupun kondisi Shilla seperti itu. Shilla selalu menghibur Ify. Begitu juga dengan Ify selalu ada untuk Shilla. Mereka sudah seperti anak kembar yang tak bisa dipisahkan.

Perlahan Ify meneteskan air mata nya. Ingin rasa nya dia menggantikan posisi Shilla. Dia rela asalkan Shilla bahagia.

Ify menghapus air matanya lalu berdiri “gue ga boleh nangis. Mending sekarang gue nyusul Shilla ke rumah sakit” ujar Ify lalu mengambil kunci mobil. Dia langsung menuju rumah sakit.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar