Minggu, 13 Oktober 2013

First Love Until The Die *29






I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a Thousand years
I Love You for a thousand more

Alunan lagu Christina Perri-A Thousand Years mengalun indah di dalam mobil Cakka. keheningan tercipta ketika mendengar alunan indah lagu tersebut yang menurut Cakka lagu ini cukup jelas untuk menggambarkan bagaimana isi hati gadis yang selama ini menunggu nya. gadis yang kini tengah duduk disamping nya seraya menunduk mengamati lagu tersebut. Perasaan bersalah selalu menyerang Cakka ketika dia melihat Shilla terdiam, tertunduk seperti itu. dia tidak tega melihat gadis yang dicintainya sedih, apalagi itu dikarenakan dirinya sendiri.

“gue akan slalu nunggu dia sampai dia datang dan gue akan slalu ngejaga hati gue buat dia…” tiba-tiba Shilla bergumam lirih seraya mengangkat kepala nya tegak. Sontak Cakka menatap Shilla dengan pandangan bertanya. Shilla menoleh kea rah Cakka. dia yakin Cakka mengerti siapa ‘dia’ yang di maksudnya. Yap, Kaka. Kaka sahabat kecil nya, cinta monyet nya dahulu yang ditunggu-tunggu nya hingga saat sekarang ini.

“mungkin lo berfikir gue gadis yang bodoh karena udah nunggu seseorang yang ngga jelas keberadaan dan kabar nya sekarang sampai bertahun-tahun. Gue tau itu, gue tau gue bodoh karena udah nunggu dia sampai sekarang, padahal gue ngga tau jelas gimana perasaan nya ke gue. dia Cuma mengobral janji manis nya disaat kita kecil. Menurut lo, janji yang dilontarkan seorang anak kecil berumur 9 tahun apa mungkin itu bisa dibilang janji?” tanya Shilla kepada Cakka.

“sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue Cuma mau meluruskan bahwa lo bukan gadis yang bodoh seperti yang lo bilang barusan. lo ngga salah karena lo udah nunggu dia bertahun-tahun. Cinta itu ngga pernah salah. Semua orang berhak mencintai dan dicintai. Malahan gue salut sama lo bisa mempertahankan cinta lo. gue yakin, banyak cowok yang ingin memiliki lo, tapi itu semua ngga berpengaruh buat lo..” Shilla dengan setianya mendengarkan perkataan Cakka.

“sekarang gue jawab, janji yang udah dilontarkan seorang anak kecil yang berumur 9 tahun itu bisa dibilang janji. Itupun tergantung ke orang yang melontarkan janji itu sendiri, kalo dia ngungkapin nya dengan sungguh-sungguh, menurut gue janji itu akan dia tepati. Dan menurut gue, janji yang dilontarin sama… sama Kaka, itu janji yang sesungguh nya. janji yang suatu saat atau mungkin sekarang akan ditepatinya” jawab Cakka mantap. Shilla mengernyitkan dahi nya heran, bingung dengan jawaban Cakka yang terakhir.

“dari mana lo tau kalo janji yang diucapkan Kaka itu janji yang sesungguhnya? Dan… kenapa lo yakin banget suatu saat dia akan nepatin janji itu?” tanya Shilla untuk memecahkan teka-teki di otaknya. Sedari tadi Cakka sepertinya senang mengajak Shilla bermain teka-teki yang sangat dulit dipecahkan oleh Shilla.

“eh… ng… itu.. dari… feeling gue. iya.. feeling gue yang bilang hehe Kaka kan cowok, dan gue juga cowok. Makanya gue bisa bilang gitu” alibi Cakka.

Shilla menyipitkan mata nya “satu lagi! apa maksud lo dia akan nepatin janji nya sekarang ke gue? jujur!” tanya Shilla telak. Cakka tercekat, dia merasa nafas nya sudah diambang kematian. Dia merasa tercekik oleh pertanyaan Shilla yang terakhir. Cakka gelagapan. Dia ngga tau harus jawab apa. sepertinya Shilla sudah curiga dengan sikap Cakka sekarang.

“jawab Cak!” kata Shilla tegas namun terdengar sedikit membentak. Suaranya pun sedikit meninggi. Matanya sedikit memanas seakan sebentar lagi dia akan mengeluarkan cairan bening dari mata indah nya.

Cakka menghentikan mobil nya ke pinggir jalan. Dia tidak ingin karena masalah ini, nyawa nya dan Shilla akan melayang begitu saja dijalanan dengan tragis.

*

Cowok berperawakan tinggi yang biasanya memiliki senyum manis ini, kini senyuman nya tlah pudar. Dia asik memandang langit-langit kamar nya seraya memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mengganjal di otak, fikiran dan… hatinya. ya, hatinya. untuk kedua kali nya dia merasa hati nya seperti kaca yang jatuh berkeping-keping. Kalian bisa bayangkan kan bagaimana kaca yang jatuh berkeping-berkeping? Seperti itu lah kini perasaan Debo. Yap, cowok itu adalah Debo.

Pikiran nya kini sibuk melayang kepada seorang gadis yang tadi usai bertelfonan dengannya. Dia Ify. Entah sejak kapan dia merasa tidak rela ketika tahu Ify akan jalan dengan seorang teman cowok yang mungkin special dihati Ify. Rasanya saat ini juga dia ingin memiliki Ify. dia ingin Ify menjadi memiliknya agar tak ada lagi cowok-cowok diluar sana yang mendekati Ify. apa ini? apakah dia sedang…. Sedang jatuh cinta? Tapi mengapa saat dia jatuh cinta dengan Shilla, dia tidak pernah kalut seperti ini?

“ARRRRGGGHHH….” Debo mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

*

Cakka menatap manik mata Shilla. Begitupun dengan Shilla, dia menatap manic mata Cakka mencari tahu semua jawaban teka-teki yang diberikan Cakka sedari tadi kepadanya. Ketika mereka sedang larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Cakka langsung menarik tubuh Shilla kedalam pelukan nya. sontak Shilla kaget. Segera dia melepaskan pelukan Cakka. namun apalah daya, tenaga Cakka lebih kuat daripada tenaga Shilla. Alhasil, Shilla tetap tidak bisa terlepas dari pelukan hangat Cakka. dia akui, hangat rasanya berada dalam pelukan Cakka. ingin rasanya berlama-lama di dalam pelukan Cakka. namun Shilla tetap berusaha melepaskan pelukan Cakka dari nya. dia sibuk meronta-ronta.

“sebentar aja Shil…” bisik Cakka tepat ditelinga Shilla. Mendengar permintaan Cakka, akhirnya Shilla berhenti untuk berusaha terlepas dari pelukan Cakka. dia pun ikut menikmati hangatnya, nyamannya berada di pelukan Cakka.

“Cak…” panggil Shilla.

“ya?” jawab Cakka. posisi mereka masih berpelukan.

“apa mungkin gue ngedapetin cinta gue kembali?”

Cakka melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua bahu Shilla agar Shilla bisa menatap matanya “gue yakin, lo akan ngedapetin cinta lo lagi. ngga akan lama lagi, cinta yang selama ini lo tunggu-tunggu akan datang..”

“beneran?” tanya Shilla dengan mata yang berbinar-binar seakan dia seperti anak kecil yang dibujuk oleh ayahnya. Cakka mengangguk lalu tersenyum.

“sekarang kita pulang ya?” ajak Cakka. Shilla mengangguk dan balik tersenyum.

Bersambung…

Huaa ngaret banget ini aku posting nya. demi apa aku udah bingung gimana alur cerita cerbung-cerbung aku beserta gimana cara ngelanjutinnya. Udah buntu guys otakku ._. makanya ngaret bgt lanjutnya heuheu maaf yeaa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar