Cakka cengo melihat Sivia “tampang lo kenapa ga
nyante gitu Cak?” tanya Sivia polos dan dengan tampang tak berdosa nya (?)
“lo ga ngenalin gue juga?” tanya Cakka.
“menurut lo? kan tadi udah” sinis Sivia. Cakka
menatap Sivia geram. Selalu saja Sivia membuat dia kesal.
“hahaha kalian berdua lucu ya. Pacaran nya
malu-malu gitu trus suka adu mulut lagi haha” ujar Febby disela tawanya. Cakka
dan Sivia terdiam, saling bertatapan cengo.
“pa..ca..ran?” kata mereka serentak. Febby
mengangguk.
“iya.. kalian pacaran kan?” tanya Febby.
“HAHAHAHAHAHA” tawa Rio, Ify, Shilla dan
Gabriel pecah.
“idih, ogah banget gue pacaran sama dia. Sampe
tikus berubah jadi keju tuh ga bakalan sudi gue pacaran sama dia” sinis Sivia.
“dih.. lo kira gue mau apa? sampe kambing
beranak kucing pun kagak mau gue pacaran sama lo” balas Cakka.
“loh? Kalian ga pacaran? Tapi kalian cocok loh
berdua. Tadi pagi aja di mobil kalian kayak orang pacaran gitu. Makanya aku
kira kalian pacaran” jawab Febby polos.
“hahaha kak Febby bener tuh. Lo berdua tau ga?
Akhir-akhir ini tuh kalian berdua kayak orang pacaran aja tau ga. Lengket mulu.
Apa jangan-jangan…” goda Gabriel.
Pipi Sivia dan Cakka sudah memerah. Mereka
salting di goda seperti itu “jangan-jangan apa?” tanya Sivia.
“kalian emang saling suka ya?” timpal Rio.
“hah? Eng… engga kok dih ga banget gue suka
sama dia” jawab Sivia.
“yakin Vi lo ga suka sama gue? masa sih lo ga
terpesona sama ketampanan gue?” goda Cakka menaik turunkan alisnya.
“CIEEE Sivia Cakka nih” sorak sahabat-sahabat
mereka termasuk Febby.
“apaan sih? udah ah. Tuh makanan dateng” Sivia
mengganti topic pembicaraan mereka. kebetulan pesanan mereka juga datang.
“thanks god ada penyelamat gue” batin Sivia.
“sekarang gue tau Vi sebenernya hati gue bukan
buat Ify, tapi buat elo. Gue baru sadar kalo selama ini gue ga cinta sama Ify.
Gue Cuma terobsesi sama dia aja. Selama ini gue cinta sama elo Vi” batin Cakka
menatap Sivia yang sedang lahap nya menyantap bakso hangat dihadapannya.
Semua menyantap bakso dan es jeruk
masing-masing dengan lahap. Gabriel ingin mengajak Shilla bicara, tapi ga
berani. Berani ga berani akhirnya dia memberanikan diri.
“Shil..” panggil Gabriel kepada Shilla yang
sedang duduk disebelahnya.
Shilla sebenarnya tau bahwa Gabriel
memanggilnya. Tapi dia pura-pura ga dengar, demi IFY. Demi menjaga perasaan
IFY.
“Shil..” panggil Gabriel lagi. Shilla masih
pura-pura ga dengar. Dia masih lahap menyantap bakso nya. Ify, Rio, Febby,
Cakka dan Sivia yang mendengar Gabriel memanggil Shilla pun heran mengapa
Shilla tidak menghiraukan Gabriel. terlagi Ify dan Rio yang duduk dihadapan
Gabriel dan Shilla.
“Shil..” panggil Ify kini. Langsung Shilla
menoleh kea rah Ify.
“kenapa?” tanya Shilla.
“Iel manggil lo tuh dari tadi” ujar Rio. Shilla
hanya diam lalu mengangguk-angguk saja. Lanjut dia menyantap bakso nya.
Gabriel merasa hampa jika Shilla sudah seperti
ini. dia sendiri tidak tahu apa salahnya terhadap Shilla.
“lo ada apa sama Shilla?” bisik Cakka bertanya
kepada Gabriel. Iel hanya mengangkat bahu tanda juga tak mengerti.
“gue duluan. Mau ke toilet” ujar Shilla
langsung berdiri ingin meninggalkan meja dan bakso nya begitu saja. Baru ingin
melangkah kan kaki, tangan kiri Shilla di cegah oleh sebuah tangan yang
diyakini tangan Gabriel.
“lo mau kemana?” tanya Gabriel kepada Shilla
yang masih membelakangi Gabriel.
“lo ga denger tadi? Toilet” jawab Shilla jutek.
“ lo kenapa sih Shil? Gue ada salah apa sama lo?” tanya Gabriel to the point. Dia ikut berdiri menghampiri Shilla. Sahabat yang lain hanya menatap mereka berdua bingung.
“ga ada” jawab Shilla seadanya. Dia ingin
melanjutkan langkah nya, namun di cegah lagi oleh Gabriel.
“apa lagi?” tanya Shilla sinis.
“jawab jujur. Kenapa tiba-tiba lo jadi gini
sama gue?’ tanya Gabriel serius kini. Dia membalikan tubuh Shilla sehingga kini
mereka berdua saling berhadapan.
“lo budek apa tuli? Kan udah gue bilang ga ada
ya ga ada” jawab Shilla dengan nada yang ditekankan.
“gue ga percaya. Ini pasti ada sesuatu yang
bikin lo ngejauh sama gue”
“kalo itu menurut lo, yaudah gue turutin” jawab
Shilla sinis lalu menepis kasar tangan Gabriel. Shilla langsung pergi
meninggalkan Gabriel dan sahabat-sahabatnya yang lain.
“ARGGGHHHSS” Gabriel mengacak-acak rambutnya
frustasi. Dia tidak mengerti kenapa Shilla mendadak bisa seperti ini.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar