Selasa, 25 Juni 2013

First Love Until The Die *22


CKLEK

Pintu kamar Shilla dibuka oleh seseorang. Dengan sigap Shilla langsung menyeka air mata nya. Dilihatnya siapa yang datang, ternyata Ify.

“eh elo Fy, ngagetin aja” kata Shilla. Dia menghampiri Ify yang sudah duduk di atas kasur nya. Tak heran karena Ify sudah menganggap kamar Shilla adalah kamar nya juga. Bahkan rumah Shilla juga rumah dia juga. Shilla selalu berkata seperti itu kepada Ify.

Ify yang melihat wajah Shilla basah an mata Shilla merah pun curiga “lo habis nangis ya?” selidik Ify.

“ngg.. engga kok engga. Ini tadi gue habis kucek-kucek mata aja” jawab Shilla gelagapan.

“hello Shilla.. lo pikir gue kenal lo itu baru kemaren sore? Kita udah sahabatan 3 tahun Shil. Lo masih belum ngaku juga?”

Shilla menunduk “iya gue ngaku gue habis nangis” jawab Shilla pelan.

Ify mendekati Shilla lalu mengangkat dagu Shilla agar kepala Shilla tegak “kenapa lagi? Kaka? Apa… Cakka?” tanya Ify.

Shilla diam sebentar “Kaka” jawabnya lirih.

Ify menghela nafas sebentar. Dia sudah tahu jawaban Shilla “kenapa lagi sama Kaka?” tanya Ify.

Shilla menggeleng. Ia tidak mau lagi bercerita tentang kesedihannya kepada Ify. Cukup Ify sudah terbebani dengan penyakit nya ini.

“lo mau cerita atau mau rahasia lo gue bongkar?” ancam Ify.

Shilla menghela nafas sebentar “selalu aja kayak gini” batin Shilla. Ify memang selalu mengancam seperti itu jika Shilla tidak mau jujur.

“yaudah iya. Tadi gue Cuma keinget sama Kaka aja. Kayak biasa” jawab Shilla.

Ify melihat Shilla penuh selidik “trus?” tanya Ify lagi.

“ya.. ga ada terus nya lah. Kalo terus mulu ya nabrak”

“mau jujur atau…”

“iya.. iya. Sekali-kali ga ngancem kek. Tadi gue keinget sama Kaka. Gue keinget sama janji kita berdua dulu” jawab Shilla pasrah.

Ify mengangguk mengerti “janji apa?” tanya Ify.

“ga perlu gue kasih tau lah. Cuma gue sama Kaka yang tau. Tapi gue ga yakin dia masih inget sama janji kita berdua dulu apa engga. Kan udah lama banget waktu sebelum dia pindah ke Sydney”

“gue harus ngomong sama Cakka. Harus.. gue ga mau Shilla makin sedih” batin Ify.

“Fy..” panggil Shilla melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ify.

“eh iya Shil?” tanya Ify tersadar dari lamunan nya.

“gimana rencana lo?”

Ify menepuk jidatnya “mampus. Gue keasikan ngobrol tadi sama Debo, jadinya lupa gue gimana sama Cakka dan Rio” jawab Ify.

“Debo?” tanya Shilla mengernyitkan dahinya.

Ify mengangguk “iya. Jangan bilang lo lupa sama dia?”

“Debo yang…” belum selesai Shilla berbicara, Ify sudah terlanjur mengangguk yakin dengan tebakan Shilla.

“ya ampun. Lo ketemu sama dia? Emang dia udah balik lagi kesini?”

“ya udah lah. Udah seminggu dia disini. Oh iya lo masuk sekolah kapan?”

“senin aja deh” jawab Shilla menuju kasur nya dan berbaring disana yang diikuti Ify dibelakang dan ikut berbaring.

Ify mengangguk mengerti “trus dinner lo besok sama Cakka gimana?” tanya Ify. Sejenak Shilla langsung terdiam. Dia sendiri lupa dengan janji nya kepada Cakka.

“ntar deh gue sms dia bilang gue masih di Bandung” jawab Shilla.

“eh besok lo ga kemana-mana kan?” kata Ify mengalihkan topic pembicaraan.

Shilla menggeleng “kenapa?” tanya Shilla.

“bagus. Besok Debo mau jemput gue ke sekolah sekalian dia mau liat-liat sekolah kita. Siapa tau aja dia minat masuk sekolah kita” jawab Ify.

“trus hubungan nya sama gue?” tanya Shilla lagi lagi menunjuk dirinya.

“besok gue mau ngajak dia kesini. Buat ketemu lo.. udah lama kan lo ga ketemu dia? Ga kangen emang?”

“hehehe kangen sih. ya udah besok kabarin aja kalo kalian mau kesini” jawab Shilla. Ify mengangguk mantap. Lalu mereka larut dalam perbincangan seru mereka.

*

Cakka sedang berbaring di kasur nya sambil menatap langit-langit kamar nya. Bayangan Shilla selalu berputar di otaknya. Bayangan masa kecil nya dengan Shilla, bayangan beberapa bulan terakhir ini ketika Shilla mengenal dia sebagai Cakka. Bukan Kaka.

“udah beberapa hari ini lo ga sekolah Shil. Handphone lo juga ga aktif. Lo sebenernya kemana sih? gue kangen…” lirih Cakka.

“dari awal gue balik ke Indonesia dan dihari pertama gue di Indonesia, gue langsung ketemu lo. sebelum gue pindah ke Indonesia lagi, gue udah bertekad ingin nyari lo. gue ga ngira secepat dan segampang itu gue ketemu sama lo lagi”

“dari awal kita ketemu di Mall, gue tau pasti itu elo. Shilla kecil sahabat gue dulu. Gue ga bisa lupa sama bayangan kita masa kecil Shil. Mata lo. itu yang bikin gue semakin yakin lo itu adalah Shilla sahabat kecil gue”

“waktu gue ke rumah lo. gue semakin yakin kalo lo itu adalah sahabat kecil gue yang selama ini selalu berputar dibenak gue. waktu gue liat nyokap lo. gue inget banget sama nyokap lo. ditambah waktu itu nyokap lo manggil nama lo ‘Shilla’ disana gue semakin yakin”

“ditambah wwaktu gue ketemu bokap lo. ga heran kenapa bokap lo segitu dekat nya sama gue. lo ga inget Shil? Waktu kita kecil, bokap lo selalu nganggap gue itu anak nya juga. Gue sama bokap lo emang udah deket Shil”

“gue emang pengecut banget. Selama ini gue bohong sama lo karena gue takut lo marah sama gue. karena gue ga nepatin janji gue dulu sama lo. janji kalo gue bakal balik kesini secepatnya. Tapi apa? gue baru balik enam bulan yang lalu. Gue ingkari janji gue dulu”

Cakka terisak dalam tangisnya. Cakka bukan cowok cengeng yang gampang nangis. Tapi hanya satu hal yang mampu membuat dia nangis. Shilla. Hanya mengenang Shilla lah dia bisa menangis. Cakka bukan cowok lemah yang gampang menangis. Namun dalam hal mengingat Shilla, Cakka langsung lemah.

Bersambung…

Lalalala cerita makin ga jelas gini…. Ya iyalah ga jelas, aku baru mikirin ending nya. Tapi buat ngerangkai cerita sampe ending belum kepikiran-_- maafkan saya, saya hanya penulis abal._. 

3 komentar: