Minggu, 20 April 2014

Sadis (Cerpen)



Jrengjreng *cling* hello para pembaca cerbung ku.. diriku kembali lagi dengan cerita baru. Kali ini aku ngga bikin cerbung ataupun mini cerbung. Kali ini aku bikin CERPEN yeaay!! Okedeh langsung baca aja yeaa daripada kebanyakan basa-basi hehe enjoy guys! :* luv u

**

Keadaan di salah satu meja di café ini terasa sangat panas. Disana sudah ada sepasang muda-mudi yang tengah dilanda masalah. Apalagi kalau bukan masalah percintaan mereka? sedari tadi tak banyak kata yang mereka lontarkan. Hanya tatapan tajam dari pria berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi ini lah yang terpancar. Dan gadis cantik berambut panjang yang tengah duduk didepannya ini hanya menundukan kepalanya karena takut dengan tatapan tajam kekasih nya.

“jadi.. siapa cowok kemaren?” tanya cowok yang berperawakan tinggi itu kepada gadis cantik didepannya ini dengan nada yang sangat dingin. Tatapan matanya masih sama, tajam.

“co..cowok yang ma..na?” tanya gadis itu pura-pura tidak mengerti. Walau begitu, nada berbicaranya tidak bisa berbohong bahwa dia kini tengah ketakutan. Suaranya bergetar.

“perlu gue ceritain ke lo cowok mana nya? cish… gue rasa tanpa gue jelasin, lo ngerti apa maksud gue” jawab cowok itu sinis dan menyunggingkan senyum menyindirnya.

“beneran Yo… aku ngga tau cowok mana yang kamu maksud” jawab cewek itu kepada Rio –cowok itu-. kali ini dia memberanikan diri menegakkan kepalanya dan menatap mata elang Rio itu yang kini terlihat sangat tajam dan mematikan.

“lo masih belum ngaku juga?”

“ngaku apa sih Yo? Aku bener-bener ngga tau”

“busuk lo udah ketahuan dan lo masih bersikap pura-pura ngga tau? Ngga malu lo?”

“Yo, aku..”

“jangan ngomong pake aku-kamu lagi! gue ngga sudi!”

“Yo kamu…” belum selesai gadis itu berbicara, lagi-lagi Rio memotong ucapannya.

“Shil, please lo jujur sama gue. kalo aja lo jujur, gue ngga akan marah sama lo. apa salahnya sih lo jujur sama gue?” kata Rio kini dengan nada yang sudah melembut.

Shilla –gadis itu- berpikir, apa sebaiknya dia jujur saja? Tapi.. aahh! Sebaiknya tidak!

“Yo.. tolong kamu jelasin apa maksud kamu tadi. Jujur, aku ngga ngerti”

“LO MASIH BELUM NGAKU JUGA?! HAH?!” kini emosi Rio sudah tidak bisa terbendung lagi. dia merasa sedari tadi Shilla memainkannya, mengungulur-ulur waktunya. Rio membentak Shilla dengan suara lantang nya sehingga pengunjung di café ini pun melihat kearah meja mereka.

“Yo..”

“kalo lo masih belum ngaku juga, mending kita sendiri-sendiri dulu” Rio langsung berdiri dari duduknya dan mulai melangkah kan kaki nya meninggalkan café tersebut.

“Yo.. Yo.. RIOOOO” panggil Shilla. Namun Rio tetap tidak menghiraukan Shilla. Dia tetap berjalan lurus menuju mobilnya dan pergi meninggalkan café.

**

“hallo..” sapa suara cewek disebrang sana.

“Hallo.. lo dimana? Bisa ketemu sekarang?” tanya Rio langsung to the point kepada cewek disebrang telfon sana.

“gue dirumah. Bisa, dimana?”

“10 menit lagi gue nyampe rumah lo”

TUT TUT TUT

Setelah selesai berbicara, Rio langsung begitu saja mematikan sambungan telfonnya dengan gadis itu.

**

Tak butuh waktu 10 menit bahkan kurang bagi Rio untuk sampai didepan sebuah rumah bercat putih dan bertingkat dua ini. kini mobilnya sudah teronggok didepan rumah ini.

TOK TOK TOK

Rio mengetuk pintu rumah yang terbuat dari jati ini. tak butuh berlama-lama bagi Rio untuk menunggu siempu nya rumah membukakannya pintu. Terlihat seorang gadis cantik menggunakan celana pendek diatas lutut dengan rambut dicepol dan berwajah tirus menampakkan wajah dari balik pintu jati ini. dialah tuan rumah nya. dan juga orang yang baru saja ditelfon Rio beberapa menit yang lalu.

“Hai Yo.. masuk” ujar gadis itu mempersilahkan Rio masuk. Dengan wajah datarnya Rio mengangguk dan mengikuti langkah gadis cantik itu menuju ruang tamu.

“ada apa nih? Tumben sendirian? Shilla ma…” belum selesai gadis ini menyelesaikan ucapannya, Rio sudah memotong. Seperti nya Rio sangat hobi memotong ucapan lawan bicara nya. hmm…

“gue mau lo jujur sama gue” ucap Rio dengan nada dan wajah yang sangat amat datar. Gadis ini pun mengerutkan keningnya merasa heran dengan sikap dan nada bicara Rio. Apalagi tatapan matanya. Tak biasanya dia melihat cowok ini seperti ini. biasanya dia selalu melihat senyum tergambar dari bibir Rio. Namun kali ini tidak sama sekali terlihat sebuah senyuman terukir di bibir manisnya.

“lo kenapa Yo?” tanya gadis itu heran.

“Fy, gue mohon sama lo. tolong jawab pertanyaan gue dengan jujur. Ini menyangkut… Shilla” ucap Rio dengan nada lirihnya terlebih ketika dia menyebutkan nama Shilla di ujung kalimatnya kepada gadis cantik yang bernama Ify itu.

“oke gue akan jawab semampu gue. tapi tentang apa?”

“apa… Shilla punya pacar lain selain gue?” tanya Rio langsung to the point. Rio bukanlah tipe cowok yang suka berbasa-basi. Dia lebih suka to the point.

Ify terbelalak kaget. Bagaimana Rio bisa menanyakan hal ini kepadanya? Dia harus jawab apa sekarang? Dia sudah berjanji kepada Rio akan menjawab pertanyaan nya dengan jujur. Tapi jika ia menjawab pertanyaan ini dengan jujur, maka persahabatannya dengan Shilla akan….

“k..kok.. lo bisa nanya gitu…sih?” tanya Ify mencoba mengulur-ngulur waktu.

“lo jangan mencoba ngulur waktu, Fy. gue tau, lo gadis yang baik dan jujur. Maka dari itu gue mau lo jawab ya atau engga Shilla punya pacar selain gue”

Ify menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Dia meneguhkan hatinya. tidak ada jalan lain, dia harus mengaku sekarang. Cepat atau lambat Rio pasti akan tahu hal ini. jadi, tak ada salahnya juga jika dia memberitahukan yang sebenarnya kepada Rio.

“gue bakal jawab dengan jujur asalkan dengan satu syarat”

“apa?”

“setelah gue kasih tau lo tentang hal ini, lo ngga akan marah ke Shilla apalagi ngelabrak dia. Gimana?”

Rio berpikir sebentar. Perasaannya sudah tidak enak. lalu berucap “oke, gue akan coba”

“sebelumnya maaf, gue Cuma mau tanya. Lo kenapa dateng-dateng bisa nanyain masalah ini?”

Rio menunduk “kemaren.. gue lagi nemenin nyokap ke mall buat shopping, eh pas gue lewat depan restoran jepang, gue ngeliat ada Shilla disana sama.. sama cowok lain sambil… pegangan tangan. Jadi, apa bener?” jawab Rio lirih.

Ify kembali menghela nafas panjang “hhhh… iya bener! Shilla punya cowok lain selain lo. dan itu bukan Cuma satu, tapi ada.. 3. Yang lo liat kemaren itu salah satu pacar Shilla juga, nama nya Dayat. Tapi please, lo udah janji tadi untuk ngga ngelabrak Shilla ataupun marahin dia” jelas Ify.

Setelah mendengar penjelasan singkat Ify, tubuh Rio serasa melemas. Pandangannya lurus, matanya tak berkedip. Dia tidak percaya gadis yang sudah dicintai nya selama satu tahun ini mengkhianati nya begitu saja. Bahkan gadis itu sudah berbohong kepadanya.

“udah berapa lama Shilla diam-diam selingkuh dibelakang gue?”

“setelah.. lo sama dia berantem hebat waktu itu gara-gara lo jarang ngeluangin waktu lo buat dia. Semenjak itu lah dia mulai mencoba untuk mencari cowok lain biar dia bisa dapet perhatian. Dia ngerasa lo ngga perhatian sama dia”

“tapi Fy, setelah kejadian itu kan gue udah berusaha sebisanya buat luangin waktu gue buat dia, buat perhatian ke dia. Apa masih kurang semuanya?”

“engga Yo. Itu semua udah cukup jika dilihat secara awam. tapi menurut Shilla engga. Dia merasa masih kekurangan perhatian dari lo. dia ingin lo ada setiap dia butuh, setiap menit bahkan setiap detik nya. lo tau sendirikan sifat manja Shilla gimana?” Rio masih terdiam. Lebih tepatnya dia sengaja diam untuk mendengarkan kelanjutan penjelasan dari Ify yang notabene nya sahabat Shilla dari kecil.

“gue udah pernah peringatin Shilla untuk mutusin cowok-cowok selingkuhannya itu dan cukup pacaran sama lo aja. Tapi dia nya kekeuh buat tetap jalanin semuanya. Dia bilang, dia ngerasa enjoy dengan apa yang dia lakuin sekarang. Dia merasa dengan adanya elo dan 3 selingkuhannya itu, dia mendapat perhatian yang sangat banyak dari kalian bahkan lebih dari perhatian orangtua nya ke dia”

“jujur, sebenernya gue kasihan Yo sama lo. sama lo yang selalu setia ngejalanin hubungan ini sama Shilla. Lo yang selalu sabar untuk menghadapi sifat manjanya. Lo yang selalu mengalah demi dia. Lo yang selalu relain apa aja demi dia. Dan lo yang selalu merubah diri lo menjadi kemauan Shilla agar dia seneng”

“maaf… gue ngerasa, selama lo jadian sama Shilla, lo bukan lo yang dulu lagi Yo. Gue tau gue lancang ngomong ini ke lo. tapi gue tau persis Yo gimana lo dulu sebelum pacaran sama Shilla. Gue udah kenal lo jauh sebelum lo jadian sama Shilla. Lo pacaran sama Shilla juga karena gue yang ngenalin lo ke dia kan? Maka dari itu, gue ngerasa bersalah karena udah ngenalin lo ke Shilla sampai-sampai kalian ngejalin hubungan ngga sehat kayak gini”

Sedikit demi sedikit Ify mulai terisak. Benar saja, Shilla itu sahabat Ify dari kecil. Mereka selalu bersama-sama dan satu sekolah. Namun ketika masuk SMA, Ify dan Shilla berbeda sekolah. Namun begitu, persahabatan mereka tetap berjalan bahkan semakin solid.
Ketika Ify menginjakkan kaki nya di SMA, dia bertemu dengan Rio. Sampai akhirnya Rio juga menjadi sahabat Ify. waktu itu kelas 2 SMA, Ify mengenalkan Rio kepada Shilla. Berniat untuk mencomblangkan mereka berdua karena permintaan Rio. Ify sering menceritakan banyak hal tentang Shilla kepada Rio. Maka dari itu Rio sangat ingin kenal dengan Shilla.

Setelah perkenal itu, Rio dan Shilla semakin dekat dan akhirnya Rio memberanikan diri menyatakan cintanya kepada Shilla. Shilla pun menerima cinta Rio. Jujur, Ify merasa sedikit tidak rela dengan kenyataan bahwa Rio dan Shilla sudah berpacaran. Dia merasa hatinya terhantam beribu batu besar. Namun demi kebahagiaan kedua sahabatnya itu, Ify pun merelakan nya.

**

Karena tidak tega melihat Ify yang sudah menangis sesenggukan disampingnya, Rio pun semakin memperdekat jarak duduk mereka. perlahan, Rio meraih tubuh Ify dan menenggelamkan kepada Ify ke dada bidang nya.

“sssttt.. udah Fy udah.. lo ngga salah. Sedikit pun lo ngga salah. Jadi lo ngga usah merasa bersalah gitu ya” ujar Rio menenangkan Ify dengan lembutnya. Tangan kirinya menyentuh punggung Ify dan tangan kanan nya menyentuh puncak kepala Ify seraya mengelusnya lembut.

“tapi Yo.. kalo aja waktu itu gue ngga ngenalin lo ke Shilla, pasti lo ngga bakalan kayak sekarang”

“waktu itu kan gue yang minta dikenalin ke Shilla. Udah ah.. jangan cengeng gini. gue yang patah hati, malah elo yang nangis” ledek Rio seraya melepaskan pelukannya. Ify memanyunkan bibirnya.

“udah ya udah.. jangan nangis lagi” Rio menghapus sisa-sisa air mata di pipi Ify dengan jarinya.

“jadi.. gimana sekarang hubungan lo sama.. Shilla?” tanya Ify hati-hati.

“hhh… ngga tau lah Fy. gue udah terlanjur kecewa sama dia”

“jadi.. lo putus sama dia?”

Rio hanya mengangkat bahunya. Ify jadi bingung, sebenarnya Rio putus atau tidak dengan Shilla? Kesal juga karena sedari tadi Rio menjawab pertanyaannya dengan ngambang dan tanpa kepastian.

**

Matahari pagi telah menyambut hangat nya pagi ini. dengan langkah semangat, Ify menyusuri koridor sekolah beserta senyum manis nya yang selalu terpancar dipagi hari. Seperti biasanya.

“IFYYY….” Teriak seseorang dari belakang Ify. langsung Ify menoleh mencari sumber suara yang sudah meneriaki nama nya.

Ternyata Rio. Kini Rio tengah berjalan cepat menuju ketempat Ify berdiri sekarang.

“eh Yo.. ada apa?” tanya Ify.

“ngga ada sih pengen nyapa aja hehe”

“dih aneh lo. oh iya, ceritanya udah ngga galau lagi nih?” goda ify.

“apaan sih lo. jangan mulai deh. Buat apa sih gue galauin hal begituan lama-lama? Bikin gila aja”

“gaya lo selangit” cibir Ify.

“eh iya Fy, ntar pulang sekolah ada acara ngga?”

“engga. Kenapa?”

“jalan yuk. Udah lama nih kita ngga jalan semenjak kelas 3. Lo kan selalu sibuk belajar semenjak kelas 3. Alesannya biar nilai UN nya tinggi. Dih.. tanpa lo belajar juga gue yakin nilai UN lo tinggi”

“hahaha iya ya? Udah lama juga kita ngga jalan. Dan juga.. semenjak lo pacaran tuh sama Shilla” sindir Ify.

“ah lo mah gitu. Sahabat sendiri juga masih disindir. Jadi gimana? Mau ngga?”

“ya udah deh, untuk sahabat ku tersayang ini gue bakal nurut”

“nah gitu dong.. gue ke kelas dulu ya Fy. ntar istirahat ke kantin bareng” lalu Rio beranjak pergi ke kelasnya dengan senyum sumringah. Ify menatap punggung Rio yang semakin lama semakin jauh meninggalkan nya. dia senang, senyum sahabat nya yang sudah lama tak dilihatnya itu kini kembali lagi.

Semenjak Rio berpacaran dengan Shilla, Rio selalu murung dan menyendiri. Senyum jahil nya sudah tak lagi dilihat oleh Ify. namun sekarang, senyum itu kembali dan juga kembhali mewarnai hari-hari Ify.

‘Rio..Rio. gue seneng lo kembali kayak dulu lagi’ batin Ify. bibirnya tak henti-hentinya menampakkan senyum manisnya.

**

“Fy, buruaann..” teriak Rio dari depan kelas Ify. kini sudah waktu nya istirahat. Sesuai janji, Rio mengajak Ify untuk makan dikantin bersama. Sudah lama mereka tidak makan dikantin bersama semenjak mereka duduk dibangku kelas 3 ini. setiap diajak, Ify selalu beralasan ‘ngga ah gue lagi belajar’ selalu saja begitu. Mereka memang berbeda kelas.

“iya bentaaar” teriak Ify dari dalam kelas. dia membereskan buku-bukunya dulu kedalam tas.

“ah kelamaan lo” Rio langsung masuk ke dalam kelas Ify dan menghampiri meja Ify. dia ikut membantu Ify membereskan buku-bukunya. Karena tergesa-gesa, Rio tidak sengaja menggenggam tangan kiri Ify dengan tangan kanan nya. mereka berdua kaget dan sontak mata mereka berdua beradu.

Seakan ada angin yang berhembus kencang yang menunjang adegan romantic mereka berdua ini. cukup lama tangan mereka berada dalam posisi seperti itu dan mata mereka yang saling beradu tak lepasnya. Setelah sadar dengan posisi mereka, mereka langsung mengalihkan pandangan masing-masing dan melepaskan tangan mereka.

“so.. sorry” ujar Rio gugup.

“iya gapapa” Ify jadi salting sendiri dan kembali membereskan buku nya sendiri. Rio tak ingin ikut membantu lagi, takut kejadian tadi terulang.

“udah?” tanya Rio. Ify mengangguk.

“ya udah yuk ntar kantinnya penuh lagi. gue laper banget” Ify mengangguk dan mereka pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan kelas Ify menuju kantin.

**

“mau makan apa Fy?” tanya Rio kepada Ify begitu mereka duduk baru mendapati meja yang kosong.

“hmm lo apa? samain aja sama lo”

“oke deh gue pesen dulu” Rio pergi memesan makanan untuk Ify dan juga untuk dirinya tentunya. Ify duduk sendirian dimeja bingung mau apa. dari jarak jauh, tampak Dea, Angel dan Zevana sedang menatap Ify tajam seakan ingin menerkam Ify hidup-hidup. Ify dapat melihat tatapan ketiga cewe itu kepadanya tetapi dia berusaha menyangkal berharap bahwa ketiga cewe penguasa itu sedang menatap tajam bukan kearahnya melainkan orang dibelakangnya.

‘ngapain lagi tuh cewe bertiga ngeliatin gue?’ batin Ify. dia berusaha sesantai mungkin agar tidak terlihat gugup. Ify memutar-mutar kepalanya berusaha mencari objek agar dapat menghilangkan ketakutannya. Ketika Ify sedang memutar-mutar kepalanya, tak sengaja Ify melihat ketiga cewe itu berjalan menuju kearahnya.

‘mampus mereka kesini lagi. si Rio mana sih lama amat” gerutu Ify dalam hati. Semakin lama semakin dekat ketiga cewe itu dari Ify. sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya kali ini karena kini ketiga cewe penguasa sekolah itu sudah berdiri dihadapan Ify dengan tatapan membunuhnya. Andai saja tatapan dapat membunuh, pasti saat ini Ify sudah mati berdarah-darah karena mendapat tiga tatapan membunuh sekaligus.

“h.. ha.. hai” sapa Ify kepada ketiga cewe itu dengan senyum getir nya. baru saja Dea ingin membuka suara dan mengangkat tangannya untuk menunjuk wajah Ify, Rio langsung datang sambil membawa dua mangkok bakso.

“eh ada apa nih rame-rame?” tanya Rio sambil duduk disamping Ify. Dea, Zevan dan Angel mengurungkan niatnya untuk memarah-marahi Ify karena mereka takut dengan Rio. Dea sudah lama suka kepada Rio tapi selalu saja ada halangan atau bahkan Rio nya yang sengaja menjauh dari Dea. Maka dari itu kini Dea ingin memaki-maki Ify untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Rio. Padahal sudah satu tahun belakangan ini Dea merasa lega karena tidak lagi melihat kedekatan Ify dan Rio, tapi sekarang dia harus melihat lagi keakraban dua anak manusia itu.

“eh ng.. ngga ada kok Yo rencananya mau minta tolong aja sama Ify eh tapi kayaknya ngga jadi deh. Ya udah kita duluan ya bye Yo bye… Fy” alibi Dea dan menyebutkan nama Ify pada kalimat terakhir dengan enggan.

“mereka ngapain lo tadi?” tanya Rio kepada Ify setelah melihat kepergian Dea CS.

“ngga kok ngapa-ngapain” jawab Ify.

“bagus deh. Kalo mereka macem-macem sama lo, lapor aja ke gue. biar gue musnahin tuh mereka. coba aja, siapapun yang berani nyentuh elo, nyentuh sahabat gue yang tersayang ini, ngga bakal hidup tenang sama gue!......”

Ify tidak mendengarkan lagi perkataan Rio yang lain. Mendengar kata-kata Rio –yang bercetak miring- itu saja, ada perasaan senang bercampur sedih dihatinya kini. disatu sisi dia senang Rio perhatian dengannya dan selalu ingin melindungi nya. disisi lain, Ify sedih karena harus mendengar penuturan Rio bahwa dia hanya sahabat Rio. Orang yang disayangi Rio sebagai sahabat, tidak lebih.

“Fy” panggil Rio yang heran melihat Ify tiba-tiba melamun.

“eh iya Yo kenapa?” kata Ify tersadar dari lamunannya.

“lo kenapa tiba-tiba ngelamun gitu sih?” tanya Rio heran.

“eh ngga kok gapapa. Makanan gue mana?”

“tuh”

“eh lo ngga beli minuman juga?” tanya Ify.

“oh iya. Gue udah pesen tadi tapi kelupaan gara-gara keburu liat lo mau diserang si Dea. Bentar gue ambil dulu” Rio bangkit berdiri lagi lalu pergi mengambil minuman yang sudah dipesannya tadi.

‘ngga ada harapan’ batin Ify lirih.

“nih minumannya” Rio datang sambil membawa dua gelas jus jeruk.

“eh iya thanks” ucap Ify sambil menerima segelas jus jeruk dari tangan Rio seraya memberikan senyuman manisnya. Seakan melihat bidadari jatuh dari surge, Rio terperangah melihat senyum manis Ify yang sudah lama tidak dilihatnya karena satu tahun belakang ini hanya senyum Shilla yang memenuhi otak dan pikirannya.

“Yo.. Yo.. lo kenapa?” tanya Ify sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Rio yang kini sedang menatapnya tanpa kedip.

“Riooo…” panggil Ify setengah berteriak.

“eh iya Fy iya. Kenapa?” tanya Rio  yang baru tersadar dari lamunannya.

“seharusnya gue yang nanya, lo kenapa malah gantiin gue ngelamun?”

“gue? ngelamun? He-he.. habisnya gue tadi terpesona ngeliat senyum lo Fy. manis banget hehe” jujur Rio. Mendengar perkataan Rio, pipi Ify bersemu merah. Salting, malu. Pipi nya memanas.

“apa sih lo gombal nya ngga hilang-hilang dari dulu”

“eh serius lagi. senyum lo dari dulu juga ngga hilang-hilang. Malahan makin manis”

“udah deh tuh bakso lo keburu dingin”

*

Sudah 3 bulan semenjak kejadian Rio dan Shilla di café waktu itu. Hubungan Rio dan Ify semakin dekat saja. Jika dilihat, kedekatan mereka sudah tidak seperti kedekatan sebagai sahabat, namun lebih.

Rio pun juga sudah melupakan Shilla dan kini dia merasa bahwa dia memiliki rasa lebih kepada Ify yang ternyata baru disadarinya sekarang.

Berhubung hari ini hari Minggu, Rio mengajak Ify untuk lari pagi dan kini mereka sedang beristirahat di bangku taman komplek dekat rumah Ify.

“hmm.. Fy”

“iya?”

“gue boleh ngomong sesuatu sama lo?” tanya Rio dengan raut wajah yang serius.

“hm.. boleh. Emang ngomong apa? kayaknya serius banget”

“gue cinta sama lo Fy” ucap Rio langsung tanpa ragu dan menggenggam kedua tangan Ify. Ify terpaku mendengar ucapan Rio yang tanpa ragu itu. dia tidak pernah membayangkan bahwa Rio akan memiliki perasaan yang sama sepertinya. Ini seperti mimpi. Benar-benar seperti mimpi.

“gue cinta Fy sama lo. gue sayang sama lo. bukan sebagai sahabat lagi, tapi lebih. Lo juga cinta kan Fy sama gue?” ucap Rio lagi. Ify masih diam. Dia bingung.

Disisi lain Ify bahagia karena cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Disisi lain Ify merasa ragu akan menerima cinta Rio karena dia tahu betul bahwa diantara Rio dan Shilla tidak pernah ada kata ‘PUTUS’. Dan juga Ify tidak ingin disebut-sebut sebagai TMT(Teman Makan Teman). Sahabat yang merebut pacar sahabatnya.

“gimana Fy? lo juga cinta kan sama gue? please jangan munafik sama perasaan lo sendiri. Gue tau lo pasti juga cinta sama gue Fy karena gue bisa liat dari mata lo”

“iya, gue mau” tiba-tiba saja bibir Ify berucap seperti itu.

Begitu tahu cinta nya diterima, Rio langsung senang bukan kepalang. Dia langsung memeluk Ify. di dalam pelukan Rio, Ify hanya tersenyum miris. Dia masih ragu, bimbang apakah pilihannya ini tepat atau tidak. Apakah kedepannya berakibat atau tidak bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

“Yo..” ucap Ify pelan dalam pelukan Rio.

Rio melepaskan pelukannya dan menatap Ify dengan hangat “kenapa Fy?”

“apa lo yakin sama semua ini?”

“maksud lo?”

“lo tau kan kalo diantara lo sama Shilla itu belum ada kata putus sama sekali. Shilla itu sahabat gue Yo. Dan sekarang gue malah pacaran sama lo yang statusnya masih pacar Shilla. Apa lo yakin ngejalani hubungan ini?”

Rio terdiam. Terlihat raut wajah keraguan di dahi dan alisnya. Ify tahu betul bahwa Rio masih belum yakin dengan perasaan nya saat ini. Ify yakin perasaan Rio kepadanya saat ini hanyalah perasaan sementara saja karena Rio merasa kesepian.

“lebih baik ini semua ngga terjadi sebelum ada yang tersakiti Yo” ucap Ify lagi. Rio mendongak.

“ngga Fy, engga!”

“tapi lo itu ngga cinta sama gue Yo. Percuma”

“siapa bilang gue ngga cinta sama lo? gue cinta Fy sama lo! gue cinta! Apa perlu gue buktiin sekarang? Lo mau bukti apa?! biar gue buktiin sekarang juga”

“Yo, denger kata gue baik-baik. Perasaan lo sekarang ini hanyalah perasaan sementara. Lo butuh pelarian karena lo merasa kesepian dengan tidak adanya Shilla disamping lo akhir-akhir ini. dan yang lo jadiin pelarian itu gue. gue ngga mau Yo menjalin hubungan hanya karena sebagai pelarian. Yang dibutuhkan diawal dan dicampakan jika sudah kembali dengan masa lalu” tiba-tiba saja Ify menitikkan air mata.

Rio merasa tak tega melihat Ify menangis seperti itu. dia langsung merengkuh tubuh mungkil gadis itu.

“sstt.. udah jangan nangis lagi. gue beneran cinta sama lo bukan sebagai pelarian. Tapi sebagai yang utama. Gue janji ngga bakal ninggalin lo dalam keadaan apapun. Urusan hbungan gue sama Shilla, biar gue yang selesaiin. Yang jelas, kita jalani aja dulu semuanya mulai dari sekarang. Ya?” bisik Rio lembut.

Ify hanya sanggup mengangguk dalam pelukan Rio. entah apa yang ada dipikirannya saat ini. secara tidak langsung, dia bersedia menjadi yang kedua. Yang jelas, ini semua adalah yang diimpi-impikannya sejak dulu. Dia merasa hangat saat berada dipelukan Rio. dia merasa nyaman dan aman berada didekat Rio. itu yang dia rasakan.

Untuk selanjutnya, biarkan saja waktu yang mengatur semuanya. Apapun yang terjadi, dia akan terima walau dia tidak yakin dia mampu melewatkannya.

*

Semenjak kedekatan Rio dan Ify kembali, Shilla tidak ada lagi menghubungi Ify atau mengunjungi rumah Ify. Ify takut jika Shilla sudah mengetahui hubungannya dengan Rio dan Shilla akan memutus persahabatan mereka. Ify tidak ingin itu terjadi.

Sudah 6 bulan Rio dan Ify menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Selama ini tidak pernah ada masalah diantara mereka dan juga tidak pernah ada kata putus dari kedua belah pihak. Tapi entah kenapa, Ify merasa Rio semakin menjauh darinya 1 minggu terakhir ini.

Jika di telfon, tidak mengangkat. Di sms, terkadang tidak membalas dan terkadang membalas tapi 3 jam atau lebih setelah pesan itu dikirim Ify. jika diajak bertemu, selalu beralasan. Memang, Rio sudah 1 bulan ini diajak bergabung oleh teman-temannya sebagai vocalis band. Maka itu Ify memaklumi kesibukkan Rio.

Rio juga sudah berani berbohong kepada Ify.  beberapa hari yang lalu Ify mencoba mengajak Rio untuk makan malam bersama dirumahnya. Tapi Rio beralasan bahwa dia akan latihan band dengan teman-temannya. Tapi ternyata ketika Ify mencoba menghubungi salah satu teman band Rio, dia bilang hari itu tidak ada jadwal latihan band.

Dari situ kecurigaan Ify semakin bertambah. Dia takut kalau-kalau Rio sudah bosan dengannya dan mulai mencari penggantinya.

Ify sedang termenung di balkon kamarnya. Dia memandang lurus kedepan dan pikirannya melayang. Dia tidak tahu apa penyebab Rio berubah. Tapi batinnya berkata bahwa Rio kembali pada Shilla.

“Fy ..” sapa suara seorang gadis dari belakang Ify. Ify menoleh dan didapatinya seseorang yang sangat dikenalinya. Gadis cantik berambut lurus, sebahu dan memiliki senyum manis.

“eh Sivia” ternyata gadis itu adalah Sivia. Sepupu kandung Ify.

“lo ngelamun lagi? kenapa? Mikirin Rio lagi ya?” tanya Sivia lembut.

“gue bingung Vi sama dia. Dia udah berani bohong sekarang sama gue. dan dia selalu ngga bisa kalo gue ajak ketemuan. Di sms ngga dibales, di telfon ngga angkat. Kerumah pun dia sekarang udah jarang banget” lirih Ify.

“gue tau rasanya jadi elo Fy. pasti sakiiiitt banget rasanya. Tapi.. ya mau gimana lagi. emang udah takdir kita sebagai perempuan yang harus sabar akan segala cobaan. Kita ngga bisa berbuat apa-apa Fy. kita makhluk lemah”

“gue tau Vi, gue tau. Tapi apa kita yang lemah ini ngga bisa sedikit aja lebih kuat? Ngga bisa sedikit aja melakukan hal yang besar untuk diri kita? Untuk kebaikan kita? Gue capek Vi kalo harus gini. gue semakin yakin kalo selama ini Rio ngejadiin gue Cuma pelampiasan doang” Ify sudah tidak bisa membendung bulir-bulir air mata nya lagi. benteng pertahanan nya kokoh.

“maafin gue Fy karena ngga bisa bilang yang sebenernya sama lo. gue tau alasan Rio menjauh dari lo sekarang. Tapi maaf, gue ngga bisa bilang sama lo karena menurut gue, lo wanita yang kuat, tegar, dan hebat. Lo bisa nyelesaiin masalah lo ini sendiri. Dan gue mau, lo tau semuanya sendiri. Dengan mata kepala lo nantinya. Hanya satu yang bisa gue bantu. Tapi ngga sekarang. Maaf” batin Sivia.

*

Hari ini hari Minggu. Sivia berniat untuk mengajak Ify jalan-jalan ke taman untuk menghibur hati Ify yang masih sedih. Sivia langsung saja masuk ke kamar Ify karena dia sudah biasa keluar masuk rumah Ify. bahkan rumah Ify ini sudah dianggapnya rumahnya sendiri.

Lagi, lagi, dan lagi. di dapatinya Ify yang sedang termenung disudut kasur sambil memandangi sebuah bingkai foto. Sivia mendekati Ify dan dilihatnya dibingkai foto itu terdapat foto tiga orang anak remaja yang sedang menggunakan pakaian seragam putih abu-abu. Ketiganya berangkulan. Satu diantara itu seorang cowo dan dia berdiri dengan posisi ditengah-tengah, diapit oleh dua orang gadis cantik.

Di foto itu, senyum mereka sangat lebar. Tak ada gurat kesedihan sedikit pun. Jelas sekali bahwa mereka saat itu sedang bersenang-senang dan bahagia.

Baru Sivia ingin memanggil nama Ify, gadis cantik itu sudah membuka suara.

“senyum itu hilang. Senyum yang hangat, persahabatan yang dulu tercipta, sekarang udah ngga ada. Gue kangen mereka. gue sayang sama mereka berdua. Shilla, dia udah kayak saudara gue sendiri. Rio, dia udah gue anggap kakak gue sendiri. Tapi semuanya udah ngga ada. Mereka meenjauh dari gue. gue sekarang Cuma sendirian. Ngga ada yang peduli sama gue” lagi-lagi Ify menitikkan air matanya.

Di foto itu tergambar jelas bahwa disana foto Ify, Rio dan Shilla yang sedang berangkulan.

“udah deh Fy jangan sedih terus. Mending sekarang lo mandi, siap-siap. Gue mau ngajak lo pergi” sahut Sivia untuk memecahkan suasana.

“kemana?”

“taman. Biar otak sama hati lo segaran dikit. Siapa tau ntar ketemu cowo baru hihi” canda Sivia. Ternyata tak rugi Sivia melontarkan sedikit lelucon, akhirnya Ify menyunggingkan sedikit senyumnya. Walau sedikit.

“ya udah tunggu ya” Ify pun berdiri dari kasurnya dan melangkah ke kamar mandi.

*

Ketika sedang berjalan-jalan di taman, Ify yang semula nya sudah merasa bahagia akhirnya bersedih lagi. dia menghentikan langkahnya.

Cowo itu? dia kan.. orang yang sudah cukup lama tidak hadir di kehidupan Ify. dan hari ini, dia muncul di hadapan Ify. tapi tidak sendiri, melainkan bersama.. kekasihnya? Apa benar mereka sepasang kekasih?

Dua sejoli itu sedang duduk dibangku taman. Mereka terlihat mesra dan saling sayang. Mereka asedang bercanda gurau dan terlihat bahagia sekali.

“Fy lo kenapa?” tanya Sivia.

“dia…” suara Ify terdengar bergetar.

“maaf Fy kalo lo harus tau dengan cara kayak gini. gue sengaja bawa lo kesini karena gue tau mereka tiap Minggu selalu kesini. Dan dari sini juga gue tau kalo mereka kembali menjalin hubungan” batin Sivia.

“apa yang lo liat?” tanya Sivia.

“Rio sama… Shilla. Mereka berduaan Vi” tanpa Ify sadari, air matanya turun membasahi kedua sudut pipi tirus nya.

“mending kita pulang aja yuk” Sivia langsung membawa Ify pergi dari sana.

Sivia memang bermaksud mengajak Ify kesini karena ingin membuktikan semuanya. 2 minggu yang lalu ketika Sivia sedang jalan-jalan kesini, dia mendapati Rio sedang menggenggam tangan Shilla erat. Dilokasi yang sama. Dilokasi dimana Ify mendapati Rio dan Shilla berduaan tadi.

Dia ingin Ify sadar bahwa Rio bukanlah yang terbaik untuknya.

Setibanya dirumah, Ify langsung mengirim pesan singkat kepada Rio.

To: Rio
Kita putus. Makasih untuk 6 bulan terakhir ini.
Selamat.

Rio membaca pesan singkat dari Ify itu. dia shock ketika membaca kalimat pertama dari Ify. dan dia bingung dengan kata terakhir Ify ‘selamat’ itu. apa maksudnya mengucapkan kata putus dan memberi selamat?

Apa.. jangan-jangan Ify sudah mengetahui bahwa dia sudah kembali dengan Shilla.

Handphone Rio berbunyi lagi menandakan pesan masuk. Dia membaca. Dari Ify lagi.

From: Ify
Terlalu sadis caramu
Menjadikan diriku
Pelampiasan cintamu
Agar dia kembali.. padamu
Tanpa perduli sakitnya aku

Teganiannya caramu
Menyingkarkan diriku
Dari percintaan ini
Agar dia kembali.. padamu
Tanpa perduli sakitnya aku

Semoga tuhan membalas semua yang terjadi
Kepadaku
Suatu saat nanti
Hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya
Hanya aku tempat mu kembali
Sebagai.. cintamu

Rio tahu bahwa itu adalah lirik lagu dari sebuah lagu yang makna nya sesuai dengan kisah cinta Ify. dan dari lirik itu Rio bisa menangkap sinyal bahwa Ify menyindir dirinya. Dan Ify menganggap bahwa dia hanya sebagai pelampiasan cintanya. Rio merasa bersalah. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Shilla sudah menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Ify lagi.

‘maafin gue Fy” batin Rio.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar