Gadis cantik berambut sebahu ini
sedari tadi sibuk mematut dirinya di depan cermin. Seulas senyum bahagia tak
lepas dari bibir manisnya. Dia sibuk memutar tubuh nya ke kiri dan ke kanan
memastikan apakah ada yang cacat dari penampilannya hari ini?
“Shillaaaa, Cakka udah dateng tuh”
teriak mama Shilla dari bawah tangga.
“iya ma..” jawab Shilla juga
setengah berteriak. Namun bisa dipastikan mama nya cukup bisa mendengar
teriakan kecil Shilla.
Kembali dia memastikan
penampilannya. Setelah puas dengan penampilannya, Shilla berlalu meninggalkan
kamar nya dan menghampiri Cakka ke bawah.
*
Fy besok ada acara ga?
Enggak. Kenapa Yo?
Jalan yuk? bosen nih L
Boleh. Kemana?
Terserah lo deh. Ntar gue yang traktir pas makan. Gimana?
Mauuuu!!!! After
school langsung kita cusss!
Siaapp! Dasar cewek, denger ditraktir aja langsung semangat lo :p
Biarin wleekk :p
D
R
Begitulah isi bbm singkat Rio dan
Ify yang hanya di read oleh Rio balasan terakhir dari Ify karena bingung mau
membalas apa. bisa dipastikan sekarang Rio sedang apa? Rio sedang loncat-loncat
di atas kasur ga jelas sambil genggam bb nya erat-erat seakan bb itu adalah Ify
yang tidak ingin dilepaskannya begitu saja. Sesekali dia mencium-cium bb nya
membayangkan itu juga Ify.
*
Cakka termenung melihat gadis cantik
dihadapannya kini. gadis ini terlihat lebih cantik dari biasanya. Namun tetap,
Cakka lebih suka melihat gadis ini yang natural seperti biasanya dibandingkan
sekarang yang berpoles dengan beberapa make-up yang…. Entahlah Cakka sendiri
tidak tahu apa itu nama-nama make-up nya yang berhasil merubah sedikit bentuk
wajah gadis ini.
Cakka memang sudah janjian dengan
Shilla untuk jalan malam ini sebagai ganti minggu kemarin yang batal karena
katanya Shilla masih di Bandung . KATANYA. Cakka juga sudah meminta izin kepada
Papa dan Mama Shilla. Walaupun Papa dan Mama Shilla sudah sangat mempercayai
Shilla kepada nya, namun Cakka tetap memiliki sopan santun dan tata krama.
Dan ini juga sebagai langkah awal
bagi Cakka untuk menepati janji nya kepada Shilla di masa lampau. Dia tidak
ingin di cap sebagai laki-laki yang tidak menepati janji nya. jika satu janji
sudah terlontarkan dari mulut nya, pantang bagi Cakka untuk mengingkari janji
itu.
Shilla yang sadar ditatap lain oleh
Cakka begitu pun merasa risih “udah melotot nya? gue ga bakalan kabur kok” goda
Shilla. Seketika Cakka tersadar dari lamunannya dan menggaruk tengkuk nya yang
tak gatal merasa grogi.
“perfect. Lo cantik banget malem
ini, Shil” puji Cakka tulus.
Shilla tersipu malu dan ada sedikit
rona merah di kedua pipi chubby nya “lo juga” jawab Shilla sambil menundukan
kepala nya.
Cakka mengernyitkan dahi nya
“makasih.. walaupun gue yakin gue ga secantik yang lo maksud” balas Cakka yang
berhasil membuat Shilla tertawa dan salah tingkah. Bego! rutuk Shilla di dalam
hati.
“Nyokap lo mana?” tanya Cakka seraya
celingak-celingukan ke dalam rumah Shilla.
“ada di dalem. Mau gue panggilin?”
Cakka mengangguk lalu Shilla masuk kembali ke dalam memanggil mama nya. tak
lama, muncul-lah Shilla yang diikuti mama nya.
“tante, Cakka ajak Shilla keluar
bentar ya” izin Cakka lagi.
“ya udah, jangan sampe larut malam
ya Cakka. kan kalian besok harus sekolah” ingat mama Shilla. Cakka mengangguk.
Cakka dan Shilla lalu berpamitan dengan mama Shilla. Tanpa sadar, Cakka
menggenggam erat tangan Shilla menuju mobil nya seakan takut kehilangan Shilla.
Seketika itu juga jantung Shilla berdetak tak karuan.
*
Nuansa romantis sangat terasa di
ruangan ini. dinding yang berwarna putih yang dibeberapa sisi nya dilapisi
wallpaper semakin memperindah ruangan ini. lampu remang-remang yang hanya
diterangi oleh penerangan lilin diatas meja semakin membuat suasana diruangan
ini semakin romantis. Ruangan ini pun sepi. Hanya ada mereka sepasang muda-mudi
yang tengah duduk di salah satu meja dan beberapa pelayan disini.
Cakka sengaja menyewa restoran mahal
ini khusus untuk gadis cantik yang kini duduk dihadapannya. Sedari tadi gadis
itu tak henti-henti nya berdecak kagum melihat semua ini. Cakka hanya
memberikan senyuman hangat nya ketika gadis ini tak henti-henti nya berdecak
kagum. Cakka senang melihat senyum bahagia Shilla lagi seperti mereka waktu
kecil. Senyum riang Shilla kini terpancar kembali.
“Cak… ini… ini.. sumpah ini keren
bangeettt” pekik Shilla.
“lo suka?” tanya Cakka dengan senyum
bahagia nya. Shilla mengangguk cepat seperti anak kecil yang baru mendapat
mainan nya.
“tumben banget lo nyiapain ini
semua. Ada apa?” tanya Shilla yang juga merasa heran. Karena tak biasanya Cakka
menyediakan hal romantis seperti ini untuknya.
“gue Cuma pengen jadi kaki tangan
cowok masa kecil lo buat nepatin janji dia yang belum dia tepati sampai
sekarang ke elo” jawab Cakka serius yang terdengar lirih.
Shilla mengernyitkan dahi beribu
lipat. Sungguh aneh maksud perkataan Cakka barusan. dia tidak mengerti apa
maksud Cakka. mungkin hanya Cakka lah yang mengerti.
“maksud lo?”
“udah.. ga usah dipikirin. Ada saat
nya lo tau maksud gue tadi. Mending sekarang pesen dulu. Mas…” Cakka meneriaki
waitres. Tak lama seorang waitres cowok datang menghampiri meja mereka dan
memberikan buku menu. Setelah membacakan ulang pesanan Cakka dan Shilla, sang
waitres pun pergi.
Shilla masih menatap manik mata
Cakka tak henti-henti nya untuk mencari tahu apa maksud perkataan Cakka tadi.
Jujur, Shilla sangat bingung. Tak biasanya Cakka bermain teka-teki seperti ini
kepada nya. Cakka bukanlah tipe cowok yang suka bermain teka-teki –menurut
Shilla-.
Cakka menangkap tatapan heran dari
Shilla. Dia tahu, pasti kini otak Shilla sedang sibuk bekerja keras mencari
tahu apa maksud perkataan nya tadi. Cakka berniat untuk tidak memberi tahukan
semuanya kepada Shilla sekarang. Dia tidak mau merusak acara malam ini. biarlah
dia memenuhi semua janji nya dulu kepada Shilla walaupun Shilla mengetahui nya
sebagai Cakka, sahabat SMA nya. bukan Kaka, sahabat kecil nya. setelah semua
nya sudah dipenuhi dan perasaan nya pun sudah mantap untuk jujur kepada Shilla
dengan resiko apapun, barulah Cakka akan membongkar semua nya.
Keheningan terjadi beberapa saat,
sampai akhirnya pesanan mereka pun datang. Pesanan datang, bukan berarti
obrolan mereka pun berlanjut. Bahkan suasanya yang semula nya hangat karena
suasana romantis direstoran ini pun semakin dingin. Tak ada suara yang
dilontarkan dari kedua pihak kecali bunyi dentingan piring mereka yang beradu
dengan sendok, garpu maupun pisau.
*
Ify sedari tadi tak henti-henti nya
tersenyum memandangi handphone nya. sudah lama sekali dia tidak jalan dengan
Rio. Dan besok dia akan jalan dengan Rio. Hal yang sangat dirindukan belakangan
ini. ketika dia membaca-baca ulang bbm nya dengan Rio tadi, handphone Ify
berbunyi menandakan ada telefon masuk. Di layar tertera jelas bertuliskan Debo Callin.
“hallo” sapa Debo dari seberang
sana.
“iya Deb kenapa?”
“besok pulang sekolah gue jemput ya
Fy?”
“yaampun Deb itu aja pake nelfon
segala. Sms atau bbm aja bisa kali haha”
“hehe iya sih tapi gue kangen denger
suara lo nih” DEEGG. Tak biasanya Debo seperti ini kepadanya. Sewaktu SMP pun
Debo tak pernah mengucapkan kata ‘kangen’ kepada nya.
“kangen suara nya atau orang nya?”
goda Ify berusaha agar tak terdengar gugup.
“orang nya hehe” jdaarr!!! Semakin
berdetak tak karuan jantung Ify.
“gimana ya Deb? Gue udah janji nih
sama temen”
“oh gitu ya? Ya udah deh” terdengar
nada kekecewaan dari suara Debo.
“next time deh ya, janji”
“iya. Eh btw, temen lo cewek apa
cowok?”
“lah? Kalo cowok.. kenapa?”
“pacar? Baru jadian?”
“hek? Ng… b.. bu.. be.. belum kok.
Bukan pacar” jawab Ify gugup karena nada Debo bertanya tidak seperti biasanya.
Sekarang nada bertanya Debo lebih terdengar seperti orang… cemburu.
“belum? Berarti bakalan jadian dong
ya? Hhh.. gue doain lo cepet jadian deh sama dia” kali ini jelas terdengar nada
kekecewaan dari suara Debo. Terdengar juga oleh Ify tadi Debo sempat menghela
nafas dipertengahan kalimatnya.
“ma.. makasih Deb” setelah itu yang
terdengar hanya nada sambung terputus. Ada apa ini? apa yang sebenarnya
terjadi? Batin Ify. Dia jadi bingung dengan perasaannya sendiri. Rio atau Debo?
Bersambung…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar