CKLEK
Pintu kamar Shilla dibuka oleh seseorang.
Dengan sigap Shilla langsung menyeka air mata nya. Dilihatnya siapa yang
datang, ternyata Ify.
“eh elo Fy, ngagetin aja” kata Shilla. Dia
menghampiri Ify yang sudah duduk di atas kasur nya. Tak heran karena Ify sudah
menganggap kamar Shilla adalah kamar nya juga. Bahkan rumah Shilla juga rumah
dia juga. Shilla selalu berkata seperti itu kepada Ify.
Ify yang melihat wajah Shilla basah an mata
Shilla merah pun curiga “lo habis nangis ya?” selidik Ify.
“ngg.. engga kok engga. Ini tadi gue habis
kucek-kucek mata aja” jawab Shilla gelagapan.
“hello Shilla.. lo pikir gue kenal lo itu baru
kemaren sore? Kita udah sahabatan 3 tahun Shil. Lo masih belum ngaku juga?”
Shilla menunduk “iya gue ngaku gue habis
nangis” jawab Shilla pelan.
Ify mendekati Shilla lalu mengangkat dagu
Shilla agar kepala Shilla tegak “kenapa lagi? Kaka? Apa… Cakka?” tanya Ify.
Shilla diam sebentar “Kaka” jawabnya lirih.
Ify menghela nafas sebentar. Dia sudah tahu
jawaban Shilla “kenapa lagi sama Kaka?” tanya Ify.
Shilla menggeleng. Ia tidak mau lagi bercerita
tentang kesedihannya kepada Ify. Cukup Ify sudah terbebani dengan penyakit nya
ini.
“lo mau cerita atau mau rahasia lo gue
bongkar?” ancam Ify.
Shilla menghela nafas sebentar “selalu aja
kayak gini” batin Shilla. Ify memang selalu mengancam seperti itu jika Shilla
tidak mau jujur.
“yaudah iya. Tadi gue Cuma keinget sama Kaka
aja. Kayak biasa” jawab Shilla.
Ify melihat Shilla penuh selidik “trus?” tanya
Ify lagi.
“ya.. ga ada terus nya lah. Kalo terus mulu ya
nabrak”
“mau jujur atau…”
“iya.. iya. Sekali-kali ga ngancem kek. Tadi
gue keinget sama Kaka. Gue keinget sama janji kita berdua dulu” jawab Shilla
pasrah.
Ify mengangguk mengerti “janji apa?” tanya Ify.
“ga perlu gue kasih tau lah. Cuma gue sama Kaka
yang tau. Tapi gue ga yakin dia masih inget sama janji kita berdua dulu apa
engga. Kan udah lama banget waktu sebelum dia pindah ke Sydney”
“gue harus ngomong sama Cakka. Harus.. gue ga
mau Shilla makin sedih” batin Ify.
“Fy..” panggil Shilla melambai-lambaikan
tangannya di depan wajah Ify.
“eh iya Shil?” tanya Ify tersadar dari lamunan
nya.
“gimana rencana lo?”
Ify menepuk jidatnya “mampus. Gue keasikan
ngobrol tadi sama Debo, jadinya lupa gue gimana sama Cakka dan Rio” jawab Ify.
“Debo?” tanya Shilla mengernyitkan dahinya.
Ify mengangguk “iya. Jangan bilang lo lupa sama
dia?”
“Debo yang…” belum selesai Shilla berbicara,
Ify sudah terlanjur mengangguk yakin dengan tebakan Shilla.
“ya ampun. Lo ketemu sama dia? Emang dia udah
balik lagi kesini?”
“ya udah lah. Udah seminggu dia disini. Oh iya
lo masuk sekolah kapan?”
“senin aja deh” jawab Shilla menuju kasur nya
dan berbaring disana yang diikuti Ify dibelakang dan ikut berbaring.
Ify mengangguk mengerti “trus dinner lo besok
sama Cakka gimana?” tanya Ify. Sejenak Shilla langsung terdiam. Dia sendiri
lupa dengan janji nya kepada Cakka.
“ntar deh gue sms dia bilang gue masih di
Bandung” jawab Shilla.
“eh besok lo ga kemana-mana kan?” kata Ify
mengalihkan topic pembicaraan.
Shilla menggeleng “kenapa?” tanya Shilla.
“bagus. Besok Debo mau jemput gue ke sekolah
sekalian dia mau liat-liat sekolah kita. Siapa tau aja dia minat masuk sekolah
kita” jawab Ify.
“trus hubungan nya sama gue?” tanya Shilla lagi
lagi menunjuk dirinya.
“besok gue mau ngajak dia kesini. Buat ketemu
lo.. udah lama kan lo ga ketemu dia? Ga kangen emang?”
“hehehe kangen sih. ya udah besok kabarin aja
kalo kalian mau kesini” jawab Shilla. Ify mengangguk mantap. Lalu mereka larut
dalam perbincangan seru mereka.
*
Cakka sedang berbaring di kasur nya sambil
menatap langit-langit kamar nya. Bayangan Shilla selalu berputar di otaknya.
Bayangan masa kecil nya dengan Shilla, bayangan beberapa bulan terakhir ini
ketika Shilla mengenal dia sebagai Cakka. Bukan Kaka.
“udah beberapa hari ini lo ga sekolah Shil.
Handphone lo juga ga aktif. Lo sebenernya kemana sih? gue kangen…” lirih Cakka.
“dari awal gue balik ke Indonesia dan dihari
pertama gue di Indonesia, gue langsung ketemu lo. sebelum gue pindah ke
Indonesia lagi, gue udah bertekad ingin nyari lo. gue ga ngira secepat dan
segampang itu gue ketemu sama lo lagi”
“dari awal kita ketemu di Mall, gue tau pasti
itu elo. Shilla kecil sahabat gue dulu. Gue ga bisa lupa sama bayangan kita
masa kecil Shil. Mata lo. itu yang bikin gue semakin yakin lo itu adalah Shilla
sahabat kecil gue”
“waktu gue ke rumah lo. gue semakin yakin kalo
lo itu adalah sahabat kecil gue yang selama ini selalu berputar dibenak gue.
waktu gue liat nyokap lo. gue inget banget sama nyokap lo. ditambah waktu itu
nyokap lo manggil nama lo ‘Shilla’ disana gue semakin yakin”
“ditambah wwaktu gue ketemu bokap lo. ga heran
kenapa bokap lo segitu dekat nya sama gue. lo ga inget Shil? Waktu kita kecil,
bokap lo selalu nganggap gue itu anak nya juga. Gue sama bokap lo emang udah
deket Shil”
“gue emang pengecut banget. Selama ini gue
bohong sama lo karena gue takut lo marah sama gue. karena gue ga nepatin janji
gue dulu sama lo. janji kalo gue bakal balik kesini secepatnya. Tapi apa? gue
baru balik enam bulan yang lalu. Gue ingkari janji gue dulu”
Cakka terisak dalam tangisnya. Cakka bukan
cowok cengeng yang gampang nangis. Tapi hanya satu hal yang mampu membuat dia
nangis. Shilla. Hanya mengenang Shilla lah dia bisa menangis. Cakka bukan cowok
lemah yang gampang menangis. Namun dalam hal mengingat Shilla, Cakka langsung
lemah.
Bersambung…
Lalalala cerita makin ga jelas gini…. Ya iyalah
ga jelas, aku baru mikirin ending nya. Tapi buat ngerangkai cerita sampe ending
belum kepikiran-_- maafkan saya, saya hanya penulis abal._.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapuslanjutin ceritanya dong, btw keren ceritanya :)
BalasHapusTerimakasih :) hehe
Hapus