Selasa, 09 Juli 2013

Dua Hati *7


“Fy, mending lo minta buatin aja sama Papi lo ruangan khusus buat lo sama temen-temen lo makan pas istirahat. Atau tempat khusus buat lo ngumpul-ngumpul gitu bareng temen-temen lo” usul gila dari otak Gabriel muncul.

“gila. Engga ah. Nanti yang ada orang-orang pada bilang gue sombong lagi. engga” tolak Ify.

“lo bener-bener rendah hati Fy. salut gue. jarang banget gue ketemu cewek kayak lo” batin Cakka.

“halah.. sok-sokan rendah hati lo. Muna” gumam Rio sinis namun cukup terdengar oleh Ify.

Mendengar sindiran Rio, telinga Ify merasa memanas “gue ga muna dan sama sekali ga sok-sokan rendah hati” tegas Ify.

Rio hanya mengerlingkan mata nya “muna ya tetep aja muna”

“gue ga muna” kata Ify semakin memperkeras suaranya seraya berdiri. Seketika semua murid yang ada di kantin langsung beralih menatap Ify. Sivia yang tadinya duduk disebelah Ify kini ikutan berdiri dan hanya bisa menyabarkan Ify dengan mengelus-elus pundak Ify lembut. Sedangkan Shilla dan Angel yang tadinya sedang memesan makanan pun langsung menoleh ke meja Ify.

“jangan mentang-mentang lo anak dari pemilik sekolahan ini, lo bisa seenak udel lo. asal lo tau, gue juga punya hak atas sekolah ini” kata Rio yang juga ikutan berdiri dihadapan Ify.

Ify mengernyitkan dahi tak mengerti “ma.. maksud lo, lo juga punya hak atas sekolah ini apaan?” kini suara Ify sudah lebih pelan.

Rio tersenyum sinis “ck.. katanya lo anak pemilik sekolahan. Tapi masa itu aja ga tau?” jawab Rio sinis.

“beneran, gue ga tau. Papi sama mami pun ga pernah cerita sama gue” jawab Ify.

“lo tanya aja tuh sama temen lo” tunjuk Rio kepada Sivia.

“atau lo tanya langsung aja sama Papi Mami lo itu” sambung Rio lalu melangkah pergi meninggalkan meja.

Setelah menatap kepergian Rio dengan penuh pertanyaan, Ify beralih menatap kepada Sivia lalu kepada Gabriel yang sedang memasang wajah cengo nya dan terakhir menatap Cakka yang masih stay cool nya.

“kalian bisa jelasin apa maksud cowok rese tadi?” tanya Ify kepada Sivia, Gabriel dan Cakka.

Ketiga nya hanya mengangkat bahu saja “mending lo tanya langsung aja sama Papi Mami lo, Fy. biar jelas” jawab Sivia yang diangguki Gabriel dan Cakka.

Ify memilih untuk duduk kembali dan diikuti Sivia. Tak lama, Shilla dan Angel balik membawa dua nampan yang berisi pesanan mereka berempat tadi. Baru Shilla dan Angel duduk, mereka berdua langsung melontarkan beribu pertanyaan kepada Ify.

“Fy, lo tadi kenapa sama si Rio?” tanya Shilla.

“kok bisa Fy lo ribut sama Rio?” tanya Angel.

“lo bisa marah juga Fy?” tanya Shilla.

“kok lo berani ngelawan dia sih Fy?” tanya Angel.

“mimpi apaan lo Fy semalem bisa berantem gitu sama si Rio?” tanya Shilla.

Ify yang mendengar rentetan pertanyaan dari Shilla dan Angel semakin pusing. Ify menghela nafas sebentar lalu menjawab satu per satu pertanyaan dari Shilla dan Angel tadi.

“Shilla, Angel. Gini ya, kalian kalo mau nanya itu satu-satu dulu” kata Ify sedikit dipaksakan lembut sebelum menjawab pertanyaan kedua temannya itu.  Shilla dan Angel hanya nyengir saja. Sedangkan Sivia, Gabriel dan Cakka hanya geleng-geleng kepala saja.

“oke. Gue jawab. Tadi si Rio yang mulai duluan. Kenapa gue bisa ribut sama Rio? Ya bisa lah. Gue bisa marah? ya bisa lah. Manusia juga punya batas kesabaran kali. kenapa gue berani? Buat gue, ga ada kata takut. Apalagi sama Rio. And last, gue ga mimpi apa-apa semalem. Udah kan?” jawab Ify panjang lebar. Shilla dan Angel hanya melongo saja mendengar jawaban Ify. Author sendiri ga tau mereka berdua ngerti apa engga jawaban Ify itu(?)

Setelah Ify dan Sivia menceritakan semuanya kepada Shilla dan Angel, mulai dari usul gila Gabriel tadi hingga kenapa Ify bisa bertengkar dengan Rio tadi. Shilla dan Angel hanya manggut-manggut saja.

“tapi ya Fy, bener juga tuh kata Gabriel. kenapa ga lo minta buatin aja sama Papi lo ruangan khusus buat lo istirahat?” kata Angel.

“iya Fy. jadi kan lo ga perlu pusing-pusing nyari meja di kantin lagi” timpal Shilla. Gabriel yang merasa ide nya diterima banyak orang pun merasa bangga dan menyisir rambut nya sedikit(?)

“bener Fy, gue setuju. Lagian kalo pun lo dibuatin ruangan khusus, ga bakalan ada juga yang bilangin lo sombong atau semacam nya. karena emang pantes. Kan lo yang punya nih sekolahan” kata Cakka akhirnya membuka suara. Ify mengangguk-angguk saja sambil mencerna kata teman-teman nya.

“nanti deh gue coba omongin sama Papi” kata Ify akhirnya. Tampak raut wajah senang di wajah Gabriel, Cakka, Sivia, Shilla dan Angel. Tau dong kenapa?

“gue boleh ga Fy ikutan istirahat di ruangan lo aja nanti?” seru Via dengan wajah mupeng nya dan menaik-turunkan alisnya.

Ify sudah tahu pasti teman-teman nya juga akan ikut menikmati ruangan itu. tapi Ify tidak keberatan jika teman-teman nya juga menikmati ruangan itu nanti nya “ya boleh lah. Khusus kalian bertiga boleh” jawab Ify. “kalo jadi ye” sambung Ify lagi dengan senyum meledek nya.

Wajah Sivia, Shilla dan Angel yang semula seperti anak kecil mendapat mainan pun seketika berubah manyun “hahaha” Ify hanya tertawa melihat ekspresi manyun teman-teman nya itu.

“gue boleh ga Fy?” tanya Gabriel kini yang juga dengan wajah mupeng nya.

Ify menatap Gabriel heran sebentar “emang kita kenal?” tanya Ify polos.

“HUAAKAKAKAKAKAKAHAHAHA” seketika tawa Sivia, Cakka, Shilla dan Angel pecah.

“yah.. elo Fy. masa ga kenal gue sih? kan kita sekelas” kata Gabriel sambil memanyunkan bibirnya.

“hah? Iya ya? Masa sih? hehe maap maap. Gue ga tau” jawab Ify dengan cengiran nya.

“jadi gimana? Boleh ga?” tanya Gabriel lagi yang langsung mendapat toyoran dari Cakka.

“apasih lo Cak” protes Gabriel sambil mengelus puncak kepala nya yang sakit.

“enak banget lo numpang diruangan Ify. Kenal aja kagak” kata Cakka.

“yaudah kenalan dulu deh” jawab Gabriel santai lalu mengulurkan tangannya kepada Ify. Dengan cepat Ify juga ikut mengulurkan tangannya.

“Gabriel” kata Gabriel.

“Ify”

“nah, kalo ini nama nya Cakka, Fy. kalo yang marah sama lo tadi…. Udah tau kan nama nya?” kata Gabriel.

Ify hanya mengangguk malas saja mengingat kejadian tadi.

“ya udah, khusus lo berlima boleh deh ikutan istirahat di ruangan gue. itung-itung tempat ngumpul kita hehe” jawab Ify. Gabriel langsung bertos ria dengan Cakka. Melihat Cakka yang seriang itu, Ify tidak percaya ternyata Cakka yang dari tadi terlihat sangat cool bisa tersenyum seperti itu juga.

Melihat senyuman Cakka, seketika hati Ify berdebar kencang. Entah kenapa, dia sangat terpesona dengan senyum manis Cakka.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar