Sabtu, 11 Januari 2014

(Cerpen) Rasa Ini


Mataku tak henti-hentinya menatap seorang pria di tengah lapangan itu yang sedang asik dengan si bulat oranye nya. langit mulai menampakan tanda-tanda hujan akan datang. Namun pria yang sedang sendiri dilapangan itu tidak menghiraukan itu.

Ku tak percaya Kau ada disini
Menemaniku disaat dia pergi

Sembari melihat pria itu bermain, aku memutar lagu yang tak pernah bosan-bosannya ku dengar. Dentingan pianonya mengalun dengan sangat indah terlebih makna dari keseluruhan lirik didalam lagu itu. lagu yang sangat menggambarkan suasana hati ku.

Aku duduk disalah satu bangku di tepi lapangan. Sekolah sudah mulai sepi karena bel pulang sudah berbunyi 30 menit yang lalu. Aku menatap langit sambil menghayati bait demi bait, kata demi kata dari lirik lagu tersebut. Benar-benar suasana hatiku saat ini.

Kemarin malam baru saja aku memutuskan hubunganku dengan seorang pria yang aku cintai…. Dulu. Itu dulu sebelum aku bertemu sosok pria lain. Kami sudah menjalin hubungan 1 tahun 3 bulan. Namun sayang, 2 bulan terakhir ini hatiku bukan lagi diisi oleh baying-bayang Gabriel –mantan kekasih ku itu- melainkan seseorang yang baru saja ku temui 2 bulan yang lalu dan dia kini sedang berada dihadapanku yang sedang memantul-mantulkan si bundar oranyenya.

Aku tak ingin berbohong kepada Gabriel bahwa aku masih mencintainya. Aku tak tega jika harus melihat dia bahagia dengan omong kosong ku itu dalam kebohonganku. Aku tak ingin menyakitinya lebih dan lebih dalam lagi. maka dari itu aku mengakhiri semuanya dan aku mencoba jujur akan perasaan ku sekarang akan siapa pria lain yang sudah merebut hati ku secara diam-diam itu. beruntung aku pernah mencintai dan dicintai oleh pria bijak seperti Gabriel karena dia tidak marah sama sekali dengan penuturan ku sewaktu itu. bahkan dia meminta ku untuk menjadi sahabatnya bukan musuhnya.

Hujan gerimis mulai turun. Semakin lama hujan semakin deras. Pria idamanku itupun sudah basah kuyup olehnya. Dia berlari ke salah satu bangku kosong  ditepi lapangan yang dimana disana memang terlindung dari hujan. Tapi… tunggu! Pria itu bukan beralari ke salah satu bangku yang kosong, melainkan….

“hai boleh gue duduk disini?” Pria itu menyapaku! Dia menyapaku! Ya, ternyata dia berlari ke bangku dan berdiri tegap dihadapanku dengan senyuman manisnya meminta izin. Nada ramah nya sangat terdengar renyah. Aku suka itu. aku suka mendengar suaranya berbicara.

Sebisa mungkin aku mencoba untuk bersikap biasa, tidak terlihat gugup.

“boleh kok duduk aja” balas ku juga dengan seulas senyuman.

“duh panas banget. Mana aus lagi” pria yang kini sudah duduk disampingku itu bergumam sendiri. Aku mencoba mencari-cari sesuatu dari dalam ku. tak lama, akhirnya aku menemun sebungkus tissue.

“nih pake aja” aku memberikan tissue itu kepadanya. Dengan senang hati dia menyambut uluran tissue ku.

“thanks ya.. oh iya lo kelas berapa? Kok gue belum pernah liat elo ya?” tanya pria itu seakan baru teringat bahwa dia belum pernah melihatku. Huft… tak seharusnya aku beharap terlalu jauh kepadanya. Dia saja tidak tahu siapa ku. mana mungkin dia bisa membalas perasaanku?

“gue anak baru disini. Gue dikelas 3 IPA 1. Lo sendiri?” tanya ku balik berbasa-basi. Mana mungkin aku tidak mengetahui kelas pujaan hatiku sendiri? Aku heran mengapa dia bisa cepat akrab dengan ku walau tak heran dia memang terkenal ramah dan supel.

“oh pantes aja. Gue dikelas 3 IPS 3 hehe nama lo siapa?”

“Alyssa Saufika Umari panggil aja Ify. lo Rio kan kapten basket sekolah ini?” aku sendiri heran mengapa aku bisa semudah ini bertanya-tanya kepada Rio tanpa rasa malu ataupun gugup. Memang, aku anak yang pemalu terlebih dengan kaum adam.

“segitu terkenal kah gue disini?” canda Rio. kami tertawa bersama. Berawal dari itulah perbincangan ku dengan Rio sang pujaan hatiku mengalir seperti sungai. Kami terlihat begitu akrab seperti teman lama yang sudah lama tak berjumpa.

Sungguh bahagia
Kau ada disini
Menghapus semua
Sakit yang ku rasa

Sampai akhirnya, kini sudah 2 bulan diriku dekat dengannya. Kami selalu meminta pendapat satu sama lain walau terlebih Rio yang sering meminta pendapatku tentang…. Pacarnya. Seperti sekarang ini. kami sedang duduk dibangku taman sekolah. Sekarang waktu nya istirahat. Rio sedang dilanda kebingungan akan hubungannya dengan kekasihnya.

“gue bingung harus gimana, Fy” gumam Rio parau karena hubungannya dengan kekasihnya yang bernama Shilla itu sudah tak sehat lagi menurutnya. Shilla akhir-akhir ini suka marah-marah tak jelas kepada Rio. jika diajak jalan berdua, Shilla selalu mengelak. Jika ditelfon, selalu di reject. Dikunjungi kerumah Shilla sekalipun, Shilla nya tidak berada dirumah. Rio menjadi curiga dengan perubahan drastis kekasihnya itu.

“udah Yo jangan negative thinking dulu. Tadi lo bilang kalo Shilla sekarang lagi marah sama lo kan gara-gara lo nuduh dia selingkuh? Kenapa lo ngga coba buat ikutin Shilla pulang sekolah nanti? Atau… lo coba ngomong baik-baik sama dia. Minta maaf sama dia. Bagaimanapun dia masih pacar lo Yo” aku serasa tercekat ketika bibir ku dengan beraninya mengungkapkan kalimat itu. kalimat yang pastinya akan mengiris-ngiris hatiku. Aku bodoh! Tidak seharusnya aku menyakiti diriku sendiri dengan seperti ini. cukup aku sudah sakit hati karena Rio yang selalu menceritakan tentang Shilla kepadanya.

Rio mengangguk-angguk menyetujui usulan yang menurutku bodoh itu.

Mungkinkah kau merasakan semua yang kurasakan
Kenanglah kasih…

Satu minggu sudah aku tidak bertemu dengan Rio semenjak dia menceritakan tentang hubungannya dengan Shilla ditaman sekolah. Bukan tidak bertemu lagi. aku masih melihat wajah Rio setiap harinya disekolah. Namun, wajah itu terlihat lebih suram. Dia lebih suka merenung akhir-akhir ini. aku sendiripun tidak berani untuk mengganggunya dulu.

“Ify” panggil suara berat yang sudah tak asing lagi beberapa bulan belakangan ini bagiku. Aku menoleh ketika melihat sosok itu berdiri didepan pintu kelasku. Dia tersenyum. Namun, senyum ini tak seperti senyum-senyum biasanya. Aku membalas senyum nya itu dan melangkah menghampirinya.

“ada apa Yo? Tumben ke kelas” tanya ku heran.

“hmm… ke taman aja yuk. Ngga enak disini” aku pun mengangguk dan mengikuti langkah Rio ke taman sekolah tempat mereka biasa berbincang-bincang. Sudah beberapa bulan ini juga satu sekolah mengetahui tentang kedekatan aku dan Rio. tanpa terkecuali Shilla. Shilla yang tahu akan kedekatanku dengan Rio pun menyalahkan aku sepenuhnya akan semua ini.

“ada apa Yo?” tanya ku sesampainya ditaman sekolah.

“gue putus Fy sama Shilla” ucap Rio lirih sambil menunduk.

Ku suka dirinya mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin kau menjadi milikku
Kau pernah menjadi..
Menjadi miliknya
Namun salahkah aku
Bila ku pendam rasa ini

“loh? Kenapa?” tanya ku kaget. Bukan kaget namun senang. Tapi… bukan juga. aku bingung harus bagaimana sekarang. Disisi lain aku senang, dia sisi lain aku kaget juga bercampur sedih.

“ternyata selama ini gue dijadiin selingkuhan sama Shilla. Dia udah punya pacar dan lebih parah nya lagi dia jadiin gue bahan taruhan sama temen-temen geng nya”

“beneran? Kok bisa sih Shilla se kejam itu sama lo? nyia-nyiain orang yang udah cinta tulus sama dia. Kalo gue jadi dia, gue bakalan bersyukur kalo punya cowok sebaik dan setulus elo. Upss” akutanpa sadar mengucapkan itu. Rio tersenyum mendengar penuturan tak sengaja ku itu. aku bingung mengapa anak itu menjadi senyum-senyum sendiri. Apa dia sudah mulai tidak waras akibat putus dengan Shilla?

“so.. sorry Yo gue Cuma kebawa suasana aja. Ngga maksud lain kok” sanggah ku cepat.

“kalo beneran juga gapapa kok, cantik..” goda Rio. pipi ku sepertinya sudah memerah menahan malu. Tak biasanya Rio memujiku seperti ini

“ih apasih”

“Fy, gue mau minta pendapat lo nih”

“pendapat apa lagi? Shilla lagi?”

“engga kok. Gini, misalkan ada cowok yang suka muji-muji cewek lain dihadapan lo, cerita tentang cewek lain dihadapan lo, sedangkan elo suka sama tuh cowo tapi elo ngga pernah ngomong sama dia. Menurut lo, kejam ngga sih tuh cowok?” tanya Rio. aku menyerap kata demi kata dari pertanyaan Rio. aku kaget begitu sadar pertanyaan Rio sangat mirip dengan yang aku alami saat ini.

“hmm.. menurut gue engga. Karena si cewe kan ngga pernah ngungkapin perasaan nya ke si cowo. Ya mana tau si cowo itu kalo si cewe itu suka sama dia? Itu salah si cewe dong” secara tidak langsung aku menyalahkan diriku sendiri yang memang tidak pernah menampakkan atau mengungkapkan perasaan ku kepada Rio.

“berarti lo yang salah”

“maksud lo?” tanyaku heran.

“iya, lo salah! Lo salah karena selama ini lo udah ngga jujur sama gue tentang perasaan lo yang sebenernya ke gue gimana. Lo salah karena lo selalu terlihat baik-baik aja waktu gue muji-muji Shilla didepan lo. waktu gue curhat tentang Shilla ke elo. Kenapa lo diem disaat gue bilang sayang sama lo sebagai sahabat Fy?” Rio menatap lembut mataku. Aku pun tak tahu mengapa aku ikut membalas tatapannya itu.

“Yo…”

“Fy, lo ngga tau kan gimana ngerasa bersalahnya gue waktu tau dari Gabriel kalo lo punya perasaan ke gue? gue ngerasa cowo paling bodoh sedunia Fy karena udah ngga peka sama perasaan cewe sebaik elo. Gue sadar kalo yang gue cinta itu bukan Shilla, tapi elo. Yang gue butuhin itu elo bukan Shilla”

“Gabriel?”

“Iya, Gabriel. waktu gue kerumah Shilla kemaren minta penjelasan, ternyata Gabriel itu sepupu Shilla. Disana gue kenalan sama dia dan dia kaget pas tau nama gue Rio dan gue satu sekolah sama lo. terlebih saat tau gue deket sama lo. dari situlah dia ceritain semuanya ke gue. gue salut sama dia udah ngelepasin lo walaupun hati dia sakit. Dia udah relain cintanya ke gue”

“Yo.. lo beneran?” tanyaku tak percaya. Rasanya semua ini berlalu begitu cepat dan berubah. Rio mengangguk menjawab pertanyaan ku. melihat anggukan mantap Rio, aku langsung menghamburkan tubuhku kedalam pelukan hangatnya.

“gue cinta sama lo. gue akan jagain lo sampai kapanpun. Love you…” bisik Rio tepat ditelingaku. Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya.


END

YEAAY!! Kali ini aku posting cerpen lagi nyaaw HAHA ini terinspirasi dari lagu nya Vierra-Rasa ini berhubung kisah ngenes nya itu kisah aku bangettt!! Follow twitter aku ya guys @elviraeryos J

(Cerpen) Kekesalanku yang Tersayang


Ini hidupku. Hidup yang sangat menyiksaku. Aku hidup disebuah keluarga sederhana. Aku masih memiliki keluarga yang lengkap. Papa, mama dan seorang kakak perempuan yang lebih tua 4tahun dibandingku.
Pasti kalian bertanya-tanya, mengapa aku menyebut bahwa ‘hidup yang sangat menyiksaku’? padahal aku memiliki keluarga yang lengkap, bahkan semuanya masih sehat-sehat saja.
Aku Alyssa Saufika Umari yang biasa disapa Ify. Aku hanya seorang gadis remaja yang berusia 15tahun. Kini aku baru duduk dibangku kelas 1 SMA. Hidupku tidaklah sama dengan anak-anak remaja seumuranku yang biasanya selalu duduk di Mall bersama teman-teman atau di Café. Anak-anak remaja seumuranku biasanya dapat menikmati masa remajanya dengan diberi kebebasan oleh orangtua mereka untuk pergi bersama teman-teman mereka. Atau bahkan mereka dapat merasakan kehangatan kasih sayang keluarga mereka dari sewaktu kecil dan mereka selalu dapat diberikan apapun yang mereka mau.
Itu hidup mereka. Bukan hidupku. Hidup mereka berbeda 180 derajat dari kehidupanku. Aku bukanlah anak remaja yang selalu duduk-duduk di Mall atau Café bersama teman-temanku. Aku hanya gadis remaja yang sepulang sekolah harus segera cepat sampai di rumah. Setelah itu, tidak ada bagiku untuk keluar rumah bermain bersama teman-temanku. RALAT. Bukan ‘bagiku’ sebenarnya, namun itu keinginan bahkan tuntutan dari orangtuaku yang lebih tepatnya papaku.
Aku bukanlah anak remaja yang dapat merasakan hangatnya kasih sayang sebuah keluarga atau bahkan anak remaja yang selalu diberikan apapun yang aku mau. Sedari kecil, yang aku rasakan hanyalah sebuah kekerasan didalam keluarga. Bahkan hingga aku berumur 15tahun seperti sekarang ini.
Dari kecil, aku memang seorang anak yang penurut dan patuh. Setiap aku meminta sesuatu kepada orangtuaku, mereka selalu berkata “tunggu kalo kita ada rezeki”. Akupun tidak mengerti akan kondisi keuangan keluargaku. Maka dari itu aku tidak pernah memaksakan kehendakku. Tak lama setelah itu, kakak ku meminta barang yang harganya jauh lebih mahal dibanding barang yang aku minta. Bahkan harganya mencapai 3juta.
Awalnya kedua orangtua ku tak ingin membelikannya dengan alasan yang sama. Tunggu jika ada rezeki. Tetapi karena kakak ku tak pengertian dan terus memaksa, akhirnya orangtuaku membelikannya.
Pada saat itu, aku merasa bahwa orangtuaku sudah memperlakukan ku secara tidak adil, mereka rela mengeluarkan uang mereka demi kakak ku, padahal sewaktu itu keluarga ku sedang dilanda masalah ekonomi. Sedangkan untuk ku, mereka tidak mau berkorban. Ah… aku tidak mau berprasangka buruk. Pikirku saat itu. Seiring berjalannya waktu, pemikiranku pada saat itu sepertinya ada benarnya juga karena aku merasa semakin diperlakukan tidak adil. Pekerjaan rumah diberikan kepadaku. Apapun selalu aku. Bahkan aku sedang tidur pun dibangunkan hanya untuk pergi ke warung.
Terkadang aku berpikir. Mengapa aku harus terlahir dikeluarga ini? mengapa harus aku yang merasakan semua ini? apa aku bukan anak kandung dikeluarga ini?
Sempat terlintas dibenakku berharap bahwa seorang ayah diluar sana yang bekerja diruangan ber-AC, memakai pakaian berdasi dan berkemeja, memiliki mobil mewah dan seorang istri yang bergaya ‘wah’ itu adalah keluarga kandungku yang sebenarnya. Dan mengatakan bahwa keluargaku saat ini bukanlah keluarga kandungku. Tapi kenyataan yang ada berkata lain. Mimpi tetaplah hanya mimpi. Angan tetaplah menjadi kenangan. Inilah keluargaku yang sesungguhnya. Keluargaku saat ini lah keluarga kandungku.
Namun begitu, aku tidak pernah menginginkan keluargaku saat ini pergi jauh dari kehidupanku. Aku sayang mereka. Papa, Mama, dan Kakak ku. Aku ingin mereka selalu ada disampingku.


END

Haaah ini cerita emang random banget haha aku sendiri bingung ini sebenernya termasuk kategori cerpen atau gimana. Dialog aja ngga ada didalam cerita ini HAHA random yeaa. Ini karena efek suntuk, bosen, gabut makanya aku bikin ini. berdasarkan apa yang dialami temen aku. ya kira-kira beginilah hidup dia :’) udahlah ya, yang penting nikmatin aja cerita aku yang super super random dan singkat ini hahaha byeee.

(Cerpen) Cinta Terpendam


Hello guys. kali ini aku bakalan posting cerpen yang bener-bener cerpen hehe ini sebenernya cerpen request dari salah satu readers aku. konsep nya pun dia yang minta dan tugas aku Cuma tinggal jabarin konsep itu menjadi sebuah cerpen yeaay!! Walaupun endingnya nanti agak ngga jelas, random atau apalah itu. mohon dimaklumi haha ini kali pertamanya aku bikin cerpen. Aku memang tidak berbakat nulis cerpen guysL Dengan segenap kemampuan yang aku punya *asek* akhirnya cerpen inipun selesai. Walaupun kali ini castnya bukan icil, tapi semoga kalian suka ya ^^

*

“hahahahaha” tawa  ketiga gadis remaja ini meledak hingga kepenjuru kantin. mereka bertiga adalah Nadira, Gaby dan Ika. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan sehingga tawa mereka begitu membahana hingga terdengar keseluruh penjuru kantin.

Nadira dan Gaby sudah bersahabat dari kecil. Dan ketika masuk SMA, mereka bertemu dengan Ika dan kini mereka bertiga bersahabat.

“guys guys.. liat tuh” ucap Ika menghentikan tawa kedua sahabatnya ketika melihat seorang cowo dengan senyum manisnya tengah berjalan kearah kantin bersama temannya. Ika tak hentinya menatap kearah cowo itu yang sedang beramah tamah dengan orang-orang yang menyapanya. Memang, cowo itu banyak digemari siswi-siswi.

Nadira dan Gaby memutar kepala kearah tunjuk Ika tadi berhubung Nadira dan Gaby duduk membelakangi pintu masuk kantin. bermacam ekspresi yang dinampakan kedua orang itu. yang satu menatap cowo itu sinis dan satu lagi menatap cowo itu seperti…. Entahlah. Hanya dia sendiri yang tahu.

“ck… si cowo rese lagi” Gaby berdecak sinis ketika cowo itu melewati meja kantin mereka. seperti merasa tersindir, si cowo itu berhenti dan balik menatap sinis kearah Gaby. Gaby tak kalah sinis nya menatap cowo itu. sedangkan Ika sudah menatap cowo itu dengan tatapan kagum. Nadira… diam saja.

“lo bilang apa tadi?!” geram cowo itu yang bernama Bastian.

“gue bilang co-wo re-se” jawab Gaby dengan penuh penekanan.

“lo bilangin gue rese hah?!” Bastian semakin kesal dengan tingkah Gaby yang selalu cari ribut dengannya.

“lo ngerasa? Ya bagus deh” sahut Gaby santai sambil menyeruput jus jeruk nya tanpa beban.

“lo ya….” Baru saja Bastian ingin memarah-marahi Gaby lebih lanjut, temannya sudah melerai duluan.

“udahlah Bas, ngapain lo berantem sama cewe? Malu-maluin aja” lerai teman Bastian. Bastian berpikir sebentar lalu beralih menatap Gaby lagi.

“awas lo. hidup lo ngga bakalan selamat ditangan gue” ancam Bastian sebelum pergi hingga dia benar-benar berlalu dari hadapan 3sahabat itu.

“kenapa sih lo ngga pernah damai sama Bastian?” tanya Nadira heran dengan tingkah temannya yang satu itu.

“gue? damai sama si rese itu? ngga bakalan! Dari awal gue sekolah disini gue udah bertekad ngga bakalan damai sama dia”

“udah lah Gab, damai aja sama Bastian. Dia orangnya baik kok, ngga kayak yang lo liat” kini Ika kembali buka suara setelah sadar dari keterkagumannya akan kegantengan Bastian.

“baik? Mungkin itu menurut lo yang udah cinta mati kebelet mampus sama dia. Tapi bagi gue, cowo rese kayak dia tetep RE-SE!” jawab Gaby penuh kekesalan. Nadira dan Ika tak bisa berkata-kata lagi. jika sudah seperti ini, Gaby susah untuk ditenangkan. Mereka sudah cukup hafal dengan sifat Gaby, tepatnya sifat mereka satu sama lain.

*

Bel pulang sudah berbunyi. Semua murid satu per satu sudah meninggalkan kelas masing-masing. Kecuali 3sahabat ini. siapa lagi kalau bukan Nadira, Gaby dan Ika? mereka sibuk mendengarkan curhatan Ika yang bagi Gaby sama sekali tidak penting itu.

“….. trus ya habis kejadian lo sama dia di kantin tadi Gab, gue liat dia main basket. Aaa cool banget. Aura ganteng nya itu terpancar” Ika dengan semangatnya menceritakan Bastian yang tadi bermain basket dilapangan. Bastian memang bintang basket disekolahnya.

“nah trus….” Baru saja Ika ingin melanjutkan curhatannya tentang pujaan hatinya itu, handphone nya berdering menandakan ada telfon masuk. Segera dia merogoh sakunya dan mengambil handphone nya.

“iya pak? Oh iya bentar…” KLIK. Ika memutuskan sambungan telfonnya.

“guys gue duluan ya. Supir gue udah jemput. Byeee” Ika langsung berlalu pergi meninggalkan kelas karena baru saja mendapat telfon dari supirnya bahwa sang supir sudah di depan sekolah.

“huft… heran gue sama tuh anak. Udah jelas-jelas Bastian itu pernah nge-phpin dia. Eh masih aja dia tergila-gila sama tuh anak” heran Gaby.

“nama nya juga cinta. Cinta itu buta. Ya itu deh si Ika korban kebutaan cinta” sahut Nadira. Gaby geleng-geleng kepala heran.

“eh iya lo pulang sama apa?” tanya Nadira.

“paling sendiri lagi. supir ngga bisa jemput lagi nih” jawab Gaby lemah teringat bahwa dia akan pulang sendiri lagi kali ini.

“yakin lo? ngga bareng gue aja? Mau hujan loh ini”

“hmm.. ngga usah deh makasih. Ya udah gue duluan ya Nad, ntar keburu ngga dapet Bis atau angkot” Gaby bangkit berdiri sambil menyandang tas nya.

“ya udah hati-hati ya”

*

Ternyata benar apa kata Nadira. Kini air mata langit itu sudah menyelimuti bumi dengan derasnya. Untung saja Gaby sampai di halte sebelum hujan deras sehingga tubuhnya sekarang hanya basah sedikit akibat gerimis tadi.

Gaby menggosok-gosok kedua lengannya yang terasa dingin lalu beralih menggosokan kedua telapak tangan agar terasa lebih panas;. Ketika sedang menelungkupkan telapak tangannya ke pipi, ternyata sebuah jaket berwarna biru langit tengah tersampir dibahu nya. Gaby tersentak kaget.

Di tatapnya sebentar jaket yang kini sudah bertengger tenang dibahu nya itu lalu beralih menatap kesamping kanan nya mencari tahu siapa orang berbaik hati yang sudah meminjamkannya jaket itu. keterkagetan Gaby semakin bertambah ketika melihat siapa yang sudah menyampirkan jaket itu kebahu nya. seorang cowo yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya.

“ngapain lo hujan-hujanan disini?” tanya cowo itu yang tak lain adalah Bastian tanpa menatap ke Gaby sedikitpun tetapi malah menatap lurus kedepan kearah jalanan. Seperti ada sesuatu yang menarik disana.

Gaby tidak menjawab pertanyaan Bastian itu. dia masih sibuk dengan pikirannya. Merasa tidak diacuhkan, kini Bastian beralih menatap Gaby. Gaby tersentak kaget ketika pandangan mereka berdua beradu. Terjadi tatap-tatapan antara keduanya selama beberapa menit, ada sesuatu yang berdesir dihati Gaby ketika menatap mata itu sampai akhirnya Gaby tersadar.

“eh.. hm.. ngapain lo disini?” tanya Gaby dengan nada gugupnya namun masih tersirat nada jutek didalamnya dan mencoba mengalihkan pandangan kearah lain agar tidak terjadi lagi kontak mata seperti tadi.

“ehem.. nunggu hujan reda. Nah lo sendiri ngapain masih disini?” jawab dan tanya Bastian balik. Kali ini Bastian menjawab pertanyaan Gaby itu dengan nada biasa dan dengan sebuah senyuman yang mengandung sebuah arti yang bermakna didalamnya.

“ng.. sa.. sama kayak lo. sekalian nunggu bis” jawab Gaby kini dengan nada biasanya namun masih terdengar tegang.

“oh…”

Terjadi keheningan selama beberapa saat. Canggung. Itulah suasana disana saat ini karena hanya mereka berdua yang sedang berada dihalte.

“ng… btw, thanks jaketnya” Gaby mulai buka suara mencoba mencairkan suasana.

“eh iya santai aja lagi. lagian lo kayaknya kedinginan banget” jawab Bastian seraya menggosok-gosokan kedua lengannya karena kini dia mulai merasa kedinginan. Gaby sadar akan gerak-gerik Bastian itu yang bisa dipastikan cowo itu kini sedang kedinginan.

“lo… kedinginan ya?” tanya Gaby.

“iya nih hujannya ngga bersahabat banget” jawab Bastian masih sambil menggosok-gosokan lengannya.

“ya udah ini jaketnya lo aja yang pake. Gue udah gapapa kok” Gaby langsung melepas jaket Bastian yang tadi tersampir dibahunya.

“eh ngga usah…” Bastian langsung menahan tangan Gaby yang sedang memegang jaketnya. Tanpa sengaja, Bastian menggenggam tangan Gaby. Mereka berdua sontak kaget namun kembali terjadi kejadian saling pandang seperti tadi. Tak mau perasaan yang selama ini susah-susah disangkalnya itu kembali lagi dan malah semakin dalam, Gaby langsung melepas pandangannya dari mata Bastian. Bastian pun akhirnya ikut tersadar.

“eh.. ehem.. ng.. hujannya udah berenti nih. Lo.. mau gue anterin ngga?” Gaby berpikir sebentar. Tak ada salahnya dia menerima tawaran Bastian. Toh, sedari tadi dia berdiri dihalte, tak ada satupun bis yang kosong.

“Hmm.. ya udah boleh deh”

“ya udah bentar gue ambil motor dulu” Bastian langsung berlari kedalam sekolah tepatnya keparkiran untuk mengambil motornya. Gaby mengangguk menyetujui.

TIIN TIIN

“ayo naik” ucap Bastian sesampainya dihalte menghampiri Gaby. Gaby mengangguk lalu langsung naik ke motor Bastian. Dari kejauhan, seseorang menatap kepergian Bastian dan Gaby dengan sayu.

“dari dulu gue udah yakin kalo kalian punya perasaan yang sama” lirih orang itu.

*

“thanks Bas udah anterin gue” ucap Gaby setelah sampai didepan rumahnya dan turun dari motor Bastian.

“iya sama-sama”

“hm.. lo ngga mau mampir dulu? Biar gue bikin teh panas biar badan lo ngga kedinginan lagi”

Bastian berpikir sebentar lalu menjawab “boleh deh”

Mereka masuk ke rumah Gaby. Gaby mempersilahkan Bastian untuk duduk dulu di ruang tamu sedangkan Gaby pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Bastian dan juga dirinya.

“nih diminum dulu” sapa Gaby ketika sampai diruang tamu sambil membawa segelas teh panas.

“eh iya thanks” ucap Bastian lalu menggapai gelas pemberian Gaby dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.

Gaby menatap Bastian seperti… entahlah. Dia sibuk dengan pikirannya saat ini. bagaimana caranya dia memulai mengutarakan niat baiknya.

“hmm…” gumam Gaby dan Bastian serentak.

“eh lo dulu aja” sambung Gaby cepat.

“ngga. Lo dulu aja, ladies first

“hmm.. gini. lo ngerasa capek ngga berantem mulu sama gue tiap hari tiap ketemu? Ya.. maksud gue, apa lo ngga mau kalo kita…”

“berdamai. Ya, siapa juga sih yang suka kayak gini? malahan gue juga mau ngomong soal ini ke elo. Gue mau mulai sekarang kita lupain dendam kita. Mulai semuanya dari awal dengan baik-baik” potong Bastian cepat.

“oke, deal. Mulai sekarang kita temen ya?” Gaby mengacungkan kelingkingnya meminta Bastian untuk ikut menautkan kelingkingnya juga. Bastian bingung ingin menjawab apa. sebenarnya, bukan ini yang diharapkannya. Heran karena Bastian tak kunjung menyambut ulurannya, Gaby menurunkan tangannya.

“kenapa? Lo ngga mau temenan ya sama gue?” tanya Gaby dengan suara lirihnya.

“bu.. bukan gitu Gab. Gu.. gue..”

“gapapa kok kalo lo ngga mau jadi temen gue”

“bukan gitu… okedeh gue mau jadi temen lo”

“beneran?”

“i.. iya”

“thanks Bas. Mulai sekarang, ngga ada musuh-musuhan lagi. ngga ada perang mulut dikantin lagi dan lain-lainnya. Oh iya satu lagi. gue mau ngomong sesuatu sama lo” mendengar perkataan terakhir Gaby, Bastian jadi panas-dingin sendiri harap-harap cemas apa yang akan dikatakan Gaby. Dari nada bicaranya terdengar serius.

“apa?”

“ng… apa lo.. ada rasa sama… I.. ka?” tanya Gaby ragu.

“Ika? sahabat lo itu? kenapa emang?”

“ng… dia suka sama lo sejak pertama kali kita masuk SMA. Karena itulah selama ini gue selalu marah kalo ngeliat elo. soalnya gue nilai lo Cuma php-in Ika aja. Gue juga sering ngeliat elo kayak ngasih perhatian gitu ke dia. Maka dari itu, sekarang gue pengen tau apa lo punya perasaan yang sama kayak dia?”

“yaampun, jadi beneran kata orang-orang kalo Ika suka sama gue? gue kirain itu Cuma gossip aja”

“itu beneran kok. Gimana? Apa lo juga suka sama Ika?” tanya Gaby lagi.

“gini ya Gab, gue hargain perasaan Ika. gue tau dia sahabat lo. maka dari itu gue ngga mau bikin dia sakit hati atau bikin lo marah lagi sama gue” jelas Bastian.

“gue lurusin aja sekarang. Gue emang kasih perhatian ke dia dan itu bukan Cuma ke dia aja. Gue emang selalu ngerhargain wanita karena gue nganggep wanita itu sama dengan nyokap gue. mungkin menurut gue.. Ika nya aja yang salah tanggap perhatian gue ke dia. Jujur, gue ngga punya perasaan apapun ke dia. Gue… hati gue udah yang nempati” sambung Bastian lagi dan pada kalimat terakhirnya dia menegakkan kepalanya menatap Gaby.

“siapa?” tanya Gaby. Dia mencoba memahami dan mengerti semua penjelasan Bastian. Mungkin ada benarnya juga kalau selama ini hanya Ika yang salah tanggap akan perhatian yang diberi Bastian kepadanya.

“namanya… depannya E  tengahnya L belakangnya O”

“depan E tengah L belakang O? E-L-O? elo?” tanya Gaby masih bingung.

“iya elo”

“ELO?! GUE?!” tanya Gaby kaget. Bastian mengangguk. Seketika Gaby terdiam membeku. Tak percaya.

“Gab, selama ini gue suka sama lo. gue sayang bahkan cinta sama lo. apa lo ngga pernah pikir kalau seorang pria selalu mencari masalah dengan seorang wanita, itu berarti pria itu tertarik dengan wanita itu. dia memiliki rasa yang berbeda. Gue selama ini selalu cari masalah sama lo itu karena gue pengen dapet perhatian lebih dari lo, Gab. Maka dari itu gue Cuma bisa cari-cari masalah sama lo”

“gue ngga minta lo bales perasaan gue kok. Gue Cuma mau jujur sama perasaan gue. terserah kalo lo mau bales atau engga. Cukup gue jujur sama lo itu udah bikin gue lega. Setidaknya, ngga ada lagi sesuatu yang mengganjal dihati gue”

“Bas…” ucap Gaby parau.

“iya?”

“bisa tinggalin gue sekarang sendirian?” pinta Gaby lirih. kini air mata mulai mengalir kedua pipi nya.

“Gab? Lo nangis? Maaf kalo…”

“bisa tinggalin gue sekarang? Gue butuh nenangin diri”

“oke kalo itu mau lo. gue pamit” Lantas Bastian beranjak pergi meninggalkan Gaby sendirian diruang tamu yang terasa sunyi itu.

“kenapa jadi gini? gue harus ngomong apa sama Ika? gue harus apa sekarang? ARGGHHHS” erang Gaby keras. Dari luar rumah, ternyata Bastian belum meninggalkan pelataran rumah Gaby. Dia mendengar ucapan Gaby serta erangan gadis itu. dia merasa tak tega juga melihat gadis yang dicintainya jadi seperti itu.

“maafin gue Gab karena harus jujur semuanya sekarang. Gue juga manusia yang punya batas kesabaran kalo ngeliat elo deket-deket sama cowo lain. Gue juga ngga tahan mendam semuanya sendiri” ucap Bastian lirih sambil menatap kearah pintu jati rumah Gaby seakan pintu itu adalah Gaby.

*
Sudah satu minggu berlalu semenjak Batsian mengakui perasaannya kepada Gaby itu. semenjak itu pula Gaby selalu menghindar jika bertemu dengan Bastian. Gaby pun kini lebih pendiam dan menyendiri. Akhir-akhir ini Gaby sering terlihat melamun dan tak mau diajak bergabung dengan Nadira dan Ika.

“Gaby kenapa sih Nad? Udah seminggu ini kayaknya dia uring-uringan banget” tanya Ika kepada Nadira ketika mereka memandangi tingkah Gaby dari kejauhan.

“gue juga ngga tau Ka. Semenjak waktu itu…” Nadira berbicara pelan pada kalimat terakhirnya. Dia baru ingat. Ya, dia tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.

“semenjak waktu itu apa Nad?” tanya Ika yang ternyata mendengar perkataan Nadira tadi.

“itu ngga penting. Ka, gue sekarang mau lo jawab jujur. Gimana perasaan lo sama Bastian sekarang?” tanya Nadira dengan nada dan tatapan yang serius. Dia pun juga memegangi kedua bahu Ika.

“lo kenapa sih? kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?” tanya Ika heran.

“lo ngga perlu tau. Yang penting sekarang lo harus jawab sejujur-jujurnya dari hati lo yang terdalam. Lo beneran cinta sama Bastian atau Cuma kagum sama dia? Sama kepandaian dan ketampanan dia?”

“ng… jujur, sebenernya gue Cuma terobsesi Nad sama Bastian. Gue Cuma kagum sama semua tingkah positif yang dia lakuin. Gue… sebenernya gue… udah jadian sama anak kelas sebelah” ucap Ika jujur dengan suara berbisik pada kalimat terakhirnya.

“hah? Sama siapa? Kok lo ngga bilang sih?!”

“sstt.. diem aja. Lo kenal kok, dia terkenal juga disekolah kita”

Nadira berpikir sebentar dan teringat akan satu nama yang diyakininya benar “jangan bilang kalo….”

“ehehe tuh lo tau. Pokoknya diem aja deh jangan sampe ada yang tau”

“hhh… ya udah bagus. Satu misi gue beres! Sekarang misi selanjutnya. Semangat!” Nadira langsung pergi meninggalkan Ika sendirian.

“kok pergi?”

*

Nadira berlari-lari kecil menyusuri semua koridor sekolah. Semua tempat di sekolah sudah dicari, namun orang yang dicari tidak ditemukan. Kembali dia ke kelas orang itu dan bertanya kepada teman sekelasnya.

“sakit? Sakit apa?” tanya Nadira kepada teman sekelas orang itu dan ternyata orang yang bersangkutan tidak hadir dikarenakan kabarnya sakit.

“ngga tau sih. coba lo kerumahnya aja” jawab orang yang ditanyai itu.

“lo tau rumahnya?”

“hmm.. bentar” orang itu masuk sebentar kedalam kelas lalu mengambil secarik kertas dan pulpen. Dia sedang menuliskan sesuatu sepertinya.

“nih” ujar orang itu seraya memberi secarik kertas kepada Nadira yang bisa diyakini itu adalah alamat orang yang dicari.

“ya udah. Thanks banget ya”

*

Sepulang sekolah Nadira langsung mengunjungi rumah orang itu. dia sengaja sepulang sekolah langsung menuju rumah orang itu karena dia ingin semuanya selesai sekarang juga. Dia tidak tega melihat sahabatnya yang semula periang menjadi pemurung seperti sekarang. Ika yang dari tadi sibuk bertanya-tanya kepada Nadira ada apa, tak dihiraukan oleh Nadira.

Kini Nadira sudah sampai didepan rumah yang dituju. Dengan segenap keyakinan dia masuk melangkah ke pekarangan rumah yang luas itu.

TOK TOK

Nadira mengetuk pintu besar yang digunakan sebagai pintu masuk utama rumah ini. terdengar dari dalam derap langkah seseorang yang tergopoh-gopoh membukakan pintu.

“iya siapa?” tanya ibu-ibu yang baru saja keluar membukakan pintu Nadira.

“saya temen nya Bastian. Bastian nya ada Bi?” tanya Nadira kepada ibu-ibu tua yang Nadira yakini pembantu rumah tangga dirumah itu.

“oh ya. Ada kok mbak, den Bastian lagi dikamarnya. Badannya tadi pagi panas dingin trus ngigau nyebut-nyebut nama… Gab… Gab… Gaby. Nah iya mbak namanya Gaby kalo ngga salah”

‘ngga salah lagi dugaan gue’ batin Nadira semakin yakin.

“trus gimana keadaan Bastian sekarang Bi?”

“ya gitu deh mbak dia tadi lagi tidur. Udah beberapa hari ini dia sering melamun terus mbak, saya jadi ngga tega sama dia. Kayaknya dia lagi ada masalah besar gitu”

‘bener kan’ batin Nadira.

“hm.. boleh saya jenguk Bastian Bi?”

“noleh mbak boleh. Mbak naik aja keatas trus liat pintu yang tulisannya ‘Bastian”

“ohgitu. Yaudah Bi saya liat Bastian dulu ya Bi. Makasih” lantas Nadira mulai beranjak naik ke tangga dan mencari kamar Bastian. Tak sulit bagi Nadira untuk mencari pintu yang bertuliskan ‘Bastian’. Nadira kini sudah berdiri didepan pintu kamar Bastian. Diketuknya beberapa kali. Ternyata ada sahutan dari dalam walaupun hanya deheman saja.

“Bas…” sapa Nadira ragu. Dilihatnya Bastian sedang duduk ditepi kasurnya memandang jauh keluar jendela. Mendengar sapaan Nadira, Bastian berbalik badan. Dia kaget melihat Nadira lah yang berada diambang pintu kini.

“lo.. lo Nadira kan? Sahabatnya Gaby?” tanya Bastian. Nadira mengangguk. Lalu mulai mendekati Bastian.

“lo tau dari mana rumah gue?” tanya Bastian lagi.

“lo ngga perlu tau gue dapet alamat lo dari mana. Hm.. lo sakit apa?” tanya Nadira berbasa-basi.

“sakit biasa aja kok demam biasa sama… sakit hati” jawab Bastian pelan.

“hhh… kayaknya gue harus ngomong langsung sama lo deh”

“maksud lo?”

“gue mau tanya, ada masalah apa antara lo dan Gaby?”

“k..kok… kok lo nanya gitu? Bukannya lo tau kalo selama ini gue emang sering berantem sama dia?”

“kalo itu gue juga tau kali. Minggu kemaren gue liat kalian pulang bareng pas hujan. Nah, semenjak itu Gaby jadi pemurung, pendiem, ngga kayak Gaby yang dulu. Dan gue liat Gaby pun selalu ngehindar kalo tiap ketemu sama lo. jadi.. apa yang terjadi setelah lo nganterin Gaby pulang waktu itu?”

Bastian tampak ragu untuk menjawab yang sesungguhnya. Namun dia ingin semuanya selesai. Lebih baik dia jujur kepada Nadira saat ini agar dia bisa meminta solusi kepada Nadira berhubung Nadira sahabat Gaby.

“gue suka sama dia. Gue sayang sama dia. Gue cinta sama dia. Gue selama ini suka Nad sama Gaby. Maka dari itu gue selalu cari masalah sama dia biar gue dapet perhatian dari dia. Dan waktu gue nganterin Gaby pulang, gue jujur sama dia tentang perasaan gue. disana jug ague tau kalo sahabat lo… Ika suka sama gue. dan ngga tau kenapa tiba-tiba Gaby nyuruh gue buat pulang tinggalin dia sendiri. Gue bingung Nad sama dia”

“hhh… ya jelas Gaby uring-uringan kayak gitu lah. Gue yakin Gaby itu juga cinta Bas sama lo. tapi dia ngga mungkin nerima lo gitu aja. Gaby itu sahabat yang baik buat gue sama Ika. maka dari itu Gaby ngga mau nyakitin hati Ika dengan dia berpacaran sama lo”

“lo serius Gaby juga cinta sama gue?”

“menurut gue sih gitu. Soalnya semenjak lo anterin dia pulang, besoknya sifat dia langsung berubah 180 derajat. Kalo dia ngga punya perasaan apa-apa sama lo, ngga mungkin dia uring-uringan kayak gini sekarang”

“trus.. gue harus apa?”

“lo ngga harus ngelakuin apapun kok. Lo cukup siapin kata-kata buat nyatain perasaan lo lagi ke Gaby dan cukup dateng besok ke taman sekolah. Biar gue sama Ika yang ngatur semuanya”

“maksud lo? Ika? bukannya Ika… suka sama gue? masa iya dia mau nolongin gue buat nyatain cinta ke Gaby? Ah ngga ah! Gue ngga mau nyakitin hati cewe lagi”

“Bastian.. Ika itu Cuma kagum sama lo. dia Cuma terobsesi sama lo. lagian dia juga udah punya pacar kok. Biar gue nanti yang kasih tau ke Ika tentang semua ini dan juga rencana besok. Lo tinggal beres aja. Okey?”

“hhh… gue percaya aja deh sama lo”

*

Sesuai janji, Bastian sudah berada di taman sekolah menunggu kedatangan Gaby. Sesuai informasi dari Nadira tadi pagi, dia sudah menjelaskan semuanya kepada Ika dan ternyata Ika sangat mendukung begitu tahu rencana ini.

Sejujurnya, Nadira juga memiliki perasaan kepada Bastian. Tetapi dia tahu, orang yang dicintainya telah mencintai glain dan itu sahabatnya sendiri. Dia tidak boleh egois. Dia tidak bisa memaksakan cinta begitu saja. Bisa saja dia memaksa Bastian untuk menjadi kekasihnya. Namun dia tidak tega jika nantinya hati pria itu tersiksa menjalani hubungan dengannya. 

“Ika sama Nadira mana sih? kataya disini” Bastian dapat mendengar suara gadis yang sangat dikenalnya. Yap, gadis itu adalah Gaby.

“Gab..” panggil Bastian.

“Bastian?” kaget Gaby. Dia baru saja ingin kabur dari Bastian, namun kali ini pria itu tidak mau kehilangan kesempatan ini. dengan cekatan dia menahan tangan gadis itu.

“please jangan hindarin gue kayak gini Gab. Gue ngga sanggup kalo harus ngeliat lo ngejauh dari gue seakan-akan lo memendam benci yang terdalam sama gue” lirih Bastian.

“apa? ngga sanggup? Trus kenapa waktu kita dulu sering berantem lo nya sanggup-sanggup aja? Apa bedanya sih dulu sama sekarang? Anggap aja sekarang kita musuhan kayak dulu lagi” jawab Gaby dengan nada sinisnya. Bastian yakin, nada bicara seperti itu hanya bohong belaka Gaby saja.

“engga Gab gue ngga bisa. Gue cinta sama lo. gue pengen ngejagain lo selalu disamping gue. gue ingin lo jadi milih gue Gab. Please kasih gue kesempatan?”

“lo ngomong apa sih? ngelindur lo?”

“Gab, please..” Bastian menatap tajam mata Gaby. Gaby dapat melihat mata elang pria itu yang sangat terpancar keseriusannya.

“please Bas jangan bikin gue kayak gini. lo harus ngertiin gue. gue ngga bisa karena gue….” Gaby sudah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air mata mulai mengalir dikedua pipi nya. entah sejak kapan gadis ini menjadi gadis penangis tapi hanya satu yang dia tahu. Semua ini hanya karena Bastian seorang.

“karena apa? lo ngga tega sama Ika? gue ngerti Gab kalo lo ngejaga perasaan sahabat lo. tapi apa lo ngga bisa ngertiin perasaan gue? apa lo mau gue jadian sama Ika tapi hati gue kesiksa? Raga gue boleh aja lagi sama dia, tapi jiwa gue? engga Gab. Jiwa gue itu elo”

“engga Bas, please.. lepasin gue. bebasin gue buat ngelupain lo”

“ngga! Gue ngga mau kehilangan lo”

“Bastian bener Gab” ucap Ika dan Nadira tiba-tiba yang muncul bersama.

“Ika? Nadira? lo.. kalian…”

“terima Gab cintanya Bastian. Dia cowo yang baik. Dia tulus cinta sama lo. masalah gue.. lo ngga usah pikirin. Gue udah relain lo sama Bastian kok dan lagian… gue juga udah punya pacar hehe” lanjut Ika.

“Ka.. lo… lo serius?”

“iya. Apa lo tega ngeliat cowo yang lo cinta malah kesiksa kalo jadian sama gue?” tanya Ika dengan nada yang menggoda.

“ih.. apa sih” elak Gaby dengan wajah malunya.

“kalo cinta jangan gengsi” goda Nadira.

“gimana Gab?” tanya Bastian.

“gimana apanya?” tanya Gaby pura-pura bingung.

“lo… terima cinta gue atau engga?”

“maunya?”

“menurut lo?” Bastian melangkah agar mendekat dengan Gaby. Tatapan mereka tak lepas.

“lo maunya gimana?” Gaby juga mendekatkan badannya.

“gue mau lo terima cinta gue” semakin dekat. Kini wajah mereka pun juga ikut mendekat. Nadira dan Ika yang melihat itu secara langsung sudah menutup-nutup mata.

“ya udah”

“ya udah apa?” semakin dekat.

“gue terima cinta lo” mereka mendekatkan wajah mereka. perlahan mereka memiringkan wajahnya dan mulai menutup mata. Nadira dan Ika ketakutan melihat kejadian itu. langsung saja mereka berlari dan berteriak “AAAAAAAAA…..” sontak Gaby dan Bastian tersentak membuka mata dan menjauhkan wajah masing-masing. Mereka malu. Mereka tidak sadar ternyata masih ada Nadira dan Ika disana. Mereka saling tatap sebentar lalu terkekeh kecil sambil malu-malu.

*

Cinta suatu rasa yang tidak bisa dibohongi.
Cinta tumbuh tak memandang waktu.
Cinta ibaratkan bom yang semakin lama semakin meledak.
Cinta semakin lama dipendam, semakin hati kita memberontak untuk mengakuinya.
Tak ada manusia yang tak memiliki cinta.
Tak ada cinta, bagai sayur tanpa garam


END



ITU KATA-KATA PUITIS TERAKHIRNYA BENERAN NGGA ADA ROMANTIS-ROMANTIS NYA GUYS!!! HAHAHA RANDOM BANGET EMANG! Sayur aja pake masuk segala tuh kedala  puisi nya haha aneh ya aku? ah biarin aja yang penting usaha :p Maaf kalo ngga jelas. Kan aku udah bilang dari awal mohon dimaapin kalo endingnya random, ngga jelas arah dan tujuan. Mungkin kalo ada waktu dan diberkahi ide yang lebih cemerlang lagi, aku bakalan lanjutin ini cerpen biar endingnya jelas haha yang penting sekarang cerpen yang ini udah END! Ngga tau deh kedepannya beneran bakal aku lanjutin lagi atau engga.

Why Did I Fall In Love With You *14




SKM sedang duduk-duduk santai sepulang sekolah di café dekat sekolah mereka. disana juga salah satu tempat nongkrong mereka biasanya sepulang sekolah.

“gue yakin tuh lima cewe bakalan kaget kalo pas bangun tau-tau mereka udah dikelas” sahut Bisma.

“bener tuh. Apalagi si sipit lemakan itu. beh… gue yakin gaya dia yang paling lebay” sahut Reza.

“udah lah. Udah pulang sekolah juga kalian bahasannya masih aja itu anak berlima. Ngga kasian apa lo sama anak orang disiksa mulu? Kenapa lo berdua? Naksir sama pasangan masing-masing? Sampe kepikiran gitu” ceramah Morgan panjang lebar.

Dicky yang sedang main games di iPhone nya pun menganga mendengar ceramah Morgan yang panjang lebar itu. dianatara SKM yang lain, memang Morgan yang paling pendiam, irit ngomong. Ngga biasanya Morgan berbicara panjang lebar seperti itu.

Bisma dan Reza yang sedang makan kentang goreng pun cengo. Rangga yang awalnya sedang melamun juga bengong. Morgan jadi heran sendiri melihat ekspresi aneh sahabat-sahabatnya itu.

“kenapa lo semua? Kesambet?” tanya Morgan heran.

“seharusnya kita yang nanya itu ke elo, Gan. Kenapa lo? jangan-jangan elo lagi yang naksir sama adik bimbing lo. siapa tuh nama nya? Fe.. Fe…” balas Reza.

“Febby” kata Bisma.

“nah iya Febby”

“apaan sih lo? ya... ng.. ngga mungkin lah. Jangan ngegosip deh lo pada” jawab Morgan.

“ada benernya juga kata Morgan guys. gue ngerasa beersalah nih sama Pricilla udah bikin dia kayak tadi” timpal Rangga yang dari tadi melamun. Dia melamun memikirkan kesalahannya kepada Pricilla tadi. Dia merasa bersalah sudah membuat seorang anak gadis seperti Pricilla keletihan seperti itu. kini gentian yang lain menatap bingung kepada Rangga.

“apa lo semua liatin gue kayak gitu? Jangan pikir macem-macem ya” cegah Rangga langsung.

“hayooo looo ngaku. Kenapa lo? naksir lo sama si pipi bakpau?” todong Reza.

“eh eh apaan sih? engga kok engga”

“ya udah sih ngga penting juga. Eh kalian ada nomer mereka ngga? Mending sms deh biar mereka ngga mati kebingungan ntar” Dicky mulai buka suara.

“biar gue yang sms” kata Morgan cepat. Semua kembali menatap Morgan curiga.

“tuh kan curigaan lagi. tadi Febby miscall ke nomer gue. soalnya tadi handphone gue sempat ilang” jelas Morgan kepada sahabat-sahabatnya agar mereka tidak curiga lagi.

“Ohhhh…” koor mereka.

“ya udah sms gih” suruh Dicky. Morgan pun mulai mengetikkan pesan kepada Febby. Setelah selesai, Dicky langsung merebut handphone Morgan dan kembali mengetikkan pesan singkat ke nomor Febby.

“eh iya gue ada pengumuman nih buat lo semua he-he-he” ucap Bisma senang dengan cengiran nya. SKM minus Bisma sudah dapat menebak apa yang akan dibicarakan oleh Bisma jika raut wajah dan senyumannya sudah seperti itu.

“dapet mangsa dimana lagi lo?” tanya Rangga yang sudah paham.

“tau aja lo hehe anak baru tadi disekolahan” jawab Bisma masih menampakkan cengirannya.

“nama?” tanya Dicky yang masih sibuk dengan iPhone nya.

“kelas?” tanya Reza yang kembali sibuk dengan kentang goreng nya.

PLETAAKK

Reza mendapat toyoran dikepalanya dari Rangga.

“aduuh sakit.. kenapa asih lo?” protes Reza tidak terima.

“lo bego atau apa hah? Udah jelas tadi si Bisma bilang anak baru. Ya berarti dia masih kelas satu dong dan dia juga belum dapet kelas yang fix dong” protes Rangga tak kalah sengitnya.

“ya.. mana tau aja kan dia anak kelas dua sama kayak kita tapi anak pindahan. Kan itu nama nya anak baru juga” jawab Reza dengan tangan yang mengusap-usap kepala.

“bener juga sih” jawab Rangga pelan.

“kenapa jadi lo berdua sih yang ribut?” lerai Bisma.

“dia itu anak kelas satu, anak MOS. Terlebih… dia itu salah satu adik bimbing dikelompok kita” ujar Bisma dengan suara lantang dan riang seperti anak kecil.

Dicky yang sedang memegang handphone nya tersentak kaget dan handphone nya hampir saja terjatuh ke lantai. Reza yang sedang asik melahap kentang goreng nya malah tersedak. Morgan yang tadi sedang mendengarkan Bisma berbicara saja dengan tangan menopang dagu ikutan kaget dan hampir saja kepala nya jatuh ke lantai (?), Rangga yang tadi tenaga nya lumayan terkuras karena berdebat dengan Reza pun tenaganya kini semakin terkuras karena shock.

“kenapa lo pada?” tanya Bisma bingung.

“bukan Shilla kan?” tanya Dicky cepat.

“yang jelas bukan Sivia kan?” tanya Reza.

“bukan juga Pricilla kan?”

“Pasti bukan Febby nih”

“eh..eh..eh.. lo semua pada kenapa sih? aneh banget hari ini. tenang aja… cewe-cewe lo semua ngga bakal gue rebut. Gue bukan temen makan temen kok. Woles” sahut Bisma santai.

“cewe? Apa sih lo ngaco”

“ngga sudi gue”

“pipi buntel.. Ih..”

“untung hm…”

“trus kalo bukan mereka, siapa lagi dong?” tanya Rangga. Bisma tersenyum penuh arti. Menyuruh keempat sahabatnya untuk berfikir sendiri. Morgan, Dicky, Rangga dan Reza memutar otak. Satu nama yang belum mereka sebut sedari tadi. Ya, hanya itu.

“IFY?!” tanya mereka serempak.

“YAP 100!!!!” jawab Bisma senang akhirnya sahabat-sahabatnya sadar juga sambil bertepuk-tepuk tangan.

“lo ngga salah pilih Mang?” tanya Reza.

“lo ngga lagi ngelindur kan tadi pas nembak dia?” Tanya Rangga.

“kesambet apaan lo?” tanya Morgan.

“bukannya lo benci setengah mati sama tuh cewe?” tanya Dicky.

“iya. Berantem mulu lagi tiap ketemu” sambung Rangga.

“ya engga lah… kali ini gue yakin pilihan gue tepat! Gue juga udah mutusin pacar-pacar gue kok semuanya. Dan sekarang cuma I-F-Y pacar gue. dan for your information aja guys, yang nembak itu bukan gue. tapi.. DIA” ucap Bisma bangga dengan penuh penekanan.

SKM minus Bisma semakin dibuat kaget dengan pengumuman Bisma kali ini. Bisma tidak pernah serius dengan seorang cewe. Bisma juga tidak pernah memiliki pacar SATU tetapi selalu lebih dari satu dan sekurang-kurangnya dua.

“dia itu sebuah tantangan bagi gue. langka gue dapetin cewe kayak dia. Kalo biasanya kan cewe-cewe ngejar gue minta dijadiin pacar tuh, nah sekarang dia malah ngejar-ngejar gue buat ngajak ribut. Special banget kan? Dan gue bakalan bikin dia jatuh cinta sama gue” ujar Bisma lagi dengan bangganya. Sahabat-sahabatnya masih diam mencerna semuanya.

“jadi.. intinya lo beneran suka sama dia apa engga?” tanya Dicky yang sudah mulai bisa mencerna semuanya.

“atau Cuma jadi tantangan aja buat lo yang setelah dia udah jatuh cinta sama lo trus lo tinggalin?” sambung Rangga.

“engga dong. Gue kayaknya beneran udah mulai ada rasa sama tuh cewe. Unik banget soalnya. Dan gue yakin kali ini gue bakalan serius Cuma satu cewe” jawab Bisma sambil menerawang.

“yaya.. terserah lo deh” pasrah Reza tak mau ambil pusing.

Bersambung…