Hello
guys. kali ini aku bakalan posting cerpen yang bener-bener cerpen hehe ini
sebenernya cerpen request dari salah satu readers aku. konsep nya pun dia yang
minta dan tugas aku Cuma tinggal jabarin konsep itu menjadi sebuah cerpen
yeaay!! Walaupun endingnya nanti agak ngga jelas, random atau apalah itu. mohon
dimaklumi haha ini kali pertamanya aku bikin cerpen. Aku memang tidak berbakat
nulis cerpen guysL Dengan
segenap kemampuan yang aku punya *asek* akhirnya cerpen inipun selesai. Walaupun
kali ini castnya bukan icil, tapi semoga kalian suka ya ^^
*
“hahahahaha” tawa ketiga gadis remaja ini meledak hingga
kepenjuru kantin. mereka bertiga adalah Nadira, Gaby dan Ika. Entah apa yang
sedang mereka perbincangkan sehingga tawa mereka begitu membahana hingga
terdengar keseluruh penjuru kantin.
Nadira dan Gaby sudah bersahabat dari kecil.
Dan ketika masuk SMA, mereka bertemu dengan Ika dan kini mereka bertiga
bersahabat.
“guys guys.. liat tuh” ucap Ika menghentikan
tawa kedua sahabatnya ketika melihat seorang cowo dengan senyum manisnya tengah
berjalan kearah kantin bersama temannya. Ika tak hentinya menatap kearah cowo
itu yang sedang beramah tamah dengan orang-orang yang menyapanya. Memang, cowo
itu banyak digemari siswi-siswi.
Nadira dan Gaby memutar kepala kearah tunjuk
Ika tadi berhubung Nadira dan Gaby duduk membelakangi pintu masuk kantin.
bermacam ekspresi yang dinampakan kedua orang itu. yang satu menatap cowo itu
sinis dan satu lagi menatap cowo itu seperti…. Entahlah. Hanya dia sendiri yang
tahu.
“ck… si cowo rese lagi” Gaby berdecak sinis
ketika cowo itu melewati meja kantin mereka. seperti merasa tersindir, si cowo
itu berhenti dan balik menatap sinis kearah Gaby. Gaby tak kalah sinis nya
menatap cowo itu. sedangkan Ika sudah menatap cowo itu dengan tatapan kagum.
Nadira… diam saja.
“lo bilang apa tadi?!” geram cowo itu yang
bernama Bastian.
“gue bilang co-wo re-se” jawab Gaby dengan
penuh penekanan.
“lo bilangin gue rese hah?!” Bastian semakin
kesal dengan tingkah Gaby yang selalu cari ribut dengannya.
“lo ngerasa? Ya bagus deh” sahut Gaby santai
sambil menyeruput jus jeruk nya tanpa beban.
“lo ya….” Baru saja Bastian ingin
memarah-marahi Gaby lebih lanjut, temannya sudah melerai duluan.
“udahlah Bas, ngapain lo berantem sama cewe?
Malu-maluin aja” lerai teman Bastian. Bastian berpikir sebentar lalu beralih
menatap Gaby lagi.
“awas lo. hidup lo ngga bakalan selamat
ditangan gue” ancam Bastian sebelum pergi hingga dia benar-benar berlalu dari
hadapan 3sahabat itu.
“kenapa sih lo ngga pernah damai sama Bastian?”
tanya Nadira heran dengan tingkah temannya yang satu itu.
“gue? damai sama si rese itu? ngga bakalan!
Dari awal gue sekolah disini gue udah bertekad ngga bakalan damai sama dia”
“udah lah Gab, damai aja sama Bastian. Dia
orangnya baik kok, ngga kayak yang lo liat” kini Ika kembali buka suara setelah
sadar dari keterkagumannya akan kegantengan Bastian.
“baik? Mungkin itu menurut lo yang udah cinta
mati kebelet mampus sama dia. Tapi bagi gue, cowo rese kayak dia tetep RE-SE!”
jawab Gaby penuh kekesalan. Nadira dan Ika tak bisa berkata-kata lagi. jika
sudah seperti ini, Gaby susah untuk ditenangkan. Mereka sudah cukup hafal
dengan sifat Gaby, tepatnya sifat mereka satu sama lain.
*
Bel pulang sudah berbunyi. Semua murid satu per
satu sudah meninggalkan kelas masing-masing. Kecuali 3sahabat ini. siapa lagi
kalau bukan Nadira, Gaby dan Ika? mereka sibuk mendengarkan curhatan Ika yang
bagi Gaby sama sekali tidak penting itu.
“….. trus ya habis kejadian lo sama dia di
kantin tadi Gab, gue liat dia main basket. Aaa cool banget. Aura ganteng nya
itu terpancar” Ika dengan semangatnya menceritakan Bastian yang tadi bermain
basket dilapangan. Bastian memang bintang basket disekolahnya.
“nah trus….” Baru saja Ika ingin melanjutkan
curhatannya tentang pujaan hatinya itu, handphone nya berdering menandakan ada
telfon masuk. Segera dia merogoh sakunya dan mengambil handphone nya.
“iya pak? Oh iya bentar…” KLIK. Ika memutuskan
sambungan telfonnya.
“guys gue duluan ya. Supir gue udah jemput.
Byeee” Ika langsung berlalu pergi meninggalkan kelas karena baru saja mendapat
telfon dari supirnya bahwa sang supir sudah di depan sekolah.
“huft… heran gue sama tuh anak. Udah
jelas-jelas Bastian itu pernah nge-phpin dia. Eh masih aja dia tergila-gila
sama tuh anak” heran Gaby.
“nama nya juga cinta. Cinta itu buta. Ya itu
deh si Ika korban kebutaan cinta” sahut Nadira. Gaby geleng-geleng kepala
heran.
“eh iya lo pulang sama apa?” tanya Nadira.
“paling sendiri lagi. supir ngga bisa jemput
lagi nih” jawab Gaby lemah teringat bahwa dia akan pulang sendiri lagi kali
ini.
“yakin lo? ngga bareng gue aja? Mau hujan loh
ini”
“hmm.. ngga usah deh makasih. Ya udah gue
duluan ya Nad, ntar keburu ngga dapet Bis atau angkot” Gaby bangkit berdiri
sambil menyandang tas nya.
“ya udah hati-hati ya”
*
Ternyata benar apa kata Nadira. Kini air mata
langit itu sudah menyelimuti bumi dengan derasnya. Untung saja Gaby sampai di
halte sebelum hujan deras sehingga tubuhnya sekarang hanya basah sedikit akibat
gerimis tadi.
Gaby menggosok-gosok kedua lengannya yang
terasa dingin lalu beralih menggosokan kedua telapak tangan agar terasa lebih
panas;. Ketika sedang menelungkupkan telapak tangannya ke pipi, ternyata sebuah
jaket berwarna biru langit tengah tersampir dibahu nya. Gaby tersentak kaget.
Di tatapnya sebentar jaket yang kini sudah
bertengger tenang dibahu nya itu lalu beralih menatap kesamping kanan nya
mencari tahu siapa orang berbaik hati yang sudah meminjamkannya jaket itu. keterkagetan
Gaby semakin bertambah ketika melihat siapa yang sudah menyampirkan jaket itu
kebahu nya. seorang cowo yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya.
“ngapain lo hujan-hujanan disini?” tanya cowo
itu yang tak lain adalah Bastian tanpa menatap ke Gaby sedikitpun tetapi malah
menatap lurus kedepan kearah jalanan. Seperti ada sesuatu yang menarik disana.
Gaby tidak menjawab pertanyaan Bastian itu. dia
masih sibuk dengan pikirannya. Merasa tidak diacuhkan, kini Bastian beralih
menatap Gaby. Gaby tersentak kaget ketika pandangan mereka berdua beradu.
Terjadi tatap-tatapan antara keduanya selama beberapa menit, ada sesuatu yang
berdesir dihati Gaby ketika menatap mata itu sampai akhirnya Gaby tersadar.
“eh.. hm.. ngapain lo disini?” tanya Gaby
dengan nada gugupnya namun masih tersirat nada jutek didalamnya dan mencoba
mengalihkan pandangan kearah lain agar tidak terjadi lagi kontak mata seperti
tadi.
“ehem.. nunggu hujan reda. Nah lo sendiri
ngapain masih disini?” jawab dan tanya Bastian balik. Kali ini Bastian menjawab
pertanyaan Gaby itu dengan nada biasa dan dengan sebuah senyuman yang
mengandung sebuah arti yang bermakna didalamnya.
“ng.. sa.. sama kayak lo. sekalian nunggu bis”
jawab Gaby kini dengan nada biasanya namun masih terdengar tegang.
“oh…”
Terjadi keheningan selama beberapa saat.
Canggung. Itulah suasana disana saat ini karena hanya mereka berdua yang sedang
berada dihalte.
“ng… btw, thanks jaketnya” Gaby mulai buka
suara mencoba mencairkan suasana.
“eh iya santai aja lagi. lagian lo kayaknya
kedinginan banget” jawab Bastian seraya menggosok-gosokan kedua lengannya
karena kini dia mulai merasa kedinginan. Gaby sadar akan gerak-gerik Bastian
itu yang bisa dipastikan cowo itu kini sedang kedinginan.
“lo… kedinginan ya?” tanya Gaby.
“iya nih hujannya ngga bersahabat banget” jawab
Bastian masih sambil menggosok-gosokan lengannya.
“ya udah ini jaketnya lo aja yang pake. Gue
udah gapapa kok” Gaby langsung melepas jaket Bastian yang tadi tersampir
dibahunya.
“eh ngga usah…” Bastian langsung menahan tangan
Gaby yang sedang memegang jaketnya. Tanpa sengaja, Bastian menggenggam tangan
Gaby. Mereka berdua sontak kaget namun kembali terjadi kejadian saling pandang
seperti tadi. Tak mau perasaan yang selama ini susah-susah disangkalnya itu
kembali lagi dan malah semakin dalam, Gaby langsung melepas pandangannya dari
mata Bastian. Bastian pun akhirnya ikut tersadar.
“eh.. ehem.. ng.. hujannya udah berenti nih.
Lo.. mau gue anterin ngga?” Gaby berpikir sebentar. Tak ada salahnya dia
menerima tawaran Bastian. Toh, sedari tadi dia berdiri dihalte, tak ada satupun
bis yang kosong.
“Hmm.. ya udah boleh deh”
“ya udah bentar gue ambil motor dulu” Bastian
langsung berlari kedalam sekolah tepatnya keparkiran untuk mengambil motornya.
Gaby mengangguk menyetujui.
TIIN TIIN
“ayo naik” ucap Bastian sesampainya dihalte
menghampiri Gaby. Gaby mengangguk lalu langsung naik ke motor Bastian. Dari
kejauhan, seseorang menatap kepergian Bastian dan Gaby dengan sayu.
“dari dulu gue udah yakin kalo kalian punya
perasaan yang sama” lirih orang itu.
*
“thanks Bas udah anterin gue” ucap Gaby setelah
sampai didepan rumahnya dan turun dari motor Bastian.
“iya sama-sama”
“hm.. lo ngga mau mampir dulu? Biar gue bikin
teh panas biar badan lo ngga kedinginan lagi”
Bastian berpikir sebentar lalu menjawab “boleh
deh”
Mereka masuk ke rumah Gaby. Gaby mempersilahkan
Bastian untuk duduk dulu di ruang tamu sedangkan Gaby pergi ke dapur untuk
membuatkan teh untuk Bastian dan juga dirinya.
“nih diminum dulu” sapa Gaby ketika sampai
diruang tamu sambil membawa segelas teh panas.
“eh iya thanks” ucap Bastian lalu menggapai
gelas pemberian Gaby dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.
Gaby menatap Bastian seperti… entahlah. Dia
sibuk dengan pikirannya saat ini. bagaimana caranya dia memulai mengutarakan
niat baiknya.
“hmm…” gumam Gaby dan Bastian serentak.
“eh lo dulu aja” sambung Gaby cepat.
“ngga. Lo dulu aja, ladies first”
“hmm.. gini. lo ngerasa capek ngga berantem
mulu sama gue tiap hari tiap ketemu? Ya.. maksud gue, apa lo ngga mau kalo
kita…”
“berdamai. Ya, siapa juga sih yang suka kayak
gini? malahan gue juga mau ngomong soal ini ke elo. Gue mau mulai sekarang kita
lupain dendam kita. Mulai semuanya dari awal dengan baik-baik” potong Bastian
cepat.
“oke, deal. Mulai sekarang kita temen ya?” Gaby
mengacungkan kelingkingnya meminta Bastian untuk ikut menautkan kelingkingnya
juga. Bastian bingung ingin menjawab apa. sebenarnya, bukan ini yang
diharapkannya. Heran karena Bastian tak kunjung menyambut ulurannya, Gaby
menurunkan tangannya.
“kenapa? Lo ngga mau temenan ya sama gue?”
tanya Gaby dengan suara lirihnya.
“bu.. bukan gitu Gab. Gu.. gue..”
“gapapa kok kalo lo ngga mau jadi temen gue”
“bukan gitu… okedeh gue mau jadi temen lo”
“beneran?”
“i.. iya”
“thanks Bas. Mulai sekarang, ngga ada
musuh-musuhan lagi. ngga ada perang mulut dikantin lagi dan lain-lainnya. Oh
iya satu lagi. gue mau ngomong sesuatu sama lo” mendengar perkataan terakhir
Gaby, Bastian jadi panas-dingin sendiri harap-harap cemas apa yang akan
dikatakan Gaby. Dari nada bicaranya terdengar serius.
“apa?”
“ng… apa lo.. ada rasa sama… I.. ka?” tanya
Gaby ragu.
“Ika? sahabat lo itu? kenapa emang?”
“ng… dia suka sama lo sejak pertama kali kita
masuk SMA. Karena itulah selama ini gue selalu marah kalo ngeliat elo. soalnya
gue nilai lo Cuma php-in Ika aja. Gue juga sering ngeliat elo kayak ngasih
perhatian gitu ke dia. Maka dari itu, sekarang gue pengen tau apa lo punya
perasaan yang sama kayak dia?”
“yaampun, jadi beneran kata orang-orang kalo
Ika suka sama gue? gue kirain itu Cuma gossip aja”
“itu beneran kok. Gimana? Apa lo juga suka sama
Ika?” tanya Gaby lagi.
“gini ya Gab, gue hargain perasaan Ika. gue tau
dia sahabat lo. maka dari itu gue ngga mau bikin dia sakit hati atau bikin lo
marah lagi sama gue” jelas Bastian.
“gue lurusin aja sekarang. Gue emang kasih
perhatian ke dia dan itu bukan Cuma ke dia aja. Gue emang selalu ngerhargain
wanita karena gue nganggep wanita itu sama dengan nyokap gue. mungkin menurut
gue.. Ika nya aja yang salah tanggap perhatian gue ke dia. Jujur, gue ngga
punya perasaan apapun ke dia. Gue… hati gue udah yang nempati” sambung Bastian
lagi dan pada kalimat terakhirnya dia menegakkan kepalanya menatap Gaby.
“siapa?” tanya Gaby. Dia mencoba memahami dan
mengerti semua penjelasan Bastian. Mungkin ada benarnya juga kalau selama ini
hanya Ika yang salah tanggap akan perhatian yang diberi Bastian kepadanya.
“namanya… depannya E tengahnya L belakangnya O”
“depan E tengah L belakang O? E-L-O? elo?”
tanya Gaby masih bingung.
“iya elo”
“ELO?! GUE?!” tanya Gaby kaget. Bastian
mengangguk. Seketika Gaby terdiam membeku. Tak percaya.
“Gab, selama ini gue suka sama lo. gue sayang
bahkan cinta sama lo. apa lo ngga pernah pikir kalau seorang pria selalu
mencari masalah dengan seorang wanita, itu berarti pria itu tertarik dengan
wanita itu. dia memiliki rasa yang berbeda. Gue selama ini selalu cari masalah
sama lo itu karena gue pengen dapet perhatian lebih dari lo, Gab. Maka dari itu
gue Cuma bisa cari-cari masalah sama lo”
“gue ngga minta lo bales perasaan gue kok. Gue
Cuma mau jujur sama perasaan gue. terserah kalo lo mau bales atau engga. Cukup
gue jujur sama lo itu udah bikin gue lega. Setidaknya, ngga ada lagi sesuatu
yang mengganjal dihati gue”
“Bas…” ucap Gaby parau.
“iya?”
“bisa tinggalin gue sekarang sendirian?” pinta
Gaby lirih. kini air mata mulai mengalir kedua pipi nya.
“Gab? Lo nangis? Maaf kalo…”
“bisa tinggalin gue sekarang? Gue butuh
nenangin diri”
“oke kalo itu mau lo. gue pamit” Lantas Bastian
beranjak pergi meninggalkan Gaby sendirian diruang tamu yang terasa sunyi itu.
“kenapa jadi gini? gue harus ngomong apa sama
Ika? gue harus apa sekarang? ARGGHHHS” erang Gaby keras. Dari luar rumah,
ternyata Bastian belum meninggalkan pelataran rumah Gaby. Dia mendengar ucapan
Gaby serta erangan gadis itu. dia merasa tak tega juga melihat gadis yang
dicintainya jadi seperti itu.
“maafin gue Gab karena harus jujur semuanya
sekarang. Gue juga manusia yang punya batas kesabaran kalo ngeliat elo
deket-deket sama cowo lain. Gue juga ngga tahan mendam semuanya sendiri” ucap
Bastian lirih sambil menatap kearah pintu jati rumah Gaby seakan pintu itu
adalah Gaby.
*
Sudah satu minggu berlalu semenjak Batsian
mengakui perasaannya kepada Gaby itu. semenjak itu pula Gaby selalu menghindar
jika bertemu dengan Bastian. Gaby pun kini lebih pendiam dan menyendiri.
Akhir-akhir ini Gaby sering terlihat melamun dan tak mau diajak bergabung
dengan Nadira dan Ika.
“Gaby kenapa sih Nad? Udah seminggu ini
kayaknya dia uring-uringan banget” tanya Ika kepada Nadira ketika mereka
memandangi tingkah Gaby dari kejauhan.
“gue juga ngga tau Ka. Semenjak waktu itu…” Nadira berbicara pelan pada kalimat
terakhirnya. Dia baru ingat. Ya, dia tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
“semenjak waktu itu apa Nad?” tanya Ika yang
ternyata mendengar perkataan Nadira tadi.
“itu ngga penting. Ka, gue sekarang mau lo
jawab jujur. Gimana perasaan lo sama Bastian sekarang?” tanya Nadira dengan
nada dan tatapan yang serius. Dia pun juga memegangi kedua bahu Ika.
“lo kenapa sih? kenapa lo tiba-tiba nanya
gitu?” tanya Ika heran.
“lo ngga perlu tau. Yang penting sekarang lo
harus jawab sejujur-jujurnya dari hati lo yang terdalam. Lo beneran cinta sama
Bastian atau Cuma kagum sama dia? Sama kepandaian dan ketampanan dia?”
“ng… jujur, sebenernya gue Cuma terobsesi Nad
sama Bastian. Gue Cuma kagum sama semua tingkah positif yang dia lakuin. Gue…
sebenernya gue… udah jadian sama anak
kelas sebelah” ucap Ika jujur dengan suara berbisik pada kalimat
terakhirnya.
“hah? Sama siapa? Kok lo ngga bilang sih?!”
“sstt.. diem aja. Lo kenal kok, dia terkenal
juga disekolah kita”
Nadira berpikir sebentar dan teringat akan satu
nama yang diyakininya benar “jangan bilang kalo….”
“ehehe tuh lo tau. Pokoknya diem aja deh jangan
sampe ada yang tau”
“hhh… ya udah bagus. Satu misi gue beres!
Sekarang misi selanjutnya. Semangat!” Nadira langsung pergi meninggalkan Ika
sendirian.
“kok pergi?”
*
Nadira berlari-lari kecil menyusuri semua
koridor sekolah. Semua tempat di sekolah sudah dicari, namun orang yang dicari
tidak ditemukan. Kembali dia ke kelas orang itu dan bertanya kepada teman
sekelasnya.
“sakit? Sakit apa?” tanya Nadira kepada teman
sekelas orang itu dan ternyata orang yang bersangkutan tidak hadir dikarenakan
kabarnya sakit.
“ngga tau sih. coba lo kerumahnya aja” jawab
orang yang ditanyai itu.
“lo tau rumahnya?”
“hmm.. bentar” orang itu masuk sebentar kedalam
kelas lalu mengambil secarik kertas dan pulpen. Dia sedang menuliskan sesuatu
sepertinya.
“nih” ujar orang itu seraya memberi secarik
kertas kepada Nadira yang bisa diyakini itu adalah alamat orang yang dicari.
“ya udah. Thanks banget ya”
*
Sepulang sekolah Nadira langsung mengunjungi
rumah orang itu. dia sengaja sepulang sekolah langsung menuju rumah orang itu
karena dia ingin semuanya selesai sekarang juga. Dia tidak tega melihat
sahabatnya yang semula periang menjadi pemurung seperti sekarang. Ika yang dari
tadi sibuk bertanya-tanya kepada Nadira ada apa, tak dihiraukan oleh Nadira.
Kini Nadira sudah sampai didepan rumah yang
dituju. Dengan segenap keyakinan dia masuk melangkah ke pekarangan rumah yang
luas itu.
TOK TOK
Nadira mengetuk pintu besar yang digunakan
sebagai pintu masuk utama rumah ini. terdengar dari dalam derap langkah
seseorang yang tergopoh-gopoh membukakan pintu.
“iya siapa?” tanya ibu-ibu yang baru saja
keluar membukakan pintu Nadira.
“saya temen nya Bastian. Bastian nya ada Bi?”
tanya Nadira kepada ibu-ibu tua yang Nadira yakini pembantu rumah tangga
dirumah itu.
“oh ya. Ada kok mbak, den Bastian lagi
dikamarnya. Badannya tadi pagi panas dingin trus ngigau nyebut-nyebut nama…
Gab… Gab… Gaby. Nah iya mbak namanya Gaby kalo ngga salah”
‘ngga salah lagi dugaan gue’ batin Nadira
semakin yakin.
“trus gimana keadaan Bastian sekarang Bi?”
“ya gitu deh mbak dia tadi lagi tidur. Udah
beberapa hari ini dia sering melamun terus mbak, saya jadi ngga tega sama dia.
Kayaknya dia lagi ada masalah besar gitu”
‘bener kan’ batin Nadira.
“hm.. boleh saya jenguk Bastian Bi?”
“noleh mbak boleh. Mbak naik aja keatas trus
liat pintu yang tulisannya ‘Bastian”
“ohgitu. Yaudah Bi saya liat Bastian dulu ya
Bi. Makasih” lantas Nadira mulai beranjak naik ke tangga dan mencari kamar
Bastian. Tak sulit bagi Nadira untuk mencari pintu yang bertuliskan ‘Bastian’.
Nadira kini sudah berdiri didepan pintu kamar Bastian. Diketuknya beberapa
kali. Ternyata ada sahutan dari dalam walaupun hanya deheman saja.
“Bas…” sapa Nadira ragu. Dilihatnya Bastian
sedang duduk ditepi kasurnya memandang jauh keluar jendela. Mendengar sapaan
Nadira, Bastian berbalik badan. Dia kaget melihat Nadira lah yang berada
diambang pintu kini.
“lo.. lo Nadira kan? Sahabatnya Gaby?” tanya
Bastian. Nadira mengangguk. Lalu mulai mendekati Bastian.
“lo tau dari mana rumah gue?” tanya Bastian
lagi.
“lo ngga perlu tau gue dapet alamat lo dari
mana. Hm.. lo sakit apa?” tanya Nadira berbasa-basi.
“sakit biasa aja kok demam biasa sama… sakit
hati” jawab Bastian pelan.
“hhh… kayaknya gue harus ngomong langsung sama
lo deh”
“maksud lo?”
“gue mau tanya, ada masalah apa antara lo dan
Gaby?”
“k..kok… kok lo nanya gitu? Bukannya lo tau
kalo selama ini gue emang sering berantem sama dia?”
“kalo itu gue juga tau kali. Minggu kemaren gue
liat kalian pulang bareng pas hujan. Nah, semenjak itu Gaby jadi pemurung,
pendiem, ngga kayak Gaby yang dulu. Dan gue liat Gaby pun selalu ngehindar kalo
tiap ketemu sama lo. jadi.. apa yang terjadi setelah lo nganterin Gaby pulang
waktu itu?”
Bastian tampak ragu untuk menjawab yang
sesungguhnya. Namun dia ingin semuanya selesai. Lebih baik dia jujur kepada
Nadira saat ini agar dia bisa meminta solusi kepada Nadira berhubung Nadira
sahabat Gaby.
“gue suka sama dia. Gue sayang sama dia. Gue
cinta sama dia. Gue selama ini suka Nad sama Gaby. Maka dari itu gue selalu cari
masalah sama dia biar gue dapet perhatian dari dia. Dan waktu gue nganterin
Gaby pulang, gue jujur sama dia tentang perasaan gue. disana jug ague tau kalo
sahabat lo… Ika suka sama gue. dan ngga tau kenapa tiba-tiba Gaby nyuruh gue
buat pulang tinggalin dia sendiri. Gue bingung Nad sama dia”
“hhh… ya jelas Gaby uring-uringan kayak gitu
lah. Gue yakin Gaby itu juga cinta Bas sama lo. tapi dia ngga mungkin nerima lo
gitu aja. Gaby itu sahabat yang baik buat gue sama Ika. maka dari itu Gaby ngga
mau nyakitin hati Ika dengan dia berpacaran sama lo”
“lo serius Gaby juga cinta sama gue?”
“menurut gue sih gitu. Soalnya semenjak lo
anterin dia pulang, besoknya sifat dia langsung berubah 180 derajat. Kalo dia
ngga punya perasaan apa-apa sama lo, ngga mungkin dia uring-uringan kayak gini
sekarang”
“trus.. gue harus apa?”
“lo ngga harus ngelakuin apapun kok. Lo cukup
siapin kata-kata buat nyatain perasaan lo lagi ke Gaby dan cukup dateng besok
ke taman sekolah. Biar gue sama Ika yang ngatur semuanya”
“maksud lo? Ika? bukannya Ika… suka sama gue?
masa iya dia mau nolongin gue buat nyatain cinta ke Gaby? Ah ngga ah! Gue ngga
mau nyakitin hati cewe lagi”
“Bastian.. Ika itu Cuma kagum sama lo. dia Cuma
terobsesi sama lo. lagian dia juga udah punya pacar kok. Biar gue nanti yang
kasih tau ke Ika tentang semua ini dan juga rencana besok. Lo tinggal beres
aja. Okey?”
“hhh… gue percaya aja deh sama lo”
*
Sesuai janji, Bastian sudah berada di taman
sekolah menunggu kedatangan Gaby. Sesuai informasi dari Nadira tadi pagi, dia
sudah menjelaskan semuanya kepada Ika dan ternyata Ika sangat mendukung begitu
tahu rencana ini.
Sejujurnya, Nadira juga memiliki perasaan
kepada Bastian. Tetapi dia tahu, orang yang dicintainya telah mencintai glain
dan itu sahabatnya sendiri. Dia tidak boleh egois. Dia tidak bisa memaksakan
cinta begitu saja. Bisa saja dia memaksa Bastian untuk menjadi kekasihnya.
Namun dia tidak tega jika nantinya hati pria itu tersiksa menjalani hubungan
dengannya.
“Ika sama Nadira mana sih? kataya disini”
Bastian dapat mendengar suara gadis yang sangat dikenalnya. Yap, gadis itu
adalah Gaby.
“Gab..” panggil Bastian.
“Bastian?” kaget Gaby. Dia baru saja ingin
kabur dari Bastian, namun kali ini pria itu tidak mau kehilangan kesempatan
ini. dengan cekatan dia menahan tangan gadis itu.
“please jangan hindarin gue kayak gini Gab. Gue
ngga sanggup kalo harus ngeliat lo ngejauh dari gue seakan-akan lo memendam
benci yang terdalam sama gue” lirih Bastian.
“apa? ngga sanggup? Trus kenapa waktu kita dulu
sering berantem lo nya sanggup-sanggup aja? Apa bedanya sih dulu sama sekarang?
Anggap aja sekarang kita musuhan kayak dulu lagi” jawab Gaby dengan nada
sinisnya. Bastian yakin, nada bicara seperti itu hanya bohong belaka Gaby saja.
“engga Gab gue ngga bisa. Gue cinta sama lo.
gue pengen ngejagain lo selalu disamping gue. gue ingin lo jadi milih gue Gab.
Please kasih gue kesempatan?”
“lo ngomong apa sih? ngelindur lo?”
“Gab, please..” Bastian menatap tajam mata
Gaby. Gaby dapat melihat mata elang pria itu yang sangat terpancar
keseriusannya.
“please Bas jangan bikin gue kayak gini. lo
harus ngertiin gue. gue ngga bisa karena gue….” Gaby sudah tidak sanggup
melanjutkan kata-katanya. Air mata mulai mengalir dikedua pipi nya. entah sejak
kapan gadis ini menjadi gadis penangis tapi hanya satu yang dia tahu. Semua ini
hanya karena Bastian seorang.
“karena apa? lo ngga tega sama Ika? gue ngerti
Gab kalo lo ngejaga perasaan sahabat lo. tapi apa lo ngga bisa ngertiin
perasaan gue? apa lo mau gue jadian sama Ika tapi hati gue kesiksa? Raga gue
boleh aja lagi sama dia, tapi jiwa gue? engga Gab. Jiwa gue itu elo”
“engga Bas, please.. lepasin gue. bebasin gue
buat ngelupain lo”
“ngga! Gue ngga mau kehilangan lo”
“Bastian bener Gab” ucap Ika dan Nadira
tiba-tiba yang muncul bersama.
“Ika? Nadira? lo.. kalian…”
“terima Gab cintanya Bastian. Dia cowo yang
baik. Dia tulus cinta sama lo. masalah gue.. lo ngga usah pikirin. Gue udah
relain lo sama Bastian kok dan lagian… gue juga udah punya pacar hehe” lanjut
Ika.
“Ka.. lo… lo serius?”
“iya. Apa lo tega ngeliat cowo yang lo cinta
malah kesiksa kalo jadian sama gue?” tanya Ika dengan nada yang menggoda.
“ih.. apa sih” elak Gaby dengan wajah malunya.
“kalo cinta jangan gengsi” goda Nadira.
“gimana Gab?” tanya Bastian.
“gimana apanya?” tanya Gaby pura-pura bingung.
“lo… terima cinta gue atau engga?”
“maunya?”
“menurut lo?” Bastian melangkah agar mendekat
dengan Gaby. Tatapan mereka tak lepas.
“lo maunya gimana?” Gaby juga mendekatkan
badannya.
“gue mau lo terima cinta gue” semakin dekat.
Kini wajah mereka pun juga ikut mendekat. Nadira dan Ika yang melihat itu
secara langsung sudah menutup-nutup mata.
“ya udah”
“ya udah apa?” semakin dekat.
“gue terima cinta lo” mereka mendekatkan wajah
mereka. perlahan mereka memiringkan wajahnya dan mulai menutup mata. Nadira dan
Ika ketakutan melihat kejadian itu. langsung saja mereka berlari dan berteriak
“AAAAAAAAA…..” sontak Gaby dan Bastian tersentak membuka mata dan menjauhkan
wajah masing-masing. Mereka malu. Mereka tidak sadar ternyata masih ada Nadira
dan Ika disana. Mereka saling tatap sebentar lalu terkekeh kecil sambil
malu-malu.
*
Cinta
suatu rasa yang tidak bisa dibohongi.
Cinta
tumbuh tak memandang waktu.
Cinta
ibaratkan bom yang semakin lama semakin meledak.
Cinta
semakin lama dipendam, semakin hati kita memberontak untuk mengakuinya.
Tak
ada manusia yang tak memiliki cinta.
Tak
ada cinta, bagai sayur tanpa garam
END
ITU KATA-KATA PUITIS TERAKHIRNYA BENERAN NGGA
ADA ROMANTIS-ROMANTIS NYA GUYS!!! HAHAHA RANDOM BANGET EMANG! Sayur aja pake
masuk segala tuh kedala puisi nya haha
aneh ya aku? ah biarin aja yang penting usaha :p Maaf kalo ngga jelas. Kan aku
udah bilang dari awal mohon dimaapin kalo endingnya random, ngga jelas arah dan
tujuan. Mungkin kalo ada waktu dan diberkahi ide yang lebih cemerlang lagi, aku
bakalan lanjutin ini cerpen biar endingnya jelas haha yang penting sekarang
cerpen yang ini udah END! Ngga tau deh kedepannya beneran bakal aku lanjutin
lagi atau engga.