Minggu, 20 April 2014

Rival In Love *27



Dua pasang muda-mudi itu kini tengah menikmati santapan malamnya di Korea tepatnya Seoul. Memang makanan disini tidak ada yang sesuai selera mereka. tapi mau bagaimana lagi.
                        
“besok rencananya kita kemana?” tanya Ify membuka pembicaraan.

“belum tau sih, belum dapet kabar dari guide” jawab Gabriel.

“emang kita disini berapa lama?” tanya Shilla. Dalam hati dia merutuki mengapa dia bisa menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. jelas-jelas dari Jakarta sudah diberi tahu bahwa mereka di Korea selama seminggu.

“paling Cuma seminggu” jawab Gabriel lagi. Huftt.. Shilla bernafas lega karena Gabriel tidak menggubris pertanyaan bodohnya itu.

Rio yang sedari tadi diam tiba-tiba langsung meletakkan jari nya pada sudut bibir Ify –duduk disebelah Rio-. Ify kaget melihatnya. Salting. Sedangkan Gabriel dan Shilla hanya senyum-senyum melihat kedua orang itu.

Ify masih ternganga menatap Rio, sedangkan Rio dengan santainya menyapu sisa makanan yang ada disudut bibir mungil Ify.

“sorry tadi ada saus” ucap Rio setelah selesai membersihkannya lalu dengan santainya kembali melanjutkan kegiatan makannya.

“i.. i.. ya gapapa. Thanks” balas Ify gugup.

‘duuh gue kenapa jadi gini sih?! ah bego. inget Fy ini Cuma sandiwara aja jangan sampe lo beneran suka sama dia lagi’ batin Ify.

Sedangkan Rio…

‘lucu’ batin Rio. sebenarnya Rio ingin tersenyum lepas, tertawa lepas melihat ekspresi Ify yang menurutnya lucu itu, tapi dia tetap menjaga wibawa stay cool nya.

“ehem.. Iel gue udah kenyang nih. Kita balik yuk” ucap Shilla kepada Iel, tepatnya dia ingin memberikan waktu berdua untuk Rio dan Ify.

Gabriel dapat menangkan kode mata –kedip- dari Shilla dan untungnya dia bisa mengikuti jalan pikir Shilla.

“eh iya nih Shil gue juga udah kenyang. Yaudah Yo, Fy kita balik duluan ya kayaknya kalian makannya lama” sindir Gabriel yang melihat makan Ify jadi lama karena malu akibat kejadian tadi.

“yaudah bareng aja gue juga udah siap kok” baru Rio ingin ikut berdiri, sudah ditahan oleh Gabriel.

“udah lo disini aja temenin Ify makan, dia masih lama tuh. Kasian kalo ditinggal sendiri” cegah Gabriel.

“iya Yo. Ngga kasian apa lo sama Ify? ini tuh Korea bukan di Jakarta, kalo dia kesasar gimana? Ntar kalo Ify diculik gimana? Aduuh.. bis….” Shilla.

“iya iya. Dah sekarang lo berdua balik aja sana. Sana sana hush hush” Rio.

“uuuh yang udah ngga sabar pengen berduaan hihi” goda Shilla. Gabriel sudah senyum-senyum sendiri, sedangkan Ify hanya bisa menunduk sambil melanjutkan makannya. Suhu badannya kini sudah naik turun tak menentu. Tidak biasanya Ify merasa canggung seperti ini.

“gue timpukin sepatu nih” ancam Rio. karena ingin hidup, Shilla dan Gabriel langsung berlari meninggalkan Rio dan Ify berdua.

*

TOK TOK TOK

CKLEK

“eh Vin, nyari Prissy ya?” Febby.

“iya Feb, gimana keadaannya? Udah baikan?” Alvin.           

“lo liat sendiri aja deh. Masuk aja dulu, gapapa kok” Febby.

Alvin masuk ke dalam kamar Hotel Blink. Berhubung Shilla dan Ify sedang keluar, jadilah dikamar hanya ada Sivia dan Febby yang menjaga Pricilla yang masih sakit.

“Pris..” sapa Alvin lembut.

Pricilla yang tadinya baru ingin tertidur, jadinya terbangun mendengar sapaan itu. dia menoleh dan didapatinya Alvin yang kini sudah duduk disampingnya. Dia tersenyum “hai Vin” sapa Pricilla.

“gimana keadaan lo? udah baikan?”

“masih sama kayak tadi Vin”

“lo udah minum obat nya belum?” Pricilla menggeleng.

“lo sih dibilangin ngeyel, gue suruh minum obat eh malah ngga diminum. Kalo besok keadaan lo makin parah gimana? Kan lo nya juga yang ngga bisa senang-senang disini. Kan gue jadi khawatir, Pris” celoteh Alvin.

Pricilla terdiam mendengar celotehan Alvin yang menurutnya sangat menampakkan kepeduliannya kepada dirinya. Pricilla menatap Alvin yang sedang menyiapkan obat untuk Pricilla dengan diam. Jika sedang seperti ini, Alvin terlihat sangat berwibawa, memiliki sifat bertanggung jawab dan kepemimpinan.

“duduk dulu, diminum obatnya” Alvin membimbing Pricilla untuk duduk.

“makasih” ucap Pricilla ketika selesai meminum obatnya.

“yaudah lo tidur lagi aja, gue temenin”

“trus.. Via sama Febby tadi mana?”

“mereka pergi keluar katanya mau cari angin” Pricilla mengangguk dan kembali tidur ditemani Alvin yang duduk disampingnya.

Ternyata dari luar pintu kamar, sedari tadi ada yang memperhatikan Alvin dan Pricilla. Dia tersenyum kecut menyaksikan kemesraan antara Alvin dan Pricilla.

‘Pricilla beruntung bisa dapetin Alvin yang cinta banget sama dia’

*

“Iel.. tungguinnnn” teriak Shilla.

“lo sih jalannya lelet amat. Buruan kek” Gabriel menghentikan langkahnya dan berbalik badan kebelakang menunggu Shilla yang jauh dibelakang sana tertinggal.

“hah.. hh.. hah.. lo yang jalannya cepet banget” protes Shilla ketika sudah bisa mensejajarkan langkahnya dengan Gabriel.

Gabriel diam saja. Dia sedang menikmati angin malam disepanjang jalan ini. setelah selesai makan tadi, mereka tidak berniat untuk kembali ke kamar masing-masing tetapi mereka pergi untuk mencari angin, mengitari jalanan didekat Hotel. Mereka juga ingin melihat bagaimana jalanan di Korea pada malam hari.

“kita kemana nih?” tanya Shilla.

“ikut aja ngga usah banyak tanya” jawab Gabriel.

“kan gue Cuma tanya”

“ya itu dia.. ngga usah nanya”

“ih kok lo ngeselin sih?!”

“ih kok lo lebih ngeselin sih?!”

“lo rese!”

“lo juga”

“lo jelek”

“lo lebih”

“lo ganteng!”

“lo cantik”

“lo item”

“lo….” Gabriel bingung ingin membalas apa lagi.

“hahahaha kenapa lo? kehabisan kata-kata kan lo? apa lo? mau bilang gue lebih item? Atau mau bilang gue putih tapi gengsi? Hahaha” tawa Shilla meledak.

“diem deh lo”

“hahahaha gimana gue bisa diem kalo…” CUUPP

Tawa Shilla terhenti karena Gabriel mencium pipi kanannya begitu tiba-tiba. Shilla mematung, ternganga dengan apa yang dirasakannya beberapa detik yang lalu.

“haha diem kan lo. makanya kalo disuruh diem tuh diem. Kayak belut aja lo ngga bisa diem” ucap Gabriel santai seperti tidak melakukan apa-apa.

Shilla memegangi pipi kanannya yang dicium Gabriel. dia masih terdiam, lalu…

“IH LO JAHAT LO JAHAT! SEENAKNYA AJA CIUM-CIUM PIPI GUE AAAA MAMAAAA TOLONGIN SHILLAAAA PIPI SHILLA UDAH NGGA PERAWAANN *&#(*^(*^($^(^#(“ Gabriel membekap mulut Shilla.

“hmbb..bb.b….hmm.b..b.b”

“lo bisa diem ngga sih?! malu nih diliatin orang-orang. Ntar dikira gue ngapa-ngapain lo lagi”

“hmm..b…h.bnmbm..b”

“huhh… haahh. Hoshh.. gila ya lo. mau buat gue mati lo?!” protes Shilla ketika Gabriel sudah melepaskan bekapan tangannya.

“siapa suruh lo ngga bisa diem”

“siapa suruh lo tiba-tiba nyium pipi gue sembarangan?”

“kalo ngga gitu, lo ngga bakal diem”

“yayaya whatever…” Shilla berjalan duluan meninggalkan Gabriel karena kesalnya.

Bersambung…

Maaf ya ngaret ba-ng-et. Soalnya tugas aku menumpuk jadi waktu buat ngeposting ngga ada. Sebenernya udah siap dari jauh-jauh hari yang lalu. Tapi karena ngga bisa ngeposting, jadinya aku lanjutin terus aja bikinnya dan alhasil skrng aku ngeposting 5 part sekaligus yeaay!!! Jangan lupa tinggalin comment kalian dibawah ya dan juga follow twitter/askfm/instagram aku: @elviraeryos J

Rival In Love *26



Setelah menempuh waktu satu jam, tibalah rombongan Redbag, Blink beserta tour guide di Kota Seoul. Pusat nya Negara Korea. Mereka memilih langsung ke Hotel sesuai rencana karena memikirkan kondisi Pricilla.

Kini mereka sampai disebuah Hotel mewah nan megah bernama Marriot Executive Apartements Seoul. Hotel ini menggunakan Interior minimalis perpaduan warna merah dan kuning. Lobi Hotel ini terasa sangat elegan dan sekaligus Hommy. Sama sekali tidak membuat para pengunjung merasa canggung untuk menginap disini.

“Annyeong haseyo (selamat pagi siang sore malam)” ucap Resepsionis yang berwajah khas asli warga Korea.

Kali ini, yang maju kelima tour guide karena kelima pasang artis tersebut susah untuk berkomunikasi di Negara ini.

“annyeong (Hallo)” ucap Olivia.

“Jeogiyo (permisi). Apa masih ada kamar yang kosong?” tanya Dea.

“Ne (Ya). Ingin memesan berapa kamar dan untuk berapa hari?” tanya Resepsionis itu ramah.

Dea meminta tunggu sebentar kepada Resepsionis itu lalu menanyakan kepada Redbag dan Blink. Mereka memutuskan untuk memesan tiga kamar saja mengingat harga sewa permalam di Hotel ini sangatlah mahal. Jika di rupiahkan mencapai 2,5 juta rupiah. Mereka bukan hanya menginap semalam atau dua malam. Tetapi seminggu. Maka dari itu mereka memilih tiga kamar saja.

Tiga kamar. Satu kamar khusus untuk kelima personil Redbag. Satu lagi khusus untuk Blink dan satunya lagi khusus untuk kelima tour guide.

Setelah menyelesaikan semuanya, sang resepsionis memberikan tiga kunci kamar kepada Dea. Dan Dea memesan kamar dengan Double Bed yang Big Size tiap-tiap kamar.

“haah akhirnya kita sampai juga ya di Hotel” gumam Olivia yang langsung menghamburkan badannya ke kasur.

“inget ya Liv kita kesini buat kerja bukan buat liburan jadi kita ngga ada waktu buat bersenang-senang” ingat Zahra.

“iya Buk Zahra yang terhormat”

“eh iya Redbag ternyata aslinya ganteng-ganteng ya” ucap Dea.

“iya. Tapi sayang udah ada yang punya” balas Angel.

“iya ya? Udah keduluan sama Blink. Tapi pantas sih, kan mereka berlima cantik-cantik cocok sama Redbag yang ganteng-ganteng” Zevana ikut topik pembicaraan Angel dan Dea.

“secantik-cantiknya mereka, itu belum menjamin kesetiaan cowo-cowo Redbag loh” ucap Dea. Angel, Zevana, Olivia dan Zahra menatap Dea heran.

“maksud kamu?” tanya Olivia.

“yang nama nya cowo itu kan ngga bisa dipercaya. Setia apapun cowo dan secantik apapun pacar mereka, pasti mereka akan berkhianat juga kok. Dan kayaknya .. sebentar lagi akan terbukti”

“ngga mungkin ah. Anak-anak Redbag kayaknya setia semua kok. Mereka sayang sama Blink” sangkal Zevana.

“kamu tau dari mana kalo Redbag itu sayang sama Ify?”

“dari matanya”

“ya .. walaupun sesayang-sayangnya orang, pasti akan berkhianat juga kok”

“aku ngga percaya pokoknya” Zevana bersikeras.

“ya udah terserah kamu”

“udah deh De jangan omongin orang. Sekarang itu mereka Bos kita jadi kita harus dengerin perintah mereka” ingat Zahra. Diantara mereka berlima, Zahra lah yang paling dewasa secara umur maupun sifat dan dia juga senior diantara yang lainnya.

“iya mbak Zahra”

Di kamar Redbag hanya ada empat orang. Rio, Gabriel, Cakka dan Debo. Saat ini Rio memilih untuk mandi dulu dan bergantian dengan yang lainnya.

Alvin kini sedang berada dikamar Blink mengantarkan Pricilla yang masih merasa sakit. Dengan sabar dan penuh ketulusan, Alvin menggotong tubuh Pricilla keatas kasur. Blink hanya mampu melihat karena tidak ada yang bisa mereka bantu. Semuanya diambil alih oleh Alvin.

“lo istirahat aja ya Pris. Besok kalo masih belum baikan, lo ngga usah ikut jalan aja” ucap Alvin lembut ketika usai membaringkan tubuh Pricilla diatas kasur.

“ngga mau Vin. Gue mau jalan besok. Masa kalian pada pergi gue nya di kamar sendirian? Boring banget tau”

“lo nakal banget ya kalo dibilangin. Biar besok gue temenin lo disini”

“ehem ehem. Hati-hati tuh” sindir Sivia.

“awas aja kalo kita balik tau-tau dapet kabar kalo yang keluar dari kamar ini ada 3 orang” sindir Ify.

“ih apaan sih kalian” kesal Pricilla melihat tingkah teman-temannya.

“ya udah gue ke kamar dulu ya. Istirahat yang banyak. Oh iya Feb, Fy, Vi, Shil, gue nitip Prissy ya”

“amaan” koor Blink minus Pricilla kompak. Alvin pun melangkah meninggalkan kamar Blink menuju kamar Redbag.

*

21.00 Waktu Setempat

Shilla dan Ify merasa lapar melanda mereka. Mereka bingung ingin makan apa. mereka akhirnya memilih untuk turun ke lantai dasar Hotel. Dimana disana ada sebuah restaurant.

Ketika mereka melewati kamar Redbag tadi, ternyata Rio dan Gabriel keluar dan langsung bertemu dengan Shilla dan Ify.

“mau kemana kalian?” tanya Gabriel.

“laper. Mau ke resto bawah nyari makan” jawab Ify. Entah kenapa semenjak selesai acara tadi, Shilla lebih banyak diam.

“ya udah bareng aja. Kebetulan kita juga mau nyari makan” ajak Rio.

“eh engga kok engga. Kita bukan mau nyari makan tapi…” elak Shilla.

“halah … banyak alesan lo. Buruan deh” Gabriel langsung menarik tangan Shilla dan beranjak pergi duluan yang diikuti Rio dan dibelakang nya diikuti Ify. Ify berjalan pelan seraya memandang punggung tegap Rio.

Rio merasa ganjil berjalan sendirian. Dia membalikan tubuhnya dan mendapati Ify yang sedang setengah kesal, setengah kecewa, dan lainnya bercampur jadi satu.

“ngapain lo?” tanya Rio.

“apa peduli lo? Udah deh jalan duluan sana!” sewot Ify.

“bilang aja lo juga pengen gue genggam tangannya kayak Gabriel ke Shilla tadi. Iya kan? Sini” Rio langsung saja menarik telapak tangan Ify dan menyelipkan jemarinya disela-sela jemari Ify. Seketika Ify merasakan perasaan hangat menjalari tubuhnya. Dia merasa nyaman.

Mereka berjalan berdua layaknya sepasang kekasih. Ify berjalan dengan perasan gugup, dan Rio berjalan dengan santainya tanpa menoleh kiri dan kanan. Namun walau begitu, Rio dapat melihat dari sudut matanya bahwa gadis yang berada disebelahnya saat ini sedang gugup dan tegang.

Ternyata dari jarak yang agak jauh, seseorang secara tidak sengaja melihat Rio dan Ify berpegangan tangan. Dia tidak rela jika orang yang dicintainya malah mencintai orang lain. Dari dulu, dia tidak pernah kalah dalam hal apapun oleh siapapun dan juga tidak pernah tidak mendapatkan apa yang dia mau. apapun yang dia mau dia selalu bisa meraihnya.

Bersambung…

Rival In Love *25



Acara makan bersama fans mereka pun telah usai. Pricilla tidak ikut dalam rangka acara itu karena Alvin yang melarang. Para Blinkstar pun memaklumi j=jika Pricilla tidak ikut makan bersama mereka karena mereka mendapat kabar dari Alvin bahwa Pricilla mendadak sakit.

Kini mereka semua akan berangkat menuju Bandara. Mereka semua dijemput oleh Bis khusus untuk mereka semua. Dan di dalamnya sudah ada 5 tour guide yang menyambut kedatangan mereka di depan Bis.

“Annyeong haseyo (selamat pagi siang sore malam)” sapa kelima tour guide itu kepada Redbag dan Blink sambil membungkukan badan 90 derajat.

“hah?” bingung Redbag karena mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Korea.

“annyeong (hallo)” sapa Blink balik. Redbag menatap Blink bingung karena Blink bisa mengerti bahasa planet –anggapan Redbag- seperti itu.

Pantas saja para personil Blink mengerti dengan bahasa ringan Korea yang satu itu. kalimat itu termasuk kalimat yang mudah diingat dan dimengerti bagi siapapun. Terlebih para personil Blink juga menggemari K-Pop.

“kalian ngerti?” tanya Redbag serentak kepada Blink. Blink tersenyum senang dan mengangguk secara serentak juga. Mereka senang karena akhirnya sebentar lagi mereka akan mengunjungi Negara yang mereka impi-impikan. Terlebih mereka senang dengan style kelima tour guide ini. gaya mereka sangatlah Korean Style.  

“sepertinya kelima cowo ini tidak mengerti dengan bahasa Korea. Baiklah kalau begitu, maafkan kami” ucap salah seorang tour guide.

“gapapa kok gapapa. Mereka emang gitu hehe” jawab Shilla.

“baiklah kami akan memperkenalkan diri masing-masing. Perkenalkan nama saya Zahra, saya ditugaskan untuk menjadi tour guide Tuan Gabriel dan Nona Shilla selama seminggu kedepan” ucap gadis yang bernama Zahra itu.

“oh annyeong Zahra” ucap Shilla dengan gaya mengikuti kelima tour guide tadi, membungkukan badan 90 derajat. Zahra mengangguk dan tersenyum.

“perkenalkan nama saya Dea. Saya ditugaskan menjadi tour guide Tuan Rio dan Nona Ify” ucap tour guide disebelah Zahra yang bernama Dea.

“Hallo Dea” sapa Ify dan Rio ramah.

“perkenalkan, saya Angel. Saya ditugaskan menjadi tour guide Tuan Debo dan Nona Sivia. Senang berkenalan dengan kalian”

“Perkenalkan nama saya Zevana. Saya ditugaskan menjadi tour guide Tuan Cakka dan Nona Febby selama di Korea. Annyeong”

“nama saya Olivia. Saya ditugaskan untuk menemani dan menjaga Tuan Alvin dan Nona Pricilla selama di Korea”

Semua sudah memperkenalkan diri masing-masing. Kini semua barang satu per satu mulai dimasukan ke dalam Bis.

“oh iya Zahra, Dea, Angel, Zevana, Olivia, kalian ngga usah panggil kami semua dengan sebutan Tuan sama Nona. Ngga enak didengernya hehe anggap saja kita semua ini sahabat dan sedang berlibur di Korea, bukan sebagai tour guide” ucap Gabriel sebelum naik ke dalam Bis.

“oh baik Gabriel” koor kelima tour guide tersebut.

“satu lagi. bahasa kalian ngga enak didenger, terlalu baku. Pake bahasa yang ringan aja” ucap Rio menyambung namun dengan gaya stay cool nya. kelima tour guide itu mengangguk.

“kamu itu terlalu cuek. Kita liat aja Rio, kamu akan jadi milikku” batin seseorang.

“ya udah yuk berangkat” semuanya pun naik ke dalam Bis. Mereka duduk dengan posisi di bangku paling depan ada Ify, Rio dan Dea. Rio ada ditengah-tengah Ify dan Dea.

Dibelakangnya ada Shilla, Gabriel, Zahra. Gabriel juga berada ditengah kedua gadis itu. dibelakangnya ada Alvin, Pricilla dan Olivia. Alvin duduk disudut jendela, dan disebelahnya Pricilla sedang menopang kepalanya dipundak Alvin karena dia masih merasa pusing. Olivia yang duduk disamping Pricilla sedari tadi menatap Pricilla sendu. Dia iri dengan Pricilla yang bisa mendapatkan Alvin yang begitu baik dan tulus.

Dibelakang mereka ada Febby, Cakka dan Zevana. Ketiga orang ini hany berdiam dan sibuk dengan aktifitas masing-masing. Febby dan Zevana sibuk dengan handphone masing-masing, sedangkan Cakka sibuk dengan iPod nya.

Dibelakang sekali ada Debo, Angel dan Sivia. Angel heran dengan sepasang kekasih yang ini. jika pasangan yang lain duduk berdampingan, pasangan yang ini berbeda. Pasangan ini meminta Angel untuk duduk di tengah-tengah mereka berdua, seperti sebagai pembatas.

30 menit dari gedung pertemuan akhirnya mereka sampai juga di Bandara Soekarna-Hatta. Mereka semua turun dan barang-barang mereka dibawakan oleh sang supir Bis.

Ternyata mereka datang tepat waktu. Tidak telat dan tidak pula menunggu keberangkatan terlalu lama. Mereka hanya menunggu kurang lebih 1 jam dan pesawat mereka pun lepas landas.

Butuh waktu 7 jam bagi mereka semua untuk sampai di Korea. Memang sangat membosankan sekali. Bahkan Shilla, Ify, Sivia, Pricilla dan Febby sempat tertidur selama perjalanan. Namun kelima tour guide itu tidak mau tidur walaupun mata mereka juga merasa mengantuk. Mereka ingin bekerja professional.

Kelima anak-anak Redbag pun tidak ada yang tertidur. Ada yang sibuk mendengar musik, main games, baca komik, baca majalah otomotif, dan ada yang sibuk memainkan handphone.

*

7 jam keberangkatan dan akhirnya kini mereka semua sudah menginjakan kaki di gerbang kedatangan di Korea, yaitu Bandara International Incheon. Sebelum sampai di gedung utama Bandara ini, mereka terlebih dahulu menaiki kereta shuttle yang sangat nyaman. Mereka semua terkagum-kagum dengan Bandara ini.

Bandara dengan lobi kedatangan yang tampak elegan dengan pilar-pilar emas yang menyangga atap tinggi dengan penerangan menarik. Taman bunga juga menambah kemenarikan Bandara ini yang berada ditengah-tengah lobi.

Bandara ini pun memiliki fasilitas-fasilitas khusus. Untuk menuju Seoul, para pendatang tidak bersusah payah mencari transportasi kesana. Di depan Bandara sudah ada transportasi yang siap mengantarkan mereka ke Seoul.

Walaupun Bandara ini terlihat mewah dan megah, Korea tidak melupakan jati dirinya. Arsitek Bandara ini membuat atap bandara ini menyerupai bentuk kuil tradisional Korea dan di lantai empat, terdapat museum kebudayaan yang berisi macam-macam artefak peninggalan sejarah Korea beribu-beribu tahun silam.

Jam kini menunjukan pukul 17.00 waktu setempat. Waktu Korea lebih awal 2 jam dibanding waktu Indonesia. 

Sehabis dari Bandara, mereka harus menuju Seoul dimana disana terdapat banyak pusat perbelanjaan, tempat wisata, dan lainnya. Dari Bandara menuju Seoul mereka membutuhkan waktu satu jam lagi.

“akhirnya sampe juga di Korea setelah 7 jam duduk di pesawat. Ergh capek banget” ucap Sivia sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.

“oh iya habis ini kita kemana? Ke Hotel langsung atau jalan-jalan dulu?” tanya Rio kepada kelima tour guide itu.

“terserah kalian aja. Tapi saran ku, lebih baik kalian istirahat dulu semalam di Hotel. Mulai besok baru kita berkeliling” ucap Zahra yang sudah mulai membiasakan ucapannya sejak di pesawat tadi. Sepertinya yang paling senior diantara kelima tour guide itu Zahra.

“ya udah menurut gue emang harus gitu. Soalnya Pricilla masih sakit nih. Biar dia istirahat dulu aja di Hotel” jawab Alvin cepat. Dia kini sedang merangkul pundak Pricilla takut terjadi apa-apa dengan gadis itu. soalnya ketika bangun tidur di pesawat, Pricilla mengeluh kepada Alvin bahwa kepalanya masih terasa sakit.

“yaudah yuk. Kasian sama Pricilla nanti kalo kita ajak keliling-keliling, sakit nya makin parah” ucap Febby.

“gue nurut apa kata Febby aja deh hehe” lagi-lagi-lagi Cakka menatap Febby dengan sangat teduhnya. Febby menunduk malu.

“lo gimana Vi, Fy, Shil?” tanya Debo.

“ke Hotel aja deh. Gue ngga tega sama Prissy” ucap Shilla mewakilkan.

“ya udah jadi sekarang kita ke Hotel aja yuk” komando Gabriel.

“maaf, sebelum kita ke Hotel, kita harus menempuh waktu perjalanan satu jam lagi menuju Seoul” ucap Zahra.

“loh? Trus kita naik apa?” tanya Ify yang sedari tadi memilih diam.

“ada transportasi Bandara yang akan antar kita ke Seoul”

“yah patah nih tulang gue” keluh Ify.

“ntar gue pijitin di kamar” sahut Rio tiba-tiba tapi dengan nada cuek dan ekspresi dinginnya.

“dih gila. No no no! bukan mukhrim!”

“makanya jangan ngeluh” Rio mengacak-ngacak poni Ify lembut lalu berjalan  mendului semuanya dengan cuek.

Untuk pertama kalinya bagi seseorang diantara mereka semua melihat kemesraan Rio dan Ify. walau tidak terlihat mesra seperti Cakka-Febby ataupun seperti Alvin-Pricilla, tapi sikap Rio menunjukkan bahwa dia menyayangi Ify. terlihat dari gerakan yang dilakukannya beberapa detik yang lalu ini.

“Rio, aku pastikan kalo kamu akan jadi milikku. Ngga akan lama lagi” batinnya.

Bersambung…