Selasa, 09 Juli 2013

Dua Hati *2


Selama perjalanan Ify tidak membuka suara, hanya seperlu nya saja. Jika ditanya, dia hanya menjawab seperlunya saja. Buk Rini dan Pak Restu mengerti bahwa Ify masih tidak terbiasa dengan semua ini.

Kini Ify terlelap tidur karena merasa capek di mobil berlama-lama. Sampai akhirnya Ify tidak sadar bahwa dia sudah sampai dikediaman mewah Buk Rini dan Pak Restu.

“Fy, Ify. Bangun nak, kita udah sampai dirumah” kata Buk Rini membangunkan Ify dengan lembutnya. Ternyata tidak perlu bersusah payah mengeluarkan energy banyak untuk membangunkan Ify tidur. Baru segitu saja Ify sudah langsung terkesiap dan bangun.

“eh, udah sampai ya Buk?” tanya Ify kaget. Buk Rini mengangguk lalu tersenyum “yaudah yuk Fy turun. Barang-barang kamu udah ada di kamar” ajak Buk Rini. Ify mengangguk lalu turun dari mobil.

Mata Ify terbelalak ketika melihat rumah megah tempat dirinya berdiri sekarang. Rumah yang serba putih, tingkat 3. Di depan rumah itu kini sudah banyak para pelayan dengan baju seragam putih pink nya. Berdiri berderet dan tersenyum kepada Ify. Nyonya muda baru mereka.

Mata Ify lalu beralih melihat ke sekeliling halaman rumah. Dilihatnya gerbang yang tinggi menjulang berwarna hitam. Disana terdapat ada 4 orang laki-laki berbadan besar berdiri disana dengan wajah sangar nya. Mereka berempat seperti nya para bodyguard yang diminta menjaga-jaga rumah.

Dilihatnya juga sebuah air mancur besar yang bertengger di tengah jalan menuju rumah. Sepanjang jalan menuju rumah, terdapat taman yang indah di kiri-kanan jalan.

Ify menganga tak percaya melihat kemegahan rumah ini “Fy.. ayo masuk. Papi udah nunggu tuh” kata Buk Rini membuyarkan lamunan Ify.

“Papi?” heran Ify.

Buk Rini mengangguk tersenyum “iya. Nanti kita bicarain di dalem aja ya” kata Buk Rini. Ify mengangguk patuh saja lalu mengikuti langkah Buk Rini masuk ke dalam rumah. Para pelayan yang sudah berdiri berderet tadi membungkuk memberi salam selamat datang kepada Ify. Ify hanya balik mengangguk ragu saja. Buk Rini tersenyum saja melihat tingkah Ify yang masih belum terbiasa dengan semuanya.

*

Pak Restu sudah menunggu di sebuah ruangan khusus keluarga berbincang-bincang. Seraya membaca Koran disana menunggu isrinya dan Ify datang. Langkah kaki terdengar olehnya. Diyakini nya itu langkah kaki istrinya beserta Ify. Langsung dia menutup korannya dan meletakan nya di meja.

Benar saja, Ify beserta istrinya sudah memasuki ruangan itu “kenapa lama Mi?” tanya Pak Restu.

“biasa pi, nungguin Ify terbiasa dengan semuanya dulu” jawab Buk Rini lalu duduk disebelah suami nya. Ify memilih duduk di kursi disebelah Pak Restu duduk. Di kursi yang khusus buat satu orang.

Pak Restu mengerti akan maksud dari jawaban istrinya lalu beralih menatap Ify yang sedang terpesona dengan ruangan ini. ruangan dengan dinding wallpaper warna merah dengan ukiran-ukiran. Juga di ruangan ini terdapat sebuah grand piano putih, TV LCD besar yang bertengger di dinding ruangan ini. Ruangan ini memang luas, namun hanya diisi seperlunya saja seperti kursi, meja, TV, grand piano.  

“Ify, mulai sekarang ini rumah kamu. Semua yang ada dirumah ini milik kamu sayang” kata Pak Restu kepada Ify.

Ify kaget mendengar pernyataan Pak Restu barusan. rumah sebesar dan semegah ini milik Ify? “mi.. mili..k Ify?” tanya Ify kaget.

Buk Rini mengangguk “iya sayang. Punya kamu. Mulai sekarang, semua nya milik kamu. Pelayan disini semuanya juga pelayan kamu. Dan mulai sekarang juga, kamu panggil Ibu dengan sebutan Mami, dan Bapak dengan sebutan Papi” ujar Buk Rini.

Ify bisa menerima sebutan itu sekarang karena benar saja, Buk Rini dan Pak Restu adalah orang tua angkat nya sekarang. Namun tidak untuk kemilikan rumah ini beserta semuanya untuk Ify. Ify merasa tidak punya hak untuk semua ini. dia hanya lah anak angkat dari Buk Rini dan Pak Restu.

Ify mengangguk mengerti permintaan Buk Rini tadi “baik bu. Eh Mami” jawab Ify.

“tapi Mi.. kenapa semua nya jadi milik Ify? Ify kan ga ada hak Mi buat semua ini. Ify kan Cuma…”

“Ify sayang, kamu jangan pernah beranggapan kamu itu anak angkat Mami sama Papi. Inget itu. mulai sekarang, kamu penerus dari keluarga Burhan” kata Mami Ify lembut seraya mengelus rambut Ify lembut. Dia kini sudah duduk disebelah Ify.

Ify merasa sangat nyaman ketika bersama Buk Rini. Dia merasa bersama Ibu kandung nya.

“oh iya Fy. besok kamu mulai sekolah disekolah keluarga kita ya. Di SMA International High School. Papi udah urusin semua nya. Ini seragam kamu dan buat perlengkapan yang lainnya udah ada di kamar kamu” kata Papi dan mengulurkan sebuah bungkusan. Diperkirakan isi nya baju seragam Ify.

Ify menerima bungkusan itu lalu membuka nya. Benar saja, isi nya seragam sekolah Ify. Namun sesuatu mengganjal di otak nya ‘sekolah keluarga kita?’

“hmm… Pi. Sekolah keluarga kita, maksud nya apa ya?” tanya Ify polos.

Papi dan Mami tertawa sedikit mendengar pertanyaan polos Ify “oh iya Papi sama Mami lupa nyampein ke kamu ya? Gini loh Fy, Papi kamu mendirikan sebuah sekolah. Nama nya SMA International High School. Nanti disana, kamu jangan sungkan-sungkan ya sama guru-guru disana. Guru disana udah diminta Papi buat ngejagain dan membimbing kamu. Nanti Sekolah itu nantinya akan turun ke tangan kamu sayang” kata Mami. Ify semakin kaget mendengar pernyataan terakhir Mami Rini barusan.

“ma.. m.. maksud Mami.. sekolah itu buat Ify?” tanya Ify kaget.

Papi dan Mami mengangguk mantap “iya Ify. Sekolah itu udah Papi wariskan untuk kamu sepenuh nya karena kamu penerus keluarga Burhan satu-satu nya” jawab Papi mantap. Ify semakin tak percaya mengapa semuanya bisa berubah 360 derajat seperti sekarang ini?

“makasih Pi, Mi. Ify ga nyangka akan diperlakukan seperti ini” ujar Ify lalu memeluk Papi dan Mami nya. Papi dan Mami balik memeluk Ify.

“sama-sama sayang. Jangan sungkan-sungkan ya” kata Mami seraya melepaskan pelukannya. Ify mengangguk.

“nah, sekarang kita ke kamar kamu aja yuk Fy” ajak Papi. Ify mengangguk mantap tak sabar ingin melihat kamar baru nya. Lalu mereka bertiga pergi meninggalkan ruang keluarga itu dan menuju kamar Ify. Mereka berjalan menuju lantai dua.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar