Sabtu, 31 Agustus 2013

First Love Until The Die *28









Gadis cantik berambut sebahu ini sedari tadi sibuk mematut dirinya di depan cermin. Seulas senyum bahagia tak lepas dari bibir manisnya. Dia sibuk memutar tubuh nya ke kiri dan ke kanan memastikan apakah ada yang cacat dari penampilannya hari ini?

“Shillaaaa, Cakka udah dateng tuh” teriak mama Shilla dari bawah tangga.

“iya ma..” jawab Shilla juga setengah berteriak. Namun bisa dipastikan mama nya cukup bisa mendengar teriakan kecil Shilla.

Kembali dia memastikan penampilannya. Setelah puas dengan penampilannya, Shilla berlalu meninggalkan kamar nya dan menghampiri Cakka ke bawah.

*

Fy besok ada acara ga?
                Enggak. Kenapa Yo?
Jalan yuk? bosen nih L
                Boleh. Kemana?
Terserah lo deh. Ntar gue yang traktir pas makan. Gimana?
                Mauuuu!!!! After school langsung kita cusss!
Siaapp! Dasar cewek, denger ditraktir aja langsung semangat lo :p
                Biarin wleekk :p
D
R

Begitulah isi bbm singkat Rio dan Ify yang hanya di read oleh Rio balasan terakhir dari Ify karena bingung mau membalas apa. bisa dipastikan sekarang Rio sedang apa? Rio sedang loncat-loncat di atas kasur ga jelas sambil genggam bb nya erat-erat seakan bb itu adalah Ify yang tidak ingin dilepaskannya begitu saja. Sesekali dia mencium-cium bb nya membayangkan itu juga Ify.

*

Cakka termenung melihat gadis cantik dihadapannya kini. gadis ini terlihat lebih cantik dari biasanya. Namun tetap, Cakka lebih suka melihat gadis ini yang natural seperti biasanya dibandingkan sekarang yang berpoles dengan beberapa make-up yang…. Entahlah Cakka sendiri tidak tahu apa itu nama-nama make-up nya yang berhasil merubah sedikit bentuk wajah gadis ini.

Cakka memang sudah janjian dengan Shilla untuk jalan malam ini sebagai ganti minggu kemarin yang batal karena katanya Shilla masih di Bandung . KATANYA. Cakka juga sudah meminta izin kepada Papa dan Mama Shilla. Walaupun Papa dan Mama Shilla sudah sangat mempercayai Shilla kepada nya, namun Cakka tetap memiliki sopan santun dan tata krama.

Dan ini juga sebagai langkah awal bagi Cakka untuk menepati janji nya kepada Shilla di masa lampau. Dia tidak ingin di cap sebagai laki-laki yang tidak menepati janji nya. jika satu janji sudah terlontarkan dari mulut nya, pantang bagi Cakka untuk mengingkari janji itu.

Shilla yang sadar ditatap lain oleh Cakka begitu pun merasa risih “udah melotot nya? gue ga bakalan kabur kok” goda Shilla. Seketika Cakka tersadar dari lamunannya dan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal merasa grogi.

“perfect. Lo cantik banget malem ini, Shil” puji Cakka tulus.

Shilla tersipu malu dan ada sedikit rona merah di kedua pipi chubby nya “lo juga” jawab Shilla sambil menundukan kepala nya.

Cakka mengernyitkan dahi nya “makasih.. walaupun gue yakin gue ga secantik yang lo maksud” balas Cakka yang berhasil membuat Shilla tertawa dan salah tingkah. Bego! rutuk Shilla di dalam hati.

“Nyokap lo mana?” tanya Cakka seraya celingak-celingukan ke dalam rumah Shilla.

“ada di dalem. Mau gue panggilin?” Cakka mengangguk lalu Shilla masuk kembali ke dalam memanggil mama nya. tak lama, muncul-lah Shilla yang diikuti mama nya.

“tante, Cakka ajak Shilla keluar bentar ya” izin Cakka lagi.

“ya udah, jangan sampe larut malam ya Cakka. kan kalian besok harus sekolah” ingat mama Shilla. Cakka mengangguk. Cakka dan Shilla lalu berpamitan dengan mama Shilla. Tanpa sadar, Cakka menggenggam erat tangan Shilla menuju mobil nya seakan takut kehilangan Shilla. Seketika itu juga jantung Shilla berdetak tak karuan.

*

Nuansa romantis sangat terasa di ruangan ini. dinding yang berwarna putih yang dibeberapa sisi nya dilapisi wallpaper semakin memperindah ruangan ini. lampu remang-remang yang hanya diterangi oleh penerangan lilin diatas meja semakin membuat suasana diruangan ini semakin romantis. Ruangan ini pun sepi. Hanya ada mereka sepasang muda-mudi yang tengah duduk di salah satu meja dan beberapa pelayan disini.

Cakka sengaja menyewa restoran mahal ini khusus untuk gadis cantik yang kini duduk dihadapannya. Sedari tadi gadis itu tak henti-henti nya berdecak kagum melihat semua ini. Cakka hanya memberikan senyuman hangat nya ketika gadis ini tak henti-henti nya berdecak kagum. Cakka senang melihat senyum bahagia Shilla lagi seperti mereka waktu kecil. Senyum riang Shilla kini terpancar kembali.

“Cak… ini… ini.. sumpah ini keren bangeettt” pekik Shilla.

“lo suka?” tanya Cakka dengan senyum bahagia nya. Shilla mengangguk cepat seperti anak kecil yang baru mendapat mainan nya.

“tumben banget lo nyiapain ini semua. Ada apa?” tanya Shilla yang juga merasa heran. Karena tak biasanya Cakka menyediakan hal romantis seperti ini untuknya.

“gue Cuma pengen jadi kaki tangan cowok masa kecil lo buat nepatin janji dia yang belum dia tepati sampai sekarang ke elo” jawab Cakka serius yang terdengar lirih.

Shilla mengernyitkan dahi beribu lipat. Sungguh aneh maksud perkataan Cakka barusan. dia tidak mengerti apa maksud Cakka. mungkin hanya Cakka lah yang mengerti.

“maksud lo?”

“udah.. ga usah dipikirin. Ada saat nya lo tau maksud gue tadi. Mending sekarang pesen dulu. Mas…” Cakka meneriaki waitres. Tak lama seorang waitres cowok datang menghampiri meja mereka dan memberikan buku menu. Setelah membacakan ulang pesanan Cakka dan Shilla, sang waitres pun pergi.

Shilla masih menatap manik mata Cakka tak henti-henti nya untuk mencari tahu apa maksud perkataan Cakka tadi. Jujur, Shilla sangat bingung. Tak biasanya Cakka bermain teka-teki seperti ini kepada nya. Cakka bukanlah tipe cowok yang suka bermain teka-teki –menurut Shilla-.

Cakka menangkap tatapan heran dari Shilla. Dia tahu, pasti kini otak Shilla sedang sibuk bekerja keras mencari tahu apa maksud perkataan nya tadi. Cakka berniat untuk tidak memberi tahukan semuanya kepada Shilla sekarang. Dia tidak mau merusak acara malam ini. biarlah dia memenuhi semua janji nya dulu kepada Shilla walaupun Shilla mengetahui nya sebagai Cakka, sahabat SMA nya. bukan Kaka, sahabat kecil nya. setelah semua nya sudah dipenuhi dan perasaan nya pun sudah mantap untuk jujur kepada Shilla dengan resiko apapun, barulah Cakka akan membongkar semua nya.

Keheningan terjadi beberapa saat, sampai akhirnya pesanan mereka pun datang. Pesanan datang, bukan berarti obrolan mereka pun berlanjut. Bahkan suasanya yang semula nya hangat karena suasana romantis direstoran ini pun semakin dingin. Tak ada suara yang dilontarkan dari kedua pihak kecali bunyi dentingan piring mereka yang beradu dengan sendok, garpu maupun pisau.

*

Ify sedari tadi tak henti-henti nya tersenyum memandangi handphone nya. sudah lama sekali dia tidak jalan dengan Rio. Dan besok dia akan jalan dengan Rio. Hal yang sangat dirindukan belakangan ini. ketika dia membaca-baca ulang bbm nya dengan Rio tadi, handphone Ify berbunyi menandakan ada telefon masuk. Di layar tertera jelas bertuliskan Debo Callin.

“hallo” sapa Debo dari seberang sana.

“iya Deb kenapa?”

“besok pulang sekolah gue jemput ya Fy?”

“yaampun Deb itu aja pake nelfon segala. Sms atau bbm aja bisa kali haha”

“hehe iya sih tapi gue kangen denger suara lo nih” DEEGG. Tak biasanya Debo seperti ini kepadanya. Sewaktu SMP pun Debo tak pernah mengucapkan kata ‘kangen’ kepada nya.

“kangen suara nya atau orang nya?” goda Ify berusaha agar tak terdengar gugup.

“orang nya hehe” jdaarr!!! Semakin berdetak tak karuan jantung Ify.

“gimana ya Deb? Gue udah janji nih sama temen”

“oh gitu ya? Ya udah deh” terdengar nada kekecewaan dari suara Debo.

“next time deh ya, janji”

“iya. Eh btw, temen lo cewek apa cowok?”

“lah? Kalo cowok.. kenapa?”

“pacar? Baru jadian?”

“hek? Ng… b.. bu.. be.. belum kok. Bukan pacar” jawab Ify gugup karena nada Debo bertanya tidak seperti biasanya. Sekarang nada bertanya Debo lebih terdengar seperti orang… cemburu.

“belum? Berarti bakalan jadian dong ya? Hhh.. gue doain lo cepet jadian deh sama dia” kali ini jelas terdengar nada kekecewaan dari suara Debo. Terdengar juga oleh Ify tadi Debo sempat menghela nafas dipertengahan kalimatnya.

“ma.. makasih Deb” setelah itu yang terdengar hanya nada sambung terputus. Ada apa ini? apa yang sebenarnya terjadi? Batin Ify. Dia jadi bingung dengan perasaannya sendiri. Rio atau Debo?

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar