Di sebuah balkon kamar dilantai dua
yang langsung menatap betapa indahnya malam hari ini, seorang cowok berkulit
putih dan bertubuh tinggi itu sedang menatap langit. Otak nya sedari tadi sibuk
memikirkan bagaimana caranya mengungkap semua ini. bagaimana jadinya jika semua
ini sudah terbongkar. Perasaan taKut, bimbang, bingung bercampur menjadi satu.
“gue harus gimana? Kalo gue bilang,
nanti Shilla ngejauh gimana? Kalo gue ngga jujur, gue ngga mau Shilla tersakiti
lebih dalam lagi gara-gara gue” gumam cowok itu yang ternyata Cakka. sedari
tadi dia sibuk memikirkan Shilla.
Otak nya berputar mencari-cari cara
agar semua berjalan dengan lancar. Namun sayang, hingga sekarang Cakka masih
belum menemukan cara yang tepat.
*
Matahari kembali bangkit untuk
mengerjakan kembali tugas nya untuk menyinari bumi. Begitu juga untuk keempat
anak remaja ini. mereka kembali bangun dari tidur nya untuk menjalankan
aktifitas mereka seperti biasa, yaitu sekolah.
Kini Shilla, Ify, Cakka dan Rio
sedang duduk dikantin menjelang bel masuk berbunyi. Mereka sedang
berbincang-bincang ringan seraya Ify mengisi perutnya. Tadi Ify tidak sempat
makan di rumah karena Rio sudah keburu datang menjemput. Yap, Rio dan Ify kini
sudah seperti semula. Mereka sudah dekat kembali.
Sedari tadi sibuk terdengar
bisik-bisik tetangga bahwa aka nada anak baru yang kabarnya akan duduk dikelas
XI. Tapi mereka tidak tahu pasti apakah anak baru itu perempuan atau laki-laki
dan mereka juga tidak tahu anak baru itu tepatnya di kelas XI berapa.
“eh siapa sih anak baru yang
diomongin anak-anak? Jadi penasaran juga nih gue” ujar Rio yang tepatnya
bertanya. Tak ada yang menjawab diantara Shilla, Ify dan Cakka. mereka sibuk
masing-masing. Ify sibuk dengan makanan nya, sedangkan Cakka dan Shilla asik
berbincang berdua.
Wajar saja, mereka tidak menanggapi
pertanyaan Rio. Karena Rio bertanya tidak jelas kepada siapa dan tujuannya ke
siapa. Memang, Rio bertanya memang tidak jelas kepada siapa. Yang penting
diantara ketiga temannya ada yang menyahut. Ternyata dugaan nya salah, ketiga
temannya malah asik sendiri-sendiri.
“ck.. kacang mahal banget yak.
Kacang nya udah dingin nih di diemin dari tadi” sindir Rio dengan suara yang
agak meninggi agar terdengar oleh ketiga temannya. Masih sama. Tidak ada hirauan
dari Shilla, Ify maupun Cakka.
“KACANG GORENG KACANG REBUS. ENAK
NIH ANGET. EH TAPI UDAH DINGIN GARA-GARA DIANGGURIN AJA” kini Rio berteriak.
Tak sia-sia usahanya, Shilla, Ify dan Cakka kini menoleh ke Rio. Rio menghela
nafas lega.
“kenapa lo Yo? Jualan kacang?
Berapaan?” tanya Cakka dengan wajah malas-malasan karena merasa acara nya
dengan Shilla terusik gara-gara suara Rio.
“iye. Murah kok, Cuma 5 perak
sebiji”
“oh ya. Ngga tertarik” balas Cakka
cuek lalu kembali berbincang asik dengan Shilla.
Rio berdecak kesal karena merasa
dikacangin untuk kedua kalinya. Kini Rio beralih menggoyang-goyangkan tubuh
Cakka.
“CAKKKAAA DENGERIN GUEEE” teriak Rio
seraya menggoyang-goyangkan tubuh Cakka.
Karena merasa sangat terganggu oleh
tingkah Rio, mau-tak-mau Cakka beralih menatap Rio dengan tatapan tajam
‘ngapain-sih-lo-gangguin-gue-sama-Shilla-aja?’ ya kira-kira seperti itulah arti
dari tatapan tajam Cakka.
“gue Cuma mau nanya, lo tau ngga
siapa anak baru yang sibuk dibicarain anak-anak dari tadi?” tanya Rio.
“man ague tau. Emang gue anak nya
Kepsek?” jawab Cakka jutek. Rio menarik nafas saja mencoba bersabar atas sikap
sahabatnya yang satu ini. jika Cakka sudah bertemu dengan Shilla, selalu saja
Rio diabaikan oleh Cakka.
TEEETTT
Bel masuk menandakan waktu
belajar-mengajar pun sudah berkumandang diseluruh penjuru sekolah.
“nah tuh udah masuk. Buruan buruan
masuk kelas. ntar diomelin guru. Buruan buruann!!” dengan semangat Rio mengajak
Shilla, Cakka dan Ify untuk masuk kelas karena sedari tadi dia sudah sangat
bosan disini berhubung dia diabaikan saja.
*
Kini semua yang berada di kelas
Shilla dan Ify tengah terperangah dengan apa yang sedang mereka lihat. Di depan
sana tepatnya disamping Buk Winda, sudah berdiri seorang Pria berperawakan
tinggi, berkulit putih dan memiliki senyum miring. Terlebih para cewek-cewek di
kelas ini. ada yang sedang mematut diri mereka di cermin, menambah make-up
mereka, ada yang senyum-senyum sendiri, ada juga yang menganga selebar-lebar
nya tanda kedip. Yap, Shilla dan Ify sedari awal pria ini masuk ke kelas
mereka, Shilla dan Ify tak henti-hentinya menganga dan melototkan mata mereka.
“ayo perkenalkan diri kamu” ujar Buk
Winda kepada pria tadi.
“perkenalkan nama saya Debo Andreas
biasa dipanggil Debo. Saya pindahan dari Paris. Harap bantuan nya semua,
terimakasih” ujar pria itu yang ternyata adalah Debo. Tak lupa dia memamerkan
senyum miring nya kepada semua anak-anak dikelas tersebut.
“ya sudah, kalau begitu kamu duduk
di…. Nah dibelakang Shilla” Debo mengangguk lalu berjalan menuju kearah tempat
duduk yang ditunjuk oleh Buk Winda tadi. Sebelumnya Debo tersenyum kepada kedua
sahabat lama nya itu.
“baik anak-anak, berhubung guru-guru
ada rapat, kalian ibu tinggalkan dulu. Kerjakan latihan hal 223. Minggu depan
tugas dikumpulkan”
“baik buukkk” koor anak-anak.
Setelah kepergian Buk Winda dari kelas mereka, semua anak-anak langsung
berhamburan. Ada yang pergi ke meja temannya, ada yang duduk-duduk di meja
guru, ada yang nyanyi-nyanyi ngga jelas, ada yang foto-foto, ada juga yang
kabur pergi nongkrong ke kantin. seperti hal nya ketiga sahabat lama yang sudah
tak lama bejumpa ini. Shilla, Ify dan Debo. Mereka kini sudah bertengger di
meja kantin. banyak hal yang belum mereka ceritakan sewaktu dirumah Shilla
waktu itu.
“lo jadi juga Deb masuk sini? Gue
kirain ngga jadi” ujar Ify sedikit tak percaya. Shilla hanya mengangguk
menyetujui perkataan Ify barusan.
“ya jadilah Ify… mana bisa gue pisah
dari elo” ujar Debo gemas dengan sedikit mengacak-acak lembut rambut Ify.
‘pisah dari gue?’ batin Ify heran.
Mendengar penuturan Debo dan sikap Debo barusan, tanpa sadar pipi Ify bersemu
merah.
Shilla juga menyadari akan hal itu.
seperti nya Shilla sudah mendapat sedikit sinyal “ehem.. ehem kayaknya
handphone gue ketinggalan di tas deh, gue ke kelas dulu ya” Shilla sengaja
meninggalkan Ify dan Debo berdua saja. Dia tidak mau merusak kesenangan Ify
dengan Debo untuk kedua kali nya.
*
Shilla bingung ingin kemana. Tadi
dia hanya beralasan saja untuk mengambil handphone, padahal handphone nya
sedari tadi di dalam saku rok. Karena bingung ingin kemana, Shilla akhirnya
memilih duduk santai saja di taman belakang sekolah. Setidaknya.. dia bisa
meringankan bebasnnya disana dulu.
Ketika Shilla sedang menikmati sejuknya
hembusan angin di taman ini dengan menutup matanya, Shilla merasakan ada
seseorang yang baru saja duduk disampingnya. Karena tidak ingin diganggu,
Shilla tidak memperdulikan siapa orang yang baru saja duduk disamping nya itu
selagi orang itu tidak mengganggu keseruannya.
“ehem” suara deheman itu. seperti
Shilla hafal itu suara siapa. Akibat dorongan rasa penasarannya, akhirnya
Shilla membuka matanya dan melihat kesisi kirinya. Ternyata Cakka lah yang baru
saja duduk disamping nya. Cakka sedang menatap lurus kedepan. Padahal tidak ada
yang menarik –menurut Shilla-
“ngapain disini?” tanya Cakka masih
menatap lurus kedepan. Shilla tidak menjawab. Dia sekarang mengikuti kegiatan
Cakka, menatap lurus kedepan.
“bukannya belajar malah duduk
disini. Sendirian lagi” lanjut Cakka. Shilla masih diam, tidak menjawab.
“Shil..” Cakka merasa jengkel juga
karena tidak dihiraukan oleh Shilla sedari tadi. Kini Cakka sudah beralih
menatap kearah Shilla.
Cakka jadi heran sendiri melihat
perubahan raut wajah Shilla. Perasaan tadi pagi masih biasa-biasa aja, tapi
kenapa sekarang malah jadi murung? Batin Cakka.
“Shil.. lo kenapa?” tanya Cakka
lembut.
“gapapa kok. Gue Cuma berharap aja,
kenapa bukan Kaka aja yang ada disamping gue sekarang ini? yang selalu ada
disaat gue sendiri, yang selalu ada disaat gue butuh, yang selalu bikin gue
tersenyum disaat gue sedih. Seperti yang lo lakuin selama ini ke gue” ujar
Shilla tiba-tiba tapi masih menatap lurus kedepan. Tak sedikitpun menatap manik
mata Cakka.
Cakka merasa tercekat dengan ucapan
Shilla barusan. dia semakin merasa bersalah dengan Shilla “lo salah Shil. Apa
yang gue lakuin ke elo sekarang, masih belum seberapa dengan apa yang dilakukan
sama Kaka ke elo waktu kecil” ujar Cakka. ‘dan gue juga bukan orang yang selalu
bikin elo tersenyum disaat lo sedih, bahkan karena gue lah elo menangis Shil’
batin Cakka menyambung ucapannya.
“lo yang salah. Kaka memang ada dulu
disaat gue butuh, disaat gue sedih, selalu bikin gue tersenyum. Tapi itu DULU.
DULU waktu kita kecil. Sekarang apa? sekarang yang ada itu ELO CAK. CAKKA bukan
KAKA” kata Shilla penuh penekanan pada kata-kata yang dicapslock.
Cakka tidak tahu lagi harus
berbicara apa. ingin rasanya saat ini juga dia jujur kepada Shilla, tapi disisi
lain dia masih belum ingin Shilla menjauh dari nya.
“udah deh jangan bahas yang begituan
sekarang. Tadi pertanyaan gue belum lo jawab. Ngapain lo disini? Bukannya masuk
kelas eh malah disini sendirian” Cakka berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Tidak ingin semakin larut dalam perasaan bersalahnya.
“lo lupa? Guru kan lagi rapat. Nah
lo juga ngapain disini? Nyamperin gue yaaa” goda Shilla iseng.
“hehe lupa. Kalo iya emang kenapa?”
balas Cakka juga tak mau kalah. Cakka mencondongkan tubuhnya sehingga sekarang
jarak diantara Cakka dan Shilla sangatlah dekat.
Niat ingin membuat Cakka salting, eh
malah Shilla yang kena batunya. Shilla sekarang ngga tau mau ngapain, dia
salting.
“ya.. ngg… gapapa sih. udah ah
jangan deket-deket. Ntar diliatin sama guru lagi” Shilla mengalihkan pandangan
nya dan sedikit mendorong kepala Cakka agar menjauh dari wajahnya.
Cakka tertawa geli melihat sikap
Shilla jika sudah salting seperti ini. dia sangat senang menggoda Shilla dan
melihat raut wajah Shilla jika sudah salting. Seperti tomat. Ingin rasanya
Cakka menggigit pipi Shilla sekarang juga.
Bersambung…
Part 30 yihaaaa \m/ special part 30
ini aku bikin edisi ceritanya rada panjang dikit dari biasanya hihi. Makasih
buat semuanya yang udah baca cerbung FLUTD ini dari awal sampe sekarang. Maaf
kalo aku selalu ngaret ngepost nya. luv u dehh :*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar