Sabtu, 11 Januari 2014

(Cerpen) Rasa Ini


Mataku tak henti-hentinya menatap seorang pria di tengah lapangan itu yang sedang asik dengan si bulat oranye nya. langit mulai menampakan tanda-tanda hujan akan datang. Namun pria yang sedang sendiri dilapangan itu tidak menghiraukan itu.

Ku tak percaya Kau ada disini
Menemaniku disaat dia pergi

Sembari melihat pria itu bermain, aku memutar lagu yang tak pernah bosan-bosannya ku dengar. Dentingan pianonya mengalun dengan sangat indah terlebih makna dari keseluruhan lirik didalam lagu itu. lagu yang sangat menggambarkan suasana hati ku.

Aku duduk disalah satu bangku di tepi lapangan. Sekolah sudah mulai sepi karena bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Aku menatap langit sambil menghayati bait demi bait, kata demi kata dari lirik lagu tersebut. Benar-benar suasana hatiku saat ini.

Kemarin malam baru saja aku memutuskan hubunganku dengan seorang pria yang aku cintai…. Dulu. Itu dulu sebelum aku bertemu sosok pria lain. Kami sudah menjalin hubungan 1 tahun 3 bulan. Namun sayang, 2 bulan terakhir ini hatiku bukan lagi diisi oleh baying-bayang Gabriel –mantan kekasih ku itu- melainkan seseorang yang baru saja ku temui 2 bulan yang lalu dan dia kini sedang berada dihadapanku yang sedang memantul-mantulkan si bundar oranyenya.

Aku tak ingin berbohong kepada Gabriel bahwa aku masih mencintainya. Aku tak tega jika harus melihat dia bahagia dengan omong kosong ku itu dalam kebohonganku. Aku tak ingin menyakitinya lebih dan lebih dalam lagi. maka dari itu aku mengakhiri semuanya dan aku mencoba jujur akan perasaan ku sekarang akan siapa pria lain yang sudah merebut hati ku secara diam-diam itu. beruntung aku pernah mencintai dan dicintai oleh pria bijak seperti Gabriel karena dia tidak marah sama sekali dengan penuturan ku sewaktu itu. bahkan dia meminta ku untuk menjadi sahabatnya bukan musuhnya.

Hujan gerimis mulai turun. Semakin lama hujan semakin deras. Pria idamanku itupun sudah basah kuyup olehnya. Dia berlari ke salah satu bangku kosong  ditepi lapangan yang dimana disana memang terlindung dari hujan. Tapi… tunggu! Pria itu bukan beralari ke salah satu bangku yang kosong, melainkan….

“hai boleh gue duduk disini?” Pria itu menyapaku! Dia menyapaku! Ya, ternyata dia berlari ke bangku dan berdiri tegap dihadapanku dengan senyuman manisnya meminta izin. Nada ramah nya sangat terdengar renyah. Aku suka itu. aku suka mendengar suaranya berbicara.

Sebisa mungkin aku mencoba untuk bersikap biasa, tidak terlihat gugup.

“boleh kok duduk aja” balas ku juga dengan seulas senyuman.

“duh panas banget. Mana aus lagi” pria yang kini sudah duduk disampingku itu bergumam sendiri. Aku mencoba mencari-cari sesuatu dari dalam ku. tak lama, akhirnya aku menemun sebungkus tissue.

“nih pake aja” aku memberikan tissue itu kepadanya. Dengan senang hati dia menyambut uluran tissue ku.

“thanks ya.. oh iya lo kelas berapa? Kok gue belum pernah liat elo ya?” tanya pria itu seakan baru teringat bahwa dia belum pernah melihatku. Huft… tak seharusnya aku beharap terlalu jauh kepadanya. Dia saja tidak tahu siapa ku. mana mungkin dia bisa membalas perasaanku?

“gue anak baru disini. Gue dikelas 3 IPA 1. Lo sendiri?” tanya ku balik berbasa-basi. Mana mungkin aku tidak mengetahui kelas pujaan hatiku sendiri? Aku heran mengapa dia bisa cepat akrab dengan ku walau tak heran dia memang terkenal ramah dan supel.

“oh pantes aja. Gue dikelas 3 IPS 3 hehe nama lo siapa?”

“Alyssa Saufika Umari panggil aja Ify. lo Rio kan kapten basket sekolah ini?” aku sendiri heran mengapa aku bisa semudah ini bertanya-tanya kepada Rio tanpa rasa malu ataupun gugup. Memang, aku anak yang pemalu terlebih dengan kaum adam.

“segitu terkenal kah gue disini?” canda Rio. kami tertawa bersama. Berawal dari itulah perbincangan ku dengan Rio sang pujaan hatiku mengalir seperti sungai. Kami terlihat begitu akrab seperti teman lama yang sudah lama tak berjumpa.

Sungguh bahagia
Kau ada disini
Menghapus semua
Sakit yang ku rasa

Sampai akhirnya, kini sudah 2 bulan diriku dekat dengannya. Kami selalu meminta pendapat satu sama lain walau terlebih Rio yang sering meminta pendapatku tentang…. Pacarnya. Seperti sekarang ini. kami sedang duduk dibangku taman sekolah. Sekarang waktu nya istirahat. Rio sedang dilanda kebingungan akan hubungannya dengan kekasihnya.

“gue bingung harus gimana, Fy” gumam Rio parau karena hubungannya dengan kekasihnya yang bernama Shilla itu sudah tak sehat lagi menurutnya. Shilla akhir-akhir ini suka marah-marah tak jelas kepada Rio. jika diajak jalan berdua, Shilla selalu mengelak. Jika ditelfon, selalu di reject. Dikunjungi kerumah Shilla sekalipun, Shilla nya tidak berada dirumah. Rio menjadi curiga dengan perubahan drastis kekasihnya itu.

“udah Yo jangan negative thinking dulu. Tadi lo bilang kalo Shilla sekarang lagi marah sama lo kan gara-gara lo nuduh dia selingkuh? Kenapa lo ngga coba buat ikutin Shilla pulang sekolah nanti? Atau… lo coba ngomong baik-baik sama dia. Minta maaf sama dia. Bagaimanapun dia masih pacar lo Yo” aku serasa tercekat ketika bibir ku dengan beraninya mengungkapkan kalimat itu. kalimat yang pastinya akan mengiris-ngiris hatiku. Aku bodoh! Tidak seharusnya aku menyakiti diriku sendiri dengan seperti ini. cukup aku sudah sakit hati karena Rio yang selalu menceritakan tentang Shilla kepadanya.

Rio mengangguk-angguk menyetujui usulan yang menurutku bodoh itu.

Mungkinkah kau merasakan semua yang kurasakan
Kenanglah kasih…

Satu minggu sudah aku tidak bertemu dengan Rio semenjak dia menceritakan tentang hubungannya dengan Shilla ditaman sekolah. Bukan tidak bertemu lagi. aku masih melihat wajah Rio setiap harinya disekolah. Namun, wajah itu terlihat lebih suram. Dia lebih suka merenung akhir-akhir ini. aku sendiripun tidak berani untuk mengganggunya dulu.

“Ify” panggil suara berat yang sudah tak asing lagi beberapa bulan belakangan ini bagiku. Aku menoleh ketika melihat sosok itu berdiri didepan pintu kelasku. Dia tersenyum. Namun, senyum ini tak seperti senyum-senyum biasanya. Aku membalas senyum nya itu dan melangkah menghampirinya.

“ada apa Yo? Tumben ke kelas” tanya ku heran.

“hmm… ke taman aja yuk. Ngga enak disini” aku pun mengangguk dan mengikuti langkah Rio ke taman sekolah tempat mereka biasa berbincang-bincang. Sudah beberapa bulan ini juga satu sekolah mengetahui tentang kedekatan aku dan Rio. tanpa terkecuali Shilla. Shilla yang tahu akan kedekatanku dengan Rio pun menyalahkan aku sepenuhnya akan semua ini.

“ada apa Yo?” tanya ku sesampainya ditaman sekolah.

“gue putus Fy sama Shilla” ucap Rio lirih sambil menunduk.

Ku suka dirinya mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi..
Menjadi miliknya
Namun salahkah aku
Bila ku pendam rasa ini

“loh? Kenapa?” tanya ku kaget. Bukan kaget namun senang. Tapi… bukan juga. aku bingung harus bagaimana sekarang. Disisi lain aku senang, dia sisi lain aku kaget juga bercampur sedih.

“ternyata selama ini gue dijadiin selingkuhan sama Shilla. Dia udah punya pacar dan lebih parah nya lagi dia jadiin gue bahan taruhan sama temen-temen geng nya”

“beneran? Kok bisa sih Shilla se kejam itu sama lo? nyia-nyiain orang yang udah cinta tulus sama dia. Kalo gue jadi dia, gue bakalan bersyukur kalo punya cowok sebaik dan setulus elo. Upss” akutanpa sadar mengucapkan itu. Rio tersenyum mendengar penuturan tak sengaja ku itu. aku bingung mengapa anak itu menjadi senyum-senyum sendiri. Apa dia sudah mulai tidak waras akibat putus dengan Shilla?

“so.. sorry Yo gue Cuma kebawa suasana aja. Ngga maksud lain kok” sanggah ku cepat.

“kalo beneran juga gapapa kok, cantik..” goda Rio. pipi ku sepertinya sudah memerah menahan malu. Tak biasanya Rio memujiku seperti ini

“ih apasih”

“Fy, gue mau minta pendapat lo nih”

“pendapat apa lagi? Shilla lagi?”

“engga kok. Gini, misalkan ada cowok yang suka muji-muji cewek lain dihadapan lo, cerita tentang cewek lain dihadapan lo, sedangkan elo suka sama tuh cowo tapi elo ngga pernah ngomong sama dia. Menurut lo, kejam ngga sih tuh cowok?” tanya Rio. aku menyerap kata demi kata dari pertanyaan Rio. aku kaget begitu sadar pertanyaan Rio sangat mirip dengan yang aku alami saat ini.

“hmm.. menurut gue engga. Karena si cewe kan ngga pernah ngungkapin perasaan nya ke si cowo. Ya mana tau si cowo itu kalo si cewe itu suka sama dia? Itu salah si cewe dong” secara tidak langsung aku menyalahkan diriku sendiri yang memang tidak pernah menampakkan atau mengungkapkan perasaan ku kepada Rio.

“berarti lo yang salah”

“maksud lo?” tanyaku heran.

“iya, lo salah! Lo salah karena selama ini lo udah ngga jujur sama gue tentang perasaan lo yang sebenernya ke gue gimana. Lo salah karena lo selalu terlihat baik-baik aja waktu gue muji-muji Shilla didepan lo. waktu gue curhat tentang Shilla ke elo. Kenapa lo diem disaat gue bilang sayang sama lo sebagai sahabat Fy?” Rio menatap lembut mataku. Aku pun tak tahu mengapa aku ikut membalas tatapannya itu.

“Yo…”

“Fy, lo ngga tau kan gimana ngerasa bersalahnya gue waktu tau dari Gabriel kalo lo punya perasaan ke gue? gue ngerasa cowo paling bodoh sedunia Fy karena udah ngga peka sama perasaan cewe sebaik elo. Gue sadar kalo yang gue cinta itu bukan Shilla, tapi elo. Yang gue butuhin itu elo bukan Shilla”

“Gabriel?”

“Iya, Gabriel. waktu gue kerumah Shilla kemaren minta penjelasan, ternyata Gabriel itu sepupu Shilla. Disana gue kenalan sama dia dan dia kaget pas tau nama gue Rio dan gue satu sekolah sama lo. terlebih saat tau gue deket sama lo. dari situlah dia ceritain semuanya ke gue. gue salut sama dia udah ngelepasin lo walaupun hati dia sakit. Dia udah relain cintanya ke gue”

“Yo.. lo beneran?” tanyaku tak percaya. Rasanya semua ini berlalu begitu cepat dan berubah. Rio mengangguk menjawab pertanyaan ku. melihat anggukan mantap Rio, aku langsung menghamburkan tubuhku kedalam pelukan hangatnya.

“gue cinta sama lo. gue akan jagain lo sampai kapanpun. Love you…” bisik Rio tepat ditelingaku. Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya.


END

YEAAY!! Kali ini aku posting cerpen lagi nyaaw HAHA ini terinspirasi dari lagu nya Vierra-Rasa ini berhubung kisah ngenes nya itu kisah aku bangettt!! Follow twitter aku ya guys @elviraeryos J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar