Sabtu, 09 November 2013

First Love Until The Die *30



Di sebuah balkon kamar dilantai dua yang langsung menatap betapa indahnya malam hari ini, seorang cowok berkulit putih dan bertubuh tinggi itu sedang menatap langit. Otak nya sedari tadi sibuk memikirkan bagaimana caranya mengungkap semua ini. bagaimana jadinya jika semua ini sudah terbongkar. Perasaan taKut, bimbang, bingung bercampur menjadi satu.

“gue harus gimana? Kalo gue bilang, nanti Shilla ngejauh gimana? Kalo gue ngga jujur, gue ngga mau Shilla tersakiti lebih dalam lagi gara-gara gue” gumam cowok itu yang ternyata Cakka. sedari tadi dia sibuk memikirkan Shilla.

Otak nya berputar mencari-cari cara agar semua berjalan dengan lancar. Namun sayang, hingga sekarang Cakka masih belum menemukan cara yang tepat.

*

Matahari kembali bangkit untuk mengerjakan kembali tugas nya untuk menyinari bumi. Begitu juga untuk keempat anak remaja ini. mereka kembali bangun dari tidur nya untuk menjalankan aktifitas mereka seperti biasa, yaitu sekolah.

Kini Shilla, Ify, Cakka dan Rio sedang duduk dikantin menjelang bel masuk berbunyi. Mereka sedang berbincang-bincang ringan seraya Ify mengisi perutnya. Tadi Ify tidak sempat makan di rumah karena Rio sudah keburu datang menjemput. Yap, Rio dan Ify kini sudah seperti semula. Mereka sudah dekat kembali.

Sedari tadi sibuk terdengar bisik-bisik tetangga bahwa aka nada anak baru yang kabarnya akan duduk dikelas XI. Tapi mereka tidak tahu pasti apakah anak baru itu perempuan atau laki-laki dan mereka juga tidak tahu anak baru itu tepatnya di kelas XI berapa.

“eh siapa sih anak baru yang diomongin anak-anak? Jadi penasaran juga nih gue” ujar Rio yang tepatnya bertanya. Tak ada yang menjawab diantara Shilla, Ify dan Cakka. mereka sibuk masing-masing. Ify sibuk dengan makanan nya, sedangkan Cakka dan Shilla asik berbincang berdua.

Wajar saja, mereka tidak menanggapi pertanyaan Rio. Karena Rio bertanya tidak jelas kepada siapa dan tujuannya ke siapa. Memang, Rio bertanya memang tidak jelas kepada siapa. Yang penting diantara ketiga temannya ada yang menyahut. Ternyata dugaan nya salah, ketiga temannya malah asik sendiri-sendiri.

“ck.. kacang mahal banget yak. Kacang nya udah dingin nih di diemin dari tadi” sindir Rio dengan suara yang agak meninggi agar terdengar oleh ketiga temannya. Masih sama. Tidak ada hirauan dari Shilla, Ify maupun Cakka.

“KACANG GORENG KACANG REBUS. ENAK NIH ANGET. EH TAPI UDAH DINGIN GARA-GARA DIANGGURIN AJA” kini Rio berteriak. Tak sia-sia usahanya, Shilla, Ify dan Cakka kini menoleh ke Rio. Rio menghela nafas lega.

“kenapa lo Yo? Jualan kacang? Berapaan?” tanya Cakka dengan wajah malas-malasan karena merasa acara nya dengan Shilla terusik gara-gara suara Rio.

“iye. Murah kok, Cuma 5 perak sebiji”

“oh ya. Ngga tertarik” balas Cakka cuek lalu kembali berbincang asik dengan Shilla.

Rio berdecak kesal karena merasa dikacangin untuk kedua kalinya. Kini Rio beralih menggoyang-goyangkan tubuh Cakka.

“CAKKKAAA DENGERIN GUEEE” teriak Rio seraya menggoyang-goyangkan tubuh Cakka.

Karena merasa sangat terganggu oleh tingkah Rio, mau-tak-mau Cakka beralih menatap Rio dengan tatapan tajam ‘ngapain-sih-lo-gangguin-gue-sama-Shilla-aja?’ ya kira-kira seperti itulah arti dari tatapan tajam Cakka.

“gue Cuma mau nanya, lo tau ngga siapa anak baru yang sibuk dibicarain anak-anak dari tadi?” tanya Rio.

“man ague tau. Emang gue anak nya Kepsek?” jawab Cakka jutek. Rio menarik nafas saja mencoba bersabar atas sikap sahabatnya yang satu ini. jika Cakka sudah bertemu dengan Shilla, selalu saja Rio diabaikan oleh Cakka.

TEEETTT

Bel masuk menandakan waktu belajar-mengajar pun sudah berkumandang diseluruh penjuru sekolah.

“nah tuh udah masuk. Buruan buruan masuk kelas. ntar diomelin guru. Buruan buruann!!” dengan semangat Rio mengajak Shilla, Cakka dan Ify untuk masuk kelas karena sedari tadi dia sudah sangat bosan disini berhubung dia diabaikan saja.

*

Kini semua yang berada di kelas Shilla dan Ify tengah terperangah dengan apa yang sedang mereka lihat. Di depan sana tepatnya disamping Buk Winda, sudah berdiri seorang Pria berperawakan tinggi, berkulit putih dan memiliki senyum miring. Terlebih para cewek-cewek di kelas ini. ada yang sedang mematut diri mereka di cermin, menambah make-up mereka, ada yang senyum-senyum sendiri, ada juga yang menganga selebar-lebar nya tanda kedip. Yap, Shilla dan Ify sedari awal pria ini masuk ke kelas mereka, Shilla dan Ify tak henti-hentinya menganga dan melototkan mata mereka.

“ayo perkenalkan diri kamu” ujar Buk Winda kepada pria tadi.

“perkenalkan nama saya Debo Andreas biasa dipanggil Debo. Saya pindahan dari Paris. Harap bantuan nya semua, terimakasih” ujar pria itu yang ternyata adalah Debo. Tak lupa dia memamerkan senyum miring nya kepada semua anak-anak dikelas tersebut.

“ya sudah, kalau begitu kamu duduk di…. Nah dibelakang Shilla” Debo mengangguk lalu berjalan menuju kearah tempat duduk yang ditunjuk oleh Buk Winda tadi. Sebelumnya Debo tersenyum kepada kedua sahabat lama nya itu.

“baik anak-anak, berhubung guru-guru ada rapat, kalian ibu tinggalkan dulu. Kerjakan latihan hal 223. Minggu depan tugas dikumpulkan”

“baik buukkk” koor anak-anak. Setelah kepergian Buk Winda dari kelas mereka, semua anak-anak langsung berhamburan. Ada yang pergi ke meja temannya, ada yang duduk-duduk di meja guru, ada yang nyanyi-nyanyi ngga jelas, ada yang foto-foto, ada juga yang kabur pergi nongkrong ke kantin. seperti hal nya ketiga sahabat lama yang sudah tak lama bejumpa ini. Shilla, Ify dan Debo. Mereka kini sudah bertengger di meja kantin. banyak hal yang belum mereka ceritakan sewaktu dirumah Shilla waktu itu.

“lo jadi juga Deb masuk sini? Gue kirain ngga jadi” ujar Ify sedikit tak percaya. Shilla hanya mengangguk menyetujui perkataan Ify barusan.

“ya jadilah Ify… mana bisa gue pisah dari elo” ujar Debo gemas dengan sedikit mengacak-acak lembut rambut Ify.

‘pisah dari gue?’ batin Ify heran. Mendengar penuturan Debo dan sikap Debo barusan, tanpa sadar pipi Ify bersemu merah.

Shilla juga menyadari akan hal itu. seperti nya Shilla sudah mendapat sedikit sinyal “ehem.. ehem kayaknya handphone gue ketinggalan di tas deh, gue ke kelas dulu ya” Shilla sengaja meninggalkan Ify dan Debo berdua saja. Dia tidak mau merusak kesenangan Ify dengan Debo untuk kedua kali nya.

*

Shilla bingung ingin kemana. Tadi dia hanya beralasan saja untuk mengambil handphone, padahal handphone nya sedari tadi di dalam saku rok. Karena bingung ingin kemana, Shilla akhirnya memilih duduk santai saja di taman belakang sekolah. Setidaknya.. dia bisa meringankan bebasnnya disana dulu.

Ketika Shilla sedang menikmati sejuknya hembusan angin di taman ini dengan menutup matanya, Shilla merasakan ada seseorang yang baru saja duduk disampingnya. Karena tidak ingin diganggu, Shilla tidak memperdulikan siapa orang yang baru saja duduk disamping nya itu selagi orang itu tidak mengganggu keseruannya.

“ehem” suara deheman itu. seperti Shilla hafal itu suara siapa. Akibat dorongan rasa penasarannya, akhirnya Shilla membuka matanya dan melihat kesisi kirinya. Ternyata Cakka lah yang baru saja duduk disamping nya. Cakka sedang menatap lurus kedepan. Padahal tidak ada yang menarik –menurut Shilla-

“ngapain disini?” tanya Cakka masih menatap lurus kedepan. Shilla tidak menjawab. Dia sekarang mengikuti kegiatan Cakka, menatap lurus kedepan.

“bukannya belajar malah duduk disini. Sendirian lagi” lanjut Cakka. Shilla masih diam, tidak menjawab.

“Shil..” Cakka merasa jengkel juga karena tidak dihiraukan oleh Shilla sedari tadi. Kini Cakka sudah beralih menatap kearah Shilla.

Cakka jadi heran sendiri melihat perubahan raut wajah Shilla. Perasaan tadi pagi masih biasa-biasa aja, tapi kenapa sekarang malah jadi murung? Batin Cakka.

“Shil.. lo kenapa?” tanya Cakka lembut.

“gapapa kok. Gue Cuma berharap aja, kenapa bukan Kaka aja yang ada disamping gue sekarang ini? yang selalu ada disaat gue sendiri, yang selalu ada disaat gue butuh, yang selalu bikin gue tersenyum disaat gue sedih. Seperti yang lo lakuin selama ini ke gue” ujar Shilla tiba-tiba tapi masih menatap lurus kedepan. Tak sedikitpun menatap manik mata Cakka.

Cakka merasa tercekat dengan ucapan Shilla barusan. dia semakin merasa bersalah dengan Shilla “lo salah Shil. Apa yang gue lakuin ke elo sekarang, masih belum seberapa dengan apa yang dilakukan sama Kaka ke elo waktu kecil” ujar Cakka. ‘dan gue juga bukan orang yang selalu bikin elo tersenyum disaat lo sedih, bahkan karena gue lah elo menangis Shil’ batin Cakka menyambung ucapannya.

“lo yang salah. Kaka memang ada dulu disaat gue butuh, disaat gue sedih, selalu bikin gue tersenyum. Tapi itu DULU. DULU waktu kita kecil. Sekarang apa? sekarang yang ada itu ELO CAK. CAKKA bukan KAKA” kata Shilla penuh penekanan pada kata-kata yang dicapslock.

Cakka tidak tahu lagi harus berbicara apa. ingin rasanya saat ini juga dia jujur kepada Shilla, tapi disisi lain dia masih belum ingin Shilla menjauh dari nya.

“udah deh jangan bahas yang begituan sekarang. Tadi pertanyaan gue belum lo jawab. Ngapain lo disini? Bukannya masuk kelas eh malah disini sendirian” Cakka berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tidak ingin semakin larut dalam perasaan bersalahnya.

“lo lupa? Guru kan lagi rapat. Nah lo juga ngapain disini? Nyamperin gue yaaa” goda Shilla iseng.

“hehe lupa. Kalo iya emang kenapa?” balas Cakka juga tak mau kalah. Cakka mencondongkan tubuhnya sehingga sekarang jarak diantara Cakka dan Shilla sangatlah dekat.

Niat ingin membuat Cakka salting, eh malah Shilla yang kena batunya. Shilla sekarang ngga tau mau ngapain, dia salting.

“ya.. ngg… gapapa sih. udah ah jangan deket-deket. Ntar diliatin sama guru lagi” Shilla mengalihkan pandangan nya dan sedikit mendorong kepala Cakka agar menjauh dari wajahnya.

Cakka tertawa geli melihat sikap Shilla jika sudah salting seperti ini. dia sangat senang menggoda Shilla dan melihat raut wajah Shilla jika sudah salting. Seperti tomat. Ingin rasanya Cakka menggigit pipi Shilla sekarang juga.

Bersambung…

Part 30 yihaaaa \m/ special part 30 ini aku bikin edisi ceritanya rada panjang dikit dari biasanya hihi. Makasih buat semuanya yang udah baca cerbung FLUTD ini dari awal sampe sekarang. Maaf kalo aku selalu ngaret ngepost nya. luv u dehh :* 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar