Minggu, 20 April 2014

Rival In Love *26



Setelah menempuh waktu satu jam, tibalah rombongan Redbag, Blink beserta tour guide di Kota Seoul. Pusat nya Negara Korea. Mereka memilih langsung ke Hotel sesuai rencana karena memikirkan kondisi Pricilla.

Kini mereka sampai disebuah Hotel mewah nan megah bernama Marriot Executive Apartements Seoul. Hotel ini menggunakan Interior minimalis perpaduan warna merah dan kuning. Lobi Hotel ini terasa sangat elegan dan sekaligus Hommy. Sama sekali tidak membuat para pengunjung merasa canggung untuk menginap disini.

“Annyeong haseyo (selamat pagi siang sore malam)” ucap Resepsionis yang berwajah khas asli warga Korea.

Kali ini, yang maju kelima tour guide karena kelima pasang artis tersebut susah untuk berkomunikasi di Negara ini.

“annyeong (Hallo)” ucap Olivia.

“Jeogiyo (permisi). Apa masih ada kamar yang kosong?” tanya Dea.

“Ne (Ya). Ingin memesan berapa kamar dan untuk berapa hari?” tanya Resepsionis itu ramah.

Dea meminta tunggu sebentar kepada Resepsionis itu lalu menanyakan kepada Redbag dan Blink. Mereka memutuskan untuk memesan tiga kamar saja mengingat harga sewa permalam di Hotel ini sangatlah mahal. Jika di rupiahkan mencapai 2,5 juta rupiah. Mereka bukan hanya menginap semalam atau dua malam. Tetapi seminggu. Maka dari itu mereka memilih tiga kamar saja.

Tiga kamar. Satu kamar khusus untuk kelima personil Redbag. Satu lagi khusus untuk Blink dan satunya lagi khusus untuk kelima tour guide.

Setelah menyelesaikan semuanya, sang resepsionis memberikan tiga kunci kamar kepada Dea. Dan Dea memesan kamar dengan Double Bed yang Big Size tiap-tiap kamar.

“haah akhirnya kita sampai juga ya di Hotel” gumam Olivia yang langsung menghamburkan badannya ke kasur.

“inget ya Liv kita kesini buat kerja bukan buat liburan jadi kita ngga ada waktu buat bersenang-senang” ingat Zahra.

“iya Buk Zahra yang terhormat”

“eh iya Redbag ternyata aslinya ganteng-ganteng ya” ucap Dea.

“iya. Tapi sayang udah ada yang punya” balas Angel.

“iya ya? Udah keduluan sama Blink. Tapi pantas sih, kan mereka berlima cantik-cantik cocok sama Redbag yang ganteng-ganteng” Zevana ikut topik pembicaraan Angel dan Dea.

“secantik-cantiknya mereka, itu belum menjamin kesetiaan cowo-cowo Redbag loh” ucap Dea. Angel, Zevana, Olivia dan Zahra menatap Dea heran.

“maksud kamu?” tanya Olivia.

“yang nama nya cowo itu kan ngga bisa dipercaya. Setia apapun cowo dan secantik apapun pacar mereka, pasti mereka akan berkhianat juga kok. Dan kayaknya .. sebentar lagi akan terbukti”

“ngga mungkin ah. Anak-anak Redbag kayaknya setia semua kok. Mereka sayang sama Blink” sangkal Zevana.

“kamu tau dari mana kalo Redbag itu sayang sama Ify?”

“dari matanya”

“ya .. walaupun sesayang-sayangnya orang, pasti akan berkhianat juga kok”

“aku ngga percaya pokoknya” Zevana bersikeras.

“ya udah terserah kamu”

“udah deh De jangan omongin orang. Sekarang itu mereka Bos kita jadi kita harus dengerin perintah mereka” ingat Zahra. Diantara mereka berlima, Zahra lah yang paling dewasa secara umur maupun sifat dan dia juga senior diantara yang lainnya.

“iya mbak Zahra”

Di kamar Redbag hanya ada empat orang. Rio, Gabriel, Cakka dan Debo. Saat ini Rio memilih untuk mandi dulu dan bergantian dengan yang lainnya.

Alvin kini sedang berada dikamar Blink mengantarkan Pricilla yang masih merasa sakit. Dengan sabar dan penuh ketulusan, Alvin menggotong tubuh Pricilla keatas kasur. Blink hanya mampu melihat karena tidak ada yang bisa mereka bantu. Semuanya diambil alih oleh Alvin.

“lo istirahat aja ya Pris. Besok kalo masih belum baikan, lo ngga usah ikut jalan aja” ucap Alvin lembut ketika usai membaringkan tubuh Pricilla diatas kasur.

“ngga mau Vin. Gue mau jalan besok. Masa kalian pada pergi gue nya di kamar sendirian? Boring banget tau”

“lo nakal banget ya kalo dibilangin. Biar besok gue temenin lo disini”

“ehem ehem. Hati-hati tuh” sindir Sivia.

“awas aja kalo kita balik tau-tau dapet kabar kalo yang keluar dari kamar ini ada 3 orang” sindir Ify.

“ih apaan sih kalian” kesal Pricilla melihat tingkah teman-temannya.

“ya udah gue ke kamar dulu ya. Istirahat yang banyak. Oh iya Feb, Fy, Vi, Shil, gue nitip Prissy ya”

“amaan” koor Blink minus Pricilla kompak. Alvin pun melangkah meninggalkan kamar Blink menuju kamar Redbag.

*

21.00 Waktu Setempat

Shilla dan Ify merasa lapar melanda mereka. Mereka bingung ingin makan apa. mereka akhirnya memilih untuk turun ke lantai dasar Hotel. Dimana disana ada sebuah restaurant.

Ketika mereka melewati kamar Redbag tadi, ternyata Rio dan Gabriel keluar dan langsung bertemu dengan Shilla dan Ify.

“mau kemana kalian?” tanya Gabriel.

“laper. Mau ke resto bawah nyari makan” jawab Ify. Entah kenapa semenjak selesai acara tadi, Shilla lebih banyak diam.

“ya udah bareng aja. Kebetulan kita juga mau nyari makan” ajak Rio.

“eh engga kok engga. Kita bukan mau nyari makan tapi…” elak Shilla.

“halah … banyak alesan lo. Buruan deh” Gabriel langsung menarik tangan Shilla dan beranjak pergi duluan yang diikuti Rio dan dibelakang nya diikuti Ify. Ify berjalan pelan seraya memandang punggung tegap Rio.

Rio merasa ganjil berjalan sendirian. Dia membalikan tubuhnya dan mendapati Ify yang sedang setengah kesal, setengah kecewa, dan lainnya bercampur jadi satu.

“ngapain lo?” tanya Rio.

“apa peduli lo? Udah deh jalan duluan sana!” sewot Ify.

“bilang aja lo juga pengen gue genggam tangannya kayak Gabriel ke Shilla tadi. Iya kan? Sini” Rio langsung saja menarik telapak tangan Ify dan menyelipkan jemarinya disela-sela jemari Ify. Seketika Ify merasakan perasaan hangat menjalari tubuhnya. Dia merasa nyaman.

Mereka berjalan berdua layaknya sepasang kekasih. Ify berjalan dengan perasan gugup, dan Rio berjalan dengan santainya tanpa menoleh kiri dan kanan. Namun walau begitu, Rio dapat melihat dari sudut matanya bahwa gadis yang berada disebelahnya saat ini sedang gugup dan tegang.

Ternyata dari jarak yang agak jauh, seseorang secara tidak sengaja melihat Rio dan Ify berpegangan tangan. Dia tidak rela jika orang yang dicintainya malah mencintai orang lain. Dari dulu, dia tidak pernah kalah dalam hal apapun oleh siapapun dan juga tidak pernah tidak mendapatkan apa yang dia mau. apapun yang dia mau dia selalu bisa meraihnya.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar