Disebuah ruang tamu rumah yang megah, terdapat dua
orang cowo kini sedang duduk-duduk santai disana. Mereka sedang
berbincang-bincang tentang pekerjaan.
“gimana mas? Gossip apalagi yang beredar?” tanya Rio
kepada cowo yang bernama Alvin yang disebut-sebutnya Mas itu. Alvin sedang
membaca artikel tentang Rio di salah satu tabloid.
“sepertinya kamu sudah kebal dengan gossip ini Yo”
ucap Alvin kepada adik dan sekaligus artisnya itu sambil meletakkan tabloid itu
keatas meja.
“aku capek mas digosipin yang engga-engga terus. Masa
Cuma karena aku satu sinetron atau satu film sama cewe, dibilang kalo aku
pacaran sama cewe itu? terakhir aku digosipin
sama Angel pacaran Cuma karena satu panggung di acara nyanyi.
Ujung-ujungnya aku dibilang playboy”
tutur Rio dengan nada frustasi nya.
“mas tau Rio bagaimana rasa nya jadi kamu. Tapi inilah
resiko dari pekerjaan kamu saat ini Yo”
“apa mas ada jalan keluar untuk mengatasi gossip
murahan ini?”
“ada”
“apa?”
“nanti saja kita bicarakan. Lebih baik sekarang kita
makan malam dulu”
Mereka pun beranjak ke ruang makan. Saat ini sudah
waktunya jam makan malam. Dirumah yang besar dan megah ini, mereka hanya
tinggal berdua bersama 3 satpam dan 5 pembantu. Kedua orang tua mereka memilih
menetap di Paris karena Papa nya memiliki perusahaan disana dan Mama nya
seorang designer terkenal.
*
Di kamarnya, Ify sedari 1 jam yang lalu hanya diam
mendengarkan celotehan histeris sahabatnya dari sambungan telfon. Siapa lagi
kalau bukan Sivia?
“asal lo tau Fy,
dia itu banyak di gila-gilai para wanita. Dia juga artis muda terkaya loh di
Indonesia. banyak juga artis-artis cewe yang keganjenan deketin dia. Ih gue
ngga bisa bayangin seandainya gue jadi pacarnya aaa tapi .. Banyak gossip yang
beredar kalo dia itu playboy huft”
“ya .. Cowo emang gitu” sahut Ify singkat.
“Fy ..”
“hmm”
“gimana .. Kalo
lo aja yang jadi pacarnya? Cocok loh”
Mendengar ucapan gila Sivia, Ify langsung tersedak.
Bagaimana bisa dia menjadi pacar seorang Mario? Mustahil. Mereka saja tidak
saling mengenal. Benarkah itu?
“udah deh omongan lo makin ngaco. Gue mau tidur. Bye”
“Fy .. Fy .. Gue
masih mau ngomong .. Blablabla .. Fy ..” KLIK!
Ify langsung mematikan sambungan telfon. Dia tidak mau
mendengar cerita tentang Rio lagi.
“gila nih gue lama-lama dengerin ceritanya Sivia”
Keesokan nya di sekolah, Ify datang dengan santainya
dan dengan dagu naik keatas, mata menghadap lurus. Semua mata selalu tertuju
kepada Ify jika gadis ini sudah jalan disekeliling sekolah.
Ify serasa jalan di red carpet setiap kali jalan di sekolah. Karena setiap dia jalan
sendiri maupun bersama Sivia, semua orang langsung menepi dan memberikan jalan
seluas-luas nya untuk Ify.
Ify tau, orang-orang itu bukannya menganggungkan Ify
ketika dia berjalan, tapi orang-orang itu takut dengan Ify. Pernah sekali
diawal Ify masuk SMA, dia menghajar kakak kelas cowo hingga babak-belur. Karena
trauma, cowo itu memilih pindah sekolah.
Sejak saat itu, siswa-siswi di sekolah banyak yang
takut dengan Ify. Sebenarnya Ify sedih dengan keadaan yang seperti ini.
Ify merasa dia sebatang kara. Dia selalu kesepian.
Terkadang dia ingin seperti gadis remaja lainnya yang pergi bergaul kesana
kemari bersama segerombolan teman-teman, memiliki pacar dan lain sebagainya.
Walau begini, Ify masih memiliki jiwa kewanitaan. Ify juga butuh kasih sayang
dan juga ingin merasakan yang namanya dicintai.
Ify memasuki kelas dengan gaya yang sama dengan dia
berjalan. Semua orang memandang cemas kearah Ify. Dengan santainya Ify langsung
saja duduk dibangku nya dan disebelahnya seperti biasa sudah ada Sivia yang
menyambut kedatangannya.
“pagi Ify” sapa Sivia riang.
“hmm” sahut Ify.
“lo ramah dikit bisa ngga sih? ngga capek apa tuh pipi
diem mulu ngga pernah senyum nya?”
“lo mau hari ini belajar dengan tenang atau mau
dihantui oleh perasaan takut karena udah coba-coba ceramahin gue?” ancam Ify.
Mendengar ancaman Ify, Sivia memilih diam saja dan
berkutik dengan iPhone nya.
“Fy Rio ganteng ya” sahut Sivia yang merasa tak enak
dengan suasana diam seperti ini.
“nama nya juga cowo ya ganteng lah. Ngga mungkin dia
cantik”
“ihhh Ifyyyy. Sekali-kali lo ngelirik cowo kek. Masa
selama gue kenal sama lo, lo ngga pernah ngelirik cowo atau cerita tentang cowo
ke gue? apa jangan-jangan ..”
“shut up!
Gue normal, okey?”
“ya .. siapa tau aja gitu biar gue bisa jaga-jaga”
“kalo pun gue suka dengan sesama, gue ngga tertarik
sama lo” sinis Ify menatap Sivia dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“err .. whatever.
Eh btw, itu cowo yang sama Rio
kemaren siapa ya?” Sivia masih saja mengungkit-ungkit segala yang berhubungan
dengan Rio.
“simpenan nya kali” jawab Ify enteng.
“ih ngga mungkin banget tau. Rio itu normal” bela
Sivia.
“tau dari mana lo?”
“ya tau dong” ucap Sivia bangga.
“ngga dapet Rio, yang kemaren sama dia pun jadi deh
hihi” ucap Sivia sambil menatap menerawang.
“dasar cewe” gumam Ify.
“emang lo ngga cewe?”
“ngga! Puas lo?!” Sivia terkekeh mendengar jawaban
Ify. Dia selalu senang membuat Ify marah atau kesal terhadapnya. Dengan begitu
dia dapat melihat sisi humoris dari Ify.
“kadang gue kasihan sama fans-fans nya Rio” sahut Ify tiba-tiba
dengan tangannya yang sedang mencoret-coret buku asal-asalan.
“kenapa?”
“lo semua pada agungin dia, muja-muja dia, kasih dia
kado, dan lain sebagainya. Tapi apa lo semua yakin kalo dia bakalan inget sama
nama lo semua? Artis kayak dia itu ngga tau berterima kasih. Dia juga manfaatin
fans-fans nya buat pundi-pundi uangnya. Cowo macam dia, ngga bakalan pernah tau
gimana rasanya ditinggalin sama orang yang penting bagi dia, fans-fans dia”
Ify berbicara dengan penuh penekanan dan sepertinya
juga dengan amarah. Sivia heran. Terlebih Ify menulis dibukunya tulisan ‘Playboy’ dan juga menulis ‘MASA’.
“tapi dia ngga gitu Fy” Sivia masih membela idola nya
itu.
“sekarang lo emang boleh bilang kalo dia ngga seperti
apa yang gue katakan dan gue sendiri juga ngga bisa buktiin itu sekarang karena
gue emang ngga ada bukti atas omongan gue. Tapi gue bisa ngejamin, suatu saat
nanti, cepat atau lambat, omongan gue bakal terbukti” Ify langsung beranjak
dari duduknya dan keluar dari kelas.
Sivia menatap kepergian Ify dengan bingung. Ada apa
dengan Ify? Kenapa dia seperti memendam dendam yang begitu amat besar terhadap
Rio? Lalu .. Apa maksud dari tulisan tangan Ify yang bertuliskan ‘MASA’ itu?
Sivia memang tidak pernah bisa membaca jalan pikiran
Ify. Walau sudah bertahun-tahun mengenal Ify, namun Sivia masih belum mampu
menerka apa yang ada diotak gadis setan itu.
“lo yang terlalu pinter nyembunyiin sesuatu atau gue
yang terlalu bego buat nebak isi kepala lo Fy? Kenapa sih gue ngga pernah bisa
nebak apa yang ada diotak lo?” gumam Sivia pelan sambil menatap punggung Ify
yang semakin lama semakin menghilang dibalik pintu kelas.
*
Hari ini jadwal kerja Rio kosong. Mas nya sengaja
mengosongkan jadwal hari ini agar Rio dapat beristirahat. Dia kasihan juga
melihat adiknya yang selalu bekerja tanpa mengenal waktu. Dia mengerti sekali
bagaimana rasanya jadi seorang Mario.
Di kamarnya, Rio merenungi apa yang sudah dikatakan
Mas nya itu kemarin malam. Rio memikirkan ide yang diberikan Mas nya.
“kalo kamu
mau gossip itu hilang, kamu harus cari cewe Yo”
“cewe mas?
Mana mungkin dalam waktu singkat aku bisa dapetin cewe? Belum lagi pendekatan
nya”
“emangnya
mas nyuruh kamu buat cari pacar? Mas Cuma nyaranin kamu buat cari cewe, bukan
pacar”
“maksud
mas?”
“kamu cari
cewe yang bukan dari kalangan artis, bukan salah satu fans kamu, yang bisa jaga
rahasia dan pastinya mau diminta buat jadi tunangan kamu”
“tunangan
mas? Ngga! Mana mungkin aku tunangan sama cewe yang ngga aku kenal sama
sekali?”
“dengerin
mas dulu, Rio. Bukan jadi tunangan sungguhan, tapi kamu cukup minta dia buat
jadi tunangan pura-pura kamu. Dengan begitu, kita tinggal sebarkan ke
media-media secara perlahan bahwa kamu sebenarnya sudah memiliki tunangan.
Dengan begitu juga, semua gossip yang mengabarkan bahwa kamu itu seorang playboy akan
hilang”
“maksud
mas, aku harus cari cewe yang bersedia buat jadi tunangan pura-pura aku, trus
nanti kita buat sensasi secara perlahan-perlahan gitu?”
“yap,
benar. Kalau kita langsung mengabarkan bahwa kamu memiliki tunangan, pasti
tidak akan ada yang percaya. Mereka semua pasti bisa langsung menebak bahwa
kamu hanya mengelakan gossip itu. Maka dari itu kita harus perlahan”
“caranya?”
“gampang. Pertama-tama
kita mulai dari social media. Kamu cukup membuat status-status yang mampu bikin
semua fans-fans kamu penasaran. Seperti status yang menyatakan besok adalah
hari pertunangan kamu, atau hari yang kamu tunggu-tunggu. Atau kamu bisa juga
mengupload foto kamu bersama seorang gadis disana. Dengan begitu, kamu bisa
mengatakan kepada semuanya bahwa sebenarnya kamu memiliki tunangan”
“trus?”
“kamu ini
banyak tanya sekali. Sudahlah, serahkan semuanya sama Mas. Biar mas aja yang
urus ini. kamu cukup tenang dan dengar instruksi dari mas aja”
“trus cewe
nya siapa yang nyari? Mas juga?”
“iya. Sudah
kamu tidur sana”
Rio memikirkan kata-kata masnya. Apa itu masuk akal?
Apa itu mampu menghapus gosip-gosip yang beredar?
“kok gue ngga yakin ya sama ide gila mas Alvin?” gumam
Rio.
Dia kini sedang tidur-tidur santai dikasurnya sambil
kedua tangan dilipat dan menopang kepalanya dibelakang.
“kadang mas Alvin orang yang cerdas dan kadang dia
juga bisa gila kayak sekarang. Ck ..”
*
Sepulang sekolah, Ify memilih ke Mall sendirian. Dia
berniat untuk mencari kado ulangtahun untuk Sivia sabtu nanti. Dia ingin
memberikan sesuatu yang special yang
tidak terlupakan bagi Sivia.
“beli apa ya?” Ify mengitari seluruh toko-toko yang
ada di Mall. Dia melihat sebuah toko kaset. Ify memilih untuk melangkah ke toko
kaset terlebih dulu.
Ify mengelilingi setiap rak-rak CD yang ada. Ify tertegun
didepan sebuah rak. Ada sebuah album CD lagu seorang penyanyi cowo yang sedang digemari
para remaja saat ini. Dan penyanyi cowo itu baru saja bertemu dengannya
kemarin. Ya, penyanyi cowo itu adalah Mario Stevano atau Rio.
“apa gue beliin ini aja kali ya buat Via?” Ify
melihat-melihat cover album tersebut.
Ganteng, pikir Ify ketika melihat
foto Rio di cover album tersebut.
“tapi kan ini harganya ngga seberapa. Kan gue maunya
kado yang spesial buat Via. Lagian, dia pasti juga udah punya album ini”
Ify berpikir-pikir lagi. Tak ada salah nya dia membeli
album itu. Toh nanti dia bisa membeli kado lain untuk Sivia. Jadi dia
memberikan dua kado kepada Sivia.
Setelah membayar, Ify beranjak keluar dari toko kaset
tersebut. Ketika Ify memasukan uang kembaliannya ke dalam tas, ternyata Ify
menabrak tubuh tegap seseorang. Bungkusan yang dibawa Ify terjatuh dan album
yang dibelinya keluar dari bungkusan itu.
“Siviaaaa” teriak Ify lalu langsung mengambil album
yang kotaknya sudah pecah akibat terjatuh itu.
“sorry sorry. Gue ngga sengaja biar gue gantiin CD lo”
Ify berdiri setelah memungut kembali albumnya yang
pecah itu. Di lihatnya siapa yang menabraknya. Dia kaget ketika melihat orang
yang sama yang kemaren sudah menumpahkan kopi ke bajunya.
“lo lagi?!” kaget Ify.
“iya. Sorry bangeeett gue ngga sengaja. Gue buru-buru.
Hmm itu CD .. ehem .. lo .. Rise ya?”
tanya Rio karena dia melihat CD yang dipegang oleh Ify.
Ify tersentak ‘artis apaan nih? Udah salah eh pake
ngatain orang rese lagi’ batin Ify.
“dasar lo ya artis ngga punya sopan santun. Udah salah
dua kali pake ngatain gue rese lagi. Mau lo apaan hah?!”
“rese?” Rio bingung.
“iya. Lo tadi bilangin gue rese kan?”
Rio berpikir sebentar lalu tertawa. Ify jadi heran
sendiri melihat Rio tertawa.
“kenapa lo? ada yang lucu?” tanya Ify masih dengan
nada juteknya.
“hahaha ha-ha-ha .. Tadi itu gue nanya lo Rise apa engga. Bukannya bilangin elo
rese” ucap Rio sambil berusaha menghentikan tawanya.
“Rise? Rise apa?” tanya Ify seperti orang
bodoh.
“ternyata lo bukan fans gue toh. Trus kenapa lo beli
album gue?” simpul Rio.
“oh jadi Rise
itu nama fans lo? ya ya I know”
“kalo lo bukan fans gue, kenapa lo beli album gue?”
tanya Rio lagi.
“buat sahabat gue”
“dia Rise?”
“hmm”
“nama dia Sivia?”
“kok lo tau?” kaget Ify.
“tadi kan lo teriakin nama dia pas CD nya jatoh”
“oh .. gue cabut dulu. Ngga enak ada penguntit lo” Ify
langsung beranjak dari hadapan Rio. Rio bingung dengan maksud Ify ‘penguntit’.
Baru dua langkah Ify beranjak dari hadapan Rio, Rio
langsung menahan tangannya.
“apaan lagi?” tanya Ify tanpa berminat.
“maksud lo tadi apa?”
“liat belakang lo. Udah ah gue cabut dulu. Gue ngga
mau dibilang numpang tenar sama lo” Rio menoleh kebelakangnya. Kini dia paham
dengan ‘penguntit’ maksud Ify tadi. Dibelakang mereka kini ada beberapa orang
wartawan yang sedang memegang kamera nya dan sudah pasti mereka sedang
memata-matai Rio.
Baru Ify ingin beranjak lagi, tangannya kembali
ditahan oleh Rio. Baru Ify ingin protes, Rio langsung menarik Ify untuk pergi
keluar Mall.
“ih apaan sih lo. eh artis pshyco lepasin gue!” Ify memberontak. Rio tidak menghiraukan Ify.
tangan kanan nya kini sibuk memakaikan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya,
dan tangan kiri nya masih menggenggam pergelangan tangan Ify.
“eh lepasin gue!” Ify masih berusaha melepaskan diri
dari Rio. Dari samping Ify dapat melihat Rio kembali merogoh saku celana
belakangnya dan ternyata ada lagi kacamata hitam.
“pake!” disaat seperti ini wajah Rio terlihat sangat
serius.
“apaan?” tanya Ify tak mengerti.
“pake ini biar wajah lo ngga keliatan sama mereka. Lo
ngga mau kan wajah jelek lo terekspose di
TV?” ternyata disaat seperti ini Rio masih sempat bergurau.
“ngga lucu!” Ify menerima kacamata hitam pemberian Rio
dan langsung memakainya.
Mereka kini sedang menuju parkiran. Ify sebenarnya
bingung akan dibawa kemana oleh artis ini. Dia pasrahkan saja kepada Rio karena
Rio yang sudah biasa menghadapi hal ini. Ify merasa dejavu saat ini.
Ternyata Rio membawa Ify ke mobil pribadinya. Mobil sport berwarna putih dengan atap
terbuka. Rio membukakan pintu untuk Ify lalu dia pun juga ikut duduk dibalik
kemudi. Sebelum jalan, Rio menutup atap mobilnya yang terbuka dulu agar
wartawan-wartawan itu tidak mengenali mereka.
“kita mau kemana?” tanya Ify ketika mobil sudah mulai
berjalan.
“kemana aja”
“ih dasar lo ya artis aneh, artis pshyco, artis sok ganteng, artis ..”
“apa lagi hah? Sebut sepuas lo! yang jelas sekarang
kita harus hindarin wartawan-wartawan itu”
“trus mobil gue?”
“emang anak kecil kayak lo udah ada SIM? Udah diizinin
bawa mobil?” Rio meremehkan Ify. Memang tubuh mungil seperti Ify diragukan
untuk bisa membawa mobil. Terlebih dari postur tubuh Ify, jelas sekali dia
masih kelas 1 SMA selain dari seragam putih abu-abu yang digunakannya.
“gue udah gede!” sahut Ify tak terima diremehkan.
“kelas 1 SMA udah gede lo bilang?”
“kok lo tau lagi?!”
“tuh seragam lo putih abu-abu. Trus badan ceking kayak
gini udah pasti kelas 1 SMA”
‘baru kali ini ada yang remehin gue. Dasar artis gila’
batin Ify. Dia memilih diam saja, tidak mau ribut dengan artis gila ini.
“kenapa lo diem? Ngambek? Ck .. dasar cewe-cewe emang
bisanya merajuk aja” decak Rio.
“asal lo tau, gue ngga kayak cewe-cewe manja seperti
yang lo kira. Gue bukan cewe yang gila akan kasih sayang! Gue bukan cewe yang
gila akan keromantisan! Gue bukan cewe yang ingin dipuji-puji terus! Gue bukan
cewe yang suka berdandan dan suka ke salon tiap minggunya. Inget itu!” Ify
sudah kesal akan perlakuan Rio yang sedari tadi selalu saja merendahkan harga
dirinya.
“terserah” balas Rio.
Suasana di dalam mobil menjadi hening. Tidak ada yang
bungkam suara satu pun.
“lo sekolah dimana?” tanya Rio akhirnya bungkam suara
juga.
“ya di sekolah lah. Masa di rumah sakit”
“gue serius”
“ck .. SMA Cendrawasih”
“pulang jam berapa?”
“emang kenapa sih?” Ify jadi heran sendiri dengan
tingkah laku Rio.
“jawab aja apa susahnya sih?”
“jam 1” jawab Ify singkat.
“besok tunggu gue digerbang sekolah. Lo liat aja mobil
nomor polisi B 121 O langsung aja masuk ke mobil itu”
“loh? Kenapa? Emang itu mobil siapa?” tanya Ify
seperti anak kecil bodoh.
“ck .. dasar anak kecil mesti dijelasin secara detail. Itu mobil gue. Besok pagi pasti
artikel tentang kita di Mall tadi bakalan tersebar dan pemberitaan ada
dimana-mana. Makanya kalo lo mau aman pulang sekolah, lo langsung aja naik ke
mobil gue”
“oh” sahut Ify singkat.
“lo ngerti ngga sih maksud gue?!” kesal Rio karena
merasa sedari tadi dipermainkan oleh anak kecil yang lebih muda 3 tahun
dibandingnya.
“ngga!”
“whatever ..
males gue debat sama lo” Rio memilih mengalah saja. Rio menambah kecepatan
mobil menuju arah keluar kota Jakarta.
“asalkan gue pulang masih berbadan satu aja sih
gapapa” sahut Ify lagi.
“ngga nafsu gue sama badan cungkring lo”
Ify terdiam. Bukan karena ucapan Rio tadi. Namun
karena dia merasa dejavu dengan
suasana seperti ini. Dia merasa kembali ke kehidupannya yang dulu. Kehidupan
yang sebenarnya sangat dirindukannya itu.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar