Minggu, 24 November 2013

You Are My Dream *16



Sudah 1 jam Rio tidak sadarkan diri. Tidak bangun dari pingsan nya. gadis cantik ini sedari tadi masih setia untuk menunggu Rio bangun. Gurat kekhawatiran pun jelas tergambar diwajah manis nya ini. jujur, dia takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengan pujaan hati nya ini.

Ify –gadis itu- sengaja ingin menunggui Rio sadar. Ketika Rio pingsan tadi, dia langsung meminta Cakka, Alvin, dan Gabriel untuk membawa Rio ke UKS. Ketiga sahabat Rio sudah menawarkan agar Ify masuk ke kelas saja, namun Ify bersikeras untuk tetap ingin disana sampai Rio sadar. Mau tak mau ketiga sahabat Rio itupun pasrah dan meninggalkan Ify di UKS yang masih setia menunggu Rio sadar.

Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkan mu
Jika aku memang tercipta untuk mu
Ku kan memilikimu…
Jodoh pasti bertemu…

untuk mengisi kebosanan nya, Ify bersenandung indah dengan harapan penuh Rio sang pujaan hati nya segera bangun. Tak lama, jari-jemari Rio bergerak sedikit demi sedikit. Ify yang sedang menggenggam erat tangan Rio sedari tadi terlonjak kaget. Segera dia beralih menatap wajah Rio. Perlahan, perlahan, perlahan. Rio membuka matanya.

“Yo.. Rio? Lo udah sadar? Syukurlah..” ujar Ify bernafas lega.

“argghh.. gue dimana?” tanya Rio dengan suara lirihnya dan masih memegangi kepala nya yang masih pusing.

“lo di UKS Yo.. tadi lo pingsan. Lo kenapa bisa pingsan sih?” tanya Ify tak sabaran. Mendengar jawab Ify, Rio langsung menolehkan kepalanya yang semula mengedarkan pandangan nya kesekitar ruangan UKS.

“lo… lo beneran I..Fy?” tanya Rio masih sama dengan pertanyaan sebelum dia pingsan tadi.

“iya Riooo. Emang kenapa sih lo nanya gitu mulu?” tanya Ify kesal juga lama-lama.

“be…ne..ran? heeeuuhh” lagi-lagi Rio pingsan.

“Yo.. Yo.. Rio… ahelah pingsan lagi nih anak. Duuh”

*

TEETTT

Bel istirahat pun sudah berbunyi. Kini Ify dkk dan Rio dkk sudah berkumpul dikantin. 15 menit sebelum bel berbunyi tadi, Rio sudah bangun kembali dari pingsan nya dan sudah dipastikannya tidak akan pingsan lagi. makalah sekarang Rio dan Ify bisa bergabung dengan teman-teman mereka.

“girls… pada mau makan apa nih?” tanya Agni kepada Ify, Shilla dan Sivia

“gue es lemon tea sama bakso aja deh” jawab Sivia.

“samain aja” serempak Ify dan Shilla. Agni mengangguk dan mengacungkan ibu jari nya dan segera memesan makanan.

“gue juga deh mau pesen makanan. Lo semua mau makan apaan?” tanya Cakka berdiri dibangku nya.

“tumben lo mau pesenin buat kita? Ada apaan nih? Owowow… gue tau. Lo mau moduskan biar samaan sama Agni?” tebak Gabriel.

“hehehe.. tau aja lo Iel. Udah deh, mau pesen apa engga nih?”

“ya udah deh mumpung lo baik juga. Biasanya kan lo pelit. Gue es teh manis sama basko aja” jawab Gabriel.

“sialan lo. lo Yo, Vin?”

“samain”

“okedeh”

Seraya menunggu pesanan mereka datang, Ify, Shilla, Sivia, Rio, Gabriel dan Alvin kini sedang berbincang-bincang ringan dan diiringi gelak tawa. Sampai akhirnya Agni dan Cakka datang membawakan makanan serta minuman mereka.

“sialan. makanan lo semua berat banget” rutuk Cakka sesampainya di meja.

“lah? Siapa yang mau pesenin tadi? Lo sendiri kan? Yaudah derita lo berarti” cibir Rio.

“sialan lo” Cakka menoyor kepala Rio.

“aww.. sakit bego!”

“biarin”

“ih Cakka.. jangan gitu dong. Rio kan baru aja pingsan, masa kepala nya lo toyor juga sih?” bela Ify seraya membelai-belai lembut rambut Rio. semua cengo melihat sikap Ify.

Rio tersenyum menang kepada Cakka dan juga tersenyum senang karena Ify care terharap nya. “sakit ngga Yo ditoyor Cakka barusan? mana yang sakit? Coba gue liat..” ujar Ify lembut dan melihat kepala Rio. Semua semakin cengo dibuatnya.

Ketika sedang asik-asiknya menikmati belaian tangan Ify, tiba-tiba lima orang cowok-cowok dengan wajah yang lumayan datang menghampiri meja mereka. ditangan mereka masing-masing sudah ada bunga, kado dan lain semacamnya. Entahlah, siapa yang sedang berulang tahun sekarang (?)

“hai Ify..” serempak mereka berlima.

Ify yang mendengar nama nya dipanggil tersebut langsung menghentikan kegiatannya dan beralih menatap kelima orang tersebut. Ify tidak kenal dengan kelime cowok ini, tapi dia pernah beberapa kali melihat beberapa dari mereka di sekolah ini. semua teman-teman Ify pun juga beralih menatap kelima cowok tersebut.

“iya? Ada apa ya?” tanya Ify ramah namun masih dengan wajah bingung nya.

“lo cantik banget hari ini” puji salah satu dari mereka.

“wahehe makasih” ucap Ify dengan wajah merah merona nan malu nya. seperti sebentar lagi akan ada asap disamping Ify.

“nih buat lo. semoga suka ya” ujar kelima cowok tersebut serempak dan mengulurkan kado-kado yang ada ditangannya kepada Ify. Ify heran namun masih tetap menerima kado-kado tersebut.

“buat gue? dalam rangka apaan? gue ngga birthday loh sekarang” heran Ify.

“itu sebagai ungkapan perasaan kita ke elo. Ya udah, kita pergi dulu ya” lalu kelima cowok itu pun berlalu dari meja Ify dkk dan Rio dkk. Teman-teman Ify dan teman-teman Rio sedari tidak terlalu memperdulikan kelima cowok tadi dan Ify, namun lebih memperdulikan perubahan ekspresi wajah pada Rio. Semua nya sudah cemas jika Rio sudah seperti ini.

Wajah Rio sudah merah padam seperti sedang menahan amarah. Tangan kanan nya yang sedang memegang sendok pun kini suah meremas-remas sendok sekuat tenaga nya hingga sendok itupun bengkok. Tangan kiri nya yang kosong juga sudah mengepal kuat-kuat. Urat-urat nadinya sudah semakin jelas terlihat.

Ify kembali duduk dan meletakkan kado-kado tadi diatas meja. Beralih menatap temannya satu-per-satu dengan senyuman masih merekah didibirnya. Namun ketika melihat raut wajah yang aneh dari teman-temannya, senyum Ify pun memudar.

“lo semua kenapa?” tanya Ify heran. Semua teman-temannya hanya menunjuk kearah Rio dengan tatapan mata mereka. Ify yang mengerti pun kini beralih melihat kesamping –Rio- wajah Rio pun semakin aneh dari teman-temannya.

“Yo, lo kenapa? Lo pusing lagi? mau gue bawa ke U…” belum selesai Ify menyelesaikan perkataannya, Rio sudah berdiri dan sedikit menggebrak meja dan berucap “gue duluan” dengan suara, nada, serta intonasi yang sangat amat dingin. Ify semakin bingung dibuatnya.

“dia kenapa?” tanya Ify kepada semua teman-temannya berharap aka nada yang menjawab. Namun nihil, yang ditanya hanya mengangkat bahu menandakan mereka tidak tahu.

‘Rio kenapa sih?’ batin Ify heran dan bertanya-tanya sendiri.

Bersambung…

Hayooo maaf aku ngaret ngepost nya hehe sebenernya part ini udah selesai beberapa seminggu/dua minggu yang lalu sih. tapi berhubung modem dirumah ngga hidup, ya jadilah ngaret ngepost nya. dan dan.. part ini udah aku janjiin sebagai kado buat salah satu readers YAMD ini nama nya Annisa. Well, berhubung aku lupa nama nya, jadi yang merasa punya nama Annisa dan baru aja ulang tahun beberapa minggu yang lalu, ini kado yang aku janjiin buat kamu yeaay!! Happy birthday ya anis :* maaf kado nya ngaret hehe

Sabtu, 09 November 2013

You Are My Dream *15


Matahari sudah menampakan wujudnya dan kembali menjalan tugas utama nya menerangi bumi. Pagi ini semua kembali ke aktifitas mereka masing-masing. Pagi yang cerah disambut dengan kehebohan di SMA Indonesian High School ini.

Semua murid dibuat terperangah oleh kehadiran gadis cantik yang tengah berjalan menyusuri koridor sekolah. Seakan angin berhembus kencang sehingga membuat rambut gadis cantik ini yang terurai menjadi berkibaran. Wajah nya cantik dengan menggunakan make-up natural. Accessories lucu, menarik namun simple pun ia kenakan. Gadis ini berjalan lagaknya bak peragawati.

“widih gila cantik banget” ujar semua para murid cowok yang melihat kehadiran gadis cantik itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“siapa tuh? Anak baru ya?”

“nama nya siapa ya?”

“gue harus dapetin dia”

Dan masih banyak lagi pujian-pujian yang dilontarkan semua siswa-siswi SMA Indonesian High School ini. bahkan bukan hanya cowok saja yang memuji gadis ini, cewek-cewek pun banyak yang mengakui kecantikan gadis ini dan tak sedikit yang menginginkan gadis ini menjadi teman mereka.

Shilla, Sivia dan Agni yang sengaja datang lebih awal untuk melihat kehebohan ini pun kini sudah berlari keluar kelas untuk melihat ekspresi semua murid-murid disini.

“yess sukses!” Shilla dan Sivia pun bertos ria karena merasa rencana mereka berhasil. Sedangkan Agni? Hanya berdiri dengan cueknya memperhatikan tampang anak-anak cowok satu-per-satu. Ada yang netesin iler, ada yang geleng-geleng kepala, ada yang nabok-nabok bahu temannya, dan berbagai ekspresi terpancar dari wajah cowok-cowok disana. Bahkan ada yang sedang bersanding dengan pacarnya, karena menatap gadis cantik itu lewat, si cowok pun langsung dijewer oleh ceweknya. Ckck.

“ada apaan sih?” tanya tiga orang cowok yang baru saja datang menerobos kerumunan dan sekarang tepat berdiri didekat Shilla, Sivia dan Agni.

“eh Iel, Vin, Cak” kaget Sivia. Ternyata tiga orang cowok yang baru datang itu adalah Gabriel, Alvin dan Cakka.

“ini ada apaan sih?” tanya Alvin mengulang pertanyaannya lagi.

“oh itu.. lo liat aja sendiri. Tuh” jawab Shilla sumringah seraya menunjuk kearah gadis cantik yang sekarang menjadi tontotan semua orang itu.

Serentak Gabriel, Alvin dan Cakka menoleh kearah tunjuk Shilla. Mereka menelaah detail demi detail apa yang mereka lihat sekarang. Mencoba berfikir siapa gadis cantik itu karena mereka seperti mengenali sedikit-sedikit lekuk wajah gadis cantik itu.

“itu… bidadari ya Iel, Vin?” tanya Cakka yang kini menganga lebar melihat gadis ituseraya menampar-nampar kecil wajah Gabriel dan Alvin namun pandangannya masih tak berpindah dari gadis cantik itu.

“lo semua tau? Baru kali ini gue ketemu bidadari” ujar Alvin tak kalah ngelindurnya dibanding Cakka.

“itu anak baru ya? Nama nya siapa? Kelas berapa? Pin bb nya berapa? Twitter nya apa? line nya apa?” tanya Alvin entah kesiapa dengan tujuan apa. seperti nya Gabriel juga ikutan ngelindur seperti Cakka dan Alvin.

Shilla, Sivia dan Agni sudah bersusah payah menahan tawa mereka yang seperti nya akan meledak sebentar lagi. kini gadis cantik itu melambaikan tangannya ke suatu arah seraya memancarkan senyuman manisnya. Kearah dimana Shilla, Sivia, Agni, Gabriel, Alvin dan Cakka berdiri.

Gabriel, Alvin dan Cakka yang sedari tadi masih menatap gadis itu tanda kedip pun kaget karena mereka sadar gadis itu tengah melambaikan tangan dan tersenyum kearah mereka. seketika mereka sibuk dan heboh sendiri merapikan bentuk rambut, baju dan tampang mereka masing-masing.

“eh eh gue udah keren belom?” tanya Alvin heboh sendiri .

“udah udah. Gue nih gue gimana? Rambut gue? perfect ngga?” tanya Cakka yang juga heboh.

“keren kok keren. Baju gue? sepatu gue? tampang gue? ada yang kotor ngga diwajah gue?” Gariel juga heboh.

“cakep kok cakep. Perfect dah kita” jawab Cakka dan Alvin serentak. Shilla, Sivia dan Agni hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah konyol ketiga cowok itu. kini ketiga cowok itu sudah berdiri dengan tegap dan gagah nya seraya membalas senyuman gadis cantik itu. dengan pede nya mereka bertiga balas melambaikan tangan kepada gadis cantik itu yang tengah berjalan menuju ketempat mereka.

“hai” sapa Gabriel, Alvin dan Cakka dengan memasang tampang tablo mereka seraya melambai-lambaikan tangan kearah gadis cantik itu.

“hai Iel, Vin, Cak. Loh? Kalian kenapa?” tanya gadis cantik itu yang kini sudah berdiri dihadapan Shilla, Sivia, Agni, Gabriel, Alvin dan Cakka. dia melihat ketidakberesan diwajah Gabriel, Alvin dan Cakka. tidak biasanya ketiga cowok itu memandang nya seperti itu. seperti orang yang kehilangan akal sehat.

Ketiga cowok itu ternganga. Bagaimana bisa gadis cantik yang baru mereka lihat ini mengenali nama mereka? itulah kira-kira yang ada diotak mereka bertiga.

Gabriel, Alvin dan Cakka saling berpandang sebentar “bidadari kok tau nama kita?” tanya mereka serentak seraya menunjuk diri masing-masing.

“mereka kenapa sih?” tanya gadis itu kepada Shilla, Sivia dan Agni. Mereka hanya mengangkat bahu.

“sesuai yang gue bilang kemaren, satu sekolahan bakalan heboh dengan kedatangan lo” ujar Shilla.

“maksudnya?”

“Ifyyy, lo liat kan tadi cowok-cowok pada ileran liatin lo? nah.. sekarang ketiga anak ini juga sama kayak mereka-mereka. takjub ngeliat lo” jelas Sivia gemas kepada gadis cantik itu yang ternyata adalah Ify. Ify manggut-manggut saja tanda mengerti.

“hebat lo Fy, aura cantik lo mampu buat satu sekolahan mematung hahaha” kata Agni kini angkat bicara. Shilla dan Sivia mengangguk tanda menyetujui. Gabriel, Alvin dan Cakka semakin mematung mendengar perbincangan antara Shilla, Sivia, Agni dan gadis cantik itu yang ternyata adalah Ify.

“mereka tadi bilang apaan Vin, Cak? Cewek itu… I..If.. If…yy?” tanya Gabriel tak percaya.

“iya Iel. Kita… ngga.. salah denger ka…nn?” jawab dan tanya Cakka balik.

“kayaknya kita ngga salah denger ataupun mimpi deh Iel, Cak. Ini beneran Ify. Ify si…”

“cupu” ujar mereka serentak.

“woy. Ngapain kalian ngumpul disini?” kaget Rio yang baru saja datang dan mengagetkan ketiga sahabatnya yang sedang melongo itu.

“eh yo ngangetin aja lo”

“eh ada apaan si..hh? widih gile.. cantik banget” takjub Rio yang baru menyadari keberadaan Ify disana.

‘siapa nih? Anak baru? Baru liat gue” batin Rio. Penasaran dan ingin iseng menggoda anak baru –menurutnya- yang cantik ini, Rio langsung maju mendekat ke Ify dan kini sudah berdiri didepan Ify.

“hai. Kamu.. anak baru ya? Nama nya siapa? Kenalin.. nama aku…” Rio mengulurkan tangannya berniat berkenalan dengan anak baru itu. namun ucapannya terhenti karena anak baru itu sudah memotong ucapan Rio.

“gue Alyssa Saufika Umari. Lo bisa panggil gue Ify” ucap gadis itu cepat seraya balik menjabat uluran tangan Rio dan tak lupa memamerkan senyuman manisnya.

Seketika Rio mematung, tangannya berkeringat, mata nya menegang, serta tubuhnya pun menegang serasa tidak bisa bergerak.

“lo.. l…lo.. If.. Ify?”

“iya yo ini gue, Ify. kenapa?” tanya Ify heran. Sedangkan Shilla, Sivia dan Agni sudah geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan bodoh Ify barusan.

“lo beneran… I… Fy?”

“iya Riooooo” jawab Ify gemas.

“Cak, Vin, Iel, gue…. ngga mimpi ka….n? Haaaahh?” Rio bertanya kepada ketiga sahabatnya untuk memastikan namun kali ini dengan suara yang sangat lemas. Lama-kelamaan tubuh Rio pun jatuh. Rio pingsan.

“Rio.. Rio…” panggil semuanya cemas. Mereka semua langsung segera membawa Rio ke UKS.

Bersambung…

Nahloh gimana ceritanya tuh? Aduh ini cerita makin ngga jelas arah tujuan-mau-kemana-dan-mau-apa nya ya? Author bingung sendiri nih gimana ngelanjutin part 16 nya._. maaf ya ngaret bgt, otak ku sering error gt skrng ngga tau kenapa. Mungkin karena si doi belum ngabarin kaliya(?) oke ini jangan dihiraukan. Kalo kalian mau setiap cerbung fav kalian aku kabarin pas udah posting, bisa kok. Mention dan follow aja ke @elviraeryos cerbung judul apa yang kalian suka. Nanti kalo udah diposting next part nya, aku kabarin kalian di dm (: okeey 

Rival In Love *19


Bel pulang pun sudah berbunyi. Sesuai kesepakatan awal, Redbag dan Blink harus selalu terlihat mesra dimanapun mereka berada selagi ditempat umum dan mudah ditemui oleh wartawan. Kini Redbag sudah berdiri didepan kelas anak-anak Blink berniat mengajak pulang dan sengaja menjalankan rencana mereka. terlihat mesra didepan umum.

Redbag menunggu di depan kelas Blink dengan menyunggingkan senyum manis mereka seakan-akan mereka benar-benar tidak sabar untuk menunggu sang kekasih yang sangat mereka cintai. Tak lama, anak-anak Blink pun sudah keluar kelas menghampiri Redbag dengan tas sudah mereka sandang dibahu masing-masing.

anak-anak kelas XI IPA 3 –kelas Blink- pun sengaja melihat adegan romantis apa yang akan diperagakan oleh Blink dan Redbag dari dalam kelas. terlihat Shilla yang menghampiri Gabriel dengan senyum sumringah nya dan Gabriel pun menyambut kedatangan Shilla dengan senyuman hangat dan sedikit mengacak-acak rambut Shilla lembut.

Dari dalam kelas pun mereka juga melihat Ify yang bergelayut manja dilengan kanan Rio dan Rio pun tak mempermasalahkan itu. bahkan Rio dengan gemas nya mencubit pipi Ify. terlihat juga Alvin yang menggenggam kedua tangan Pricilla dengan sangat tulusnya. Sivia dan Debo yang kini sedang duduk didepan kelas XI IPA 5 –kelas Redbag kebetulan disana ada bangku buat duduk- dengan posisi Sivia menyenderkan kepala nya ke bahu kokoh Debo dan Debo mengelus puncak rambut Sivia.

Dan terakhir yang terlihat adalah Cakka yang sibuk merapi-rapikan rambut Febby dengan sangat mesra dan cintanya. Dari semua adegan romantis yang diperagakan Blink dan Redbag itu, tidak terlihat sama sekali bahwa mereka melakukan itu semua hanya bohong belaka.

“ciee yang baru jadian mau nya lengket terus” sorak anak-anak kelas XI IPA 3 yang tadi sengaja mengintip adegan romantis Blink dan Redbag.

“apasih ganggu aja” protes Cakka. entah itu benar-benar protes atau juga termasuk dalam permainan mereka.

“dih yang baru jadian malah sensian. Udah ah pulang” celoteh salah satu dari anak-anak XI IPA 3 yang mengintip tadi.

“udah pulang lo semua sono. Ganggu orang pacaran aja” lanjut Cakka sepertinya sangat kesal.

“udah ah Cak. Lo terlalu menghayati deh” ujar Gabriel yang sudah malas berlama-lama dengan Shilla.

“udah kosong kan? Udah pulang semua? Bagus deh bagus” ucap Sivia lega seraya menegakan kepala nya dari bahu Debo.

“yah malah berdiri. Lagi asik juga” batin Debo.

“yaudah yuk pulang. Eh sipit buruan anterin gue pulang” ajak Pricilla yang lebih terdengar seperti perintah.

“siapa lo? dih pulang sana sendiri. Lo udah gede juga” balas Alvin sengit.

“lo mau gue lapor ke big boss? Ini udah perjanjian awal kita BEGO” Pricilla mengancam Alvin dan menoyor kepala Alvin. seakan teringat dengan perjanjian awalnya dan takut karena mendengar ancaman Pricilla, Alvin pun pasrah.

“yaudah kita pulang. Ayo” ujar Alvin mengalah dan jalan duluan yang diikuti Pricilla yang sudah senyum sumringah karena mendapat tebengan pulang.

“an…” baru Shilla ingin meminta Gabriel mengantarkannya pulang, Gabriel sudah menyela “udah tau. Buruan deh. Guys, kita duluan ya” jawab dan pamit Gabriel malas-malasan.

“yaudah, sekarang kita semua pulang. Udah tau kan girls harus pulang sama apa?” tanya Ify kepada Pricilla, Febby dan Sivia yang masih tersisa yang lebih tepatnya menyindir Rio, Debo dan Cakka agar mereka sadar dengan tugas mereka.

“udah ngga usah nyindir gitu deh. Udah tau kok. Ayo deh kita pulang” ajak Rio kepada semuanya. Semuanya pun mengangguk dan beranjak menuju parkiran.

*

Suasana selama perjalanan pulang sangatlah dingin. Tak ada yang membukam suara sedikitpun didalam mobil. Entah mereka canggung karena biasanya mereka bertengkar, atau memang karena tidak ada topik pembicaraan yang harus dibicarakan.

“kenapa lo?” tanya Alvin cuek kepada Pricilla. Namun terdengar seperti kekhawatiran.

“hek? Gue? kenapa sama gue?” tanya Pricilla balik.

“yee malah nanya balik nih anak. Gue tanya, lo kenapa diem aja dari tadi?”

“ya suka-suka dong. Mulut-mulut gue, kenapa lo yang heran?” jawab Pricilla sinis.

“yee ditanyain baik-baik juga eh malah nyolot. Mending lo ngga usah ngomong sekalian deh”

“Lah? Yang ngajakin gue ngomong duuan tadi siapa? Nah elo kan? Dih aneh banget lo jadi orang”

“ah diem lo sipit”

“kayak lo yang belo aja”

“diem ngga lo? atau mau gue turunin disini nih?”

“Ye ngancem. Lo pikir gue ngga bisa lapor ke big boss apa?

“sial. Ngancem balik lo. udah mending lo diem”

“iyeiye. Gue diem, dia heran, gue ngomong eh dia marah. anaeh lo” ujar Pricilla pelan seperti berbisik. Namun karena jaraknya dengan Alvin hanya bersebalahan duduk, maka sudah pasti Alvin juga mendengar. Dia diam saja mendengar ocehan Pricilla. Dia tidak mau ribut kali ini.

*

“Ebby… Ebby” panggil Cakka kepada Febby yang sedari tadi diam saja selama perjalanan menuju pulang.

“Ebby..” panggil Cakka lagi. kini dengan suara yang lebih dikeraskan.

“masih ngga nyaut” gumam Cakka.

Baru saja Cakka akan memanggil Febby lagi, Febby sudah menoleh kearah Cakka. sebelumnya dia menoleh ke luar jendela “Cak.. dari tadi kok kamu ngomong Ebby Ebby mulu sih? emang nya Eby siapa?” tanya Febby.

“loh? Ebby kan kamu” jawab Cakka heran.

“hah? Aku? nama aku kan Febby bukan Ebby” tanya Febby lebih heran.

‘aduh bego. mana tau dia kalo gue punya panggilan sayang buat dia?’ batin Cakka.

“eh.. ng.. itu.. iya aku tau kok nama kamu Febby he.. he.. Febby kalo dihilangin F nya kan jadi Ebby. Biar singkat gitu, lagian… aku ngga bisa nyebut F” alibi Cakka seraya menggaruk-garuk kepalanya.

“kamu ngga bisa nyebut F? beneran?”

“iya aku ngga bisa nyebut F”

“loh? Itu barusan kamu nyebut F”

“kan Cuma sebagai contoh he.. he.. he” Febby manggut-manggut saja dengan ekspresi wajah bingung dan mencerna alasan Cakka barusan.

‘gila lo Cak. Alasan lo ngga logis banget ah bego’ rutuk Cakka dalam hati menyesali alasannya tadi.

Bersambung…


BACA:
Maaf ya yang Rival In Love ini udah lama banget aku ngga ngeposting. Kan sebelumnya aku udah pernah bilang kalo aku sekarang lebih focus ke cerbung yang First Love Until The Die. Ya sekali-kali tetap ngeposting cerbung lain sih hehe nah makanya sekarang aku balik lagi ngeposting Rival In Love berhubung First Love Until The Die udah sampe ke part 40 yeaay \=D/ dan lagi, maaf juga kalo part ini pendek hahaha minggu ini aku deadline banget ngejarin bikin 3/4 cerbung dalam waktu 1 minggu. Jadinya otakku mumet mau bikin kayak gimana lagi. janji deh, eh insyaallah deh di part 20 aku bikin ceritanya panjang hehe 

First Love Until The Die *30



Di sebuah balkon kamar dilantai dua yang langsung menatap betapa indahnya malam hari ini, seorang cowok berkulit putih dan bertubuh tinggi itu sedang menatap langit. Otak nya sedari tadi sibuk memikirkan bagaimana caranya mengungkap semua ini. bagaimana jadinya jika semua ini sudah terbongkar. Perasaan taKut, bimbang, bingung bercampur menjadi satu.

“gue harus gimana? Kalo gue bilang, nanti Shilla ngejauh gimana? Kalo gue ngga jujur, gue ngga mau Shilla tersakiti lebih dalam lagi gara-gara gue” gumam cowok itu yang ternyata Cakka. sedari tadi dia sibuk memikirkan Shilla.

Otak nya berputar mencari-cari cara agar semua berjalan dengan lancar. Namun sayang, hingga sekarang Cakka masih belum menemukan cara yang tepat.

*

Matahari kembali bangkit untuk mengerjakan kembali tugas nya untuk menyinari bumi. Begitu juga untuk keempat anak remaja ini. mereka kembali bangun dari tidur nya untuk menjalankan aktifitas mereka seperti biasa, yaitu sekolah.

Kini Shilla, Ify, Cakka dan Rio sedang duduk dikantin menjelang bel masuk berbunyi. Mereka sedang berbincang-bincang ringan seraya Ify mengisi perutnya. Tadi Ify tidak sempat makan di rumah karena Rio sudah keburu datang menjemput. Yap, Rio dan Ify kini sudah seperti semula. Mereka sudah dekat kembali.

Sedari tadi sibuk terdengar bisik-bisik tetangga bahwa aka nada anak baru yang kabarnya akan duduk dikelas XI. Tapi mereka tidak tahu pasti apakah anak baru itu perempuan atau laki-laki dan mereka juga tidak tahu anak baru itu tepatnya di kelas XI berapa.

“eh siapa sih anak baru yang diomongin anak-anak? Jadi penasaran juga nih gue” ujar Rio yang tepatnya bertanya. Tak ada yang menjawab diantara Shilla, Ify dan Cakka. mereka sibuk masing-masing. Ify sibuk dengan makanan nya, sedangkan Cakka dan Shilla asik berbincang berdua.

Wajar saja, mereka tidak menanggapi pertanyaan Rio. Karena Rio bertanya tidak jelas kepada siapa dan tujuannya ke siapa. Memang, Rio bertanya memang tidak jelas kepada siapa. Yang penting diantara ketiga temannya ada yang menyahut. Ternyata dugaan nya salah, ketiga temannya malah asik sendiri-sendiri.

“ck.. kacang mahal banget yak. Kacang nya udah dingin nih di diemin dari tadi” sindir Rio dengan suara yang agak meninggi agar terdengar oleh ketiga temannya. Masih sama. Tidak ada hirauan dari Shilla, Ify maupun Cakka.

“KACANG GORENG KACANG REBUS. ENAK NIH ANGET. EH TAPI UDAH DINGIN GARA-GARA DIANGGURIN AJA” kini Rio berteriak. Tak sia-sia usahanya, Shilla, Ify dan Cakka kini menoleh ke Rio. Rio menghela nafas lega.

“kenapa lo Yo? Jualan kacang? Berapaan?” tanya Cakka dengan wajah malas-malasan karena merasa acara nya dengan Shilla terusik gara-gara suara Rio.

“iye. Murah kok, Cuma 5 perak sebiji”

“oh ya. Ngga tertarik” balas Cakka cuek lalu kembali berbincang asik dengan Shilla.

Rio berdecak kesal karena merasa dikacangin untuk kedua kalinya. Kini Rio beralih menggoyang-goyangkan tubuh Cakka.

“CAKKKAAA DENGERIN GUEEE” teriak Rio seraya menggoyang-goyangkan tubuh Cakka.

Karena merasa sangat terganggu oleh tingkah Rio, mau-tak-mau Cakka beralih menatap Rio dengan tatapan tajam ‘ngapain-sih-lo-gangguin-gue-sama-Shilla-aja?’ ya kira-kira seperti itulah arti dari tatapan tajam Cakka.

“gue Cuma mau nanya, lo tau ngga siapa anak baru yang sibuk dibicarain anak-anak dari tadi?” tanya Rio.

“man ague tau. Emang gue anak nya Kepsek?” jawab Cakka jutek. Rio menarik nafas saja mencoba bersabar atas sikap sahabatnya yang satu ini. jika Cakka sudah bertemu dengan Shilla, selalu saja Rio diabaikan oleh Cakka.

TEEETTT

Bel masuk menandakan waktu belajar-mengajar pun sudah berkumandang diseluruh penjuru sekolah.

“nah tuh udah masuk. Buruan buruan masuk kelas. ntar diomelin guru. Buruan buruann!!” dengan semangat Rio mengajak Shilla, Cakka dan Ify untuk masuk kelas karena sedari tadi dia sudah sangat bosan disini berhubung dia diabaikan saja.

*

Kini semua yang berada di kelas Shilla dan Ify tengah terperangah dengan apa yang sedang mereka lihat. Di depan sana tepatnya disamping Buk Winda, sudah berdiri seorang Pria berperawakan tinggi, berkulit putih dan memiliki senyum miring. Terlebih para cewek-cewek di kelas ini. ada yang sedang mematut diri mereka di cermin, menambah make-up mereka, ada yang senyum-senyum sendiri, ada juga yang menganga selebar-lebar nya tanda kedip. Yap, Shilla dan Ify sedari awal pria ini masuk ke kelas mereka, Shilla dan Ify tak henti-hentinya menganga dan melototkan mata mereka.

“ayo perkenalkan diri kamu” ujar Buk Winda kepada pria tadi.

“perkenalkan nama saya Debo Andreas biasa dipanggil Debo. Saya pindahan dari Paris. Harap bantuan nya semua, terimakasih” ujar pria itu yang ternyata adalah Debo. Tak lupa dia memamerkan senyum miring nya kepada semua anak-anak dikelas tersebut.

“ya sudah, kalau begitu kamu duduk di…. Nah dibelakang Shilla” Debo mengangguk lalu berjalan menuju kearah tempat duduk yang ditunjuk oleh Buk Winda tadi. Sebelumnya Debo tersenyum kepada kedua sahabat lama nya itu.

“baik anak-anak, berhubung guru-guru ada rapat, kalian ibu tinggalkan dulu. Kerjakan latihan hal 223. Minggu depan tugas dikumpulkan”

“baik buukkk” koor anak-anak. Setelah kepergian Buk Winda dari kelas mereka, semua anak-anak langsung berhamburan. Ada yang pergi ke meja temannya, ada yang duduk-duduk di meja guru, ada yang nyanyi-nyanyi ngga jelas, ada yang foto-foto, ada juga yang kabur pergi nongkrong ke kantin. seperti hal nya ketiga sahabat lama yang sudah tak lama bejumpa ini. Shilla, Ify dan Debo. Mereka kini sudah bertengger di meja kantin. banyak hal yang belum mereka ceritakan sewaktu dirumah Shilla waktu itu.

“lo jadi juga Deb masuk sini? Gue kirain ngga jadi” ujar Ify sedikit tak percaya. Shilla hanya mengangguk menyetujui perkataan Ify barusan.

“ya jadilah Ify… mana bisa gue pisah dari elo” ujar Debo gemas dengan sedikit mengacak-acak lembut rambut Ify.

‘pisah dari gue?’ batin Ify heran. Mendengar penuturan Debo dan sikap Debo barusan, tanpa sadar pipi Ify bersemu merah.

Shilla juga menyadari akan hal itu. seperti nya Shilla sudah mendapat sedikit sinyal “ehem.. ehem kayaknya handphone gue ketinggalan di tas deh, gue ke kelas dulu ya” Shilla sengaja meninggalkan Ify dan Debo berdua saja. Dia tidak mau merusak kesenangan Ify dengan Debo untuk kedua kali nya.

*

Shilla bingung ingin kemana. Tadi dia hanya beralasan saja untuk mengambil handphone, padahal handphone nya sedari tadi di dalam saku rok. Karena bingung ingin kemana, Shilla akhirnya memilih duduk santai saja di taman belakang sekolah. Setidaknya.. dia bisa meringankan bebasnnya disana dulu.

Ketika Shilla sedang menikmati sejuknya hembusan angin di taman ini dengan menutup matanya, Shilla merasakan ada seseorang yang baru saja duduk disampingnya. Karena tidak ingin diganggu, Shilla tidak memperdulikan siapa orang yang baru saja duduk disamping nya itu selagi orang itu tidak mengganggu keseruannya.

“ehem” suara deheman itu. seperti Shilla hafal itu suara siapa. Akibat dorongan rasa penasarannya, akhirnya Shilla membuka matanya dan melihat kesisi kirinya. Ternyata Cakka lah yang baru saja duduk disamping nya. Cakka sedang menatap lurus kedepan. Padahal tidak ada yang menarik –menurut Shilla-

“ngapain disini?” tanya Cakka masih menatap lurus kedepan. Shilla tidak menjawab. Dia sekarang mengikuti kegiatan Cakka, menatap lurus kedepan.

“bukannya belajar malah duduk disini. Sendirian lagi” lanjut Cakka. Shilla masih diam, tidak menjawab.

“Shil..” Cakka merasa jengkel juga karena tidak dihiraukan oleh Shilla sedari tadi. Kini Cakka sudah beralih menatap kearah Shilla.

Cakka jadi heran sendiri melihat perubahan raut wajah Shilla. Perasaan tadi pagi masih biasa-biasa aja, tapi kenapa sekarang malah jadi murung? Batin Cakka.

“Shil.. lo kenapa?” tanya Cakka lembut.

“gapapa kok. Gue Cuma berharap aja, kenapa bukan Kaka aja yang ada disamping gue sekarang ini? yang selalu ada disaat gue sendiri, yang selalu ada disaat gue butuh, yang selalu bikin gue tersenyum disaat gue sedih. Seperti yang lo lakuin selama ini ke gue” ujar Shilla tiba-tiba tapi masih menatap lurus kedepan. Tak sedikitpun menatap manik mata Cakka.

Cakka merasa tercekat dengan ucapan Shilla barusan. dia semakin merasa bersalah dengan Shilla “lo salah Shil. Apa yang gue lakuin ke elo sekarang, masih belum seberapa dengan apa yang dilakukan sama Kaka ke elo waktu kecil” ujar Cakka. ‘dan gue juga bukan orang yang selalu bikin elo tersenyum disaat lo sedih, bahkan karena gue lah elo menangis Shil’ batin Cakka menyambung ucapannya.

“lo yang salah. Kaka memang ada dulu disaat gue butuh, disaat gue sedih, selalu bikin gue tersenyum. Tapi itu DULU. DULU waktu kita kecil. Sekarang apa? sekarang yang ada itu ELO CAK. CAKKA bukan KAKA” kata Shilla penuh penekanan pada kata-kata yang dicapslock.

Cakka tidak tahu lagi harus berbicara apa. ingin rasanya saat ini juga dia jujur kepada Shilla, tapi disisi lain dia masih belum ingin Shilla menjauh dari nya.

“udah deh jangan bahas yang begituan sekarang. Tadi pertanyaan gue belum lo jawab. Ngapain lo disini? Bukannya masuk kelas eh malah disini sendirian” Cakka berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Tidak ingin semakin larut dalam perasaan bersalahnya.

“lo lupa? Guru kan lagi rapat. Nah lo juga ngapain disini? Nyamperin gue yaaa” goda Shilla iseng.

“hehe lupa. Kalo iya emang kenapa?” balas Cakka juga tak mau kalah. Cakka mencondongkan tubuhnya sehingga sekarang jarak diantara Cakka dan Shilla sangatlah dekat.

Niat ingin membuat Cakka salting, eh malah Shilla yang kena batunya. Shilla sekarang ngga tau mau ngapain, dia salting.

“ya.. ngg… gapapa sih. udah ah jangan deket-deket. Ntar diliatin sama guru lagi” Shilla mengalihkan pandangan nya dan sedikit mendorong kepala Cakka agar menjauh dari wajahnya.

Cakka tertawa geli melihat sikap Shilla jika sudah salting seperti ini. dia sangat senang menggoda Shilla dan melihat raut wajah Shilla jika sudah salting. Seperti tomat. Ingin rasanya Cakka menggigit pipi Shilla sekarang juga.

Bersambung…

Part 30 yihaaaa \m/ special part 30 ini aku bikin edisi ceritanya rada panjang dikit dari biasanya hihi. Makasih buat semuanya yang udah baca cerbung FLUTD ini dari awal sampe sekarang. Maaf kalo aku selalu ngaret ngepost nya. luv u dehh :* 


(Mini Cerbung) I Love U Before I Meet U *2


@dickymprasetyo percaya pada diri sendiri adalah rahasia utama untuk mencapai sukses
Tweet

KLIK! Setelah selesai menekan tombol Tweet untuk mengirim mention diatas tersebut kepada idola nya, kini Shilla memandang-mandangi iPad miliknya dan tersenyum seakan dihadapannya kini tengah berdiri seorang Pria tampan berhidung mancung yang pastinya Idola nya –Dicky SM*SH-

“nah lo ngapain!!!” teriak Sivia mengagetkan kakaknya itu.

“eh ngagetin aja lo sipit” kesal Shilla. Sivia hanya nyengir menampakan gigi putih nya.

“eh iya kak, gue denger-denger katanya ada quiz gitu ya? Trus dipilih 6 pemenang buat dinner bareng smash. Bener ngga?” tanya Sivia yang kini sudah duduk disamping Shilla. Tepatnya diatas kasur karena mereka kini tengah berada di kamar.

Mengingat hal itu, Shilla kembali mengukir senyuman dibibirnya dan mengangguk menjawab pertanyaan Sivia.

“trus… lo ikut?” tanya Sivia lagi.

“pasti dong. Hal yang kayak beginian gue ngga mau kelewatan” ucap Shilla yakin.

“emang syarat ikutan quiz nya apaan?”

“Cuma cukup foto semua barang-barang koleksi yang berhubungan sama smash aja kok. Nah.. kan gue punya koleksi barang-barang smash, lengkap lagi. gue yakin pasti bakalan menang”

“yayaya semoga. Tapi…” Sivia menggantung kalimatnya.

“tapi apa?”

“lo yakin di kasih izin sama bokap? Lo tau sendirikan bokap kalo udah menyangkut masalah artis gimana?”

Mendengar pertanyaan Sivia barusan, semangat Shilla menjadi down mengingat Papa nya yang selalu menentang anak nya untuk mengikuti segala macam acara yang berhubungan dengan artis. Entah apa alasannya.

“di coba dulu aja. Siapa tau kalo gue menang, bokap bakal kasih izin” jawab Shilla untuk menyenangkan hatinya walau sebenarnya dia tahu bahwa Papa nya tidak akan memberi izin.

“gue dukung lo kak! Gue bantu deh minta izin sama bokap”

“beneran lo? tumben baik?”Shilla memicingkan matanya menyelidiki mengapa adiknya ini tumben bertingkah baik kepadanya.

Sivia yakin kakak nya pasti sudah curiga, ya sudahlah jujur saja. Sivia kembali memamerkan sederet gigi putih nya –nyengir- “gue mau ikutan juga sih hehe”

“lah? Kenapa? Kan elo bukan smashblast”

“gue mau ketemu Rangga sama Bisma kak hehe mereka cakep sih. ya.. walaupun gue bukan fans fanatic mereka sih”

“trus emang lo punya barang-barang koleksi smash?”

“itu mah gampang…” jawab Sivia enteng seraya menaik turunkan alisnya menatap Shilla.

“jangan bilang lo mau minjem barang-barang gue?” tebak Shilla.

“hehehe ayolah kak.. kapan lagi sih lo baik sama gue? biasanya juga kan lo durhaka mulu sama gue”

“wah wah.. parah parah. Ngga ngga! Curang lo!” Shilla langsung turun dari kasur nya dan keluar dari kamar.

“ayolaah kaaaakk” rengek Sivia manja yang juga ikutan turun dari kasur dan mengikuti langkah Shilla keluar kamar.

“NGGAAA!!”

*

Kini didalam ruangan yang di satu sisi nya dipenuhi dengan kaca besar sudah berada 6 orang cowok-cowok keren yang banyak digemari para gadis remaja sekarang. Siapa lagi kalau bukan SM*SH yang tengah berada dipuncak kejayaan nya?

Mereka kini sedang beristirahat setelah letih berlatihan koreografi dan nyanyi sedari tadi. Di sudut ruangan tengah duduk sendirian seorang cowok berhidung mancung berambut pirang tengah senyum-senyum sendiri menatap iPhone miliknya.

Rangga sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Dicky yang sudah dianggap nya seperti adik sendiri itu. Sudah beberapa hari terakhir ini dia melihat Dicky sering senyum-senyum sendiri ketika sedang memainkan handphone nya. Karena penasaran, Rangga menghampiri Dicky disudut ruangan mencari tahu apa penyebab akhir-akhir ini senyum sendiri.

“lagi ngapain lo Ky?“ tanya Rangga dan duduk disamping Dicky.

“eh ini.. Cuma lagi liat-liat instagram aja“ jawab Dicky dengan senyum masih terukir jelas dibibir mungilnya.

Rangga mengintip sedikit ke layar handphone milik Dicky. Tampak Dicky sedang melihat-lihat profile instagram seseorang. Seorang gadis yang menurut Rangga lumayan cantik. Sepertinya Dicky sedang ngestalk foto instagram gadis itu.

“ngestalk instagram siapa lo Ky?“ tanya Rangga semakin penasaran.

“oh ini.. dia salah satu fanadicky. Lo liat deh, cantik loh. Trus dia sering ngemention gue“ kata Dicky antusias.

“oh.. bukannya fans-fans lo emang sering ngementionin lo ya?“

“yang ini beda. Dia ngemention gue ngga pernah ngespam, sehari paling dia Cuma ngemention gue dua kali bahkan Cuma sekali sehari. Dan itupun isi mentionnya bukan ‘kak follback dong‘ ‘kak bales mention aku dong‘ bukan yang kayak begituan“

“trus kayak apa?“

“dia kalo ngemention gue Cuma ngasih kata-kata bijak gitu atau kata-kata penyemangat“

“ck.. aneh juga. Ngga biasa nya ada fans yang kayak dia. Nama nya siapa? Liat dong“ Rangga langsung-langsung merebut iPhone milik Dicky dan ikut melihat-lihat foto instagram milik Shilla –gadis yang dimaksud tadi-.

“ini kan..“ gumam Rangga terpotong.

“kenapa? Lo kenal?“ tanya Dicky.

“eh iya Ky dia juga pernah ngirim kata-kata penyemangat gitu buat gue di twitter trus juga pernah ngetag foto yang ini nih ke gue“  Rangga menunjukan sebuah foto instagram milik Shilla. Foto itu menampakan sebuah hasil lukisan tangan seseorang yang sepertinya hasil buatan tangan Shilla sendiri.

“lo juga pernah dibikinin? Wah.. dia sering tuh bikin buat gue, keren banget. Ya udah gue like deh tuh foto-foto hasil lukisan dia“ kata Dicky semangat.

“salut gue. Jarang ada cewek cantik kayak dia bisa ngelukis sebagus ini“ Rangga berdecak kagum

*

“lagi ngapain lo kak?“ Sivia masuk ke kamar nya dan mendapati Shilla sedang sibuk berkutat dengan kamera miliknya. Diatas kasur sudah bertebaran berbagai macam barang. Kamar pun sudah seperti kapal pecah jadinya.

“ini... lagi foto barang-barang koleksi smash gue. Buat ikutan lomba“ jawab Shilla yang masih tidak berpaling dari kamera nya. Sivia manggut-manggut mengerti saja.

Ketika sedang asik dengan kamera nya, iPad milik Shilla berbunyi menandakan ada sebuah notification masuk. Segera dia beralih meraih iPad miliknya. Di lihatnya, ternyata notification dari instagram. Oh.. ada yang like salah foto instagram miliknya ternyata.

Penasaran siapa yang ngelike fotonya, segera Shilla membuka aplikasi Instagram di iPad nya. Tidak perlu menunggu lama untuk loading membuka notification, sebuah pemberitahuan yang sangat mengejutkan Shilla tertera di layar iPad nya.

“demi apa?!“ teriak Shilla masih dengan suara tertahan. Sivia yang penasaran apa yang barusan di lihat kakak nya, langsung-langsung merebut iPad dari tangan Shilla. Dia membaca apa yang tertera disana. Ada dua notification dari dua username instagram yang sangat dikenalnya bahkan sangat dikenal orang-orang.

@dikiprasetya menyukai foto anda
2 minute ago

@ranggamoela menyukai foto anda
5 minute ago

Itu lah notification yang baru saja masuk di instagram Shilla.

“aaaa foto gue di like Dicky sama Rangga aaaa“ Shilla berlonjak-lonjak senang diatas kasur. Sivia kini terperangah kaget. Bukan, bukan karena tingkah aneh kakak nya yang loncat-loncat diatas kasur. Tapi terperangah karena mendengar teriakan histeris Shilla.

‘foto dia.. di.. di like siapa? Di... cky? Sama...‘ batin Sivia mengingat-ingat kembali teriakan Shilla tadi. Sadar akan teriakan histeris Shilla, Sivia langsung meloncat keatas kasur mengikuti Shilla. Dia berusaha meraih iPad yang berada ditangan Shilla.

“sini.. siniin gue mau liat“ ujar Sivia masih berusaha menggapai iPad yang berada ditangan Shilla.

“aa foto gue di like Dicky.. di lick Rangga aaa“ ucap Shilla masih teriak histeris.

“aduh aduh.. ini ada apa sih kalian teriak-teriak ngga jelas gitu? Pake loncat-loncat lagi. Udah udah.. Shilla, Via, sekarang kalian turun“ tegur mama Shilla dan Sivia yang baru saja datang ke kamar mereka karena terganggu oleh teriakan kedua anak nya itu. Suara teriakan Shilla dan Sivia cukup terdengar keras hingga ke dapur. Karena mama tadinya memang sedang di dapur.

Dengan patuh, Shilla dan Sivia pun berhenti loncat diatas kasur dan duduk tenang dengan nafas terengah-engah.

“kalian itu.. udah gede tapi masih aja kayak anak kecil. Punya 2 anak cewek serasa punya anak selusin mama“ gerutu mama lalu langsung meninggalkan kamar Shilla dan Sivia.

“Vi.. hah.. huh.. hosh.. foto gue.. di.. di like Dicky sama.. Rangga heh.. heh..“ ucap Shilla masih sempat-sempatnya dengan nafas nya yang tak beraturan itu.

“hu.. ha.. hosh... ha.. hah.. gi.. gimana ceritanya lo.. hah.. foto lo di like Dicky sama.. sama.. Rangga kak?“ tanya Sivia yang kini kondisi nya tak jauh berbeda dengan Shilla. Nafas nya masih tak beraturan.

“gue juga ngga tau Vi. Tadi kan ada notif di instagram, yaudah gue buka. Eh tau nya mereka berdua ngelike foto gue. AAAA SENENG BANGETTTT“ jelas Shilla yang sudah bisa mengatur nafas nya. Bahkan dia juga berteriak pada kalimat terakhirnya.

“SHILLAAA JANGAN TERIAK-TERIAK“ tegur mama dari ruang tamu yang juga berteriak.

“MAMA SENDIRI JUGA TERIAK-TERIAK“

“JANGAN NGEBANTAH!!!“ akhirnya Shilla memilih jalan aman, diam dan melanjutkan perbincangan nya dengan sang Adik –Sivia-

“oke back to topic“ ujar Sivia.

“sok inggris lo bantet“ Shilla menoyor kepala Sivia.

“biarin wleee. Udah ah lanjutin“

“apaan yang mau dilanjut? Gue juga kagak tau kenapa Dicky sama Rangga bisa ngelike foto gue“

Belum selesai mereka berbincang-bincang, ternyata iPad milik Shilla kembali berbunyi menandakan ada notif lagi yang masuk. Kali ini dari twitter dan juga instagram.

Shilla mulai membaca semua notification yang masuk. Jari telunjuk nya mulai menyentuh lembut layar touchscreen iPad nya keatas-kebawah.

“GILAAA. HEBOH“ teriak Shilla histeris.

“SHILLAAAA JANGAN TERIAAAKK“ tegur mama Shilla kembali.

“IYA MA IYA“

“kenapa lo kak?“ tanya Sivia yang masih berada didalam kamar.

“smashblast heboh gara-gara gue. Apalagi Fanadicky sama Rangganizer tuh“

“hah? Heboh kenapa?“

“gini.....“ Shilla mulai menceritakan apa penyebab smashblast, fanadicky dan rangganizer heboh. Itu ternyata karena smashblast tahu bahwa Dicky dan Rangga menyukai foto instagram nya. Mulai lah di twitter semakin banyak mention yang masuk kepada Shilla tentang dilikenya foto instagram itu. Di instagram pun tak beda jauh. Banyak yang mengomentari foto Shilla yang dilike oleh Dicky dan Rangga tersebut.

Berbagai macam mention atau komentar yang masuk. Ada yang memberi selamat kepada Shilla atas ke-lucky-an nya tadi, ada juga yang judge Shilla karena mereka iri. Sivia pun juga sudah melihat semua nya.

“keren lo kak ckck makin jadi seleb aja lo hahaha“ kata Sivia disela-sela tawanya seraya menggeleng-gelengkan kepala nya.

“sialan lo. Ngga enak keles dibully begini. Mending kalo ngebully nya bilangin gue cantik, lah ini? Bilangin muka gue kayak babi. Sialan banget ngga sih tuh?“ rutuk Shilla.

“sabar kak sabar... gue tau kok gimana rasanya jadi elo..“ Sivia menepuk-nepuk pelan pundak Shilla.

“tapi gue ngga bisa pungkiri kalo mereka udah bersikap jujur terhadap lo kak HAHAHAHAHAHAHA“ tawa Sivia semakin besar.

“sial! adek durhaka emang lo“

Bersambung...