Sabtu, 11 Januari 2014

Rival In Love *21


Sore ini Redbag dan Blink sengaja kembali dikumpulkan untuk menghadiri rapat tentang kontrak kerja mereka yang sama-sama saling menguntungkan bagi satu-sama-lain ini.

“ada apa bos kita dikumpulin gini?” tanya Gabriel berani tak berani kepada Big Boss nya karena dia leader disini. Terdengar jelas suara ketegangan dari nada bicara Gabriel. kali ini Big Boss Blink tidak dapat hadir karena ada acara penting.

“tenang dulu tenang. Kamu ngga usah terlalu tegang. Saya kesini Cuma mau memberi sedikit info dan sedikit instruksi untuk kalian. Dan juga memberi sedikit hadiah kepada kalian semua karena sudah berhasil meyakinkan masyarakat atas hubungan kalian ini” ujar Pak Tama –Big Boss Redbag- dengan nada ramah. Tersirat juga nada kesenangan didalamnya.

Redbag heran. Tak biasanya big boss mereka ini seperti ini. bahkan sekarang Pak Tama juga menampakkan senyum nya. tak biasanya Pak Tama memperlihatkan senyumnya seperti itu bahkan bisa terbilang beliau tak pernah senyum.

“haaah hadiahnya nanti saja saya beritahu. Sekarang saya mau kasih pengumuman ke kalian semua bahwa lusa kita akan mengadakan konferensi pers soal hubungan kalian ini”

“lusa?!” kaget mereka semua serentak.

“i.. i..ya, lusa. Ada apa?” tanya Pak Tama bingung.

“ngga kecepetan bos?” tanya Pricilla.

“loh? Bukannya lebih cepat lebih baik? Pokoknya lusa kalian saya tunggu diruang pertemuan dan kalian harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa kalian benar-benar sudah berpacaran. Saya ngga mau tau gimana cara kalian yang saya mau kalian harus meyakinkan semuanya. Mengerti?”

“ngerti bos” serempak semuanya.

“trus hadiah kata bos itu apa?” tanya Cakka dengan wajah mupengnya.

“kamu ini. denger hadiah aja cepet” Cakka hanya balas dengan cengiran sedangkan redbag yang lain dan blink hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Cakka yang selalu terlihat konyol itu.

“ya udah langsung saja saya kasih tau berhubung saya ada janji yang lain. Sepulang konferensi pers kalian langsung pergi liburan ke Korea. Saya sudah pesankan tiket untuk kalian semua. Jadi malam sebelum konferensi pers kalian sudah harus packing semua keperluan kalian selama seminggu nanti disana”

Mendengar nama Korea tempat para boyband dan girlband mendunia Diana, Blink langsung berlonjak senang karena sudah terbayang akan bertemu dengan idola boyband /girlband mereka. redbag bergidik ngeri melihat kelima cewe-cewe itu kegirangan tanpa batas seperti itu.

“ngeri gue” bisik Alvin kepada Rio.

“iya ketawa nya kayak nenek lampir” balas Rio juga berbisik. Sedangkan Pak Tama sudah geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah kelima cewe itu.

“besok kalian libur sekolah. Saya yang akan urus surat izin kalian semua” lanjut Pak Tama memecahkan kesenangan anak-anak Blink.

“loh? Kan konferensi pers sama ke Korea nya besok lusa bos” tanya Debo heran.

“besok itu siang nya kalian harus atur semua skenario untuk konferensi pers nya. dan sehabis itu kalian harus pergi beli perlengkapan untuk ke Korea bareng-bareng”

“bentar bos bentar. Yang.. pas kita atur skenario itu bos juga hadir kan?” tanya Gabriel.

Pak Tama menggelengkan kepalanya “engga. Saya ada urusan lain jadi kalian saja yang atur semuanya. Saya percayakan kepada kalian”

“lah kok gitu bos? Kalo ternyata skenario yang kita atur ngga sesuai sama yang bos inginkan gimana?” protes Rio.

“pokoknya saya serahkan semuanya kepada kalian” tegas Pak Tama.

“bos maksud bos yang pergi beli keperluan ke Korea bareng-bareng itu… kita bersepuluh kan yang pergi?” tanya Shilla kini buka suara.

“siapa bilang? Maksud saya itu.. kalian berpasangan yang pergi. Contohnya kamu dengan… Gabriel. kalian pasangan kan? Nah jadi kalian berdua yang pergi bareng. Gitu maksud saya” jelas Pak Tama. Redbag dan Blink semakin menganga. Mereka yakin kesialan mereka akan bertambah besok.

“oh iya kalian tadi kesini sama pasangan masing-masing kan?” tanya Pak Tama. Redbag dan Blink emngangguk lemah. Memang, tadi mereka datang bersama pasangan masing-masing. Seperti perjanjian, Redbag menjemput Blink.

“bagus. Ya sudah kalian lanjutkan saja pendekatan satu sama lain. Siapa tau kalian bisa berpacaaran sungguhan” Pak Tama terkikik kecil dan langsung pergi meninggalkan ruangan rapat. Takut akan dihabisi oleh anak didik nya itu. Pak Tama memang pemimpin yang tegas dan ditakuti semuanya. Tetapi jika dia sedang senang atau puas dengan kinerja anak buahnya, dia pasti akan terlihat akrab seperti teman.

Redbag geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah pimpinan mereka itu yang terkadang masih seperti anak remaja .

*

Kini Redbag dan Blink sedang berada diparkiran kantor. Rencana akan pulang sepertinya diundur dulu.

“gimana kalo kita atur aja semuanya sekarang buat konferensi pers lusa? Jadi besok kita tinggal pergi siapin keperluan buat ke Korea aja. Gimana?” usul Gabriel yang langsung disetujui oleh personil Redbag lainnya dan juga Blink.

“ya udah kita atur semuanya dirumah gue aja” ucap Shilla yang langsung diangguki semuanya. Seteah itu mereka masuk kemobil masing-masing menuju rumah Shilla.

*

Kelima pasang anak remaja ini kini sedang sibuk memikirkan apa saja yang akan mereka siapkan untuk acara lusa semenjak 2jam yang lalu. Yap, sejak 2 jam yang lalu mereka sudah sampai dirumah Shilla dan langsung menyusun semuanya. Ternyata semuanya tidak semudah yang mereka pikirkan. Banyak hal yang harus mereka pikirkan bagaimana resiko setelah kedepannya.

“jadi gimana? Kalo kita lakuin sesuai sama usul Alvin tadi, bisa-bisa nanti beberapa bulan lagi semuanya bakal curiga atau bisa kurang dari waktu yang diperkirakan” ucap Rio bukan suara karena semuanya sudah terkapar lemah disofa ruang tamu Shilla. Pricilla, Sivia, Shilla dan Ify sudah bersandar disofa sedangkan Gabriel, Alvin, Debo dan Cakka sudah selonjoran dilantai. Mereka sudah angkat tangan untuk mengatur semuanya. Hanya Rio dan Febby yang masih semangat berpikir.

Tiba-tiba Febby mendapat pencerahan diotaknya “nah!” ucap Febby tiba-tiba keras yang mengagetkan semuanya.

“kenapa sih Feb teriak-teriak? Kalo ad aide sih juga gapapa” protes Sivia.

“nah iya itu maksudnya! Aku ada ide!” jawab Febby riang. Mendengar nada bicara Febby yang seperti itu, semuanya berharap rencana Febby yang ini dapat diharapkan untuk konferensi pers lusa. Sontak mereka langsung terbangun semangat dan mendekat ke Febby. Febby mulai menjelaskan bagaimana rencana yang baru saja didapatnya itu. sepertinya rencana Febby lebih logis, berguna dan sangat menyelamatkan nasib mereka kedepannya. Mereka berkoor setuju setelah Febby selesai menjelaskan semuanya.

Bersambung…

Maaf ya pendek hehe cerbung-cerbung aku emang pendek semua ya?:( maklum.. kan aku ngga berbakat-bakat bgtt. Sebenernya ide aku masih ada nih buat ngelanjutin part 21 ini. tapi… aku gantung dulu deh biar semuanya makin penasaran :p kalo aku lanjutin semuanya di part 21, ntar ngga surprise lagi haha mungkin di part 22 atau 23 atau 24 deh bakalan lebih seru hihi semoga aja 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar