Sabtu, 11 Januari 2014

(Cerpen) Cinta Terpendam


Hello guys. kali ini aku bakalan posting cerpen yang bener-bener cerpen hehe ini sebenernya cerpen request dari salah satu readers aku. konsep nya pun dia yang minta dan tugas aku Cuma tinggal jabarin konsep itu menjadi sebuah cerpen yeaay!! Walaupun endingnya nanti agak ngga jelas, random atau apalah itu. mohon dimaklumi haha ini kali pertamanya aku bikin cerpen. Aku memang tidak berbakat nulis cerpen guysL Dengan segenap kemampuan yang aku punya *asek* akhirnya cerpen inipun selesai. Walaupun kali ini castnya bukan icil, tapi semoga kalian suka ya ^^

*

“hahahahaha” tawa  ketiga gadis remaja ini meledak hingga kepenjuru kantin. mereka bertiga adalah Nadira, Gaby dan Ika. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan sehingga tawa mereka begitu membahana hingga terdengar keseluruh penjuru kantin.

Nadira dan Gaby sudah bersahabat dari kecil. Dan ketika masuk SMA, mereka bertemu dengan Ika dan kini mereka bertiga bersahabat.

“guys guys.. liat tuh” ucap Ika menghentikan tawa kedua sahabatnya ketika melihat seorang cowo dengan senyum manisnya tengah berjalan kearah kantin bersama temannya. Ika tak hentinya menatap kearah cowo itu yang sedang beramah tamah dengan orang-orang yang menyapanya. Memang, cowo itu banyak digemari siswi-siswi.

Nadira dan Gaby memutar kepala kearah tunjuk Ika tadi berhubung Nadira dan Gaby duduk membelakangi pintu masuk kantin. bermacam ekspresi yang dinampakan kedua orang itu. yang satu menatap cowo itu sinis dan satu lagi menatap cowo itu seperti…. Entahlah. Hanya dia sendiri yang tahu.

“ck… si cowo rese lagi” Gaby berdecak sinis ketika cowo itu melewati meja kantin mereka. seperti merasa tersindir, si cowo itu berhenti dan balik menatap sinis kearah Gaby. Gaby tak kalah sinis nya menatap cowo itu. sedangkan Ika sudah menatap cowo itu dengan tatapan kagum. Nadira… diam saja.

“lo bilang apa tadi?!” geram cowo itu yang bernama Bastian.

“gue bilang co-wo re-se” jawab Gaby dengan penuh penekanan.

“lo bilangin gue rese hah?!” Bastian semakin kesal dengan tingkah Gaby yang selalu cari ribut dengannya.

“lo ngerasa? Ya bagus deh” sahut Gaby santai sambil menyeruput jus jeruk nya tanpa beban.

“lo ya….” Baru saja Bastian ingin memarah-marahi Gaby lebih lanjut, temannya sudah melerai duluan.

“udahlah Bas, ngapain lo berantem sama cewe? Malu-maluin aja” lerai teman Bastian. Bastian berpikir sebentar lalu beralih menatap Gaby lagi.

“awas lo. hidup lo ngga bakalan selamat ditangan gue” ancam Bastian sebelum pergi hingga dia benar-benar berlalu dari hadapan 3sahabat itu.

“kenapa sih lo ngga pernah damai sama Bastian?” tanya Nadira heran dengan tingkah temannya yang satu itu.

“gue? damai sama si rese itu? ngga bakalan! Dari awal gue sekolah disini gue udah bertekad ngga bakalan damai sama dia”

“udah lah Gab, damai aja sama Bastian. Dia orangnya baik kok, ngga kayak yang lo liat” kini Ika kembali buka suara setelah sadar dari keterkagumannya akan kegantengan Bastian.

“baik? Mungkin itu menurut lo yang udah cinta mati kebelet mampus sama dia. Tapi bagi gue, cowo rese kayak dia tetep RE-SE!” jawab Gaby penuh kekesalan. Nadira dan Ika tak bisa berkata-kata lagi. jika sudah seperti ini, Gaby susah untuk ditenangkan. Mereka sudah cukup hafal dengan sifat Gaby, tepatnya sifat mereka satu sama lain.

*

Bel pulang sudah berbunyi. Semua murid satu per satu sudah meninggalkan kelas masing-masing. Kecuali 3sahabat ini. siapa lagi kalau bukan Nadira, Gaby dan Ika? mereka sibuk mendengarkan curhatan Ika yang bagi Gaby sama sekali tidak penting itu.

“….. trus ya habis kejadian lo sama dia di kantin tadi Gab, gue liat dia main basket. Aaa cool banget. Aura ganteng nya itu terpancar” Ika dengan semangatnya menceritakan Bastian yang tadi bermain basket dilapangan. Bastian memang bintang basket disekolahnya.

“nah trus….” Baru saja Ika ingin melanjutkan curhatannya tentang pujaan hatinya itu, handphone nya berdering menandakan ada telfon masuk. Segera dia merogoh sakunya dan mengambil handphone nya.

“iya pak? Oh iya bentar…” KLIK. Ika memutuskan sambungan telfonnya.

“guys gue duluan ya. Supir gue udah jemput. Byeee” Ika langsung berlalu pergi meninggalkan kelas karena baru saja mendapat telfon dari supirnya bahwa sang supir sudah di depan sekolah.

“huft… heran gue sama tuh anak. Udah jelas-jelas Bastian itu pernah nge-phpin dia. Eh masih aja dia tergila-gila sama tuh anak” heran Gaby.

“nama nya juga cinta. Cinta itu buta. Ya itu deh si Ika korban kebutaan cinta” sahut Nadira. Gaby geleng-geleng kepala heran.

“eh iya lo pulang sama apa?” tanya Nadira.

“paling sendiri lagi. supir ngga bisa jemput lagi nih” jawab Gaby lemah teringat bahwa dia akan pulang sendiri lagi kali ini.

“yakin lo? ngga bareng gue aja? Mau hujan loh ini”

“hmm.. ngga usah deh makasih. Ya udah gue duluan ya Nad, ntar keburu ngga dapet Bis atau angkot” Gaby bangkit berdiri sambil menyandang tas nya.

“ya udah hati-hati ya”

*

Ternyata benar apa kata Nadira. Kini air mata langit itu sudah menyelimuti bumi dengan derasnya. Untung saja Gaby sampai di halte sebelum hujan deras sehingga tubuhnya sekarang hanya basah sedikit akibat gerimis tadi.

Gaby menggosok-gosok kedua lengannya yang terasa dingin lalu beralih menggosokan kedua telapak tangan agar terasa lebih panas;. Ketika sedang menelungkupkan telapak tangannya ke pipi, ternyata sebuah jaket berwarna biru langit tengah tersampir dibahu nya. Gaby tersentak kaget.

Di tatapnya sebentar jaket yang kini sudah bertengger tenang dibahu nya itu lalu beralih menatap kesamping kanan nya mencari tahu siapa orang berbaik hati yang sudah meminjamkannya jaket itu. keterkagetan Gaby semakin bertambah ketika melihat siapa yang sudah menyampirkan jaket itu kebahu nya. seorang cowo yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya.

“ngapain lo hujan-hujanan disini?” tanya cowo itu yang tak lain adalah Bastian tanpa menatap ke Gaby sedikitpun tetapi malah menatap lurus kedepan kearah jalanan. Seperti ada sesuatu yang menarik disana.

Gaby tidak menjawab pertanyaan Bastian itu. dia masih sibuk dengan pikirannya. Merasa tidak diacuhkan, kini Bastian beralih menatap Gaby. Gaby tersentak kaget ketika pandangan mereka berdua beradu. Terjadi tatap-tatapan antara keduanya selama beberapa menit, ada sesuatu yang berdesir dihati Gaby ketika menatap mata itu sampai akhirnya Gaby tersadar.

“eh.. hm.. ngapain lo disini?” tanya Gaby dengan nada gugupnya namun masih tersirat nada jutek didalamnya dan mencoba mengalihkan pandangan kearah lain agar tidak terjadi lagi kontak mata seperti tadi.

“ehem.. nunggu hujan reda. Nah lo sendiri ngapain masih disini?” jawab dan tanya Bastian balik. Kali ini Bastian menjawab pertanyaan Gaby itu dengan nada biasa dan dengan sebuah senyuman yang mengandung sebuah arti yang bermakna didalamnya.

“ng.. sa.. sama kayak lo. sekalian nunggu bis” jawab Gaby kini dengan nada biasanya namun masih terdengar tegang.

“oh…”

Terjadi keheningan selama beberapa saat. Canggung. Itulah suasana disana saat ini karena hanya mereka berdua yang sedang berada dihalte.

“ng… btw, thanks jaketnya” Gaby mulai buka suara mencoba mencairkan suasana.

“eh iya santai aja lagi. lagian lo kayaknya kedinginan banget” jawab Bastian seraya menggosok-gosokan kedua lengannya karena kini dia mulai merasa kedinginan. Gaby sadar akan gerak-gerik Bastian itu yang bisa dipastikan cowo itu kini sedang kedinginan.

“lo… kedinginan ya?” tanya Gaby.

“iya nih hujannya ngga bersahabat banget” jawab Bastian masih sambil menggosok-gosokan lengannya.

“ya udah ini jaketnya lo aja yang pake. Gue udah gapapa kok” Gaby langsung melepas jaket Bastian yang tadi tersampir dibahunya.

“eh ngga usah…” Bastian langsung menahan tangan Gaby yang sedang memegang jaketnya. Tanpa sengaja, Bastian menggenggam tangan Gaby. Mereka berdua sontak kaget namun kembali terjadi kejadian saling pandang seperti tadi. Tak mau perasaan yang selama ini susah-susah disangkalnya itu kembali lagi dan malah semakin dalam, Gaby langsung melepas pandangannya dari mata Bastian. Bastian pun akhirnya ikut tersadar.

“eh.. ehem.. ng.. hujannya udah berenti nih. Lo.. mau gue anterin ngga?” Gaby berpikir sebentar. Tak ada salahnya dia menerima tawaran Bastian. Toh, sedari tadi dia berdiri dihalte, tak ada satupun bis yang kosong.

“Hmm.. ya udah boleh deh”

“ya udah bentar gue ambil motor dulu” Bastian langsung berlari kedalam sekolah tepatnya keparkiran untuk mengambil motornya. Gaby mengangguk menyetujui.

TIIN TIIN

“ayo naik” ucap Bastian sesampainya dihalte menghampiri Gaby. Gaby mengangguk lalu langsung naik ke motor Bastian. Dari kejauhan, seseorang menatap kepergian Bastian dan Gaby dengan sayu.

“dari dulu gue udah yakin kalo kalian punya perasaan yang sama” lirih orang itu.

*

“thanks Bas udah anterin gue” ucap Gaby setelah sampai didepan rumahnya dan turun dari motor Bastian.

“iya sama-sama”

“hm.. lo ngga mau mampir dulu? Biar gue bikin teh panas biar badan lo ngga kedinginan lagi”

Bastian berpikir sebentar lalu menjawab “boleh deh”

Mereka masuk ke rumah Gaby. Gaby mempersilahkan Bastian untuk duduk dulu di ruang tamu sedangkan Gaby pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Bastian dan juga dirinya.

“nih diminum dulu” sapa Gaby ketika sampai diruang tamu sambil membawa segelas teh panas.

“eh iya thanks” ucap Bastian lalu menggapai gelas pemberian Gaby dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.

Gaby menatap Bastian seperti… entahlah. Dia sibuk dengan pikirannya saat ini. bagaimana caranya dia memulai mengutarakan niat baiknya.

“hmm…” gumam Gaby dan Bastian serentak.

“eh lo dulu aja” sambung Gaby cepat.

“ngga. Lo dulu aja, ladies first

“hmm.. gini. lo ngerasa capek ngga berantem mulu sama gue tiap hari tiap ketemu? Ya.. maksud gue, apa lo ngga mau kalo kita…”

“berdamai. Ya, siapa juga sih yang suka kayak gini? malahan gue juga mau ngomong soal ini ke elo. Gue mau mulai sekarang kita lupain dendam kita. Mulai semuanya dari awal dengan baik-baik” potong Bastian cepat.

“oke, deal. Mulai sekarang kita temen ya?” Gaby mengacungkan kelingkingnya meminta Bastian untuk ikut menautkan kelingkingnya juga. Bastian bingung ingin menjawab apa. sebenarnya, bukan ini yang diharapkannya. Heran karena Bastian tak kunjung menyambut ulurannya, Gaby menurunkan tangannya.

“kenapa? Lo ngga mau temenan ya sama gue?” tanya Gaby dengan suara lirihnya.

“bu.. bukan gitu Gab. Gu.. gue..”

“gapapa kok kalo lo ngga mau jadi temen gue”

“bukan gitu… okedeh gue mau jadi temen lo”

“beneran?”

“i.. iya”

“thanks Bas. Mulai sekarang, ngga ada musuh-musuhan lagi. ngga ada perang mulut dikantin lagi dan lain-lainnya. Oh iya satu lagi. gue mau ngomong sesuatu sama lo” mendengar perkataan terakhir Gaby, Bastian jadi panas-dingin sendiri harap-harap cemas apa yang akan dikatakan Gaby. Dari nada bicaranya terdengar serius.

“apa?”

“ng… apa lo.. ada rasa sama… I.. ka?” tanya Gaby ragu.

“Ika? sahabat lo itu? kenapa emang?”

“ng… dia suka sama lo sejak pertama kali kita masuk SMA. Karena itulah selama ini gue selalu marah kalo ngeliat elo. soalnya gue nilai lo Cuma php-in Ika aja. Gue juga sering ngeliat elo kayak ngasih perhatian gitu ke dia. Maka dari itu, sekarang gue pengen tau apa lo punya perasaan yang sama kayak dia?”

“yaampun, jadi beneran kata orang-orang kalo Ika suka sama gue? gue kirain itu Cuma gossip aja”

“itu beneran kok. Gimana? Apa lo juga suka sama Ika?” tanya Gaby lagi.

“gini ya Gab, gue hargain perasaan Ika. gue tau dia sahabat lo. maka dari itu gue ngga mau bikin dia sakit hati atau bikin lo marah lagi sama gue” jelas Bastian.

“gue lurusin aja sekarang. Gue emang kasih perhatian ke dia dan itu bukan Cuma ke dia aja. Gue emang selalu ngerhargain wanita karena gue nganggep wanita itu sama dengan nyokap gue. mungkin menurut gue.. Ika nya aja yang salah tanggap perhatian gue ke dia. Jujur, gue ngga punya perasaan apapun ke dia. Gue… hati gue udah yang nempati” sambung Bastian lagi dan pada kalimat terakhirnya dia menegakkan kepalanya menatap Gaby.

“siapa?” tanya Gaby. Dia mencoba memahami dan mengerti semua penjelasan Bastian. Mungkin ada benarnya juga kalau selama ini hanya Ika yang salah tanggap akan perhatian yang diberi Bastian kepadanya.

“namanya… depannya E  tengahnya L belakangnya O”

“depan E tengah L belakang O? E-L-O? elo?” tanya Gaby masih bingung.

“iya elo”

“ELO?! GUE?!” tanya Gaby kaget. Bastian mengangguk. Seketika Gaby terdiam membeku. Tak percaya.

“Gab, selama ini gue suka sama lo. gue sayang bahkan cinta sama lo. apa lo ngga pernah pikir kalau seorang pria selalu mencari masalah dengan seorang wanita, itu berarti pria itu tertarik dengan wanita itu. dia memiliki rasa yang berbeda. Gue selama ini selalu cari masalah sama lo itu karena gue pengen dapet perhatian lebih dari lo, Gab. Maka dari itu gue Cuma bisa cari-cari masalah sama lo”

“gue ngga minta lo bales perasaan gue kok. Gue Cuma mau jujur sama perasaan gue. terserah kalo lo mau bales atau engga. Cukup gue jujur sama lo itu udah bikin gue lega. Setidaknya, ngga ada lagi sesuatu yang mengganjal dihati gue”

“Bas…” ucap Gaby parau.

“iya?”

“bisa tinggalin gue sekarang sendirian?” pinta Gaby lirih. kini air mata mulai mengalir kedua pipi nya.

“Gab? Lo nangis? Maaf kalo…”

“bisa tinggalin gue sekarang? Gue butuh nenangin diri”

“oke kalo itu mau lo. gue pamit” Lantas Bastian beranjak pergi meninggalkan Gaby sendirian diruang tamu yang terasa sunyi itu.

“kenapa jadi gini? gue harus ngomong apa sama Ika? gue harus apa sekarang? ARGGHHHS” erang Gaby keras. Dari luar rumah, ternyata Bastian belum meninggalkan pelataran rumah Gaby. Dia mendengar ucapan Gaby serta erangan gadis itu. dia merasa tak tega juga melihat gadis yang dicintainya jadi seperti itu.

“maafin gue Gab karena harus jujur semuanya sekarang. Gue juga manusia yang punya batas kesabaran kalo ngeliat elo deket-deket sama cowo lain. Gue juga ngga tahan mendam semuanya sendiri” ucap Bastian lirih sambil menatap kearah pintu jati rumah Gaby seakan pintu itu adalah Gaby.

*
Sudah satu minggu berlalu semenjak Batsian mengakui perasaannya kepada Gaby itu. semenjak itu pula Gaby selalu menghindar jika bertemu dengan Bastian. Gaby pun kini lebih pendiam dan menyendiri. Akhir-akhir ini Gaby sering terlihat melamun dan tak mau diajak bergabung dengan Nadira dan Ika.

“Gaby kenapa sih Nad? Udah seminggu ini kayaknya dia uring-uringan banget” tanya Ika kepada Nadira ketika mereka memandangi tingkah Gaby dari kejauhan.

“gue juga ngga tau Ka. Semenjak waktu itu…” Nadira berbicara pelan pada kalimat terakhirnya. Dia baru ingat. Ya, dia tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.

“semenjak waktu itu apa Nad?” tanya Ika yang ternyata mendengar perkataan Nadira tadi.

“itu ngga penting. Ka, gue sekarang mau lo jawab jujur. Gimana perasaan lo sama Bastian sekarang?” tanya Nadira dengan nada dan tatapan yang serius. Dia pun juga memegangi kedua bahu Ika.

“lo kenapa sih? kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?” tanya Ika heran.

“lo ngga perlu tau. Yang penting sekarang lo harus jawab sejujur-jujurnya dari hati lo yang terdalam. Lo beneran cinta sama Bastian atau Cuma kagum sama dia? Sama kepandaian dan ketampanan dia?”

“ng… jujur, sebenernya gue Cuma terobsesi Nad sama Bastian. Gue Cuma kagum sama semua tingkah positif yang dia lakuin. Gue… sebenernya gue… udah jadian sama anak kelas sebelah” ucap Ika jujur dengan suara berbisik pada kalimat terakhirnya.

“hah? Sama siapa? Kok lo ngga bilang sih?!”

“sstt.. diem aja. Lo kenal kok, dia terkenal juga disekolah kita”

Nadira berpikir sebentar dan teringat akan satu nama yang diyakininya benar “jangan bilang kalo….”

“ehehe tuh lo tau. Pokoknya diem aja deh jangan sampe ada yang tau”

“hhh… ya udah bagus. Satu misi gue beres! Sekarang misi selanjutnya. Semangat!” Nadira langsung pergi meninggalkan Ika sendirian.

“kok pergi?”

*

Nadira berlari-lari kecil menyusuri semua koridor sekolah. Semua tempat di sekolah sudah dicari, namun orang yang dicari tidak ditemukan. Kembali dia ke kelas orang itu dan bertanya kepada teman sekelasnya.

“sakit? Sakit apa?” tanya Nadira kepada teman sekelas orang itu dan ternyata orang yang bersangkutan tidak hadir dikarenakan kabarnya sakit.

“ngga tau sih. coba lo kerumahnya aja” jawab orang yang ditanyai itu.

“lo tau rumahnya?”

“hmm.. bentar” orang itu masuk sebentar kedalam kelas lalu mengambil secarik kertas dan pulpen. Dia sedang menuliskan sesuatu sepertinya.

“nih” ujar orang itu seraya memberi secarik kertas kepada Nadira yang bisa diyakini itu adalah alamat orang yang dicari.

“ya udah. Thanks banget ya”

*

Sepulang sekolah Nadira langsung mengunjungi rumah orang itu. dia sengaja sepulang sekolah langsung menuju rumah orang itu karena dia ingin semuanya selesai sekarang juga. Dia tidak tega melihat sahabatnya yang semula periang menjadi pemurung seperti sekarang. Ika yang dari tadi sibuk bertanya-tanya kepada Nadira ada apa, tak dihiraukan oleh Nadira.

Kini Nadira sudah sampai didepan rumah yang dituju. Dengan segenap keyakinan dia masuk melangkah ke pekarangan rumah yang luas itu.

TOK TOK

Nadira mengetuk pintu besar yang digunakan sebagai pintu masuk utama rumah ini. terdengar dari dalam derap langkah seseorang yang tergopoh-gopoh membukakan pintu.

“iya siapa?” tanya ibu-ibu yang baru saja keluar membukakan pintu Nadira.

“saya temen nya Bastian. Bastian nya ada Bi?” tanya Nadira kepada ibu-ibu tua yang Nadira yakini pembantu rumah tangga dirumah itu.

“oh ya. Ada kok mbak, den Bastian lagi dikamarnya. Badannya tadi pagi panas dingin trus ngigau nyebut-nyebut nama… Gab… Gab… Gaby. Nah iya mbak namanya Gaby kalo ngga salah”

‘ngga salah lagi dugaan gue’ batin Nadira semakin yakin.

“trus gimana keadaan Bastian sekarang Bi?”

“ya gitu deh mbak dia tadi lagi tidur. Udah beberapa hari ini dia sering melamun terus mbak, saya jadi ngga tega sama dia. Kayaknya dia lagi ada masalah besar gitu”

‘bener kan’ batin Nadira.

“hm.. boleh saya jenguk Bastian Bi?”

“noleh mbak boleh. Mbak naik aja keatas trus liat pintu yang tulisannya ‘Bastian”

“ohgitu. Yaudah Bi saya liat Bastian dulu ya Bi. Makasih” lantas Nadira mulai beranjak naik ke tangga dan mencari kamar Bastian. Tak sulit bagi Nadira untuk mencari pintu yang bertuliskan ‘Bastian’. Nadira kini sudah berdiri didepan pintu kamar Bastian. Diketuknya beberapa kali. Ternyata ada sahutan dari dalam walaupun hanya deheman saja.

“Bas…” sapa Nadira ragu. Dilihatnya Bastian sedang duduk ditepi kasurnya memandang jauh keluar jendela. Mendengar sapaan Nadira, Bastian berbalik badan. Dia kaget melihat Nadira lah yang berada diambang pintu kini.

“lo.. lo Nadira kan? Sahabatnya Gaby?” tanya Bastian. Nadira mengangguk. Lalu mulai mendekati Bastian.

“lo tau dari mana rumah gue?” tanya Bastian lagi.

“lo ngga perlu tau gue dapet alamat lo dari mana. Hm.. lo sakit apa?” tanya Nadira berbasa-basi.

“sakit biasa aja kok demam biasa sama… sakit hati” jawab Bastian pelan.

“hhh… kayaknya gue harus ngomong langsung sama lo deh”

“maksud lo?”

“gue mau tanya, ada masalah apa antara lo dan Gaby?”

“k..kok… kok lo nanya gitu? Bukannya lo tau kalo selama ini gue emang sering berantem sama dia?”

“kalo itu gue juga tau kali. Minggu kemaren gue liat kalian pulang bareng pas hujan. Nah, semenjak itu Gaby jadi pemurung, pendiem, ngga kayak Gaby yang dulu. Dan gue liat Gaby pun selalu ngehindar kalo tiap ketemu sama lo. jadi.. apa yang terjadi setelah lo nganterin Gaby pulang waktu itu?”

Bastian tampak ragu untuk menjawab yang sesungguhnya. Namun dia ingin semuanya selesai. Lebih baik dia jujur kepada Nadira saat ini agar dia bisa meminta solusi kepada Nadira berhubung Nadira sahabat Gaby.

“gue suka sama dia. Gue sayang sama dia. Gue cinta sama dia. Gue selama ini suka Nad sama Gaby. Maka dari itu gue selalu cari masalah sama dia biar gue dapet perhatian dari dia. Dan waktu gue nganterin Gaby pulang, gue jujur sama dia tentang perasaan gue. disana jug ague tau kalo sahabat lo… Ika suka sama gue. dan ngga tau kenapa tiba-tiba Gaby nyuruh gue buat pulang tinggalin dia sendiri. Gue bingung Nad sama dia”

“hhh… ya jelas Gaby uring-uringan kayak gitu lah. Gue yakin Gaby itu juga cinta Bas sama lo. tapi dia ngga mungkin nerima lo gitu aja. Gaby itu sahabat yang baik buat gue sama Ika. maka dari itu Gaby ngga mau nyakitin hati Ika dengan dia berpacaran sama lo”

“lo serius Gaby juga cinta sama gue?”

“menurut gue sih gitu. Soalnya semenjak lo anterin dia pulang, besoknya sifat dia langsung berubah 180 derajat. Kalo dia ngga punya perasaan apa-apa sama lo, ngga mungkin dia uring-uringan kayak gini sekarang”

“trus.. gue harus apa?”

“lo ngga harus ngelakuin apapun kok. Lo cukup siapin kata-kata buat nyatain perasaan lo lagi ke Gaby dan cukup dateng besok ke taman sekolah. Biar gue sama Ika yang ngatur semuanya”

“maksud lo? Ika? bukannya Ika… suka sama gue? masa iya dia mau nolongin gue buat nyatain cinta ke Gaby? Ah ngga ah! Gue ngga mau nyakitin hati cewe lagi”

“Bastian.. Ika itu Cuma kagum sama lo. dia Cuma terobsesi sama lo. lagian dia juga udah punya pacar kok. Biar gue nanti yang kasih tau ke Ika tentang semua ini dan juga rencana besok. Lo tinggal beres aja. Okey?”

“hhh… gue percaya aja deh sama lo”

*

Sesuai janji, Bastian sudah berada di taman sekolah menunggu kedatangan Gaby. Sesuai informasi dari Nadira tadi pagi, dia sudah menjelaskan semuanya kepada Ika dan ternyata Ika sangat mendukung begitu tahu rencana ini.

Sejujurnya, Nadira juga memiliki perasaan kepada Bastian. Tetapi dia tahu, orang yang dicintainya telah mencintai glain dan itu sahabatnya sendiri. Dia tidak boleh egois. Dia tidak bisa memaksakan cinta begitu saja. Bisa saja dia memaksa Bastian untuk menjadi kekasihnya. Namun dia tidak tega jika nantinya hati pria itu tersiksa menjalani hubungan dengannya. 

“Ika sama Nadira mana sih? kataya disini” Bastian dapat mendengar suara gadis yang sangat dikenalnya. Yap, gadis itu adalah Gaby.

“Gab..” panggil Bastian.

“Bastian?” kaget Gaby. Dia baru saja ingin kabur dari Bastian, namun kali ini pria itu tidak mau kehilangan kesempatan ini. dengan cekatan dia menahan tangan gadis itu.

“please jangan hindarin gue kayak gini Gab. Gue ngga sanggup kalo harus ngeliat lo ngejauh dari gue seakan-akan lo memendam benci yang terdalam sama gue” lirih Bastian.

“apa? ngga sanggup? Trus kenapa waktu kita dulu sering berantem lo nya sanggup-sanggup aja? Apa bedanya sih dulu sama sekarang? Anggap aja sekarang kita musuhan kayak dulu lagi” jawab Gaby dengan nada sinisnya. Bastian yakin, nada bicara seperti itu hanya bohong belaka Gaby saja.

“engga Gab gue ngga bisa. Gue cinta sama lo. gue pengen ngejagain lo selalu disamping gue. gue ingin lo jadi milih gue Gab. Please kasih gue kesempatan?”

“lo ngomong apa sih? ngelindur lo?”

“Gab, please..” Bastian menatap tajam mata Gaby. Gaby dapat melihat mata elang pria itu yang sangat terpancar keseriusannya.

“please Bas jangan bikin gue kayak gini. lo harus ngertiin gue. gue ngga bisa karena gue….” Gaby sudah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air mata mulai mengalir dikedua pipi nya. entah sejak kapan gadis ini menjadi gadis penangis tapi hanya satu yang dia tahu. Semua ini hanya karena Bastian seorang.

“karena apa? lo ngga tega sama Ika? gue ngerti Gab kalo lo ngejaga perasaan sahabat lo. tapi apa lo ngga bisa ngertiin perasaan gue? apa lo mau gue jadian sama Ika tapi hati gue kesiksa? Raga gue boleh aja lagi sama dia, tapi jiwa gue? engga Gab. Jiwa gue itu elo”

“engga Bas, please.. lepasin gue. bebasin gue buat ngelupain lo”

“ngga! Gue ngga mau kehilangan lo”

“Bastian bener Gab” ucap Ika dan Nadira tiba-tiba yang muncul bersama.

“Ika? Nadira? lo.. kalian…”

“terima Gab cintanya Bastian. Dia cowo yang baik. Dia tulus cinta sama lo. masalah gue.. lo ngga usah pikirin. Gue udah relain lo sama Bastian kok dan lagian… gue juga udah punya pacar hehe” lanjut Ika.

“Ka.. lo… lo serius?”

“iya. Apa lo tega ngeliat cowo yang lo cinta malah kesiksa kalo jadian sama gue?” tanya Ika dengan nada yang menggoda.

“ih.. apa sih” elak Gaby dengan wajah malunya.

“kalo cinta jangan gengsi” goda Nadira.

“gimana Gab?” tanya Bastian.

“gimana apanya?” tanya Gaby pura-pura bingung.

“lo… terima cinta gue atau engga?”

“maunya?”

“menurut lo?” Bastian melangkah agar mendekat dengan Gaby. Tatapan mereka tak lepas.

“lo maunya gimana?” Gaby juga mendekatkan badannya.

“gue mau lo terima cinta gue” semakin dekat. Kini wajah mereka pun juga ikut mendekat. Nadira dan Ika yang melihat itu secara langsung sudah menutup-nutup mata.

“ya udah”

“ya udah apa?” semakin dekat.

“gue terima cinta lo” mereka mendekatkan wajah mereka. perlahan mereka memiringkan wajahnya dan mulai menutup mata. Nadira dan Ika ketakutan melihat kejadian itu. langsung saja mereka berlari dan berteriak “AAAAAAAAA…..” sontak Gaby dan Bastian tersentak membuka mata dan menjauhkan wajah masing-masing. Mereka malu. Mereka tidak sadar ternyata masih ada Nadira dan Ika disana. Mereka saling tatap sebentar lalu terkekeh kecil sambil malu-malu.

*

Cinta suatu rasa yang tidak bisa dibohongi.
Cinta tumbuh tak memandang waktu.
Cinta ibaratkan bom yang semakin lama semakin meledak.
Cinta semakin lama dipendam, semakin hati kita memberontak untuk mengakuinya.
Tak ada manusia yang tak memiliki cinta.
Tak ada cinta, bagai sayur tanpa garam


END



ITU KATA-KATA PUITIS TERAKHIRNYA BENERAN NGGA ADA ROMANTIS-ROMANTIS NYA GUYS!!! HAHAHA RANDOM BANGET EMANG! Sayur aja pake masuk segala tuh kedala  puisi nya haha aneh ya aku? ah biarin aja yang penting usaha :p Maaf kalo ngga jelas. Kan aku udah bilang dari awal mohon dimaapin kalo endingnya random, ngga jelas arah dan tujuan. Mungkin kalo ada waktu dan diberkahi ide yang lebih cemerlang lagi, aku bakalan lanjutin ini cerpen biar endingnya jelas haha yang penting sekarang cerpen yang ini udah END! Ngga tau deh kedepannya beneran bakal aku lanjutin lagi atau engga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar