Selasa, 09 Juli 2013

Dua Hati *3


Sesampai nya di kamar, Ify semakin terbelalak tak percaya melihat kamar baru nya. Kamar baru nya yang berwarna putih diberi wallpaper pink pulkadot di dua sisi dinding kamar nya. Di dalam kamar nya ada meja belajar berwarna putih. Diatas meja terdapat sebuah laptop berwarna pink.

Disebelah pintu masuk terdapat sebuah lemari besar berwarna pink putih dengan pintu dorong dan dipintu terdapat cermin besar.

“Mi, Pi. Ini kamar Ify?” tanya Ify tak percaya. Mami dan Papi mengangguk mantap “iya sayang. Ini kamar kamu. Gimana? Suka?” tanya Mami.

Ify mengangguk mantap “suka Mi. suka banget. Warna kesukaan Ify juga. Ini lebih dari cukup lagi Mi kamar nya. Gede banget” kata Ify. Dia berjalan perlahan menyusuri kamar baru nya dan diikuti Mami dan Papi.

“ini belum seberapa Ify. Masih ada lagi loh” kata Mami lalu memberi kode kepada dua orang pelayan yang sedari tadi sudah berdiri di kamar Ify.

Ify melihat rekasi kedua pelayan itu. kedua pelayan itu menuju sebuah ruangan lain di dalam kamar. Ternyata sebuah perpustakaan. Ify kaget tak percaya ada perpustakaan di dalam kamar nya ini. selama ini saja jangankan perpustakaan, kamar mandi saja tidak ada di kamar nya.

“i.. ini perpustakaan Mi, Pi?” tanya Ify heran. Mami dan Papi mengangguk.

“Masih ada lagi Fy” ujar Papi. Ify hanya mengikuti saja kemana dua orang pelayan itu pergi.

Kedua pelayan itu kembali membuka sebuah pintu menuju sebuah ruangan lagi. ternyata sebuah ruangan yang isi nya dua buah lemari besar. Tak kalah besar dengan lemari di kamar nya tadi.

“ini ruangan apa Mi, Pi?” tanya Ify.

“Surti, Ijah buka” suruh Papi kepada dua pelayan itu.

Dengan sigap mereka berdua membuka lemari besar itu. Surti membuka lemari berwarna putih. Isi nya boneka-boneka, accessories warna-warni, berbagai sepatu mulai dari sepatu sekolah yang bermerk dan bermodel, flat shoes dengan berbagai warna dan high heels. Ify ternganga melihat semua bvarang-barang yang memenuhi lemari itu.

Lemari yang dibuka oleh Ijah isi nya baju-baju model zaman sekarang, kacamata, gadget seperti laptop dengan berbagai merk, handphone mulai dari yang qwerty hingga ke touchscreen, SLR dengan berbagai merk, dan ada 5 kunci yang tergantung di dalam lemari. Ify bertanya-tanya kunci apa itu?

“i.. ini buat Ify semua Mi, Pi?”

“iya sayang. Ini buat kamu. Gimana? Ada yang kurang? Kamu mau apa? kita shopping nanti? Atau.. ke salon? Atau apa? bilang sama Mami kamu mau apa?” jawab dan tanya Mami.

Ify menggeleng “engga Mi engga. Ini malahan udah lebih dari cukup Mi. itu kunci buat apa?” tanya Ify menunjuk 5 kunci yang ada di dalam lemari yang dibuka Ijah.

“oh itu. Itu kunci mobil buat kamu sayang. Kita ke garasi sekarang aja yuk? Kita lihat mobil nya” ajak Mami. Ify menganga tak percaya bisa mendapatkan semua ini. dia tidak pernah membayangkan semua ini. lalu Ify mengangguk mengiyakan lalu mengikuti langkah Mami dan Papi nya menuju garasi mobil.

*

Ify semakin menganga tak percaya melihat 5 mobil sport yang bertengger di garasi itu. semuanya kinclong-kinclong.

“mobil buat Ify, Mi? yang mana?” tanya Ify.

“semuanya” jawab Mami dan Papi Ify serentak. Mata Ify membelalak, mulutnya menganga. Dia tidak percaya ke lima mobil itu miliknya.

“semuanya?” tanya Ify memastikan. Mami dan Papi mengangguk. Ify sudah tahu pasti jumlah mobil itu. ada 5.

“trus buat Mami sama Papi mobil yang mana?” tanya Ify lagi.

“ada di garasi satu lagi sayang. Ini garasi sengaja khusus buat mobil-mobil kamu aja. Dan kunci nya yang tadi kegantung di lemari kamu” jelas Papi. Ify mengangguk tanda mengerti.

“tapi Ify ga bisa bawa mobil Mi, Pi”

“itu gampang. Papi udah telfon guru mengemudi buat kamu. Guru yang handal. Minggu depan dia baru bisa datang dari Paris. Jadi menjelang guru kamu datang, kamu kesekolah nanti akan diantar-jemput sama Mang Trisno” jelas Papi.

Ify mengangguk tanda mengerti. Dia masih mencerna semua nya di otak. Masih tak percaya walau ini sebenarnya memang kenyataan, bukan mimpi.

*

Keluarga Burhan sedang makan malam special dirumah nya kini. mereka merayakan kedatangan Ify malam hari ini. walaupun makan malam special yang dimaksud hanya mereka bertiga saja. Pak Restu Burhan, Buk Rini Burhan beserta Ify.

“enak Fy?” tanya Mami kepada Ify. Dia melihat Ify makan dengan sangat kahap. Seperti orang tidak makan seminggu (?)

Ify mengangguk saja karena masih sibuk dengan makanan lezat dihadapannya ini. Ify makan dengan semangat 45 (?)

“oh iya, kamu jangan sungkan-sungkan ya dirumah ini. mulai sekarang, ini rumah kamu Fy. dan kalau kamu butuh apa-apa, tinggal panggil Bi Inah, Bi Surti, Bi Ijah, Bi Sumi. Dan kalau kamu mau kemana-mana, kamu tinggal minta anter aja sama Mang Trisno, Mang Karyo, Mang Tarno. Mereka bertujuh udah Mami utus buat ngurus dan jagain kamu. Dan ada juga 4 bodyguard yang udah Mami utus buat ngejagain kamu dari segala kebahayaan” jelas Mami.

Mendengar semua deretan nama dan penjelasan Mami tadi, Ify tersedak “uhuk… uhuk..” dengan sigap Ify meraih segelas air putih disebelah nya.

“kamu gapapa Fy?” tanya Mami cemas.

“ga.. gapapa kok Mi. Ify Cuma keselek aja” jawab Ify setelah tenggorokan nya sudah baikan.

“makanya, kamu tuh makan hati-hati. Besok Mami masukin kamu ke sekolah kewanitaan. Biar kamu ga kayak tadi lagi” ujar Mami. Papi hanya geleng-geleng kepala saja melihat istri dan anak nya seperti itu. Ify hanya memanyunkan bibir saja. Tidak pernah terbayangkan dibenak nya masuk sekolah kewanitaan.

*

Pagi ini Ify sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah baru nya. Kini Ify sedang mematut dirinya di depan cermin kamar nya. Dia memandangi dirinya dengan seragam barunya.

“gue ga mimpi kan?” tanya Ify sendiri kepada cermin. Bodohnya Ify, dia bertanya kepada cermin. Sudah jelas tidak akan ada jawaban.

TOK TOK TOK

Pintu kamar Ify diketuk seseorang dari luar. Sedikit-sedikit Ify mengerti. Dia pernah melihat di sinetron-sinetron jika ada yang mengetuk pintu kamar, maka si empu nya kamar akan menjawab ‘masuk’ dan yang mengetuk pun akan masuk.

“Masuk..” kata Ify. Benar saja dugaan nya. Seseorang yang mengetuk pintu kamar Ify pun membuka pintu kamar Ify dan masuk. Ternyata seorang pelayan yang di duga Ify Bi Sumi.

“Bi.. Sumi ya?” tanya Ify memastikan. Wanita paruh baya itu mengangguk.

“iya nyonya, saya Bi Sumi”

“ada apa Bi?”

“Nyonya besar sudah menunggu di mobil. Katanya Nyonya muda diminta segera ke mobil sekarang”

“kok cepet banget Bi? Bukannya kata Mami tadi jam tujuh kurang 15? Ini baru setengah enam loh Bi”

“saya ga tau Nyonya, tadi Nyonya besar yang bilang gitu”

“ya udah Bi. Bilang ke Mami ya, bentar lagi aku turun” Bibi mengangguk patuh lalu keluar dari kamar Ify dan menutup pintu  kamar Ify.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar