Jrengjreng *cling* hello para pembaca cerbung
ku.. diriku kembali lagi dengan cerita baru. Kali ini aku ngga bikin cerbung
ataupun mini cerbung. Kali ini aku bikin CERPEN yeaay!! Okedeh langsung baca
aja yeaa daripada kebanyakan basa-basi hehe enjoy guys! :* luv u
**
Keadaan di salah satu meja di café ini terasa
sangat panas. Disana sudah ada sepasang muda-mudi yang tengah dilanda masalah.
Apalagi kalau bukan masalah percintaan mereka? sedari tadi tak banyak kata yang
mereka lontarkan. Hanya tatapan tajam dari pria berkulit sawo matang dan
berperawakan tinggi ini lah yang terpancar. Dan gadis cantik berambut panjang
yang tengah duduk didepannya ini hanya menundukan kepalanya karena takut dengan
tatapan tajam kekasih nya.
“jadi.. siapa cowok kemaren?” tanya cowok yang
berperawakan tinggi itu kepada gadis cantik didepannya ini dengan nada yang
sangat dingin. Tatapan matanya masih sama, tajam.
“co..cowok yang ma..na?” tanya gadis itu
pura-pura tidak mengerti. Walau begitu, nada berbicaranya tidak bisa berbohong
bahwa dia kini tengah ketakutan. Suaranya bergetar.
“perlu gue ceritain ke lo cowok mana nya? cish…
gue rasa tanpa gue jelasin, lo ngerti apa maksud gue” jawab cowok itu sinis dan
menyunggingkan senyum menyindirnya.
“beneran Yo… aku ngga tau cowok mana yang kamu
maksud” jawab cewek itu kepada Rio –cowok itu-. kali ini dia memberanikan diri
menegakkan kepalanya dan menatap mata elang Rio itu yang kini terlihat sangat
tajam dan mematikan.
“lo masih belum ngaku juga?”
“ngaku apa sih Yo? Aku bener-bener ngga tau”
“busuk lo udah ketahuan dan lo masih bersikap
pura-pura ngga tau? Ngga malu lo?”
“Yo, aku..”
“jangan ngomong pake aku-kamu lagi! gue ngga
sudi!”
“Yo kamu…” belum selesai gadis itu berbicara,
lagi-lagi Rio memotong ucapannya.
“Shil, please lo jujur sama gue. kalo aja lo
jujur, gue ngga akan marah sama lo. apa salahnya sih lo jujur sama gue?” kata
Rio kini dengan nada yang sudah melembut.
Shilla –gadis itu- berpikir, apa sebaiknya dia
jujur saja? Tapi.. aahh! Sebaiknya tidak!
“Yo.. tolong kamu jelasin apa maksud kamu tadi.
Jujur, aku ngga ngerti”
“LO MASIH BELUM NGAKU JUGA?! HAH?!” kini emosi
Rio sudah tidak bisa terbendung lagi. dia merasa sedari tadi Shilla
memainkannya, mengungulur-ulur waktunya. Rio membentak Shilla dengan suara
lantang nya sehingga pengunjung di café ini pun melihat kearah meja mereka.
“Yo..”
“kalo lo masih belum ngaku juga, mending kita
sendiri-sendiri dulu” Rio langsung berdiri dari duduknya dan mulai melangkah
kan kaki nya meninggalkan café tersebut.
“Yo.. Yo.. RIOOOO” panggil Shilla. Namun Rio
tetap tidak menghiraukan Shilla. Dia tetap berjalan lurus menuju mobilnya dan
pergi meninggalkan café.
**
“hallo..” sapa suara cewek disebrang sana.
“Hallo.. lo dimana? Bisa ketemu sekarang?”
tanya Rio langsung to the point kepada cewek disebrang telfon sana.
“gue dirumah. Bisa, dimana?”
“10 menit lagi gue nyampe rumah lo”
TUT TUT TUT
Setelah selesai berbicara, Rio langsung begitu
saja mematikan sambungan telfonnya dengan gadis itu.
**
Tak butuh waktu 10 menit bahkan kurang bagi Rio
untuk sampai didepan sebuah rumah bercat putih dan bertingkat dua ini. kini
mobilnya sudah teronggok didepan rumah ini.
TOK TOK TOK
Rio mengetuk pintu rumah yang terbuat dari jati
ini. tak butuh berlama-lama bagi Rio untuk menunggu siempu nya rumah
membukakannya pintu. Terlihat seorang gadis cantik menggunakan celana pendek
diatas lutut dengan rambut dicepol dan berwajah tirus menampakkan wajah dari
balik pintu jati ini. dialah tuan rumah nya. dan juga orang yang baru saja
ditelfon Rio beberapa menit yang lalu.
“Hai Yo.. masuk” ujar gadis itu mempersilahkan
Rio masuk. Dengan wajah datarnya Rio mengangguk dan mengikuti langkah gadis
cantik itu menuju ruang tamu.
“ada apa nih? Tumben sendirian? Shilla ma…”
belum selesai gadis ini menyelesaikan ucapannya, Rio sudah memotong. Seperti
nya Rio sangat hobi memotong ucapan lawan bicara nya. hmm…
“gue mau lo jujur sama gue” ucap Rio dengan
nada dan wajah yang sangat amat datar. Gadis ini pun mengerutkan keningnya
merasa heran dengan sikap dan nada bicara Rio. Apalagi tatapan matanya. Tak
biasanya dia melihat cowok ini seperti ini. biasanya dia selalu melihat senyum
tergambar dari bibir Rio. Namun kali ini tidak sama sekali terlihat sebuah
senyuman terukir di bibir manisnya.
“lo kenapa Yo?” tanya gadis itu heran.
“Fy, gue mohon sama lo. tolong jawab pertanyaan
gue dengan jujur. Ini menyangkut… Shilla” ucap Rio dengan nada lirihnya
terlebih ketika dia menyebutkan nama Shilla di ujung kalimatnya kepada gadis
cantik yang bernama Ify itu.
“oke gue akan jawab semampu gue. tapi tentang
apa?”
“apa… Shilla punya pacar lain selain gue?”
tanya Rio langsung to the point. Rio bukanlah tipe cowok yang suka
berbasa-basi. Dia lebih suka to the point.
Ify terbelalak kaget. Bagaimana Rio bisa
menanyakan hal ini kepadanya? Dia harus jawab apa sekarang? Dia sudah berjanji
kepada Rio akan menjawab pertanyaan nya dengan jujur. Tapi jika ia menjawab
pertanyaan ini dengan jujur, maka persahabatannya dengan Shilla akan….
“k..kok.. lo bisa nanya gitu…sih?” tanya Ify
mencoba mengulur-ngulur waktu.
“lo jangan mencoba ngulur waktu, Fy. gue tau,
lo gadis yang baik dan jujur. Maka dari itu gue mau lo jawab ya atau engga
Shilla punya pacar selain gue”
Ify menghela nafas panjang lalu membuangnya
perlahan. Dia meneguhkan hatinya. tidak ada jalan lain, dia harus mengaku
sekarang. Cepat atau lambat Rio pasti akan tahu hal ini. jadi, tak ada salahnya
juga jika dia memberitahukan yang sebenarnya kepada Rio.
“gue bakal jawab dengan jujur asalkan dengan
satu syarat”
“apa?”
“setelah gue kasih tau lo tentang hal ini, lo
ngga akan marah ke Shilla apalagi ngelabrak dia. Gimana?”
Rio berpikir sebentar. Perasaannya sudah tidak
enak. lalu berucap “oke, gue akan coba”
“sebelumnya maaf, gue Cuma mau tanya. Lo kenapa
dateng-dateng bisa nanyain masalah ini?”
Rio menunduk “kemaren.. gue lagi nemenin nyokap
ke mall buat shopping, eh pas gue lewat depan restoran jepang, gue ngeliat ada
Shilla disana sama.. sama cowok lain sambil… pegangan tangan. Jadi, apa bener?”
jawab Rio lirih.
Ify kembali menghela nafas panjang “hhhh… iya
bener! Shilla punya cowok lain selain lo. dan itu bukan Cuma satu, tapi ada..
3. Yang lo liat kemaren itu salah satu pacar Shilla juga, nama nya Dayat. Tapi
please, lo udah janji tadi untuk ngga ngelabrak Shilla ataupun marahin dia”
jelas Ify.
Setelah mendengar penjelasan singkat Ify, tubuh
Rio serasa melemas. Pandangannya lurus, matanya tak berkedip. Dia tidak percaya
gadis yang sudah dicintai nya selama satu tahun ini mengkhianati nya begitu
saja. Bahkan gadis itu sudah berbohong kepadanya.
“udah berapa lama Shilla diam-diam selingkuh
dibelakang gue?”
“setelah.. lo sama dia berantem hebat waktu itu
gara-gara lo jarang ngeluangin waktu lo buat dia. Semenjak itu lah dia mulai
mencoba untuk mencari cowok lain biar dia bisa dapet perhatian. Dia ngerasa lo
ngga perhatian sama dia”
“tapi Fy, setelah kejadian itu kan gue udah
berusaha sebisanya buat luangin waktu gue buat dia, buat perhatian ke dia. Apa
masih kurang semuanya?”
“engga Yo. Itu semua udah cukup jika dilihat
secara awam. tapi menurut Shilla engga. Dia merasa masih kekurangan perhatian
dari lo. dia ingin lo ada setiap dia butuh, setiap menit bahkan setiap detik
nya. lo tau sendirikan sifat manja Shilla gimana?” Rio masih terdiam. Lebih
tepatnya dia sengaja diam untuk mendengarkan kelanjutan penjelasan dari Ify
yang notabene nya sahabat Shilla dari kecil.
“gue udah pernah peringatin Shilla untuk
mutusin cowok-cowok selingkuhannya itu dan cukup pacaran sama lo aja. Tapi dia
nya kekeuh buat tetap jalanin semuanya. Dia bilang, dia ngerasa enjoy dengan
apa yang dia lakuin sekarang. Dia merasa dengan adanya elo dan 3 selingkuhannya
itu, dia mendapat perhatian yang sangat banyak dari kalian bahkan lebih dari
perhatian orangtua nya ke dia”
“jujur, sebenernya gue kasihan Yo sama lo. sama
lo yang selalu setia ngejalanin hubungan ini sama Shilla. Lo yang selalu sabar
untuk menghadapi sifat manjanya. Lo yang selalu mengalah demi dia. Lo yang
selalu relain apa aja demi dia. Dan lo yang selalu merubah diri lo menjadi
kemauan Shilla agar dia seneng”
“maaf… gue ngerasa, selama lo jadian sama
Shilla, lo bukan lo yang dulu lagi Yo. Gue tau gue lancang ngomong ini ke lo.
tapi gue tau persis Yo gimana lo dulu sebelum pacaran sama Shilla. Gue udah
kenal lo jauh sebelum lo jadian sama Shilla. Lo pacaran sama Shilla juga karena
gue yang ngenalin lo ke dia kan? Maka dari itu, gue ngerasa bersalah karena
udah ngenalin lo ke Shilla sampai-sampai kalian ngejalin hubungan ngga sehat
kayak gini”
Sedikit demi sedikit Ify mulai terisak. Benar
saja, Shilla itu sahabat Ify dari kecil. Mereka selalu bersama-sama dan satu
sekolah. Namun ketika masuk SMA, Ify dan Shilla berbeda sekolah. Namun begitu,
persahabatan mereka tetap berjalan bahkan semakin solid.
Ketika Ify menginjakkan kaki nya di SMA, dia
bertemu dengan Rio. Sampai akhirnya Rio juga menjadi sahabat Ify. waktu itu
kelas 2 SMA, Ify mengenalkan Rio kepada Shilla. Berniat untuk mencomblangkan
mereka berdua karena permintaan Rio. Ify sering menceritakan banyak hal tentang
Shilla kepada Rio. Maka dari itu Rio sangat ingin kenal dengan Shilla.
Setelah perkenal itu, Rio dan Shilla semakin
dekat dan akhirnya Rio memberanikan diri menyatakan cintanya kepada Shilla.
Shilla pun menerima cinta Rio. Jujur, Ify merasa sedikit tidak rela dengan
kenyataan bahwa Rio dan Shilla sudah berpacaran. Dia merasa hatinya terhantam
beribu batu besar. Namun demi kebahagiaan kedua sahabatnya itu, Ify pun
merelakan nya.
**
Karena tidak tega melihat Ify yang sudah
menangis sesenggukan disampingnya, Rio pun semakin memperdekat jarak duduk
mereka. perlahan, Rio meraih tubuh Ify dan menenggelamkan kepada Ify ke dada
bidang nya.
“sssttt.. udah Fy udah.. lo ngga salah. Sedikit
pun lo ngga salah. Jadi lo ngga usah merasa bersalah gitu ya” ujar Rio
menenangkan Ify dengan lembutnya. Tangan kirinya menyentuh punggung Ify dan
tangan kanan nya menyentuh puncak kepala Ify seraya mengelusnya lembut.
“tapi Yo.. kalo aja waktu itu gue ngga ngenalin
lo ke Shilla, pasti lo ngga bakalan kayak sekarang”
“waktu itu kan gue yang minta dikenalin ke
Shilla. Udah ah.. jangan cengeng gini. gue yang patah hati, malah elo yang
nangis” ledek Rio seraya melepaskan pelukannya. Ify memanyunkan bibirnya.
“udah ya udah.. jangan nangis lagi” Rio
menghapus sisa-sisa air mata di pipi Ify dengan jarinya.
“jadi.. gimana sekarang hubungan lo sama..
Shilla?” tanya Ify hati-hati.
“hhh… ngga tau lah Fy. gue udah terlanjur
kecewa sama dia”
“jadi.. lo putus sama dia?”
Rio hanya mengangkat bahunya. Ify jadi bingung,
sebenarnya Rio putus atau tidak dengan Shilla? Kesal juga karena sedari tadi
Rio menjawab pertanyaannya dengan ngambang dan tanpa kepastian.
**
Matahari pagi telah menyambut hangat nya pagi
ini. dengan langkah semangat, Ify menyusuri koridor sekolah beserta senyum
manis nya yang selalu terpancar dipagi hari. Seperti biasanya.
“IFYYY….” Teriak seseorang dari belakang Ify.
langsung Ify menoleh mencari sumber suara yang sudah meneriaki nama nya.
Ternyata Rio. Kini Rio tengah berjalan cepat
menuju ketempat Ify berdiri sekarang.
“eh Yo.. ada apa?” tanya Ify.
“ngga ada sih pengen nyapa aja hehe”
“dih aneh lo. oh iya, ceritanya udah ngga galau
lagi nih?” goda ify.
“apaan sih lo. jangan mulai deh. Buat apa sih
gue galauin hal begituan lama-lama? Bikin gila aja”
“gaya lo selangit” cibir Ify.
“eh iya Fy, ntar pulang sekolah ada acara
ngga?”
“engga. Kenapa?”
“jalan yuk. Udah lama nih kita ngga jalan
semenjak kelas 3. Lo kan selalu sibuk belajar semenjak kelas 3. Alesannya biar
nilai UN nya tinggi. Dih.. tanpa lo belajar juga gue yakin nilai UN lo tinggi”
“hahaha iya ya? Udah lama juga kita ngga jalan.
Dan juga.. semenjak lo pacaran tuh sama Shilla” sindir Ify.
“ah lo mah gitu. Sahabat sendiri juga masih
disindir. Jadi gimana? Mau ngga?”
“ya udah deh, untuk sahabat ku tersayang ini gue bakal nurut”
“ya udah deh, untuk sahabat ku tersayang ini gue bakal nurut”
“nah gitu dong.. gue ke kelas dulu ya Fy. ntar
istirahat ke kantin bareng” lalu Rio beranjak pergi ke kelasnya dengan senyum
sumringah. Ify menatap punggung Rio yang semakin lama semakin jauh meninggalkan
nya. dia senang, senyum sahabat nya yang sudah lama tak dilihatnya itu kini
kembali lagi.
Semenjak Rio berpacaran dengan Shilla, Rio
selalu murung dan menyendiri. Senyum jahil nya sudah tak lagi dilihat oleh Ify.
namun sekarang, senyum itu kembali dan juga kembhali mewarnai hari-hari Ify.
‘Rio..Rio. gue seneng lo kembali kayak dulu
lagi’ batin Ify. bibirnya tak henti-hentinya menampakkan senyum manisnya.
**
“Fy, buruaann..” teriak Rio dari depan kelas
Ify. kini sudah waktu nya istirahat. Sesuai janji, Rio mengajak Ify untuk makan
dikantin bersama. Sudah lama mereka tidak makan dikantin bersama semenjak
mereka duduk dibangku kelas 3 ini. setiap diajak, Ify selalu beralasan ‘ngga ah
gue lagi belajar’ selalu saja begitu. Mereka memang berbeda kelas.
“iya bentaaar” teriak Ify dari dalam kelas. dia
membereskan buku-bukunya dulu kedalam tas.
“ah kelamaan lo” Rio langsung masuk ke dalam
kelas Ify dan menghampiri meja Ify. dia ikut membantu Ify membereskan
buku-bukunya. Karena tergesa-gesa, Rio tidak sengaja menggenggam tangan kiri
Ify dengan tangan kanan nya. mereka berdua kaget dan sontak mata mereka berdua
beradu.
Seakan ada angin yang berhembus kencang yang
menunjang adegan romantic mereka berdua ini. cukup lama tangan mereka berada
dalam posisi seperti itu dan mata mereka yang saling beradu tak lepasnya.
Setelah sadar dengan posisi mereka, mereka langsung mengalihkan pandangan
masing-masing dan melepaskan tangan mereka.
“so.. sorry” ujar Rio gugup.
“iya gapapa” Ify jadi salting sendiri dan
kembali membereskan buku nya sendiri. Rio tak ingin ikut membantu lagi, takut
kejadian tadi terulang.
“udah?” tanya Rio. Ify mengangguk.
“ya udah yuk ntar kantinnya penuh lagi. gue laper
banget” Ify mengangguk dan mereka pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan
kelas Ify menuju kantin.
**
“mau makan apa Fy?” tanya Rio kepada Ify begitu
mereka duduk baru mendapati meja yang kosong.
“hmm lo apa? samain aja sama lo”
“oke deh gue pesen dulu” Rio pergi memesan
makanan untuk Ify dan juga untuk dirinya tentunya. Ify duduk sendirian dimeja
bingung mau apa. dari jarak jauh, tampak Dea, Angel dan Zevana sedang menatap
Ify tajam seakan ingin menerkam Ify hidup-hidup. Ify dapat melihat tatapan
ketiga cewe itu kepadanya tetapi dia berusaha menyangkal berharap bahwa ketiga
cewe penguasa itu sedang menatap tajam bukan kearahnya melainkan orang
dibelakangnya.
‘ngapain lagi tuh cewe bertiga ngeliatin gue?’
batin Ify. dia berusaha sesantai mungkin agar tidak terlihat gugup. Ify
memutar-mutar kepalanya berusaha mencari objek agar dapat menghilangkan
ketakutannya. Ketika Ify sedang memutar-mutar kepalanya, tak sengaja Ify
melihat ketiga cewe itu berjalan menuju kearahnya.
‘mampus mereka kesini lagi. si Rio mana sih
lama amat” gerutu Ify dalam hati. Semakin lama semakin dekat ketiga cewe itu
dari Ify. sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya kali ini
karena kini ketiga cewe penguasa sekolah itu sudah berdiri dihadapan Ify dengan
tatapan membunuhnya. Andai saja tatapan dapat membunuh, pasti saat ini Ify sudah
mati berdarah-darah karena mendapat tiga tatapan membunuh sekaligus.
“h.. ha.. hai” sapa Ify kepada ketiga cewe itu
dengan senyum getir nya. baru saja Dea ingin membuka suara dan mengangkat
tangannya untuk menunjuk wajah Ify, Rio langsung datang sambil membawa dua
mangkok bakso.
“eh ada apa nih rame-rame?” tanya Rio sambil
duduk disamping Ify. Dea, Zevan dan Angel mengurungkan niatnya untuk
memarah-marahi Ify karena mereka takut dengan Rio. Dea sudah lama suka kepada
Rio tapi selalu saja ada halangan atau bahkan Rio nya yang sengaja menjauh dari
Dea. Maka dari itu kini Dea ingin memaki-maki Ify untuk tidak dekat-dekat lagi
dengan Rio. Padahal sudah satu tahun belakangan ini Dea merasa lega karena
tidak lagi melihat kedekatan Ify dan Rio, tapi sekarang dia harus melihat lagi
keakraban dua anak manusia itu.
“eh ng.. ngga ada kok Yo rencananya mau minta
tolong aja sama Ify eh tapi kayaknya ngga jadi deh. Ya udah kita duluan ya bye
Yo bye… Fy” alibi Dea dan menyebutkan nama Ify pada kalimat terakhir dengan
enggan.
“mereka ngapain lo tadi?” tanya Rio kepada Ify
setelah melihat kepergian Dea CS.
“ngga kok ngapa-ngapain” jawab Ify.
“bagus deh. Kalo mereka macem-macem sama lo,
lapor aja ke gue. biar gue musnahin tuh mereka. coba aja, siapapun yang berani
nyentuh elo, nyentuh sahabat gue yang
tersayang ini, ngga bakal hidup tenang sama gue!......”
Ify tidak mendengarkan lagi perkataan Rio yang
lain. Mendengar kata-kata Rio –yang bercetak miring- itu saja, ada perasaan
senang bercampur sedih dihatinya kini. disatu sisi dia senang Rio perhatian
dengannya dan selalu ingin melindungi nya. disisi lain, Ify sedih karena harus
mendengar penuturan Rio bahwa dia hanya sahabat Rio. Orang yang disayangi Rio
sebagai sahabat, tidak lebih.
“Fy” panggil Rio yang heran melihat Ify
tiba-tiba melamun.
“eh iya Yo kenapa?” kata Ify tersadar dari
lamunannya.
“lo kenapa tiba-tiba ngelamun gitu sih?” tanya
Rio heran.
“eh ngga kok gapapa. Makanan gue mana?”
“tuh”
“eh lo ngga beli minuman juga?” tanya Ify.
“oh iya. Gue udah pesen tadi tapi kelupaan
gara-gara keburu liat lo mau diserang si Dea. Bentar gue ambil dulu” Rio
bangkit berdiri lagi lalu pergi mengambil minuman yang sudah dipesannya tadi.
‘ngga ada harapan’ batin Ify lirih.
“nih minumannya” Rio datang sambil membawa dua
gelas jus jeruk.
“eh iya thanks” ucap Ify sambil menerima
segelas jus jeruk dari tangan Rio seraya memberikan senyuman manisnya. Seakan
melihat bidadari jatuh dari surge, Rio terperangah melihat senyum manis Ify
yang sudah lama tidak dilihatnya karena satu tahun belakang ini hanya senyum
Shilla yang memenuhi otak dan pikirannya.
“Yo.. Yo.. lo kenapa?” tanya Ify sambil
mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Rio yang kini sedang menatapnya
tanpa kedip.
“Riooo…” panggil Ify setengah berteriak.
“eh iya Fy iya. Kenapa?” tanya Rio yang baru tersadar dari lamunannya.
“seharusnya gue yang nanya, lo kenapa malah
gantiin gue ngelamun?”
“gue? ngelamun? He-he.. habisnya gue tadi
terpesona ngeliat senyum lo Fy. manis banget hehe” jujur Rio. Mendengar
perkataan Rio, pipi Ify bersemu merah. Salting, malu. Pipi nya memanas.
“apa sih lo gombal nya ngga hilang-hilang dari
dulu”
“eh serius lagi. senyum lo dari dulu juga ngga
hilang-hilang. Malahan makin manis”
“udah deh tuh bakso lo keburu dingin”
*
Sudah 3 bulan semenjak kejadian Rio dan Shilla
di café waktu itu. Hubungan Rio dan Ify semakin dekat saja. Jika dilihat,
kedekatan mereka sudah tidak seperti kedekatan sebagai sahabat, namun lebih.
Rio pun juga sudah melupakan Shilla dan kini
dia merasa bahwa dia memiliki rasa lebih kepada Ify yang ternyata baru
disadarinya sekarang.
Berhubung hari ini hari Minggu, Rio mengajak
Ify untuk lari pagi dan kini mereka sedang beristirahat di bangku taman komplek
dekat rumah Ify.
“hmm.. Fy”
“iya?”
“gue boleh ngomong sesuatu sama lo?” tanya Rio
dengan raut wajah yang serius.
“hm.. boleh. Emang ngomong apa? kayaknya serius
banget”
“gue cinta sama lo Fy” ucap Rio langsung tanpa
ragu dan menggenggam kedua tangan Ify. Ify terpaku mendengar ucapan Rio yang
tanpa ragu itu. dia tidak pernah membayangkan bahwa Rio akan memiliki perasaan
yang sama sepertinya. Ini seperti mimpi. Benar-benar seperti mimpi.
“gue cinta Fy sama lo. gue sayang sama lo.
bukan sebagai sahabat lagi, tapi lebih. Lo juga cinta kan Fy sama gue?” ucap
Rio lagi. Ify masih diam. Dia bingung.
Disisi lain Ify bahagia karena cintanya selama
ini tidak bertepuk sebelah tangan. Disisi lain Ify merasa ragu akan menerima
cinta Rio karena dia tahu betul bahwa diantara Rio dan Shilla tidak pernah ada
kata ‘PUTUS’. Dan juga Ify tidak ingin disebut-sebut sebagai TMT(Teman Makan
Teman). Sahabat yang merebut pacar sahabatnya.
“gimana Fy? lo juga cinta kan sama gue? please
jangan munafik sama perasaan lo sendiri. Gue tau lo pasti juga cinta sama gue
Fy karena gue bisa liat dari mata lo”
“iya, gue mau” tiba-tiba saja bibir Ify berucap
seperti itu.
Begitu tahu cinta nya diterima, Rio langsung
senang bukan kepalang. Dia langsung memeluk Ify. di dalam pelukan Rio, Ify
hanya tersenyum miris. Dia masih ragu, bimbang apakah pilihannya ini tepat atau
tidak. Apakah kedepannya berakibat atau tidak bagi dirinya sendiri maupun orang
lain.
“Yo..” ucap Ify pelan dalam pelukan Rio.
Rio melepaskan pelukannya dan menatap Ify
dengan hangat “kenapa Fy?”
“apa lo yakin sama semua ini?”
“maksud lo?”
“lo tau kan kalo diantara lo sama Shilla itu
belum ada kata putus sama sekali. Shilla itu sahabat gue Yo. Dan sekarang gue
malah pacaran sama lo yang statusnya masih pacar Shilla. Apa lo yakin ngejalani
hubungan ini?”
Rio terdiam. Terlihat raut wajah keraguan di
dahi dan alisnya. Ify tahu betul bahwa Rio masih belum yakin dengan perasaan
nya saat ini. Ify yakin perasaan Rio kepadanya saat ini hanyalah perasaan
sementara saja karena Rio merasa kesepian.
“lebih baik ini semua ngga terjadi sebelum ada
yang tersakiti Yo” ucap Ify lagi. Rio mendongak.
“ngga Fy, engga!”
“tapi lo itu ngga cinta sama gue Yo. Percuma”
“siapa bilang gue ngga cinta sama lo? gue cinta
Fy sama lo! gue cinta! Apa perlu gue buktiin sekarang? Lo mau bukti apa?! biar
gue buktiin sekarang juga”
“Yo, denger kata gue baik-baik. Perasaan lo
sekarang ini hanyalah perasaan sementara. Lo butuh pelarian karena lo merasa
kesepian dengan tidak adanya Shilla disamping lo akhir-akhir ini. dan yang lo
jadiin pelarian itu gue. gue ngga mau Yo menjalin hubungan hanya karena sebagai
pelarian. Yang dibutuhkan diawal dan dicampakan jika sudah kembali dengan masa
lalu” tiba-tiba saja Ify menitikkan air mata.
Rio merasa tak tega melihat Ify menangis
seperti itu. dia langsung merengkuh tubuh mungkil gadis itu.
“sstt.. udah jangan nangis lagi. gue beneran
cinta sama lo bukan sebagai pelarian. Tapi sebagai yang utama. Gue janji ngga
bakal ninggalin lo dalam keadaan apapun. Urusan hbungan gue sama Shilla, biar
gue yang selesaiin. Yang jelas, kita jalani aja dulu semuanya mulai dari
sekarang. Ya?” bisik Rio lembut.
Ify hanya sanggup mengangguk dalam pelukan Rio.
entah apa yang ada dipikirannya saat ini. secara tidak langsung, dia bersedia
menjadi yang kedua. Yang jelas, ini semua adalah yang diimpi-impikannya sejak
dulu. Dia merasa hangat saat berada dipelukan Rio. dia merasa nyaman dan aman
berada didekat Rio. itu yang dia rasakan.
Untuk selanjutnya, biarkan saja waktu yang
mengatur semuanya. Apapun yang terjadi, dia akan terima walau dia tidak yakin
dia mampu melewatkannya.
*
Semenjak kedekatan Rio dan Ify kembali, Shilla
tidak ada lagi menghubungi Ify atau mengunjungi rumah Ify. Ify takut jika
Shilla sudah mengetahui hubungannya dengan Rio dan Shilla akan memutus
persahabatan mereka. Ify tidak ingin itu terjadi.
Sudah 6 bulan Rio dan Ify menjalin hubungan
sebagai sepasang kekasih. Selama ini tidak pernah ada masalah diantara mereka
dan juga tidak pernah ada kata putus dari kedua belah pihak. Tapi entah kenapa,
Ify merasa Rio semakin menjauh darinya 1 minggu terakhir ini.
Jika di telfon, tidak mengangkat. Di sms,
terkadang tidak membalas dan terkadang membalas tapi 3 jam atau lebih setelah
pesan itu dikirim Ify. jika diajak bertemu, selalu beralasan. Memang, Rio sudah
1 bulan ini diajak bergabung oleh teman-temannya sebagai vocalis band. Maka itu
Ify memaklumi kesibukkan Rio.
Rio juga sudah berani berbohong kepada
Ify. beberapa hari yang lalu Ify mencoba
mengajak Rio untuk makan malam bersama dirumahnya. Tapi Rio beralasan bahwa dia
akan latihan band dengan teman-temannya. Tapi ternyata ketika Ify mencoba
menghubungi salah satu teman band Rio, dia bilang hari itu tidak ada jadwal
latihan band.
Dari situ kecurigaan Ify semakin bertambah. Dia
takut kalau-kalau Rio sudah bosan dengannya dan mulai mencari penggantinya.
Ify sedang termenung di balkon kamarnya. Dia
memandang lurus kedepan dan pikirannya melayang. Dia tidak tahu apa penyebab
Rio berubah. Tapi batinnya berkata bahwa Rio kembali pada Shilla.
“Fy ..” sapa suara seorang gadis dari belakang
Ify. Ify menoleh dan didapatinya seseorang yang sangat dikenalinya. Gadis
cantik berambut lurus, sebahu dan memiliki senyum manis.
“eh Sivia” ternyata gadis itu adalah Sivia.
Sepupu kandung Ify.
“lo ngelamun lagi? kenapa? Mikirin Rio lagi
ya?” tanya Sivia lembut.
“gue bingung Vi sama dia. Dia udah berani
bohong sekarang sama gue. dan dia selalu ngga bisa kalo gue ajak ketemuan. Di
sms ngga dibales, di telfon ngga angkat. Kerumah pun dia sekarang udah jarang
banget” lirih Ify.
“gue tau rasanya jadi elo Fy. pasti sakiiiitt
banget rasanya. Tapi.. ya mau gimana lagi. emang udah takdir kita sebagai
perempuan yang harus sabar akan segala cobaan. Kita ngga bisa berbuat apa-apa
Fy. kita makhluk lemah”
“gue tau Vi, gue tau. Tapi apa kita yang lemah
ini ngga bisa sedikit aja lebih kuat? Ngga bisa sedikit aja melakukan hal yang
besar untuk diri kita? Untuk kebaikan kita? Gue capek Vi kalo harus gini. gue
semakin yakin kalo selama ini Rio ngejadiin gue Cuma pelampiasan doang” Ify
sudah tidak bisa membendung bulir-bulir air mata nya lagi. benteng pertahanan
nya kokoh.
“maafin gue Fy karena ngga bisa bilang yang
sebenernya sama lo. gue tau alasan Rio menjauh dari lo sekarang. Tapi maaf, gue
ngga bisa bilang sama lo karena menurut gue, lo wanita yang kuat, tegar, dan
hebat. Lo bisa nyelesaiin masalah lo ini sendiri. Dan gue mau, lo tau semuanya
sendiri. Dengan mata kepala lo nantinya. Hanya satu yang bisa gue bantu. Tapi
ngga sekarang. Maaf” batin Sivia.
*
Hari ini hari Minggu. Sivia berniat untuk
mengajak Ify jalan-jalan ke taman untuk menghibur hati Ify yang masih sedih.
Sivia langsung saja masuk ke kamar Ify karena dia sudah biasa keluar masuk
rumah Ify. bahkan rumah Ify ini sudah dianggapnya rumahnya sendiri.
Lagi, lagi, dan lagi. di dapatinya Ify yang sedang
termenung disudut kasur sambil memandangi sebuah bingkai foto. Sivia mendekati
Ify dan dilihatnya dibingkai foto itu terdapat foto tiga orang anak remaja yang
sedang menggunakan pakaian seragam putih abu-abu. Ketiganya berangkulan. Satu
diantara itu seorang cowo dan dia berdiri dengan posisi ditengah-tengah, diapit
oleh dua orang gadis cantik.
Di foto itu, senyum mereka sangat lebar. Tak
ada gurat kesedihan sedikit pun. Jelas sekali bahwa mereka saat itu sedang
bersenang-senang dan bahagia.
Baru Sivia ingin memanggil nama Ify, gadis
cantik itu sudah membuka suara.
“senyum itu hilang. Senyum yang hangat,
persahabatan yang dulu tercipta, sekarang udah ngga ada. Gue kangen mereka. gue
sayang sama mereka berdua. Shilla, dia udah kayak saudara gue sendiri. Rio, dia
udah gue anggap kakak gue sendiri. Tapi semuanya udah ngga ada. Mereka meenjauh
dari gue. gue sekarang Cuma sendirian. Ngga ada yang peduli sama gue” lagi-lagi
Ify menitikkan air matanya.
Di foto itu tergambar jelas bahwa disana foto
Ify, Rio dan Shilla yang sedang berangkulan.
“udah deh Fy jangan sedih terus. Mending
sekarang lo mandi, siap-siap. Gue mau ngajak lo pergi” sahut Sivia untuk
memecahkan suasana.
“kemana?”
“taman. Biar otak sama hati lo segaran dikit.
Siapa tau ntar ketemu cowo baru hihi” canda Sivia. Ternyata tak rugi Sivia
melontarkan sedikit lelucon, akhirnya Ify menyunggingkan sedikit senyumnya.
Walau sedikit.
“ya udah tunggu ya” Ify pun berdiri dari
kasurnya dan melangkah ke kamar mandi.
*
Ketika sedang berjalan-jalan di taman, Ify yang
semula nya sudah merasa bahagia akhirnya bersedih lagi. dia menghentikan
langkahnya.
Cowo itu? dia kan.. orang yang sudah cukup lama
tidak hadir di kehidupan Ify. dan hari ini, dia muncul di hadapan Ify. tapi
tidak sendiri, melainkan bersama.. kekasihnya? Apa benar mereka sepasang
kekasih?
Dua sejoli itu sedang duduk dibangku taman.
Mereka terlihat mesra dan saling sayang. Mereka asedang bercanda gurau dan
terlihat bahagia sekali.
“Fy lo kenapa?” tanya Sivia.
“dia…” suara Ify terdengar bergetar.
“maaf Fy kalo lo harus tau dengan cara kayak
gini. gue sengaja bawa lo kesini karena gue tau mereka tiap Minggu selalu
kesini. Dan dari sini juga gue tau kalo mereka kembali menjalin hubungan” batin
Sivia.
“apa yang lo liat?” tanya Sivia.
“Rio sama… Shilla. Mereka berduaan Vi” tanpa
Ify sadari, air matanya turun membasahi kedua sudut pipi tirus nya.
“mending kita pulang aja yuk” Sivia langsung
membawa Ify pergi dari sana.
Sivia memang bermaksud mengajak Ify kesini
karena ingin membuktikan semuanya. 2 minggu yang lalu ketika Sivia sedang jalan-jalan
kesini, dia mendapati Rio sedang menggenggam tangan Shilla erat. Dilokasi yang
sama. Dilokasi dimana Ify mendapati Rio dan Shilla berduaan tadi.
Dia ingin Ify sadar bahwa Rio bukanlah yang
terbaik untuknya.
Setibanya dirumah, Ify langsung mengirim pesan
singkat kepada Rio.
To: Rio
Kita
putus. Makasih untuk 6 bulan terakhir ini.
Selamat.
Rio membaca pesan singkat dari Ify itu. dia
shock ketika membaca kalimat pertama dari Ify. dan dia bingung dengan kata
terakhir Ify ‘selamat’ itu. apa maksudnya mengucapkan kata putus dan memberi
selamat?
Apa.. jangan-jangan Ify sudah mengetahui bahwa
dia sudah kembali dengan Shilla.
Handphone Rio berbunyi lagi menandakan pesan
masuk. Dia membaca. Dari Ify lagi.
From: Ify
Terlalu
sadis caramu
Menjadikan
diriku
Pelampiasan
cintamu
Agar
dia kembali.. padamu
Tanpa
perduli sakitnya aku
Teganiannya
caramu
Menyingkarkan
diriku
Dari
percintaan ini
Agar
dia kembali.. padamu
Tanpa
perduli sakitnya aku
Semoga
tuhan membalas semua yang terjadi
Kepadaku
Suatu
saat nanti
Hingga
kau sadari sesungguhnya yang kau punya
Hanya
aku tempat mu kembali
Sebagai..
cintamu
Rio tahu bahwa itu adalah lirik lagu dari
sebuah lagu yang makna nya sesuai dengan kisah cinta Ify. dan dari lirik itu
Rio bisa menangkap sinyal bahwa Ify menyindir dirinya. Dan Ify menganggap bahwa
dia hanya sebagai pelampiasan cintanya. Rio merasa bersalah. Namun dia tidak
bisa berbuat apa-apa karena Shilla sudah menahan dirinya untuk tidak bertemu
dengan Ify lagi.
‘maafin gue Fy” batin Rio.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar