Ify. Alyssa
Saufika Umari. Gadis cantik
namun pendiam. Bukan pendiam dalam artian ‘gadis pemalu’. Gadis ini menjadi
seorang gadis pendiam karena suatu hal yang membuatnya menjadi seperti ini. Bahkan
tak jarang banyak teman-teman sekolahnya yang takut jika sudah melihat dirinya
muncul di sekolah.
Selama SMP bahkan hingga sekarang kelas 1 SMA, dia
hanya memiliki 1 sahabat. Mengapa? Karena dia menganggap semua orang dimuka
bumi ini tidak bisa dipercaya. Semuanya sama dimata dia. Hanya memberi janji
manis yang tidak pernah ada bukti.
Menurutnya, semua yang terjadi di dunia ini hanya semu
belaka. Tidak utuh selamanya kita miliki. Semua bisa berubah kapan saja tanpa
kita rencanakan atau kita ketahui.
Sahabat. Tempat dia
berbagi cerita kelamnya. Tempat dia melihatkan seberapa besar dan beratnya
masalah yang ditanggungnya sendiri. Tempat dimana satu-satunya tempat dia bisa
memperlihatkan kelemahan pada dirinya yang tidak pernah dia perlihatkan kepada
siapapun. Keluarga nya sekalipun. Sahabat yang sekaligus menempati tempat
sebagai saudaranya. Dia sudah menganggap sahabatnya itu sebagai saudara nya
sendiri. Walau seperti itu, dia tetap bersikap dingin kepada sahabatnya
tersebut. Bagi sahabatnya itupun tidak masalah karena dia paham akan keadaan
gadis ini. terlihat tegar namun rapuh bahkan sangat rapuh serapuh batu karang
yang diterjang ombak.
‘Sahabat tempat dia berbagi cerita kelam’. Cerita kelam? Hmm… lalu bagaimana dengan cerita
indah atau bahagianya? Entahlah. Jangan ditanya. Mungkin dia sendiri sudah
tidak mengingat atau memang sengaja melupakan karena dalam hidupnya selama 15
tahun ini, dia hanya bisa merasakan suatu kebahagiaan yang menyisakan cerita
indah selama kurang lebih 6 bulan. Setelahnya, lembaran cerita kelam kembali
tercatat. Singkat? Ya, memang.
Langit gelap kini tengah meneteskan air matanya ke
permukaan bumi. Langit menangis. Sama hal nya dengan gadis ini. namun gadis ini
menangis dalam diam dengan mata memandang jauh ke depan. Kini dia sedang
menangis disamping tempat tidurnya menghadap kearah jendela. Melihat satu per
satu tetesan air mata langit yang turun dan menghitung berapa bulir air mata
yang diturunkan oleh mata langit itu. Banyak sekali. Jika dihitung, mungkin
jumlahnya lebih dari beratus, beribu, berjuta bahkan bermilyaran tetes. Begitu
juga dengan air mata gadis ini. Banyak. Matanya pun sudah sembab. Kira-kira
sudah hampir 1 jam dia menangis, menyendiri di kamarnya ini. Hanya disinilah
dia merasa hidupnya tentram dan nyaman tanpa gangguan. dia tidak pernah
memperlihatkan air mata nya kepada orang lain terkecuali satu orang. SAHABATNYA.
Wake you up in the middle of the night to
say
I
will never walk away again
I never gonna leave this bed
Lantunan lagu dari Maroon5-Never Gonna Leave This Bed
berdering dari ponsel yang tergeletak disebelahnya. Segera diraihnya ponsel itu
dan melihat siapa yang menelfon. Tertera jelas nama sahabatnya pada layar
ponselnya itu.
KLIK
“hallo .. ngapain? .. dimana? .. oke. 10 menit lagi”
CKLEK
Sambungan telfon sudah terputus. Cukup dengan
kata-kata singkat seperti itu, sahabatnya pun pasti sudah mengerti dengan
maksud gadis ini. Sepertinya mereka ada janji untuk bertemu di suatu tempat dan
10 menit lagi gadis ini akan sampai disana. Seperti itulah kira-kira.
Setelah memutus sambungan telfonnya, segera Ify
menghapus sisa-sisa air mata yang sudah mulai mengering dikedua pelupuk mata
dan pipi nya. Lalu meraih kunci mobil dan jaketnya karena cuaca diluar masih
dingin berhubung baru saja selesai hujan begitu air mata Ify juga berhenti
tadi.
Melihat dirinya dikaca sebentar. Hmm… ck sembab,
pikirnya. Ya, matanya sembab akibat menangis terlalu lama. Biar sajalah,
pikirnya lagi. Langsung dia meninggalkan kamarnya dan pergi melewati pintu
belakang. Pintu belakang? Mengapa? Dia tidak ingin melihat kejadian yang sangat
memuakan baginya itu jika dia melewati pintu depan.
“dua anjing itu pasti lagi ada disini dan
nge-gong-gong ngga jelas. Mending gue lewat pintu belakang aja”
*
Mobil jazz putih milik Ify sudah berhenti tepat di
depan sebuah café. Dia turun mamasuki café tersebut dengan santainya untuk
menemui seseorang yang menelfonnya tadi dan memintanya untuk bertemu sekarang juga.
Sesuai janji, 10 menit tepat Ify sudah sampai disini.
Sebenarnya dia malas untuk keluar rumah saat ini, tapi karena orang yang menelfonnya
tadi berkata bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakannya, jadilah Ify mau
menemui orang itu. Terlebih orang itu tak lain adalah sahabatnya sendiri yang
suda dianggapnya seperti saudara.
“IFYYY” teriak sebuah suara yang sudah tak asing lagi
bagi Ify, sontak Ify langsung menoleh kearah sumber suara.
Ah.. itu dia! Gadis cantik berkulit putih, bermata
sipit sudah duduk manis disalah satu meja café dan tengah mengangkat tangan
kanan nya memberi tanda kepada Ify agar menyusulnya kesana. Tak lupa senyum
manis juga terlihat. Ify mengangguk meng’iya’kan dan segera berjalan kearah
meja sahabatnya itu dengan wajah dinginnya.
“ada apa?” tanya Ify to the point dengan nada dinginnya kepada gadis yang kini tengah
duduk dihadapannya itu.
“lo baru aja duduk, Ify .. pesan makanan dulu kek”
ujar sahabatnya itu.
“ngga laper” ujar Ify dingin seraya memainkan
handphone nya dengan cuek.
“minum aja deh” bujuk gadis itu lagi.
“Via…” geram Ify kepada Sivia –sahabatnya- yang lebih
akrab disapa Via itu dengan tatapan dinginnya. Seakan mengerti dengan tatapan
Ify, Sivia jadi bungkam dan menunduk. Takut Ify marah kepadanya. Sivia memang
anak yang manja dan paling tidak bisa dimarahi.
Merasa tak tega juga dengan sahabatnya itu, akhirnya
Ify pun pasrah “ya udah” Ify meletakkan ponselnya diatas meja. Sivia
mendongakan kepalanya memberanikan diri menatap Ify dengan kening mengernyit.
“ya udah apa?” tanya Sivia dengan wajah polos nya.
“ya .. ya udah.
Lo tadi mau gue apa? pesan makanan dulu kan? Ya udah gue turutin” ucap Ify
mulai melembut untuk menghibur Sivia. Dari hati yang paling dalam pun Ify
sebenarnya tidak tega jika harus melihat Sivia bersedih atau menangis. Dia
hanya ingin melihat sifat manja gadis itu dan tawa riang gadis itu. Ify pun
tidak merasa terbebani oleh semua sikap manja Sivia kepadanya.
Mendengar bujukan Ify, Sivia langsung mengangkat
kepalanya dan tersenyum sumringah menatap Ify seakan bertanya ‘serius?’ yang
hanya dibalas Ify dengan anggukan malasnya. Setelah lega melihat senyuman Sivia
kembali lagi, Ify pun kembali menyibukan diri dengan ponselnya. Sepertinya
sangat menarik. SEPERTINYA.
Dengan semangat, Sivia memanggil pelayan Café dan
memesan makanan untuk dirinya dan Ify.tadi dia baru memesan minuman saja.
“mbak, Spaghetti cheese bolognise nya satu, orang
juice satu, sama…” Sivia menatap Ify seakan bertanya Ify ingin memesan apa.
“samain aja” jawab Ify seakan tau dengan maksud Sivia
menggantungkan kalimatnya tadi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari
layar ponselnya itu.
Sivia mengangguk “jadi.. spaghetti cheese bolognise
nya dua sama orang juice nya juga dua ya mbak”
“terimakasih mbak, silahkan menunggu sebentar”
Setelah selesai memesan, keheningan terjadi. Seperti
tidak ada yang akan mereka bicarakan. Mereka sibuk masing-masing. Sivia sibuk
dengan pemikirannya sendiri, sedangkan Ify sibuk menutupi wajahnya dengan
mengangkat ponselnya tinggi-tinggi untuk menutupi mata sembab nya dari Sivia.
Dia tidak ingin Sivia melihat mata sembab nya itu, bisa-bisa dia di introgasi
oleh Sivia.
“jadi.. apa masalah pentingnya?” tanya Ify memulai
membuka topik pembicaraan dengan ponsel masih menutupi wajahnya. Tak enak juga
suasana diam seperti ini.
“kayaknya.. masalah gue ngga sebegitu pentingnya deh
dibanding sama masalah lo sekarang. Jadi.. ada apa sama mata bengkak lo?”
selidik Sivia yang sedari tadi memperhatikan wajah Ify. Lebih tepatnya ke mata
Ify yang terlihat bengkak dari awal dia datang tadi.
Ify merutuki sahabatnya itu di dalam hati. Dia lupa
bahwa semanja-manja nya sahabat nya ini, Dia juga memiliki sifat sedikit setan
seperti dirinya. Sepertinya sahabat tersayangnya itu sudah mulai terbawa sifat
setan Ify.
“ngga ada”
“boong!” kekeuh Sivia.
“serius!” jawab Ify tak kalah kekeuh nya. Dia
menurunkan ponselnya dari wajahnya dan kini menatap Sivia dengan tatapan tak
bisa diartikan. Sivia semakin jelas melihat mata sembab Ify walau tidak
sesembab pertama gadis itu datang tadi.
“lo pikir kita temenan baru kemaren sore?”
“serius, Sivia..” ujar Ify seyakin-yakin nya untuk
meyakinkan sahabatnya itu.
“Ify.. gue tau lo nutupin sesuatu dari gue. dan dari
tadi juga lo nutupin mata bengkak lo itu”
“hhh.. kayaknya gue emang ngga bisa boong dari lo
karena sepertinya sifat setan gue udah nurun ke elo” desah Ify pasrah.
“hehe. Jadi.. ada apa?”tanya Sivia lagi.
“as usual”
jawab Ify seraya menggidikkan bahunya. Dengan jawab sesingkat itu, Ify yakin
Sivia mengerti akan maksudnya dengan ‘as
usual’ itu.
Pesanan merekapun datang. Dengan berat hati
perbincangan mereka yang-sangat-menarik-menurut-Sivia itu terpaksa terhenti
sejenak.
“kayak kemaren lagi?” tanya Sivia dengan suara pelan
seperti berbisik. Lebih tepatnya suara Sivia seperti orang yang sangat ingin
tahu sekali urusan orang lain.
“Ya..”
“masalah?”
“I don’t know.
Itu bukan urusan gue dan gue ngga pernah mau ikut campur sama sekali” jawab Ify
malas seperti tak ingin membahas masalah ini. Seperti tak bertenaga.
“lo sendiri ngapain ngajak gue kesini?” lanjut Ify
baru teringat dengan tujuan awal Sivia meengajaknya kesini. Sekalian, dia
mengalihkan topik pembicaraan.
Seketika mendengar pertanyaan Ify itu, raut wajah
Sivia berubah. Tampak lebih sedih dari Ify memarahinya tadi. Ify sudah bisa
menebak ada apa dengan sahabatnya ini. Hanya satu orang yang selalu membuat
sahabatnya itu larut dalam kesedihannya selama bertahun-tahun. Ya, hanya satu
orang.
“kenapa lagi sama pangeran kodok lo itu?” tanya Ify to the point dengan nada dinginnya
seakan sudah dapat menebak apa yang akan dibicarakan sahabatnya itu.
Sivia masih diam. Sebenarnya dia takut untuk menceritakan
tentang ini kepada Ify. Karena setiap kali Sivia menceritakan tentang ini
kepada Ify, Ify selalu marah kepadanya.
‘ngapain sih lo masih nungguin orang kayak dia? Coba
lo pikir deh, apa menurut lo sekarang dia juga lagi nungguin lo sama kayak lo
nungguin dia sampai segininya? Gue rasa ngga! Karena ngga ada orang yang setia
di dunia ini. Terlebih dengan makhluk yang berspesies cowo!’ tukas Ify menceramahi Sivia setiap kali Sivia menceritakan
tentang Pangeran masa kecilnya itu kepada Ify.
Sivia semakin tidak yakin ingin menceritakan hal ini
kembali kepada Ify ketika dia teringat dan terbayang bagaimana Ify marah
dihadapannya karena dia selalu menceritakan tentang Pangeran Kodok nya itu. Tapi
kali ini dia bingung akan curhat kepada siapa selain Ify. Dia anak tunggal,
tidak memiliki saudara. Tak ada bedanya dengan Ify. Tapi dia dengan Ify
berbeda. Ify lebih tegar dibandingkan dirinya seberat apapun masalah Ify. Kedua
orangtuanya pun sibuk bekerja. Hanya Ify yang dia punya. Dia sudah tidak
sanggup menyimpan ini sendiri.
“cerita. Kali ini gue ngga bakal marah” ujar Ify kini
dengan nada suara yang mulai melembut. Seperti mendapat pencerahan dari
perkataan Ify, Sivia langsung mendongakan kepalanya yang tadi tertunduk dan
menatap Ify dengan mata terbelalak seperti tak percaya dengan apa yang
didengarnya tadi.
“ngapain lo liatin gue kayak ngeliat hantu gitu?!”
tanya Ify garang dengan nada dinginnya kembali.
“ng.. itu..”
‘ini yang bikin gue betah disamping lo, Fy. sifat
jutek, cuek, dingin lo semuanya itu palsu. Gue tau sebenernya hati lo itu
serupa malaikat’ batin Sivia.
“itu?”
“itu… gue ngerasa dia semakin dekat sama gue, Fy”
“seberapa dekat? 1 meter? 2 meter? Atau berapa?” tanya
Ify ringan seraya menyeruput es lomen tea nya.
“Ify.. gue serius!” ucap Sivia tegas. Mendengar
keseriusan Sivia, Ify pun menghentikan aktivitas minum nya, menatap Sivia
sebentar, lalu menaruh kembali gelas minumannya ke tempat semula –meja-.
“oke oke.. so?” ucap Ify kini serius.
“udah seminggu belakangan ini gue ngerasa kalo
pangeran kodok gue itu… k..k..kak.. Gabriel…” ujar Sivia ragu pada kalimat
terakhirnya.
Belum selesai Sivia berbicara, Ify sudah menyela
perkataan Sivia “wait .. wait .. Gabriel .. Gabriel Stevent anak kelas 2 IPA 3
itu maksud lo?” entah ada angin apa, Ify seperti tertarik dengan perbincangan
Sivia kali ini.
“KAK Gabriel,
Ify .. bukan Gabriel. Dia lebih tua setahun dari kita” ralat Sivia.
“whatever..”
jawab Ify malas-malasan. Dia tidak mau memperpanjang masalah Cuma karena hal
sepele seperti ini.
Sivia menghela nafas sebentar lalu menghembuskannya
secara perlahan sebelum dia melanjutkan curhatannya tadi yang sempat terhenti.
“udah seminggu ini perhatian gue selalu tertuju sama
kak Gabriel. Gue sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba gue bisa tertarik buat
perhatiin gerak-gerik dia”
“dan setelah gue perhatiin, ternyata kebiasaan kak Gabriel
itu sama persis Fy sama pangeran kodok gue”
“trus sekarang lo mau gimana? Mau buktiin kalo kak
Gabriel itu beneran pangeran kodok lo atau bukan? Iya? Sekalian aja lo samperin
dia, trus langsung deh lo bilang ‘pangeran kodok, kamu kemana aja sih? selama
ini kamu kemana?’ gue jamin dan gue pastiin dia nganggap lo cewe freak!” sindir Ify dengan gaya persis
menirukan Sivia.
Sivia memanyunkan bibirnya. Benar juga apa kata Ify. Dia
menggeleng-gelengkan kepalanya lemah menjawab pertanyaan Ify itu yang lebih
tepatnya menyindir.
“gue ngga tau”
“Ck.. manja. Lo kesini tadi sama siapa?”
“kenapa?”
“Ngga ada cerita nanya balik! Jawab pertanyaan gue!”
“hhh… bego lo Vi! Lo lupa apa sekarang lo lagi ngomong
sama siapa? Sama anak setan, Vi! Malaikatnya bentaran doang” omel Sivia pelan
kepada dirinya sendiri.
“heh! Ngomong apa lo barusan? siapa yang lo bilang
anak setan hah?!”
“ngga ada”
‘nyesel gue bilang hati lo kayak malaikat. Setan tetep
aja setan. Ngga ada malaikat malaikatnya nih anak. Gue cabut kata-kata gue’
batin Sivia.
“lo tadi kesini sama siapa?” tanya Ify lagi.
“dianterin supirlah” jawab Sivia masih kesal.
“bagus. Sekarang ikut gue” Ify langsung berdiri dari
duduknya dan langsung meninggalkan Sivia duluan keluar café.
“eh Fy, Fy! ini yang bayarin siapa? Hey!” tanya Sivia
berteriak kepada Ify yang sudah sampai diambang pintu masuk café ini.
“bayarin!” Teriak Ify tak kalah kerasnya kepada Sivia
tanpa membalikkan badan dan berhenti
berjalan sedikitpun. Dia tetap berjalan santai kearah mobilnya. Tidak peduli
dengan tatapan pengunjung café kepadanya ‘sebodolah. Besok-besok ngga bakalan
ketemu juga’ pikirnya enteng.
*
Sampailah kedua gadis cantik ini di sebuah pusat
perbelanjaan. Ternyata Ify membawa Sivia berbelanja di Mall untuk menghibur Sivia agar tidak
bersedih dan terpuruk lebih dalam lagi dengan masa lalunya.
“lo mau kemana?” tanya Ify kepada Sivia ketika baru
menginjakan kaki pada pintu masuk Mall ini.
“hmm.. lo sendiri mau kemana?” tanya Sivia bingung.
Dia bingung ingin kemana karena baru saja kemarin dia mengunjungi Mall ini dan
berbelanja sepuasnya. Sudah semua tempat di Mall ini dikunjungi Sivia.
“jangan tanya balik!”
“iya iya! Kesana aja! Gue mau bikin lo biar jadi lebih
cewe lagi” Sivia langsung berjalan cepat duluan kearah dimana terdapat sebuah
Boutique khusus menjual baju-baju remaja.
Sivia merasa sedari tadi dia berjalan sendirian.
Ternyata Ify tidak mengikutinya. Kembali lagi dia ketempat mereka berdiri
semula yang kini hanya Ify yang berdiri disana dengan wajah bingung nya. persis
seperti anak kecil yang sedang kebingungan.
“ngapain lo disini aja? Buruaaan ayooo!” rengek Sivia
manja menarik-narik tangan Ify. Ify masih diam ditempat dengan wajah datarnya
menatap Sivia.
“Emang selama ini gue ngga kayak cewe? Hah?!” Ify
bertanya kepada Sivia. Kini gadis itu menatap Sivia dengan tajam dan memasang devil face nya.
Sivia hanya meringis menjawab pertanyaan Ify barusan
yang terdengar seperti suara panggilan maut.
*
“nih Fy liat deh ini tuh bagus banget tau. Cocok
banget buat lo. lo mesti cobain yang ini”
“nah yang ini juga ..
bagus”
“nah ini nih warna nya soft cocok sama warna kulit lo”
“nah kalo yang ini cocok kalo buat pergi ke pantai
atau hangout gitu. Lo mesti coba ini juga”
“yang ini ..”
“trus ini .. trus ..”
Sivia sedari tadi tak ada henti-hentinya memilihkan
Ify baju yang bagus, modis, feminim
dan lain sebagainya. Sepertinya Ify sudah salah jalan mengajak Sivia untuk
kesini. Dia lupa bahwa sahabatnya yang satu ini demam fashion sekali.
“SIVIAAAAA” geramnya.
“eh iya apa?” jawab Sivia cepat dan langung
menghentikan aktifitasnya.
“gue tuh kesini buat ngehibur lo bukan buat nyuruh elo
beliin gue baju-baju norak kayak gini!”
“loh kok norak sih? ini tuh bagus tau Fy. ini tuh lagi
ngehits banget. Ini tuh fashion 2013
sama 2014 terbaru looh. Fashion blogger aja
pake ginian”
“itu mereka bukan gue!”
“ayolaaah Fy. kapan lagi lo berpenampilan baik
layaknya seorang wanita?”
Ify menatap manic mata Sivia dengan tatapan menghujam
yang langsung membuat Sivia ketakutan dan memilih mengalah saja.
“oke oke gue ngga bakal maksa. Tapi please izinin gue
buat pilihan lo satu gaun pesta”
“buat apa lagi?”
“lo lupa minggu depan hari apa?”
“hari .. Sabtu?”
“errr .. Ify .. minggu depan tuh ulang tahun gue dan
gue mau lo dateng ke birthday party
gue pake gaun pilihan gue. Oke?! Ngga pake nolak!”
“ya ya whatever”
Sivia langsung berlari kesana-kemari mencari gaun
pesta yang cocok untuk Ify.
“kok jadi galakan dia sih sekarang daripada gue? ck..”
Ify melihat Sivia yang sangat bersemangat itu dari kejauhan. Ify tidak berminat
untuk mengikuti kemana Sivia pergi karena itu pasti akan sangat membosankan.
Ify memilih berdiri di depan saja sambil mendengar
musik dari iPod nya.
Ketika sedang asik dengan iPod-nya, Ify merasa ada
sesuatu yang baru saja tertumpah dibajunya dan itu panas. Ify menoleh dan
didapatinya seorang cowo berperawakan tinggi tengah berdiri dihadapannya dengan
wajah cemas dan ditangan kanannya memegang segelas minuman.
“sorry .. sorry. Ngga sengaja” ucap cowo itu.
“sorry .. sorry.. lo pikir dengan sorry lo itu baju
gue bakal bersih lagi apa?” kesal Ify.
“kan saya udah minta maaf mbak”
“maaf aja ngga cukup! Dan juga gue bukan mbak lo”
Sepertinya cowo itu sudah tidak bisa meredam emosinya
lagi.
“heh kalo orang minta maaf tuh ya dimaafin! Bukan
malah nyolot”
“lah kok lo balik nyolot sih?!”
“lo duluan kan tadi yang nyolot?”
“pokoknya gue ngga mau tau lo harus gantiin baju gue!”
Baru cowo itu akan membuka suara untuk menjawab
perkataan Ify, sebuah suara terdengar memanggil nama Ify dan sebuah suara lagi
sepertinya memanggil nama cowo itu.
“Ify”
“Rio”
Ify dan cowo itu menoleh kearah sumber suara. Ify
mendapati Sivia berjalan kearahnya dengan tangan menenteng sebuah gaun cantik
berwarna putih. Oke.. Ify kini tidak memperdulikan seberapa bagusnya gaun itu.
Dari arah lain, ada seorang cowo lagi yang datang
menghampiri kearah Ify dan cowo tadi.
“ini ada apa Yo?” tanya cowo yang menyerukan nama Rio
tadi.
“ini mas ada masalah dikit” jawab cowo yang bernama
Rio itu.
Cowo yang dipanggil mas oleh Rio itu menoleh kearah
Ify dan dia langsung mendapati baju Ify yang kotor terkena tumpahan kopi.
Cowo itu mengerti apa yang baru saja terjadi.
“maaf ya mbak atas kesalahan Rio tadi. Sebagai
gantinya, saya yang akan menggantikan baju mbak. Mbak pilih saja dulu nanti
biar saya yang bayar. Saya harus bicara sebentar dengan Rio. permisi”
Cowo yang dipanggil mas oleh Rio itu langsung menarik
Rio untuk menjauh dari Ify dan Sivia.
Ah.. Sivia! Kemana anak itu? pikir Ify. dia menoleh
kekanan nya dan mendapati Sivia yang mematung menatap kepergian dua cowo tadi.
Ify heran.
“Vi .. lo kenapa?” tanyanya.
“Fy.. cubit gue. buktiin kalo ini ngga mimpi” ucap
Sivia yang masih berdiri mematung disamping Ify.
“AWW!” Sivia meringis kesakitan akibat cubitan dari
Ify.
“lo kenapa sih?” tanya Ify lagi.
“gue .. beneran .. ngga .. mimpi ..”
“Ifyyyy… lo tau? Yang ribut sama lo tadi itu artis
terkenal Fy, artis terkenal! Itu idola gue! lo tau kan Fy sama Mario Haling
itu? lo tau kan Fy kalo gue ngefans banget sama dia? dia penyanyi terkenal dan
juga pemain film. Yaampun gue ngga nyangka bakal ketemu sedeket ini sama dia.
Omg omg omg!” Sivia berteriak histeris.
“gue tau” respon Ify singkat.
“trus kenapa lo malah ribut sama dia? Kenapa lo ngga
minta tanda tangan atau foto ngga fotonya aja?”
“ngga penting juga”
“bagi lo ngga penting. Tapi bagi gue penting banget!”
“whatever ..
gue mau pulang. Lo mau pulang atau engga itu bukan urusan gue” Ify langsung
melangkah pergi. Dia memilih untuk tidak menerima ganti rugi dari dua cowo itu.
“Ify.. tungguin gue” teriak Sivia dan berlari menyusul
langkah Ify.
Di sisi lain, kedua cowo tadi sibuk berbicara sampai-sampai
lupa akan keberadaan Ify.
“seharusnya tadi itu kamu ngga ribut kayak tadi, Yo.
Kamu tau sendirikan dimana-mana banyak wartawan? Kalo sampe tadi ada wartawan
trus ngeliat kamu ribut sama cewe, bisa-bisa semuanya jadi besar”
“tapi tadi dia itu nyolot banget mas” balas Rio tak
mau disalahkan seperti itu.
“saya tau. Sudahlah lupakan saja masalah ini. habis
ini kamu harus pergi latihan untuk acara sabtu depan”
“acara apa?”
“acara…”
“Ify.. tungguin
gue” mendengar teriakan Sivia, Rio dan cowo satunya lagi menoleh dan mereka
baru ingat bahwa harus mengganti baju Ify yang basah tadi. Melihat Ify yang
sudah melangkah keluar, kedua cowo itu membiarkan saja. Toh, hanya sebuah baju.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar