Hapuslah cinta antara kita berdua
Tak sengaja Gabriel dan Shilla sama-sama
serentak mengikuti Reffrain dari lagu Soulvibe-Biarlah (Hapuslah Cinta) yang
tengah mangalun dalam mobil Gabriel. mereka berpandang sebentar lantas
memberikan senyum termanis mereka. kembali mereka mengalihkan pandangan lurus
kedepan dan melanjutkan lagi nyanyian mereka.
Karena
kau sudah ada yang punya
Biarlah diriku memendam rasa ini
Jauh dilubuk hatiku
“lo suka lagu ini juga?” tanya Gabriel mulai
membuka suara karena selama perjalanan tadi tak ada yang berani membuka suara
duluan. Hanya ditemani oleh mp3 player mobil Gabriel. Shilla menjawab
pertanyaan Gabriel hanya dengan anggukan karena merasa canggung.
Setelah itu, tak ada yang membuka suara lagi.
hening, diam. Sampai akhirnya mereka sampai dirumah Shilla.
“thanks. Gue masuk dulu” ujar Shilla dengan
nada cuek nya. dia tidak ingin terlalu beramah-tamah dengan Gabriel yang
notabene nya adalah salah satu personil redbag yang artinya Gabriel adalah
musuhnya.
Baru Shilla ingin membuka handle pintu mobil
Gabriel, tangan kanan Shilla ditahan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan
Gabriel. Shilla menoleh kearah Gabriel. mengangkat alisnya menanyakan ‘ada
apa?’.
Gabriel yang mengerti maksud Shilla, langsung
mengeluarkan handphone nya dan mengulurkannya kepada Shilla. Shilla heran,
bingung. Dia mengernyitkan dahi nya.
“kenapa?” tanya Shilla heran.
“save nomer lo disini” pinta Gabriel dengan
nada cueknya yang lebih tepat terdengar seperti perintah.
“buat?”
“lo lupa kalo kita terikat kontrak? Selama
kontrak berjalan, gue harus anter-jemput lo. dan itu artinya pasti gue bakal
ngabarin lo sewaktu-waktu. Jadi…”
“stop. Gue ngerti. Mana hp lo? siniin” pinta
Shilla masih dengan nada yang tak ada lembut-lembut nya. Gabriel memberikan
handphone nya kepada Shilla. Lalu mulai lah Shilla mengetikkan beberapa digit
nomer handphonenya yang sudah dihafalnya diluar kepala. Setelah selesai
men-save nomer handphonenya, Shilla memberikan kembali handphone Gabriel kepada
empunya.
“nih udah gue save sekalian. Ya udah gue turun
dulu. Thanks” Shilla langsung turun meninggalkan mobil Gabriel. tak ingin
berlama-lama dimobil musuhnya ini.
Gabriel memandang handphone nya bergantian
dengan punggung Shilla yang semakin lama semakin menghilang masuk ke dalam
rumah. Seulas senyum tercipta dari sudut bibirnya. Entah senyum apa itu. yang
jelas, senyum itu susah diartikan. Hanya dirinya sendiri yang tau apa arti
dibalik senyum nya itu.
*
Ternyata sedari tadi Debo dan Sivia masih belum
meninggalkan sekolah. Debo memaka Sivia untuk menemani nya makan di kantin
terlebih dahulu. Awalnya Sivia menolak karena dia tidak mau terlalu lama
bersama Debo. Bisa bisa perasaannya yang selama ini berusaha disangkal nya itu
muncul kembali. Berkat bujukan yang lebih tepatnya ancaman Debo, Sivia pun
menurut saja.
“kita ke kantin dulu” ujar Debo seraya
melangkahkan kaki dari depan kelas mereka menuju kearah kantin tak mempedulikan
Sivia.
“lah lah? Ngapain? ngga! Gue mau langsung
pulang! Buruan anterin gue pulang!” protes Sivia yang kini mensejajarkan
langkahnya dengan Debo. Dia sedikit mendongakan kepalanya ketika berbicara
dengan Debo karena tubuh Debo lebih tinggi darinya.
“ya udah sana pulang sendiri”
“ya udah fine! Gue pulang sendiri” Sivia
langsung menghentakkan kaki nya dan jalan lebih cepat meninggalkan Debo. Dalam
hati dia sendiri bingung ingin pulang dengan apa.
Debo tak percaya karena tadi dia hanya berniat
mengancam Sivia, tidak bersungguh-sungguh. Langsung dia berjalan cepat menyusul
Sivia yang tidak jauh didepannya dan menarik tangan Sivia sehingga tubuh Sivia
berbalik menghadapnya.
“lo mau pulang sama apa hah?”
“sama.. sam..sama…”
“tuh kan jangan sok deh lo. mau sama apa?
angkot? Bis? Lo mau dikeroyok fans-fans lo? apa itu? Blink..Blink..”
“BLINKSTAR”
“nah iya itu. emang lo mau dikeroyok sama
blinkstar lo itu? mau lo dimintain tanda tangan diatas angkot? Mau lo dimintain
foto bareng diatas bis? Ngga elite banget sih lo jadi artis. Cissh” remeh Debo.
“biarin. Gue kan artis yang ngga sombong. Emang
nya elo, sombong banget jadi artis” remeh Sivia balik.
“ya udah terserah lo. emang lo tau jalan
pulang?”
“tau lah. Masa ke rumah sendiri ngga tau?”
‘bener juga’ batin Debo. Dia berpikir lebih
keras lagi untuk menahan Sivia agar mau menemaninya makan di kantin.
“pake apaan lo pulang?”
“bis aja”
“emang lo tau naik bis apaan kerumah lo?”
SKAKMAT!
Sivia terdiam. Dia tidak tahu naik bis apa ke
rumah nya. bego! kenapa ngga mikir dari tadi sih Via?! Batinnya merutuki diri
sendiri.
“ngga tau kan lo? songong sih. buruan temenin
gue dulu” Debo langsung menarik tangan Sivia dan menggenggam erat jemari Sivia
yang diselipkan dijarinya. Dia tersenyum senang.
Sivia kaget ketika tahu tangannya digenggam
Debo. Niat untuk protesnya pun diurungkan karena dia berpikir bahwa Debo hanya
acting untuk meyakinkan orang-orang bahwa mereka benar berpacaran. Terlebih dia
merasa nyaman digenggam oleh Debo. Dia pun balas menggenggam tangan Debo.
Senyum Debo semakin mengambang ketika tahu Sivia balas menggenggam nya.
Kejadian 30 menit yang lalu terbayang kembali
dibenak Sivia. Seulas senyum terukir dibibirnya mengingat bagaimana Debo
menggenggam lembut tangannya tadi. Dia berharap bahwa semua ini akan jadi
nyata.
Sivia tersadar dari lamunan nya. teringat
karena dia ingin segera cepat pulang.
“udahan belom makan nya? lama amat” kesal
Sivia. Sudah hampir 30 menit mereka di kantin, tapi Debo masih belum
selesai-selesai menghabiskan semangkok bakso.
“buru amat neng” jawab Debo santai setelah
memasukan sesuap bakso kemulutnya dan beralih kembali memainkan handphonenya.
Sivia kesal karena sedari tadi Debo sibuk memainkan handphonenya ketimbang
menghabiskan bakso nya.
“lo ngga makan?” tanya Debo kembali menyuap
baksonya.
“ngga. Udah kenyang gue liat lo makan begitu
lelet nya”
“ya udah kalo mau cepet, suapin gue gih. Gue
sibuk balesin mention fans nih. Numpuk banget” jawab Debo santai masih
memainkan handphonenya.
“mau banget?” tanya Sivia dengan nada sinisnya.
Debo mengangguk.
“males”
“ya udah kalo lo mau pulang lama. Gue masih
betah berlama-lama tuh disini” ancam Debo.
Sivia berpikir sebentar ‘kalo gue ngga nyuapin
nih anak, bisa-bisa gue ngga jadi nonton Drama dong? Ah pasrah pasrah’ batin
Sivia.
“ya udah kalo gitu gue suapin” ujar Sivia
dengan nada pasrahnya. Dia mengambil alih bakso, mangkok dan sendok nya. Sivia
duduk dihadapan Debo. Debo tersenyum senang. Lagi-lagi dia bisa menang lawan
Sivia.
*
Akhirnya bakso Debo habis juga berkat Sivia
yang menyuapi. Kini mereka sudah diparkiran untuk segera pulang.
“mobil lo dimana?” tanya Sivia.
“mobil? Gue ngga bawa mobil” jawab Debo santai.
“lah trus? Kita pulang sama apa dong?” tanya
Sivia heran.
“nih” tunjuk Debo ke Cagiva merah yang
bertengger disamping mereka berdiri kini. Sivia menatap motor itu tak percaya
dan meneguk ludah.
“kenapa? Lo takut bau matahari atau rambut lo
rusak gara-gaa naik motor? Ck.. dasar cewek manja”
“bukan gitu. Tapi.. tap.. tapi… seumur hidup
gue ngga pernah naik motor. Gue ta..kut..” jawab Sivia polos dengan suara
pelannya.
Hah? Debo menganga.
“hahahahaha gegayaan aja lo sok-sokan berani
ngelawan redbag. Eh tau nya takut naik motor hahaha” tawa Debo pecah begitu
tahu Sivia takut naik motor. Sivia manyun.
“udah.. aman kok kalo boncengan sama gue” Debo
meyakinkan Sivia. Kini Debo mulai menaiki motornya dan menstarter. Sivia masih
belum naik ke boncengan.
“tunggu apa lagi? katanya lo mau pulang” kesal
Debo karena Sivia tak kunjung baik juga.
“tapi jangan ngebut” ujar Sivia manja. Jujur,
ini pertama kalinya bagi Sivia naik motor.
“iya” akhirnya Sivia pun naik ke boncengan
Debo.
“pegangan” suruh Debo. Sivia menuruti saja tapi
dia berpegang pada jaket Debo.
“ck.. bukan disana” lalu Debo meraih tangan
Sivia dan melingkarkan tangan Sivia di perutnya sehingga Sivia memeluk
tubuhnya. Sivia tersentak karena ini juga pertama kalinya bagi dirinya memeluk
cowok selain papa nya.
“gue ngga mau masuk infotainment gara-gara ada
kabar bahwa gue udah celakain pacar sendiri dan itu salah satu personil blink
yang paling bawel” alasan Debo.
“udah deh buruan jalan. Bawel teriak bawel”
gerutu Sivia. Akhirnya pun Debo menjalankan motornya meninggalkan parkiran
sekolah menuju rumah Sivia.
Lain halnya dengan Rio dan Ify yang sedari tadi
tak henti-hentinya berdebat. Kini mereka sudah berada di rumah Ify. awalnya Ify
tidak menawarkan Rio untuk mampir, tapi karena mama Ify melihat Rio
mengantarkan putrinya, jadilah mama Ify yang menawarkan Rio untuk makan siang
di rumah Ify terlebih dahulu.
“jangan ngomong yang macem-macem lo ya ke
nyokap gue” ancam Ify kepada Rio. Mereka kini sedang duduk berdua diruang tamu.
Pembantu Ify masih menyiapkan makanannya.
“ngga penting juga” sahut Rio santai.
“satu lagi, jangan sampe nyokap tau kalo kita
pacaran” Rio menatap Ify bingung seakan bertanya ‘sejak kapan kita pacaran?’
“oke oke.. gue ralat. Pacaran kontrak. Puas?!”
Ify meralat kata-katanya tadi. Rio mengangguk-angguk saja.
“IFY… AJAK RIO KESINI.. MAKANAN UDAH SIAP NIH.
MASA PACAR SENDIRI CUMA DIAJAK SAMPE
RUANG TAMU SIH?” teriakan mama Ify begitu menggelegar. Bukan suaranya, tapi
kata-kata mama membuat Ify kaget ‘dari mana nih mama tau?’
“I.. IYA MA IYA..”
“sayangnya, tanpa gue yang bilang, nyokap lo
udah tau duluan tuh” ledek Rio dan langsung berdiri dari duduknya meninggalkan
Ify, dia menuju keruang makan.
*
Selama mereka makan, Ify hanya diam dan
memanyunkan bibir karena kesal mengapa mama nya mengajak Rio untuk makan siang
dulu. Sedari tadi pun hanya Mama Ify dan Rio saja yang banyak berbicara. Mulai
dari hal penting seperti kerjaan Rio hingga ke hal yang tidak penting.
Sepertinya Rio sangat mudah akrab dengan Mama Ify.
“oh iya nak Rio, tante penasaran nih. Gimana
sih ceritanya kok kalian bisa pacaran? Padahal Ify sering cerita ke tante kalo
dia itu kesel banget sama kamu” tanya mama Ify ceplas-ceplos tanpa memikirkan
bagaimana perasaan orang yang ditanyanya.
Ify kaget kenapa mama nya tiba-tiba menanyakan
hal ini. Ify memang tidak menceritakan perihal kontrak kerjanya dengan Rio.
Entah kenapa. Rio pun serasa menohok dihatinya begitu mendengar penuturan Mama
Ify bahwa Ify sangat kesal kepadanya.
“jadi Ify beneran benci sama gue?” batin Rio
bertanya lirih.
“ngg.. itu ma.. itu ngga usah dibahas aja ya.
Malu diomonginnya disini. Oh iya sayang, katanya kamu hari ini ada latihan ya
sama anak-anak buat manggung nanti malem? Ya udah gih berangkat sekarang aja
ntar ngga enak kalo telat” Ify berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau
mama nya bertanya lebih jauh lagi tentang hubungannya dengan Rio.
Rio terlihat bingung dengan maksud Ify. Ify
mengedipkan sebelah matanya memberi kode. Rio pun mengerti maksud Ify.
“ah iya sayang aku sampe lupa karena keasikan
ngobrol sama mama kamu hehe ya udah tante saya pamit dulu ada janji sama
anak-anak” pamit Rio sopan sambil berdiri dari duduknya.
“yaah.. padahal tante masih banyak yang pengen
diomongin sama kamu. Tapi ya udah deh gapapa. Besok-besok sering mampir ya
temenin tante ngobrol” mama Ify pun juga ikut bangun dari duduknya begitu juga
dengan Ify.
“selagi anak tante ngizinin sih saya mau-mau
aja tante hehe” Rio melirik ke Ify. Ify bingung maksud Rio barusan.
“loh? Ify kan pacar kamu ya pasti dia ngizinin
dong. Iya kan Fy?” tanya mama Ify kini beralih kepada Ify.
“hah? Ng.. i.. iya ma he.. he” jawab Ify asal.
“ya udah Yo aku anterin ke depan yuk” Ify
langsung menarik Rio untuk beranjak dari meja makan.
“buruan pulang sana. Ntar nyokap keburu nanya
yang engga-engga ke elo” usir Ify kepada Rio begitu mereka sampai didepan rumah
Ify.
“sabar sayang.. ini aku mau pulang kok” goda
Rio dengan genitnya kepada Ify.
“jangan panggil-panggil gue ‘sayang’! Buruan
pulang!”
“curang. Tadi aja lo manggil gue ‘sayang’ dua
kali tuh depan nyokap lo”
“kan itu depan nyokap gue. oh iya satu lagi,
jangan pernah lo bilang sama nyokap gue kalo kita pacarannya karena kontrak
kerja. Gue ngga mau nyokap kecewa”
“kecewa? Kenapa?”
“soalnya… gue
belom pernah pacaran. Makanya nyokap seneng banget pas tau gue pacaran sama
lo” suara Ify terdengar ragu-ragu sewaktu mengatakan bahwa dia belum pernah
pacaran.
Rio manggut-manggut. Ingin ketawa, tapi dia
tahan “jadi.. kalo gue beneran jadi pacar lo.. gue pacar pertama lo dong?”
tanya Rio sambil menaik-turunkan alisnya. Rio juga mendekatkan wajahnya hingga
dekat dengan wajah Ify. Ify jadi malu sendiri.
“ya… ng.. kan lo Cuma pacar kontrak gue bukan
beneran. Udah sana pulang”
“iya iya. Besok gue jemput lagi. setengah 7
udah harus siap awas lo ngaret”
“iya iya bawel”
Rio pun langsung meninggalkan rumah Ify segera
pulang.
Bersambung…
Hayoo loh udah part 20 loh ini hehe sesuai
janji, kalo part 20 bakalan lebih panjang dari part sebelumnya. Ini khusus part
20 panjang ceritanya dua kali lipat loh aku bikin. Dan.. sorry ngaret hehe
soalnya kemaren ini aku uas dan sekarang lagi libur makanya bisa lanjutin lagi.
Follow twitter/soundcloud/instagram/askfm/line aku ya @elviraeryos haha promosi
dikit :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar