Shilla sedikit berlari-lari kecil
untuk bisa lebih cepat datang ke tempat tujuannya, toilet. Pasalnya, sedari
tadi Shilla sudah menahan hasratnya, namun baru kesampaian untuk dikeluarkan
yah.. sekarang. U know lah maksudnya heuheu.
Ketika baru saja Shilla melangkah
tak jauh dari Boutique tadi, tiba-tiba…
BRUUKK
“aww…” rintih Shilla karena tadi dia
tak sengaja bertabrakan dengan… entahlah. Shilla tidak tahu siapa orang yang
bertabrakan dengannya karena kini posisi Shilla sedang terduduk di lantai. Yang
dia tahu hanyalah, kini ada 4 pasang kaki yang tengah berdiri dihadapannya.
Sepertinya, dia bertabrakan dengan keempat orang itu.
“lo gapapa?” tanya salah seorang
dari mereka berempat itu. jika didengar dari suaranya, sudah dipastikan dia
seorang pria dan… masih muda –mungkin- jika dilihat dari sepatu dan celana yang
mereka kenakan terlihat seperti style anak muda jaman sekarang.
“ah.. ya. gue gapapa kok. Gue aja
yang ce…ro…bo..h” ooww. Kata-kata Shilla semakin melambat ketika melihat siapa
kini yang tengah berdiri dihadapannya. Shilla kini tengah berada diposisi
berdiri dan berhadapan dengan keempat pria yang sangat dikenal nya. salah satu
nya adalah orang yang selalu dipikirkan Shilla setiap malam. Orang yang selalu
mengganggu pikirannya setiap malam.
“Ka… kalian?” tanya Shilla gugup.
“hai Shil, kebetulan banget ya
ketemuan disini? Lo kenapa? Kok ngeliatin kita kayak ngeliatin hantu gitu?”
tanya orang yang sama dengan memberikan rentetan pertanyaan kepada Shilla
karena dia heran melihat ekspresi Shilla yang tak seperti biasanya.
“ah.. engga kok Iel gapapa hehe iya
ya kebetulan banget ketemu disini he..he..he” jawab Shilla gugup setelah sadar
dari kekagetannya. Ternyata orang itu adalah Gabriel dan pastinya ada Rio,
Cakka dan Alvin juga.
“lo sama siapa Shil kesini?
Sendirian?” kini berganti Cakka yang bertanya.
“engga kok sama Ify, Via, Agni juga”
jawab Shilla kini yang sudah kembali seperti semula.
“loh? Mereka dimana? Kok ngga
keliatan? Via mana?” tanya Alvin sambil clingukan.
Belum sempat Shilla menjawab,
ternyata sudah dipotong oleh Rio “ada angin apaan nih? Kok Cuma Via doang yang
dicari?” goda Rio sambil melirik-lirik kearah Alvin. yang dilirik Cuma salting
sendiri.
“yaudah, gue duluan ya. Udah kebelet
banget nih hehe. Byee” tanpa mendapat persetujuan dari keempat cowok-cowok
keren itu, Shilla langsung berlari-lari kecil kembali ke tempat tujuan awal.
TOILET.
*
“Ag, gue mau beli minum dulu nih,
haus. Mau nitip ngga?” tanya Sivia kepada Agni yang kini tengah asik dengan
games di dalam iPod touch nya.
“boleh deh boleh. Apa aja yang
penting dingin ya. GPL” seru Agni persis seperti sedang memesan makanan di
warteg langganan nya.
“sialan lo. lo kata gue warteg? Udah
ah, gue pergi dulu. Sekalian, siapa tau ketemu sama Shilla. Lama amat tuh anak”
gumam Via sendiri. Sebenarnya Via bermaksud ngobrol ke Agni, tapi berhubung
yang diajak ngobrol seperti antara sadar dan tidak sadar, jadilah Sivia ngomong
sendiri.
*
Ketika sedang mengitar-ngitari Mall,
mata elang Cakka terhenti pada satu gadis yang sangat dikenal nya tengah duduk
dalam sebuah… Boutique? Mana mungkin gadis itu pergi ke sebuah Boutique seperti
ini? tapi… apa benar itu gadis yang dikenal nya? Cakka mengucek-ngucek matanya
untuk memastikan apa yang dia lihat tidak salah. Ternyata benar, apa yang dia
lihat memang tidak salah.
“woy Cak. Ngapain lo disana?” teriak
Alvin yang ternyata sudah berjalan duluan dengan Rio dan Gabriel di depan.
Seketika Cakka tersadar.
“eh engga kok” lalu Cakka kembali
menyusul ketiga teman-temannya yang sudah berada didepan.
‘masa sih itu Agni? Apa gue salah
liat ya? Ngga mungkin banget deh seorang Agni pergi ke Boutique kayak gitu.
Ah.. mungkin dia nemenin nyokap’ batin Cakka bingung sendiri.
*
Shilla, Sivia, dan Agni sedari tadi
masih setia untuk menunggu Ify keluar di sofa empuk ruang tunggu Boutique ini.
Shilla sudah balik dari toilet, lalu Sivia juga sudah balik dari membeli
minuman untuknya dan juga untuk Agni. Mungkin karena lelah, kini mereka bertiga
sudah tertidur pulas di sofa empuk ruang tunggu ini. untung saja pengunjung
Boutique ini tidak ramai. Apa kata orang-orang coba kalau-kalau melihat tiga
gadis remaja, cantik sedang tertidur pulas disini?
Ketika sedang asik berada dalam alam
mimpi masing-masing, Shilla, Sivia dan Agni merasakan ada seseorang yang
menepuk-nepuk pelan paha mereka. karena merasa terusik, mereka bertiga pun
bangun dengan mata masih setengah sadar. Ketika melihat siapa yang tengah
berdiri dihadapan mereka sekarang, seketika mata mereka langsung melebar
selebar-lebar nya.
Oh god! Siapa gadis cantik ini?
cantik sekali… ini seperti sahabat mereka, Ify. eh tunggu..tunggu.
jangan-jangan.. ini Ify sahabat mereka? apa benar ini Ify sahabat mereka?
terlihat sangat berbeda sekali. Benar! Ini benar Ify sahabat mereka. Alyssa
Saufika Umari.
Shilla, Sivia dan Agni kini menatap
Ify dari ujung rambut hingga ujung kaki, balik lagi dari ujung kaki, hingga
ujung rambut. Sangat berbeda. Seperti bukan Ify. memang, sebelum di make over
pun Ify sudah terlihat cantik, namun ditambah dengan polesan make-up Ify
semakin terlihat cantik. Apalagi kini Ify dibalut dengan dress selutut berwarna
biru muda pilihan Sivia, ditambah dengan high heels 5cm berwarna hitam pilihan
Shilla. Ify sangat terlihat cantik, terlebih kini Ify tidak menggunakan
kacamata, dan rambutnya tidak diikat. Kini Ify memakai soft lens dan rambut nya
pun diurai dengan sedikit sentuhan bergelombang.
“i..in..ini.. elo.. Fy?” tanya Via
sedikit terbata karena masih tak percaya dengan hasil riasan Mbak Mince. Patut
diacungi jempol. Mbak Mince yang kini masih berdiri disamping Ify sudah
senyum-senyum bangga sendiri, puas dengan hasil nya.
“iya.. ini gue” jawab Ify dengan
senyum terus terukir dibibir mungil nya.
“beda banget sumpah” gumam Agni
takjub seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“cantik banget Fy” teriak Shilla
histeris namun tertahan karena sadar kini dia sedang berada dimana.
Ify semakin mengembangkan senyumnya
setelah mendengar pujian-pujian dari sahabat-sahabatnya “ini semua berkat
kalian bertiga juga kok udah bantuin gue” ucap Ify.
“ehem…” suara deheman terdengar
cukup keras disamping Ify. ternyata Mbak Mince yang barusan berdehem seolah
berkata gue-juga-yang-bantuin-lo-keles. Ya… begitulah kira-kira.
“dan… pastinya juga berkat Mbak
Mince yang udah make over gue. thanks yah Mbak” ucap Ify seakan sadar dengan
deheman Mbak Mince.
“sama-sama say. Sering-sering kesini
ya” ucap Mbak Mince tulus.
*
Sepulang nya mereka berempat dari
Boutique, kini keempat gadis itu tengah duduk disebuah restoran mewah di Mall
ini. sebagai tanda terimakasih, Ify memang berniat untuk mentraktir ketiga
sahabat nya. dan kebetulan juga, Ify sudah lapar karena sedari tadi siang dia
belum makan.
Banyak sorot mata yang menatap
kearah meja Ify dan kawan-kawan. Mereka seperti melihat seorang artis besar
yang sedang makan di restoran ini. Ify beserta sahabat-sahabat nya pun juga
menjadi risih karena ditatap kagum seperti itu. ya… walaupun orang-orang itu
menatap kagum nya ke Ify, tetapi mereka juga ikut risih. Terlebih para kaum
adam yang tak hentinya melihat kearah meja mereka.
“guys, gue risih nih. Udah baju nya
terlalu ngetat, kan jadinya bentuk tubuh gue jelas. Trus, orang-orang disini
pada ngeliatin panjang juga” rutuk Ify pelan kepada ketiga sahabatnya.
“itu lah Fy resiko nya jadi orang
cantik, emang harus gitu. Terlebih besok di sekolah lo harus siapin mental
banget” ujar Sivia.
“loh? Emang besok di sekolah ada
apaan?” tanya Ify polos.
“yaampun Ify, lo liat deh.
Penampilan lo sekarang udah berubah total. Bukan Ify si Cupu lagi. orang-orang
disini aja pada klepek-klepek ngeliatin lo, apalagi besok semua orang-orang di
sekolahan? Gue yakin, kalo Rio liat penampilan lo sekarang, Rio langsung nembak
lo haha” jawab Shilla bersemangat. Ify manggut-manggut aja. Dalam hati sih
ngeaminin kata-kata terakhir Shilla tadi.
Sivia sudah berargumen, Shilla juga
sudah panjang lebar. Lalu… Agni? Lagi-lagi dan lagi Agni sibuk sendiri. Disaat
Ify, Shilla dan Sivia sibuk bertiga, Agni juga sibuk dengan dunia nya sendiri.
Menyantap semua pesanan yang sudah di pesannya. Inget ya.. SEMUA PESANAN YANG
DIPESANNYA. Berarti bukan hanya satu piring yang dipesannya, tetapi BANYAK.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar