Ini hidupku.
Hidup yang sangat menyiksaku. Aku hidup disebuah keluarga sederhana. Aku masih
memiliki keluarga yang lengkap. Papa, mama dan seorang kakak perempuan yang
lebih tua 4tahun dibandingku.
Pasti kalian
bertanya-tanya, mengapa aku menyebut bahwa ‘hidup
yang sangat menyiksaku’? padahal aku memiliki keluarga yang lengkap, bahkan
semuanya masih sehat-sehat saja.
Aku Alyssa
Saufika Umari yang biasa disapa Ify. Aku hanya seorang gadis remaja yang
berusia 15tahun. Kini aku baru duduk dibangku kelas 1 SMA. Hidupku tidaklah
sama dengan anak-anak remaja seumuranku yang biasanya selalu duduk di Mall
bersama teman-teman atau di Café. Anak-anak remaja seumuranku biasanya dapat
menikmati masa remajanya dengan diberi kebebasan oleh orangtua mereka untuk pergi
bersama teman-teman mereka. Atau bahkan mereka dapat merasakan kehangatan kasih
sayang keluarga mereka dari sewaktu kecil dan mereka selalu dapat diberikan
apapun yang mereka mau.
Itu hidup
mereka. Bukan hidupku. Hidup mereka berbeda 180 derajat dari kehidupanku. Aku
bukanlah anak remaja yang selalu duduk-duduk di Mall atau Café bersama
teman-temanku. Aku hanya gadis remaja yang sepulang sekolah harus segera cepat
sampai di rumah. Setelah itu, tidak ada bagiku untuk keluar rumah bermain
bersama teman-temanku. RALAT. Bukan ‘bagiku’
sebenarnya, namun itu keinginan bahkan tuntutan dari orangtuaku yang lebih
tepatnya papaku.
Aku bukanlah
anak remaja yang dapat merasakan hangatnya kasih sayang sebuah keluarga atau
bahkan anak remaja yang selalu diberikan apapun yang aku mau. Sedari kecil,
yang aku rasakan hanyalah sebuah kekerasan didalam keluarga. Bahkan hingga aku
berumur 15tahun seperti sekarang ini.
Dari kecil,
aku memang seorang anak yang penurut dan patuh. Setiap aku meminta sesuatu
kepada orangtuaku, mereka selalu berkata “tunggu kalo kita ada rezeki”. Akupun
tidak mengerti akan kondisi keuangan keluargaku. Maka dari itu aku tidak pernah
memaksakan kehendakku. Tak lama setelah itu, kakak ku meminta barang yang
harganya jauh lebih mahal dibanding barang yang aku minta. Bahkan harganya
mencapai 3juta.
Awalnya kedua
orangtua ku tak ingin membelikannya dengan alasan yang sama. Tunggu jika ada
rezeki. Tetapi karena kakak ku tak pengertian dan terus memaksa, akhirnya
orangtuaku membelikannya.
Pada saat itu,
aku merasa bahwa orangtuaku sudah memperlakukan ku secara tidak adil, mereka
rela mengeluarkan uang mereka demi kakak ku, padahal sewaktu itu keluarga ku
sedang dilanda masalah ekonomi. Sedangkan untuk ku, mereka tidak mau berkorban.
Ah… aku tidak mau berprasangka buruk. Pikirku saat itu. Seiring berjalannya
waktu, pemikiranku pada saat itu sepertinya ada benarnya juga karena aku merasa
semakin diperlakukan tidak adil. Pekerjaan rumah diberikan kepadaku. Apapun
selalu aku. Bahkan aku sedang tidur pun dibangunkan hanya untuk pergi ke
warung.
Terkadang aku
berpikir. Mengapa aku harus terlahir dikeluarga ini? mengapa harus aku yang
merasakan semua ini? apa aku bukan anak kandung dikeluarga ini?
Sempat
terlintas dibenakku berharap bahwa seorang ayah diluar sana yang bekerja
diruangan ber-AC, memakai pakaian berdasi dan berkemeja, memiliki mobil mewah
dan seorang istri yang bergaya ‘wah’ itu adalah keluarga kandungku yang
sebenarnya. Dan mengatakan bahwa keluargaku saat ini bukanlah keluarga
kandungku. Tapi kenyataan yang ada berkata lain. Mimpi tetaplah hanya mimpi.
Angan tetaplah menjadi kenangan. Inilah keluargaku yang sesungguhnya.
Keluargaku saat ini lah keluarga kandungku.
Namun begitu,
aku tidak pernah menginginkan keluargaku saat ini pergi jauh dari kehidupanku.
Aku sayang mereka. Papa, Mama, dan Kakak ku. Aku ingin mereka selalu ada
disampingku.
END
Haaah ini cerita emang random banget haha aku sendiri
bingung ini sebenernya termasuk kategori cerpen atau gimana. Dialog aja ngga
ada didalam cerita ini HAHA random yeaa. Ini karena efek suntuk, bosen, gabut
makanya aku bikin ini. berdasarkan apa yang dialami temen aku. ya kira-kira
beginilah hidup dia :’) udahlah ya, yang penting nikmatin aja cerita aku yang
super super random dan singkat ini hahaha byeee.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar