Minggu, 20 April 2014

Devil Girl Falling In Love *2



Disebuah ruang tamu rumah yang megah, terdapat dua orang cowo kini sedang duduk-duduk santai disana. Mereka sedang berbincang-bincang tentang pekerjaan.
“gimana mas? Gossip apalagi yang beredar?” tanya Rio kepada cowo yang bernama Alvin yang disebut-sebutnya Mas itu. Alvin sedang membaca artikel tentang Rio di salah satu tabloid.
“sepertinya kamu sudah kebal dengan gossip ini Yo” ucap Alvin kepada adik dan sekaligus artisnya itu sambil meletakkan tabloid itu keatas meja.
“aku capek mas digosipin yang engga-engga terus. Masa Cuma karena aku satu sinetron atau satu film sama cewe, dibilang kalo aku pacaran sama cewe itu? terakhir aku digosipin  sama Angel pacaran Cuma karena satu panggung di acara nyanyi. Ujung-ujungnya aku dibilang playboy” tutur Rio dengan nada frustasi nya.
“mas tau Rio bagaimana rasa nya jadi kamu. Tapi inilah resiko dari pekerjaan kamu saat ini Yo”
“apa mas ada jalan keluar untuk mengatasi gossip murahan ini?”
“ada”
“apa?”
“nanti saja kita bicarakan. Lebih baik sekarang kita makan malam dulu”
Mereka pun beranjak ke ruang makan. Saat ini sudah waktunya jam makan malam. Dirumah yang besar dan megah ini, mereka hanya tinggal berdua bersama 3 satpam dan 5 pembantu. Kedua orang tua mereka memilih menetap di Paris karena Papa nya memiliki perusahaan disana dan Mama nya seorang designer terkenal.
*
Di kamarnya, Ify sedari 1 jam yang lalu hanya diam mendengarkan celotehan histeris sahabatnya dari sambungan telfon. Siapa lagi kalau bukan Sivia?
asal lo tau Fy, dia itu banyak di gila-gilai para wanita. Dia juga artis muda terkaya loh di Indonesia. banyak juga artis-artis cewe yang keganjenan deketin dia. Ih gue ngga bisa bayangin seandainya gue jadi pacarnya aaa tapi .. Banyak gossip yang beredar kalo dia itu playboy huft
“ya .. Cowo emang gitu” sahut Ify singkat.
Fy ..
“hmm”
gimana .. Kalo lo aja yang jadi pacarnya? Cocok loh
Mendengar ucapan gila Sivia, Ify langsung tersedak. Bagaimana bisa dia menjadi pacar seorang Mario? Mustahil. Mereka saja tidak saling mengenal. Benarkah itu?
“udah deh omongan lo makin ngaco. Gue mau tidur. Bye 
Fy .. Fy .. Gue masih mau ngomong .. Blablabla .. Fy ..” KLIK!
Ify langsung mematikan sambungan telfon. Dia tidak mau mendengar cerita tentang Rio lagi.
“gila nih gue lama-lama dengerin ceritanya Sivia”
Keesokan nya di sekolah, Ify datang dengan santainya dan dengan dagu naik keatas, mata menghadap lurus. Semua mata selalu tertuju kepada Ify jika gadis ini sudah jalan disekeliling sekolah.
Ify serasa jalan di red carpet setiap kali jalan di sekolah. Karena setiap dia jalan sendiri maupun bersama Sivia, semua orang langsung menepi dan memberikan jalan seluas-luas nya untuk Ify.
Ify tau, orang-orang itu bukannya menganggungkan Ify ketika dia berjalan, tapi orang-orang itu takut dengan Ify. Pernah sekali diawal Ify masuk SMA, dia menghajar kakak kelas cowo hingga babak-belur. Karena trauma, cowo itu memilih pindah sekolah.
Sejak saat itu, siswa-siswi di sekolah banyak yang takut dengan Ify. Sebenarnya Ify sedih dengan keadaan yang seperti ini.
Ify merasa dia sebatang kara. Dia selalu kesepian. Terkadang dia ingin seperti gadis remaja lainnya yang pergi bergaul kesana kemari bersama segerombolan teman-teman, memiliki pacar dan lain sebagainya. Walau begini, Ify masih memiliki jiwa kewanitaan. Ify juga butuh kasih sayang dan juga ingin merasakan yang namanya dicintai.
Ify memasuki kelas dengan gaya yang sama dengan dia berjalan. Semua orang memandang cemas kearah Ify. Dengan santainya Ify langsung saja duduk dibangku nya dan disebelahnya seperti biasa sudah ada Sivia yang menyambut kedatangannya.
“pagi Ify” sapa Sivia riang.
“hmm” sahut Ify.
“lo ramah dikit bisa ngga sih? ngga capek apa tuh pipi diem mulu ngga pernah senyum nya?”
“lo mau hari ini belajar dengan tenang atau mau dihantui oleh perasaan takut karena udah coba-coba ceramahin gue?” ancam Ify.
Mendengar ancaman Ify, Sivia memilih diam saja dan berkutik dengan iPhone nya.
“Fy Rio ganteng ya” sahut Sivia yang merasa tak enak dengan suasana diam seperti ini.
“nama nya juga cowo ya ganteng lah. Ngga mungkin dia cantik”
“ihhh Ifyyyy. Sekali-kali lo ngelirik cowo kek. Masa selama gue kenal sama lo, lo ngga pernah ngelirik cowo atau cerita tentang cowo ke gue? apa jangan-jangan ..”
shut up! Gue normal, okey?”
“ya .. siapa tau aja gitu biar gue bisa jaga-jaga”
“kalo pun gue suka dengan sesama, gue ngga tertarik sama lo” sinis Ify menatap Sivia dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“err .. whatever. Eh btw, itu cowo yang sama Rio kemaren siapa ya?” Sivia masih saja mengungkit-ungkit segala yang berhubungan dengan Rio.
“simpenan nya kali” jawab Ify enteng.
“ih ngga mungkin banget tau. Rio itu normal” bela Sivia.
“tau dari mana lo?”
“ya tau dong” ucap Sivia bangga.
“ngga dapet Rio, yang kemaren sama dia pun jadi deh hihi” ucap Sivia sambil menatap menerawang.
“dasar cewe” gumam Ify.
“emang lo ngga cewe?”
“ngga! Puas lo?!” Sivia terkekeh mendengar jawaban Ify. Dia selalu senang membuat Ify marah atau kesal terhadapnya. Dengan begitu dia dapat melihat sisi humoris dari Ify.
“kadang gue kasihan sama fans-fans nya Rio” sahut Ify tiba-tiba dengan tangannya yang sedang mencoret-coret buku asal-asalan.
“kenapa?”
“lo semua pada agungin dia, muja-muja dia, kasih dia kado, dan lain sebagainya. Tapi apa lo semua yakin kalo dia bakalan inget sama nama lo semua? Artis kayak dia itu ngga tau berterima kasih. Dia juga manfaatin fans-fans nya buat pundi-pundi uangnya. Cowo macam dia, ngga bakalan pernah tau gimana rasanya ditinggalin sama orang yang penting bagi dia, fans-fans dia”
Ify berbicara dengan penuh penekanan dan sepertinya juga dengan amarah. Sivia heran. Terlebih Ify menulis dibukunya tulisan ‘Playboy’ dan juga menulis ‘MASA’.
“tapi dia ngga gitu Fy” Sivia masih membela idola nya itu.
“sekarang lo emang boleh bilang kalo dia ngga seperti apa yang gue katakan dan gue sendiri juga ngga bisa buktiin itu sekarang karena gue emang ngga ada bukti atas omongan gue. Tapi gue bisa ngejamin, suatu saat nanti, cepat atau lambat, omongan gue bakal terbukti” Ify langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari kelas.
Sivia menatap kepergian Ify dengan bingung. Ada apa dengan Ify? Kenapa dia seperti memendam dendam yang begitu amat besar terhadap Rio? Lalu .. Apa maksud dari tulisan tangan Ify yang bertuliskan ‘MASA’ itu?
Sivia memang tidak pernah bisa membaca jalan pikiran Ify. Walau sudah bertahun-tahun mengenal Ify, namun Sivia masih belum mampu menerka apa yang ada diotak gadis setan itu.
“lo yang terlalu pinter nyembunyiin sesuatu atau gue yang terlalu bego buat nebak isi kepala lo Fy? Kenapa sih gue ngga pernah bisa nebak apa yang ada diotak lo?” gumam Sivia pelan sambil menatap punggung Ify yang semakin lama semakin menghilang dibalik pintu kelas.
*
Hari ini jadwal kerja Rio kosong. Mas nya sengaja mengosongkan jadwal hari ini agar Rio dapat beristirahat. Dia kasihan juga melihat adiknya yang selalu bekerja tanpa mengenal waktu. Dia mengerti sekali bagaimana rasanya jadi seorang Mario.
Di kamarnya, Rio merenungi apa yang sudah dikatakan Mas nya itu kemarin malam. Rio memikirkan ide yang diberikan Mas nya.
“kalo kamu mau gossip itu hilang, kamu harus cari cewe Yo”
“cewe mas? Mana mungkin dalam waktu singkat aku bisa dapetin cewe? Belum lagi pendekatan nya”
“emangnya mas nyuruh kamu buat cari pacar? Mas Cuma nyaranin kamu buat cari cewe, bukan pacar”
“maksud mas?”
“kamu cari cewe yang bukan dari kalangan artis, bukan salah satu fans kamu, yang bisa jaga rahasia dan pastinya mau diminta buat jadi tunangan kamu”
“tunangan mas? Ngga! Mana mungkin aku tunangan sama cewe yang ngga aku kenal sama sekali?”
“dengerin mas dulu, Rio. Bukan jadi tunangan sungguhan, tapi kamu cukup minta dia buat jadi tunangan pura-pura kamu. Dengan begitu, kita tinggal sebarkan ke media-media secara perlahan bahwa kamu sebenarnya sudah memiliki tunangan. Dengan begitu juga, semua gossip yang mengabarkan bahwa kamu itu seorang playboy akan hilang”
“maksud mas, aku harus cari cewe yang bersedia buat jadi tunangan pura-pura aku, trus nanti kita buat sensasi secara perlahan-perlahan gitu?”
“yap, benar. Kalau kita langsung mengabarkan bahwa kamu memiliki tunangan, pasti tidak akan ada yang percaya. Mereka semua pasti bisa langsung menebak bahwa kamu hanya mengelakan gossip itu. Maka dari itu kita harus perlahan”
“caranya?”
“gampang. Pertama-tama kita mulai dari social media. Kamu cukup membuat status-status yang mampu bikin semua fans-fans kamu penasaran. Seperti status yang menyatakan besok adalah hari pertunangan kamu, atau hari yang kamu tunggu-tunggu. Atau kamu bisa juga mengupload foto kamu bersama seorang gadis disana. Dengan begitu, kamu bisa mengatakan kepada semuanya bahwa sebenarnya kamu memiliki tunangan”
“trus?”
“kamu ini banyak tanya sekali. Sudahlah, serahkan semuanya sama Mas. Biar mas aja yang urus ini. kamu cukup tenang dan dengar instruksi dari mas aja”
“trus cewe nya siapa yang nyari? Mas juga?”
“iya. Sudah kamu tidur sana”
Rio memikirkan kata-kata masnya. Apa itu masuk akal? Apa itu mampu menghapus gosip-gosip yang beredar?
“kok gue ngga yakin ya sama ide gila mas Alvin?” gumam Rio.
Dia kini sedang tidur-tidur santai dikasurnya sambil kedua tangan dilipat dan menopang kepalanya dibelakang.
“kadang mas Alvin orang yang cerdas dan kadang dia juga bisa gila kayak sekarang. Ck ..”
*
Sepulang sekolah, Ify memilih ke Mall sendirian. Dia berniat untuk mencari kado ulangtahun untuk Sivia sabtu nanti. Dia ingin memberikan sesuatu yang special yang tidak terlupakan bagi Sivia.
“beli apa ya?” Ify mengitari seluruh toko-toko yang ada di Mall. Dia melihat sebuah toko kaset. Ify memilih untuk melangkah ke toko kaset terlebih dulu.
Ify mengelilingi setiap rak-rak CD yang ada. Ify tertegun didepan sebuah rak. Ada sebuah album CD lagu seorang penyanyi cowo yang sedang digemari para remaja saat ini. Dan penyanyi cowo itu baru saja bertemu dengannya kemarin. Ya, penyanyi cowo itu adalah Mario Stevano atau Rio.
“apa gue beliin ini aja kali ya buat Via?” Ify melihat-melihat cover album tersebut. Ganteng, pikir Ify ketika melihat foto Rio di cover album tersebut.
“tapi kan ini harganya ngga seberapa. Kan gue maunya kado yang spesial buat Via. Lagian, dia pasti juga udah punya album ini”
Ify berpikir-pikir lagi. Tak ada salah nya dia membeli album itu. Toh nanti dia bisa membeli kado lain untuk Sivia. Jadi dia memberikan dua kado kepada Sivia.
Setelah membayar, Ify beranjak keluar dari toko kaset tersebut. Ketika Ify memasukan uang kembaliannya ke dalam tas, ternyata Ify menabrak tubuh tegap seseorang. Bungkusan yang dibawa Ify terjatuh dan album yang dibelinya keluar dari bungkusan itu.
“Siviaaaa” teriak Ify lalu langsung mengambil album yang kotaknya sudah pecah akibat terjatuh itu.
“sorry sorry. Gue ngga sengaja biar gue gantiin CD lo”
Ify berdiri setelah memungut kembali albumnya yang pecah itu. Di lihatnya siapa yang menabraknya. Dia kaget ketika melihat orang yang sama yang kemaren sudah menumpahkan kopi ke bajunya.
“lo lagi?!” kaget Ify.
“iya. Sorry bangeeett gue ngga sengaja. Gue buru-buru. Hmm itu CD .. ehem .. lo .. Rise ya?” tanya Rio karena dia melihat CD yang dipegang oleh Ify.
Ify tersentak ‘artis apaan nih? Udah salah eh pake ngatain orang rese lagi’ batin Ify.
“dasar lo ya artis ngga punya sopan santun. Udah salah dua kali pake ngatain gue rese lagi. Mau lo apaan hah?!”
“rese?” Rio bingung.
“iya. Lo tadi bilangin gue rese kan?”
Rio berpikir sebentar lalu tertawa. Ify jadi heran sendiri melihat Rio tertawa.
“kenapa lo? ada yang lucu?” tanya Ify masih dengan nada juteknya.
“hahaha ha-ha-ha .. Tadi itu gue nanya lo Rise apa engga. Bukannya bilangin elo rese” ucap Rio sambil berusaha menghentikan tawanya.
Rise? Rise apa?” tanya Ify seperti orang bodoh.
“ternyata lo bukan fans gue toh. Trus kenapa lo beli album gue?” simpul Rio.
“oh jadi Rise itu nama fans lo? ya ya I know
“kalo lo bukan fans gue, kenapa lo beli album gue?” tanya Rio lagi.
“buat sahabat gue”
“dia Rise?”
“hmm”
“nama dia Sivia?”
“kok lo tau?” kaget Ify.
“tadi kan lo teriakin nama dia pas CD nya jatoh”
“oh .. gue cabut dulu. Ngga enak ada penguntit lo” Ify langsung beranjak dari hadapan Rio. Rio bingung dengan maksud Ify ‘penguntit’.
Baru dua langkah Ify beranjak dari hadapan Rio, Rio langsung menahan tangannya.
“apaan lagi?” tanya Ify tanpa berminat.
“maksud lo tadi apa?”
“liat belakang lo. Udah ah gue cabut dulu. Gue ngga mau dibilang numpang tenar sama lo” Rio menoleh kebelakangnya. Kini dia paham dengan ‘penguntit’ maksud Ify tadi. Dibelakang mereka kini ada beberapa orang wartawan yang sedang memegang kamera nya dan sudah pasti mereka sedang memata-matai Rio.
Baru Ify ingin beranjak lagi, tangannya kembali ditahan oleh Rio. Baru Ify ingin protes, Rio langsung menarik Ify untuk pergi keluar Mall.
“ih apaan sih lo. eh artis pshyco lepasin gue!” Ify memberontak. Rio tidak menghiraukan Ify. tangan kanan nya kini sibuk memakaikan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya, dan tangan kiri nya masih menggenggam pergelangan tangan Ify.
“eh lepasin gue!” Ify masih berusaha melepaskan diri dari Rio. Dari samping Ify dapat melihat Rio kembali merogoh saku celana belakangnya dan ternyata ada lagi kacamata hitam.
“pake!” disaat seperti ini wajah Rio terlihat sangat serius.
“apaan?” tanya Ify tak mengerti.
“pake ini biar wajah lo ngga keliatan sama mereka. Lo ngga mau kan wajah jelek lo terekspose di TV?” ternyata disaat seperti ini Rio masih sempat bergurau.
“ngga lucu!” Ify menerima kacamata hitam pemberian Rio dan langsung memakainya.
Mereka kini sedang menuju parkiran. Ify sebenarnya bingung akan dibawa kemana oleh artis ini. Dia pasrahkan saja kepada Rio karena Rio yang sudah biasa menghadapi hal ini. Ify merasa dejavu saat ini.  
Ternyata Rio membawa Ify ke mobil pribadinya. Mobil sport berwarna putih dengan atap terbuka. Rio membukakan pintu untuk Ify lalu dia pun juga ikut duduk dibalik kemudi. Sebelum jalan, Rio menutup atap mobilnya yang terbuka dulu agar wartawan-wartawan itu tidak mengenali mereka.
“kita mau kemana?” tanya Ify ketika mobil sudah mulai berjalan.
“kemana aja”
“ih dasar lo ya artis aneh, artis pshyco, artis sok ganteng, artis ..”
“apa lagi hah? Sebut sepuas lo! yang jelas sekarang kita harus hindarin wartawan-wartawan itu”
“trus mobil gue?”
“emang anak kecil kayak lo udah ada SIM? Udah diizinin bawa mobil?” Rio meremehkan Ify. Memang tubuh mungil seperti Ify diragukan untuk bisa membawa mobil. Terlebih dari postur tubuh Ify, jelas sekali dia masih kelas 1 SMA selain dari seragam putih abu-abu yang digunakannya.
“gue udah gede!” sahut Ify tak terima diremehkan.
“kelas 1 SMA udah gede lo bilang?”
“kok lo tau lagi?!”
“tuh seragam lo putih abu-abu. Trus badan ceking kayak gini udah pasti kelas 1 SMA”
‘baru kali ini ada yang remehin gue. Dasar artis gila’ batin Ify. Dia memilih diam saja, tidak mau ribut dengan artis gila ini.
“kenapa lo diem? Ngambek? Ck .. dasar cewe-cewe emang bisanya merajuk aja” decak Rio.
“asal lo tau, gue ngga kayak cewe-cewe manja seperti yang lo kira. Gue bukan cewe yang gila akan kasih sayang! Gue bukan cewe yang gila akan keromantisan! Gue bukan cewe yang ingin dipuji-puji terus! Gue bukan cewe yang suka berdandan dan suka ke salon tiap minggunya. Inget itu!” Ify sudah kesal akan perlakuan Rio yang sedari tadi selalu saja merendahkan harga dirinya.
“terserah” balas Rio.
Suasana di dalam mobil menjadi hening. Tidak ada yang bungkam suara satu pun.
“lo sekolah dimana?” tanya Rio akhirnya bungkam suara juga.
“ya di sekolah lah. Masa di rumah sakit”
“gue serius”
“ck .. SMA Cendrawasih”
“pulang jam berapa?”
“emang kenapa sih?” Ify jadi heran sendiri dengan tingkah laku Rio.
“jawab aja apa susahnya sih?”
“jam 1” jawab Ify singkat.
“besok tunggu gue digerbang sekolah. Lo liat aja mobil nomor polisi B 121 O langsung aja masuk ke mobil itu”
“loh? Kenapa? Emang itu mobil siapa?” tanya Ify seperti anak kecil bodoh.
“ck .. dasar anak kecil mesti dijelasin secara detail. Itu mobil gue. Besok pagi pasti artikel tentang kita di Mall tadi bakalan tersebar dan pemberitaan ada dimana-mana. Makanya kalo lo mau aman pulang sekolah, lo langsung aja naik ke mobil gue”
“oh” sahut Ify singkat.
“lo ngerti ngga sih maksud gue?!” kesal Rio karena merasa sedari tadi dipermainkan oleh anak kecil yang lebih muda 3 tahun dibandingnya.
“ngga!”
whatever .. males gue debat sama lo” Rio memilih mengalah saja. Rio menambah kecepatan mobil menuju arah keluar kota Jakarta.
“asalkan gue pulang masih berbadan satu aja sih gapapa” sahut Ify lagi.
“ngga nafsu gue sama badan cungkring lo”
Ify terdiam. Bukan karena ucapan Rio tadi. Namun karena dia merasa dejavu dengan suasana seperti ini. Dia merasa kembali ke kehidupannya yang dulu. Kehidupan yang sebenarnya sangat dirindukannya itu.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar