Minggu, 20 April 2014

(New Cerbung) Devil Girl Falling In Love



Ify. Alyssa Saufika Umari. Gadis cantik namun pendiam. Bukan pendiam dalam artian ‘gadis pemalu’. Gadis ini menjadi seorang gadis pendiam karena suatu hal yang membuatnya menjadi seperti ini. Bahkan tak jarang banyak teman-teman sekolahnya yang takut jika sudah melihat dirinya muncul di sekolah.
Selama SMP bahkan hingga sekarang kelas 1 SMA, dia hanya memiliki 1 sahabat. Mengapa? Karena dia menganggap semua orang dimuka bumi ini tidak bisa dipercaya. Semuanya sama dimata dia. Hanya memberi janji manis yang tidak pernah ada bukti.
Menurutnya, semua yang terjadi di dunia ini hanya semu belaka. Tidak utuh selamanya kita miliki. Semua bisa berubah kapan saja tanpa kita rencanakan atau kita ketahui.
Sahabat. Tempat dia berbagi cerita kelamnya. Tempat dia melihatkan seberapa besar dan beratnya masalah yang ditanggungnya sendiri. Tempat dimana satu-satunya tempat dia bisa memperlihatkan kelemahan pada dirinya yang tidak pernah dia perlihatkan kepada siapapun. Keluarga nya sekalipun. Sahabat yang sekaligus menempati tempat sebagai saudaranya. Dia sudah menganggap sahabatnya itu sebagai saudara nya sendiri. Walau seperti itu, dia tetap bersikap dingin kepada sahabatnya tersebut. Bagi sahabatnya itupun tidak masalah karena dia paham akan keadaan gadis ini. terlihat tegar namun rapuh bahkan sangat rapuh serapuh batu karang yang diterjang ombak.
‘Sahabat tempat dia berbagi cerita kelam’. Cerita kelam? Hmm… lalu bagaimana dengan cerita indah atau bahagianya? Entahlah. Jangan ditanya. Mungkin dia sendiri sudah tidak mengingat atau memang sengaja melupakan karena dalam hidupnya selama 15 tahun ini, dia hanya bisa merasakan suatu kebahagiaan yang menyisakan cerita indah selama kurang lebih 6 bulan. Setelahnya, lembaran cerita kelam kembali tercatat. Singkat? Ya, memang.
Langit gelap kini tengah meneteskan air matanya ke permukaan bumi. Langit menangis. Sama hal nya dengan gadis ini. namun gadis ini menangis dalam diam dengan mata memandang jauh ke depan. Kini dia sedang menangis disamping tempat tidurnya menghadap kearah jendela. Melihat satu per satu tetesan air mata langit yang turun dan menghitung berapa bulir air mata yang diturunkan oleh mata langit itu. Banyak sekali. Jika dihitung, mungkin jumlahnya lebih dari beratus, beribu, berjuta bahkan bermilyaran tetes. Begitu juga dengan air mata gadis ini. Banyak. Matanya pun sudah sembab. Kira-kira sudah hampir 1 jam dia menangis, menyendiri di kamarnya ini. Hanya disinilah dia merasa hidupnya tentram dan nyaman tanpa gangguan. dia tidak pernah memperlihatkan air mata nya kepada orang lain terkecuali satu orang. SAHABATNYA.
            Wake you up in the middle of the night to say
            I will never walk away again
            I never gonna leave this bed
Lantunan lagu dari Maroon5-Never Gonna Leave This Bed berdering dari ponsel yang tergeletak disebelahnya. Segera diraihnya ponsel itu dan melihat siapa yang menelfon. Tertera jelas nama sahabatnya pada layar ponselnya itu.
KLIK
“hallo .. ngapain? .. dimana? .. oke. 10 menit lagi”
CKLEK
Sambungan telfon sudah terputus. Cukup dengan kata-kata singkat seperti itu, sahabatnya pun pasti sudah mengerti dengan maksud gadis ini. Sepertinya mereka ada janji untuk bertemu di suatu tempat dan 10 menit lagi gadis ini akan sampai disana. Seperti itulah kira-kira.
Setelah memutus sambungan telfonnya, segera Ify menghapus sisa-sisa air mata yang sudah mulai mengering dikedua pelupuk mata dan pipi nya. Lalu meraih kunci mobil dan jaketnya karena cuaca diluar masih dingin berhubung baru saja selesai hujan begitu air mata Ify juga berhenti tadi.
Melihat dirinya dikaca sebentar. Hmm… ck sembab, pikirnya. Ya, matanya sembab akibat menangis terlalu lama. Biar sajalah, pikirnya lagi. Langsung dia meninggalkan kamarnya dan pergi melewati pintu belakang. Pintu belakang? Mengapa? Dia tidak ingin melihat kejadian yang sangat memuakan baginya itu jika dia melewati pintu depan.
“dua anjing itu pasti lagi ada disini dan nge-gong-gong ngga jelas. Mending gue lewat pintu belakang aja”
*
Mobil jazz putih milik Ify sudah berhenti tepat di depan sebuah café. Dia turun mamasuki café tersebut dengan santainya untuk menemui seseorang yang menelfonnya tadi dan memintanya untuk bertemu sekarang juga.
Sesuai janji, 10 menit tepat Ify sudah sampai disini. Sebenarnya dia malas untuk keluar rumah saat ini, tapi karena orang yang menelfonnya tadi berkata bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakannya, jadilah Ify mau menemui orang itu. Terlebih orang itu tak lain adalah sahabatnya sendiri yang suda dianggapnya seperti saudara.
“IFYYY” teriak sebuah suara yang sudah tak asing lagi bagi Ify, sontak Ify langsung menoleh kearah sumber suara.
Ah.. itu dia! Gadis cantik berkulit putih, bermata sipit sudah duduk manis disalah satu meja café dan tengah mengangkat tangan kanan nya memberi tanda kepada Ify agar menyusulnya kesana. Tak lupa senyum manis juga terlihat. Ify mengangguk meng’iya’kan dan segera berjalan kearah meja sahabatnya itu dengan wajah dinginnya.
“ada apa?” tanya Ify to the point dengan nada dinginnya kepada gadis yang kini tengah duduk dihadapannya itu.
“lo baru aja duduk, Ify .. pesan makanan dulu kek” ujar sahabatnya itu.
“ngga laper” ujar Ify dingin seraya memainkan handphone nya dengan cuek.
“minum aja deh” bujuk gadis itu lagi.
“Via…” geram Ify kepada Sivia –sahabatnya- yang lebih akrab disapa Via itu dengan tatapan dinginnya. Seakan mengerti dengan tatapan Ify, Sivia jadi bungkam dan menunduk. Takut Ify marah kepadanya. Sivia memang anak yang manja dan paling tidak bisa dimarahi.
Merasa tak tega juga dengan sahabatnya itu, akhirnya Ify pun pasrah “ya udah” Ify meletakkan ponselnya diatas meja. Sivia mendongakan kepalanya memberanikan diri menatap Ify dengan kening mengernyit.
“ya udah apa?” tanya Sivia dengan wajah polos nya.
“ya ..  ya udah. Lo tadi mau gue apa? pesan makanan dulu kan? Ya udah gue turutin” ucap Ify mulai melembut untuk menghibur Sivia. Dari hati yang paling dalam pun Ify sebenarnya tidak tega jika harus melihat Sivia bersedih atau menangis. Dia hanya ingin melihat sifat manja gadis itu dan tawa riang gadis itu. Ify pun tidak merasa terbebani oleh semua sikap manja Sivia kepadanya.
Mendengar bujukan Ify, Sivia langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum sumringah menatap Ify seakan bertanya ‘serius?’ yang hanya dibalas Ify dengan anggukan malasnya. Setelah lega melihat senyuman Sivia kembali lagi, Ify pun kembali menyibukan diri dengan ponselnya. Sepertinya sangat menarik. SEPERTINYA.
Dengan semangat, Sivia memanggil pelayan Café dan memesan makanan untuk dirinya dan Ify.tadi dia baru memesan minuman saja.
“mbak, Spaghetti cheese bolognise nya satu, orang juice satu, sama…” Sivia menatap Ify seakan bertanya Ify ingin memesan apa.
“samain aja” jawab Ify seakan tau dengan maksud Sivia menggantungkan kalimatnya tadi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar ponselnya itu.
Sivia mengangguk “jadi.. spaghetti cheese bolognise nya dua sama orang juice nya juga dua ya mbak”
“terimakasih mbak, silahkan menunggu sebentar”
Setelah selesai memesan, keheningan terjadi. Seperti tidak ada yang akan mereka bicarakan. Mereka sibuk masing-masing. Sivia sibuk dengan pemikirannya sendiri, sedangkan Ify sibuk menutupi wajahnya dengan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi untuk menutupi mata sembab nya dari Sivia. Dia tidak ingin Sivia melihat mata sembab nya itu, bisa-bisa dia di introgasi oleh Sivia.
“jadi.. apa masalah pentingnya?” tanya Ify memulai membuka topik pembicaraan dengan ponsel masih menutupi wajahnya. Tak enak juga suasana diam seperti ini.
“kayaknya.. masalah gue ngga sebegitu pentingnya deh dibanding sama masalah lo sekarang. Jadi.. ada apa sama mata bengkak lo?” selidik Sivia yang sedari tadi memperhatikan wajah Ify. Lebih tepatnya ke mata Ify yang terlihat bengkak dari awal dia datang tadi.
Ify merutuki sahabatnya itu di dalam hati. Dia lupa bahwa semanja-manja nya sahabat nya ini, Dia juga memiliki sifat sedikit setan seperti dirinya. Sepertinya sahabat tersayangnya itu sudah mulai terbawa sifat setan Ify.
“ngga ada”
“boong!” kekeuh Sivia.
“serius!” jawab Ify tak kalah kekeuh nya. Dia menurunkan ponselnya dari wajahnya dan kini menatap Sivia dengan tatapan tak bisa diartikan. Sivia semakin jelas melihat mata sembab Ify walau tidak sesembab pertama gadis itu datang tadi.
“lo pikir kita temenan baru kemaren sore?”
“serius, Sivia..” ujar Ify seyakin-yakin nya untuk meyakinkan sahabatnya itu.
“Ify.. gue tau lo nutupin sesuatu dari gue. dan dari tadi juga lo nutupin mata bengkak lo itu”
“hhh.. kayaknya gue emang ngga bisa boong dari lo karena sepertinya sifat setan gue udah nurun ke elo” desah Ify pasrah.
“hehe. Jadi.. ada apa?”tanya Sivia lagi.
as usual” jawab Ify seraya menggidikkan bahunya. Dengan jawab sesingkat itu, Ify yakin Sivia mengerti akan maksudnya dengan ‘as usual’ itu.
Pesanan merekapun datang. Dengan berat hati perbincangan mereka yang-sangat-menarik-menurut-Sivia itu terpaksa terhenti sejenak.
“kayak kemaren lagi?” tanya Sivia dengan suara pelan seperti berbisik. Lebih tepatnya suara Sivia seperti orang yang sangat ingin tahu sekali urusan orang lain.
“Ya..”
“masalah?”
I don’t know. Itu bukan urusan gue dan gue ngga pernah mau ikut campur sama sekali” jawab Ify malas seperti tak ingin membahas masalah ini. Seperti tak bertenaga.
“lo sendiri ngapain ngajak gue kesini?” lanjut Ify baru teringat dengan tujuan awal Sivia meengajaknya kesini. Sekalian, dia mengalihkan topik pembicaraan.
Seketika mendengar pertanyaan Ify itu, raut wajah Sivia berubah. Tampak lebih sedih dari Ify memarahinya tadi. Ify sudah bisa menebak ada apa dengan sahabatnya ini. Hanya satu orang yang selalu membuat sahabatnya itu larut dalam kesedihannya selama bertahun-tahun. Ya, hanya satu orang.
“kenapa lagi sama pangeran kodok lo itu?” tanya Ify to the point dengan nada dinginnya seakan sudah dapat menebak apa yang akan dibicarakan sahabatnya itu.
Sivia masih diam. Sebenarnya dia takut untuk menceritakan tentang ini kepada Ify. Karena setiap kali Sivia menceritakan tentang ini kepada Ify, Ify selalu marah kepadanya.
‘ngapain sih lo masih nungguin orang kayak dia? Coba lo pikir deh, apa menurut lo sekarang dia juga lagi nungguin lo sama kayak lo nungguin dia sampai segininya? Gue rasa ngga! Karena ngga ada orang yang setia di dunia ini. Terlebih dengan makhluk yang berspesies cowo!’ tukas Ify menceramahi Sivia setiap kali Sivia menceritakan tentang Pangeran masa kecilnya itu kepada Ify.
Sivia semakin tidak yakin ingin menceritakan hal ini kembali kepada Ify ketika dia teringat dan terbayang bagaimana Ify marah dihadapannya karena dia selalu menceritakan tentang Pangeran Kodok nya itu. Tapi kali ini dia bingung akan curhat kepada siapa selain Ify. Dia anak tunggal, tidak memiliki saudara. Tak ada bedanya dengan Ify. Tapi dia dengan Ify berbeda. Ify lebih tegar dibandingkan dirinya seberat apapun masalah Ify. Kedua orangtuanya pun sibuk bekerja. Hanya Ify yang dia punya. Dia sudah tidak sanggup menyimpan ini sendiri.
“cerita. Kali ini gue ngga bakal marah” ujar Ify kini dengan nada suara yang mulai melembut. Seperti mendapat pencerahan dari perkataan Ify, Sivia langsung mendongakan kepalanya yang tadi tertunduk dan menatap Ify dengan mata terbelalak seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
“ngapain lo liatin gue kayak ngeliat hantu gitu?!” tanya Ify garang dengan nada dinginnya kembali.
“ng.. itu..”
‘ini yang bikin gue betah disamping lo, Fy. sifat jutek, cuek, dingin lo semuanya itu palsu. Gue tau sebenernya hati lo itu serupa malaikat’ batin Sivia.
“itu?”
“itu… gue ngerasa dia semakin dekat sama gue, Fy”
“seberapa dekat? 1 meter? 2 meter? Atau berapa?” tanya Ify ringan seraya menyeruput es lomen tea nya.
“Ify.. gue serius!” ucap Sivia tegas. Mendengar keseriusan Sivia, Ify pun menghentikan aktivitas minum nya, menatap Sivia sebentar, lalu menaruh kembali gelas minumannya ke tempat semula –meja-.
“oke oke.. so?” ucap Ify kini serius.
“udah seminggu belakangan ini gue ngerasa kalo pangeran kodok gue itu… k..k..kak.. Gabriel…” ujar Sivia ragu pada kalimat terakhirnya.
Belum selesai Sivia berbicara, Ify sudah menyela perkataan Sivia “wait .. wait .. Gabriel .. Gabriel Stevent anak kelas 2 IPA 3 itu maksud lo?” entah ada angin apa, Ify seperti tertarik dengan perbincangan Sivia kali ini.
KAK Gabriel, Ify .. bukan Gabriel. Dia lebih tua setahun dari kita” ralat Sivia.
whatever..” jawab Ify malas-malasan. Dia tidak mau memperpanjang masalah Cuma karena hal sepele seperti ini.
Sivia menghela nafas sebentar lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum dia melanjutkan curhatannya tadi yang sempat terhenti.
“udah seminggu ini perhatian gue selalu tertuju sama kak Gabriel. Gue sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba gue bisa tertarik buat perhatiin gerak-gerik dia”
“dan setelah gue perhatiin, ternyata kebiasaan kak Gabriel itu sama persis Fy sama pangeran kodok gue”
“trus sekarang lo mau gimana? Mau buktiin kalo kak Gabriel itu beneran pangeran kodok lo atau bukan? Iya? Sekalian aja lo samperin dia, trus langsung deh lo bilang ‘pangeran kodok, kamu kemana aja sih? selama ini kamu kemana?’ gue jamin dan gue pastiin dia nganggap lo cewe freak!” sindir Ify dengan gaya persis menirukan Sivia.
Sivia memanyunkan bibirnya. Benar juga apa kata Ify. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lemah menjawab pertanyaan Ify itu yang lebih tepatnya menyindir.
“gue ngga tau”
“Ck.. manja. Lo kesini tadi sama siapa?”
“kenapa?”
“Ngga ada cerita nanya balik! Jawab pertanyaan gue!”
“hhh… bego lo Vi! Lo lupa apa sekarang lo lagi ngomong sama siapa? Sama anak setan, Vi! Malaikatnya bentaran doang” omel Sivia pelan kepada dirinya sendiri.
“heh! Ngomong apa lo barusan? siapa yang lo bilang anak setan hah?!”
“ngga ada”
‘nyesel gue bilang hati lo kayak malaikat. Setan tetep aja setan. Ngga ada malaikat malaikatnya nih anak. Gue cabut kata-kata gue’ batin Sivia.
“lo tadi kesini sama siapa?” tanya Ify lagi.
“dianterin supirlah” jawab Sivia masih kesal.
“bagus. Sekarang ikut gue” Ify langsung berdiri dari duduknya dan langsung meninggalkan Sivia duluan keluar café.
“eh Fy, Fy! ini yang bayarin siapa? Hey!” tanya Sivia berteriak kepada Ify yang sudah sampai diambang pintu masuk café ini.
“bayarin!” Teriak Ify tak kalah kerasnya kepada Sivia tanpa membalikkan  badan dan berhenti berjalan sedikitpun. Dia tetap berjalan santai kearah mobilnya. Tidak peduli dengan tatapan pengunjung café kepadanya ‘sebodolah. Besok-besok ngga bakalan ketemu juga’ pikirnya enteng.
*
Sampailah kedua gadis cantik ini di sebuah pusat perbelanjaan. Ternyata Ify membawa Sivia berbelanja  di Mall untuk menghibur Sivia agar tidak bersedih dan terpuruk lebih dalam lagi dengan masa lalunya.
“lo mau kemana?” tanya Ify kepada Sivia ketika baru menginjakan kaki pada pintu masuk Mall ini.
“hmm.. lo sendiri mau kemana?” tanya Sivia bingung. Dia bingung ingin kemana karena baru saja kemarin dia mengunjungi Mall ini dan berbelanja sepuasnya. Sudah semua tempat di Mall ini dikunjungi Sivia.
“jangan tanya balik!”
“iya iya! Kesana aja! Gue mau bikin lo biar jadi lebih cewe lagi” Sivia langsung berjalan cepat duluan kearah dimana terdapat sebuah Boutique khusus menjual baju-baju remaja.
Sivia merasa sedari tadi dia berjalan sendirian. Ternyata Ify tidak mengikutinya. Kembali lagi dia ketempat mereka berdiri semula yang kini hanya Ify yang berdiri disana dengan wajah bingung nya. persis seperti anak kecil yang sedang kebingungan.
“ngapain lo disini aja? Buruaaan ayooo!” rengek Sivia manja menarik-narik tangan Ify. Ify masih diam ditempat dengan wajah datarnya menatap Sivia.
“Emang selama ini gue ngga kayak cewe? Hah?!” Ify bertanya kepada Sivia. Kini gadis itu menatap Sivia dengan tajam dan memasang devil face nya.
Sivia hanya meringis menjawab pertanyaan Ify barusan yang terdengar seperti suara panggilan maut.
*
“nih Fy liat deh ini tuh bagus banget tau. Cocok banget buat lo. lo mesti cobain yang ini”
“nah yang ini juga ..  bagus”
“nah ini nih warna nya soft cocok sama warna kulit lo”
“nah kalo yang ini cocok kalo buat pergi ke pantai atau hangout gitu. Lo mesti coba ini juga”
“yang ini ..”
“trus ini .. trus ..”
Sivia sedari tadi tak ada henti-hentinya memilihkan Ify baju yang bagus, modis, feminim dan lain sebagainya. Sepertinya Ify sudah salah jalan mengajak Sivia untuk kesini. Dia lupa bahwa sahabatnya yang satu ini demam fashion sekali.
“SIVIAAAAA” geramnya.
“eh iya apa?” jawab Sivia cepat dan langung menghentikan aktifitasnya.
“gue tuh kesini buat ngehibur lo bukan buat nyuruh elo beliin gue baju-baju norak kayak gini!”
“loh kok norak sih? ini tuh bagus tau Fy. ini tuh lagi ngehits banget. Ini tuh fashion 2013 sama 2014 terbaru looh. Fashion blogger aja pake ginian”
“itu mereka bukan gue!”
“ayolaaah Fy. kapan lagi lo berpenampilan baik layaknya seorang wanita?”
Ify menatap manic mata Sivia dengan tatapan menghujam yang langsung membuat Sivia ketakutan dan memilih mengalah saja.
“oke oke gue ngga bakal maksa. Tapi please izinin gue buat pilihan lo satu gaun pesta”
“buat apa lagi?”
“lo lupa minggu depan hari apa?”
“hari .. Sabtu?”
“errr .. Ify .. minggu depan tuh ulang tahun gue dan gue mau lo dateng ke birthday party gue pake gaun pilihan gue. Oke?! Ngga pake nolak!”
“ya ya whatever
Sivia langsung berlari kesana-kemari mencari gaun pesta yang cocok untuk Ify.
“kok jadi galakan dia sih sekarang daripada gue? ck..” Ify melihat Sivia yang sangat bersemangat itu dari kejauhan. Ify tidak berminat untuk mengikuti kemana Sivia pergi karena itu pasti akan sangat membosankan.
Ify memilih berdiri di depan saja sambil mendengar musik dari iPod nya.
Ketika sedang asik dengan iPod-nya, Ify merasa ada sesuatu yang baru saja tertumpah dibajunya dan itu panas. Ify menoleh dan didapatinya seorang cowo berperawakan tinggi tengah berdiri dihadapannya dengan wajah cemas dan ditangan kanannya memegang segelas minuman.
“sorry .. sorry. Ngga sengaja” ucap cowo itu.
“sorry .. sorry.. lo pikir dengan sorry lo itu baju gue bakal bersih lagi apa?” kesal Ify.
“kan saya udah minta maaf mbak”
“maaf aja ngga cukup! Dan juga gue bukan mbak lo”
Sepertinya cowo itu sudah tidak bisa meredam emosinya lagi.
“heh kalo orang minta maaf tuh ya dimaafin! Bukan malah nyolot”
“lah kok lo balik nyolot sih?!”
“lo duluan kan tadi yang nyolot?”
“pokoknya gue ngga mau tau lo harus gantiin baju gue!”
Baru cowo itu akan membuka suara untuk menjawab perkataan Ify, sebuah suara terdengar memanggil nama Ify dan sebuah suara lagi sepertinya memanggil nama cowo itu.
“Ify”
“Rio”
Ify dan cowo itu menoleh kearah sumber suara. Ify mendapati Sivia berjalan kearahnya dengan tangan menenteng sebuah gaun cantik berwarna putih. Oke.. Ify kini tidak memperdulikan seberapa bagusnya gaun itu.
Dari arah lain, ada seorang cowo lagi yang datang menghampiri kearah Ify dan cowo tadi.
“ini ada apa Yo?” tanya cowo yang menyerukan nama Rio tadi.
“ini mas ada masalah dikit” jawab cowo yang bernama Rio itu.
Cowo yang dipanggil mas oleh Rio itu menoleh kearah Ify dan dia langsung mendapati baju Ify yang kotor terkena tumpahan kopi.
Cowo itu mengerti apa yang baru saja terjadi.
“maaf ya mbak atas kesalahan Rio tadi. Sebagai gantinya, saya yang akan menggantikan baju mbak. Mbak pilih saja dulu nanti biar saya yang bayar. Saya harus bicara sebentar dengan Rio. permisi”
Cowo yang dipanggil mas oleh Rio itu langsung menarik Rio untuk menjauh dari Ify dan Sivia.
Ah.. Sivia! Kemana anak itu? pikir Ify. dia menoleh kekanan nya dan mendapati Sivia yang mematung menatap kepergian dua cowo tadi. Ify heran.
“Vi .. lo kenapa?” tanyanya.
“Fy.. cubit gue. buktiin kalo ini ngga mimpi” ucap Sivia yang masih berdiri mematung disamping Ify.
“AWW!” Sivia meringis kesakitan akibat cubitan dari Ify.
“lo kenapa sih?” tanya Ify lagi.
“gue .. beneran .. ngga .. mimpi ..”
“Ifyyyy… lo tau? Yang ribut sama lo tadi itu artis terkenal Fy, artis terkenal! Itu idola gue! lo tau kan Fy sama Mario Haling itu? lo tau kan Fy kalo gue ngefans banget sama dia? dia penyanyi terkenal dan juga pemain film. Yaampun gue ngga nyangka bakal ketemu sedeket ini sama dia. Omg omg omg!” Sivia berteriak histeris.
“gue tau” respon Ify singkat.
“trus kenapa lo malah ribut sama dia? Kenapa lo ngga minta tanda tangan atau foto ngga fotonya aja?”
“ngga penting juga”
“bagi lo ngga penting. Tapi bagi gue penting banget!”
whatever .. gue mau pulang. Lo mau pulang atau engga itu bukan urusan gue” Ify langsung melangkah pergi. Dia memilih untuk tidak menerima ganti rugi dari dua cowo itu.
“Ify.. tungguin gue” teriak Sivia dan berlari menyusul langkah Ify.
Di sisi lain, kedua cowo tadi sibuk berbicara sampai-sampai lupa akan keberadaan Ify.
“seharusnya tadi itu kamu ngga ribut kayak tadi, Yo. Kamu tau sendirikan dimana-mana banyak wartawan? Kalo sampe tadi ada wartawan trus ngeliat kamu ribut sama cewe, bisa-bisa semuanya jadi besar”
“tapi tadi dia itu nyolot banget mas” balas Rio tak mau disalahkan seperti itu.
“saya tau. Sudahlah lupakan saja masalah ini. habis ini kamu harus pergi latihan untuk acara sabtu depan”
“acara apa?”
“acara…”
Ify.. tungguin gue” mendengar teriakan Sivia, Rio dan cowo satunya lagi menoleh dan mereka baru ingat bahwa harus mengganti baju Ify yang basah tadi. Melihat Ify yang sudah melangkah keluar, kedua cowo itu membiarkan saja. Toh, hanya sebuah baju.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar