Rabu, 25 Desember 2013

Sahabat Jadi Cinta *19




Sesekali Cakka melirik kea rah Sivia yang masih melahap es krim nya dengan semangat. Cakka menghentikan mobil nya dipinggir jalan. Padahal rumah Sivia masih jauh.

“loh kok berhenti?” tanya Sivia heran. Cakka menatap Sivia dalam-dalam. Dia mulai mengarah kan badannya kea rah Sivia. Wajah nya mulai mendekat ke wajah Sivia. Cemas. Ya, Sivia cemas dengan sikap Cakka sekarang.

“eh ngapain nih anak deket-deket?” batin Sivia cemas.

“eh eh.. ngapain lo deket-deket?” tanya Sivia cemas. Dia takut Cakka akan macam-macam dengannya.

“sstt diem dulu” Cakka semakin mendekati Sivia.

“eits.. eits.. jangan mac…” belum Sivia selesai berbicara, Sivia dibuat terpaku oleh Cakka. ternyata Cakka menyapu bersih bibir Sivia dengan jarinya. Ada sisa es krim disudut bibir Sivia.

“kalo makan tuh jangan kayak anak kecil. Cukup sifat lo aja kayak anak kecil” Cakka kembali menjauhkan tubuhnya setelah selesai membersihkan bibir Sivia.

*

Sore ini Gabriel berkunjung ke rumah Shilla. Sudah lama sepertinya dia tidak berkunjung kerumah Shilla untuk sekedar pergi main atau bertemu mama Shilla. Gabriel semakin akrab dengan Shilla setelah kejadian Shilla menjauhkan Gabriel itu.

“Shil jalan yuk” ajak Gabriel kepada Shilla yang sedang asik menonton tv.

“kemana?” tanya Shilla yang sibuk menggonta-ganti channel.

“kemana kek. Bosen nih gue”

“ah males ah. Ntar kayak dulu lagi, lo ajak gue pergi eh ngga tau nya malah muter-muter di toko buku doang”

“janji deh kali ini engga kayak gitu lagi”

“beneran loh ya?”

“iya iya”

“traktir gue tapi”

“kapan sih gue pergi sama elo, elo nya bayar sendiri atau yang ngebayarin gue? yang ada gue selalu bayarin lo kali”
“hehehe iya ya? Ya udah gue ganti baju dulu”

“buraann. Ngga pake lama”

“IYAAA” teriak Shilla yang kini sudah berjalan agak jauh dari ruang tamu nya.

*

“sayang..” rajuk Rio manja kepada Ify yang kini duduk disampingnya. mereka berdua kni sedang duduk-duduk ditaman komplek dekat rumah Ify. semenjak mereka berpacaran, sifat Rio berubah. Dia bukan Rio yang dulu lagi. kini Rio lebih manja. Tapi dia hanya manja kepada Ify seorang.

“apa?” tanya Ify. dia asik melihat anak-anak kecil yang sedang bermain dengan anak-anak seumuran mereka.

“jalan yuk” ajak Rio dengan nada yang semakin manja. Dia semakin menggelayutkan tangan kanan nya ke tangan kiri Ify. dengan senang hatipun Ify membiarkan saja Rio bergelayut ditangannya dan bersikap manja kepadanya.

“emang sekarang kita belum jalan ya?”

“belum. Ini kan masih sekitar rumah kamu. Maksud aku tuh jalan ke mall gitu. Gimana? Mau ngga? Mau dong mau yayayaya”

“ya udah deh. Kalo aku bilang engga pun kamu pasti maksa. Ih dasar manja” Ify mencubiti hidung Rio gemas.

“asiik. Ya udah kita berangkat sekarang yuk ntar kemaleman lagi pulangnya” Rio dan Ify segera beranjak meninggalkan taman dan pergi menuju mall.

*

Gabriel dan Shilla sudah sampai di Mall. Mereka memilih untuk makan dulu karena sebelum ke Mall tadi mereka belum makan. Terlebih cacing-cacing diperut Shilla semakin mendemo untuk diberi makan.

Ketika mereka sedang bercanda-canda sembari menunggu pesanan datang, seorang gadis bertubuh tinggi, bergaya modis, dan cantik mendatangi meja Shilla dan Gabriel dengan wajah yang… entahlah.

“oh.. jadi ini alasan kamu selalu ngga mau kalo aku ajak jalan?! Iya?! Gara-gara cewe kayak gini kamu akhir-akhir ini menjauh dari aku?!” tuding gadis itu langsung ketika baru sampai di meja Shilla dan Gabriel. Shilla dan Gabriel yang benar-benar kaget akan kedatangan gadis itu menjadi gelagapan sendiri.

“kenapa pada diem? Ngga bisa jawab pertanyaan gue?” gadis itu semakin memojokan kedua orang dihadapannya sekarang ini. dua orang yang sedang gelagapan seperti tertangkap basah selingkuh. Apa benar mereka terlihat seperti seorang kekasih? Dan Shilla sebagai selingkuhan?

“sabar Ngel, aku bisa jelasin. Ini ngga seperti yang kamu kira” Gabriel berusaha memberi penjelasan kepada gadis itu yang ternyata adalah Angel, pacar dari Gabriel. Shilla yang sepertinya merasa bersalah hanya bisa menundukkan kepalanya.

“penjelasan apa lagi hah?! Ini semua udah lebih dari cukup, Iel! Dari dulu gue udah curiga sama lo berdua, terutama sama nih cewe kegatelan!.....” Angel menunjuk Shilla dengan tangan kanan nya. Shilla semakin menundukkan kepalanya. Takut bercampur malu karena pengunjung restoran dan Mall mulai berkumpul untuk melihat ada kejadian apa.

Ify dan Rio yang kebetulan juga mengunjungi Mall yang sama dengan Shilla-Gabriel kaget ketika tahu kedua sahabat merekalah yang sekarang menjadi tontonan para pengunjung.

“dia punya nama, Nge!” bela Gabriel dengan sedikit membentak Angel karena tak terima sahabatnya dari kecil dihina seperti itu.

“oh.. bagus ya. Jadi sekarang kamu udah berani ngebentak aku Iel? Sejak kapan? Hah? Jawab! Sejak kapan kamu berani ngebentak aku kayak barusan? semenjak cewe gatel ini ngegantiin posisi aku dihati kamu? Iya?!”

“Ngel, kita berdua bisa jelasin. Lo duduk dulu. Malu diliatin orang, Ngel. Kita bisa jelasin ini baik-baik kan?” Shilla mulai membuka suaranya.

“apa lo bilang? Malu? Lo malu karena orang-orang disini tau kalo lo udah ngerebut cowo gue? iya?! Hhh.. sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Lo inget itu! dan satu lagi… gue ngga bisa selesaiin masalah ini baik-baik. Jadi.. lo tunggu aja apa hadiah special gue buat lo nanti”

“Angel! Apa maksud lo ngancem Shilla kayak barusan, hah?! dia ngga salah, Ngel. Lo salah artiin kedekatan kita berdua! Kita Cuma sahabatan, ngga lebih. Lo sendiri juga tau kan kalo gue sama Shilla udah sahabatan dari kecil? Dulu lo fine-fine aja liat kedekatan gue sama Shilla. Tapi kenapa sekarang lo jadi gini sih?!” Gabriel sudah tak bisa menahan emosi nya lagi. dia seakan melupakan bahwa sekarang yang sedang dibentaknya itu masih berstatuskan ‘KEKASIH’ nya.

“SEMENJAK LO NGEHINDAR DARI GUE DEMI CEWE INI! LO PIKIR GUE NGGA TAU? DISAAT GUE AJAK LO JALAN, LO BILANG LO SELALU NGGA BISA. DAN DISAAT ITU JUGA GUE NGELIAT DENGAN MATA KEPALA GUE SENDIRI LO JALAN BERDUAAN SAMA DIA! GUE NGELIAT HAL SEMACAM ITU NGGA CUMA SEKALI! TAPI BERKALI-KALI! DAN KALI INI GUE UDAH MUAK NGELIAT KALIAN BERDUA SEMAKIN DEKAT!” Angel meluapkan semua emosinya. Semua unek-unek nya didepan umum. Dia tidak mempedulikan betapa malunya dirinya saat ini.

“kita PU-TUS” Angel menakankan kata-kata terakhirnya dan langsung pergi meninggalkan Gabriel dan Shilla beserta orang-orang disekitar sana. Gabriel terdiam mendengar ucapan terakhir Angel. Dia memang ingin berencana memutuskan Angel, tapi tidak dengan cara memalukan seperti ini. terlebih sahabatnya sendiri, Shilla harus malu dengan cara seperti ini didepan umum.

Angel sudah merencanakan semuanya dari dulu. Dan kini saatnya, semua akan dijalankannya. Rencana pertama sudah terlintas dibenak Angel ketika gadis ini melangkahkan kaki meninggalkan restoran. Dan tentu saja dia menjalan misi nya bukan hanya sendiri, tetapi ada seorang lagi yang akan bisa membantunya untuk menjalankan rencana nya dengan lancar.

Ify dan Rio yang menyaksikan semua ini hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kedua sahabatnya terlebih Shilla karena mereka takut Angel tidak main-main dengan ancaman nya tadi.

“Iel, Shil. Kalian yang sabar ya”

“Angel Cuma salah paham aja kok sama kalian”

Bersambung…

Ngaret abis sumpah demi apa ini ngaret banget aku posting SJC part 19 hahaha sorry guys soalnya kemaren-kemaren otakku ngga ada inspirasi buat ngelanjutin SJC part 19. Ini aja mendadak inspirasinya haha entahlah saya sendiri juga bingung dengan alur nya-_- maafkan saya jika ceritanya rada berbelit-belit. Ngerti ngga ngerti sama ceritanya, ngertiin aja deh ya karena ini bukan novel yang sempurna dengan adanya seorang editor huhu Follow twitter aku ya @elviraeryos kalo kalian mau cerbung fav nya aku kabarin setiap ada postingan baru, kalian cukup mention aja ke twitter aku. contoh: ‘@elviraeryos aku suka sama cerbung SJC nya, lanjutin ya’ begitulah intinya kalian mention ke aku hehe jadi nanti kalo aku ngeposting SJC part selanjutnya, nanti aku kabarin di dm. okey ;) dan kalo mau fast respon, kalian ask aja aku di askfm @elviraeryos juga. Soalnya aku sering online askfm dibanding twitter hehe twitter pun juga boleh kok

Rival In Love *20


Hapuslah cinta antara kita berdua

Tak sengaja Gabriel dan Shilla sama-sama serentak mengikuti Reffrain dari lagu Soulvibe-Biarlah (Hapuslah Cinta) yang tengah mangalun dalam mobil Gabriel. mereka berpandang sebentar lantas memberikan senyum termanis mereka. kembali mereka mengalihkan pandangan lurus kedepan dan melanjutkan lagi nyanyian mereka.

Karena
kau sudah ada yang punya
Biarlah diriku memendam rasa ini
Jauh dilubuk hatiku

“lo suka lagu ini juga?” tanya Gabriel mulai membuka suara karena selama perjalanan tadi tak ada yang berani membuka suara duluan. Hanya ditemani oleh mp3 player mobil Gabriel. Shilla menjawab pertanyaan Gabriel hanya dengan anggukan karena merasa canggung.

Setelah itu, tak ada yang membuka suara lagi. hening, diam. Sampai akhirnya mereka sampai dirumah Shilla.

“thanks. Gue masuk dulu” ujar Shilla dengan nada cuek nya. dia tidak ingin terlalu beramah-tamah dengan Gabriel yang notabene nya adalah salah satu personil redbag yang artinya Gabriel adalah musuhnya.

Baru Shilla ingin membuka handle pintu mobil Gabriel, tangan kanan Shilla ditahan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Gabriel. Shilla menoleh kearah Gabriel. mengangkat alisnya menanyakan ‘ada apa?’.

Gabriel yang mengerti maksud Shilla, langsung mengeluarkan handphone nya dan mengulurkannya kepada Shilla. Shilla heran, bingung. Dia mengernyitkan dahi nya.

“kenapa?” tanya Shilla heran.

“save nomer lo disini” pinta Gabriel dengan nada cueknya yang lebih tepat terdengar seperti perintah.

“buat?”

“lo lupa kalo kita terikat kontrak? Selama kontrak berjalan, gue harus anter-jemput lo. dan itu artinya pasti gue bakal ngabarin lo sewaktu-waktu. Jadi…”

“stop. Gue ngerti. Mana hp lo? siniin” pinta Shilla masih dengan nada yang tak ada lembut-lembut nya. Gabriel memberikan handphone nya kepada Shilla. Lalu mulai lah Shilla mengetikkan beberapa digit nomer handphonenya yang sudah dihafalnya diluar kepala. Setelah selesai men-save nomer handphonenya, Shilla memberikan kembali handphone Gabriel kepada empunya.

“nih udah gue save sekalian. Ya udah gue turun dulu. Thanks” Shilla langsung turun meninggalkan mobil Gabriel. tak ingin berlama-lama dimobil musuhnya ini.

Gabriel memandang handphone nya bergantian dengan punggung Shilla yang semakin lama semakin menghilang masuk ke dalam rumah. Seulas senyum tercipta dari sudut bibirnya. Entah senyum apa itu. yang jelas, senyum itu susah diartikan. Hanya dirinya sendiri yang tau apa arti dibalik senyum nya itu.

*

Ternyata sedari tadi Debo dan Sivia masih belum meninggalkan sekolah. Debo memaka Sivia untuk menemani nya makan di kantin terlebih dahulu. Awalnya Sivia menolak karena dia tidak mau terlalu lama bersama Debo. Bisa bisa perasaannya yang selama ini berusaha disangkal nya itu muncul kembali. Berkat bujukan yang lebih tepatnya ancaman Debo, Sivia pun menurut saja.

“kita ke kantin dulu” ujar Debo seraya melangkahkan kaki dari depan kelas mereka menuju kearah kantin tak mempedulikan Sivia.

“lah lah? Ngapain? ngga! Gue mau langsung pulang! Buruan anterin gue pulang!” protes Sivia yang kini mensejajarkan langkahnya dengan Debo. Dia sedikit mendongakan kepalanya ketika berbicara dengan Debo karena tubuh Debo lebih tinggi darinya.

“ya udah sana pulang sendiri”

“ya udah fine! Gue pulang sendiri” Sivia langsung menghentakkan kaki nya dan jalan lebih cepat meninggalkan Debo. Dalam hati dia sendiri bingung ingin pulang dengan apa.

Debo tak percaya karena tadi dia hanya berniat mengancam Sivia, tidak bersungguh-sungguh. Langsung dia berjalan cepat menyusul Sivia yang tidak jauh didepannya dan menarik tangan Sivia sehingga tubuh Sivia berbalik menghadapnya.

“lo mau pulang sama apa hah?”

“sama.. sam..sama…”

“tuh kan jangan sok deh lo. mau sama apa? angkot? Bis? Lo mau dikeroyok fans-fans lo? apa itu? Blink..Blink..”

“BLINKSTAR”

“nah iya itu. emang lo mau dikeroyok sama blinkstar lo itu? mau lo dimintain tanda tangan diatas angkot? Mau lo dimintain foto bareng diatas bis? Ngga elite banget sih lo jadi artis. Cissh” remeh Debo.

“biarin. Gue kan artis yang ngga sombong. Emang nya elo, sombong banget jadi artis” remeh Sivia balik.

“ya udah terserah lo. emang lo tau jalan pulang?”

“tau lah. Masa ke rumah sendiri ngga tau?”

‘bener juga’ batin Debo. Dia berpikir lebih keras lagi untuk menahan Sivia agar mau menemaninya makan di kantin.

“pake apaan lo pulang?”

“bis aja”

“emang lo tau naik bis apaan kerumah lo?”

SKAKMAT!

Sivia terdiam. Dia tidak tahu naik bis apa ke rumah nya. bego! kenapa ngga mikir dari tadi sih Via?! Batinnya merutuki diri sendiri.

“ngga tau kan lo? songong sih. buruan temenin gue dulu” Debo langsung menarik tangan Sivia dan menggenggam erat jemari Sivia yang diselipkan dijarinya. Dia tersenyum senang.

Sivia kaget ketika tahu tangannya digenggam Debo. Niat untuk protesnya pun diurungkan karena dia berpikir bahwa Debo hanya acting untuk meyakinkan orang-orang bahwa mereka benar berpacaran. Terlebih dia merasa nyaman digenggam oleh Debo. Dia pun balas menggenggam tangan Debo. Senyum Debo semakin mengambang ketika tahu Sivia balas menggenggam nya.

Kejadian 30 menit yang lalu terbayang kembali dibenak Sivia. Seulas senyum terukir dibibirnya mengingat bagaimana Debo menggenggam lembut tangannya tadi. Dia berharap bahwa semua ini akan jadi nyata.

Sivia tersadar dari lamunan nya. teringat karena dia ingin segera cepat pulang.

“udahan belom makan nya? lama amat” kesal Sivia. Sudah hampir 30 menit mereka di kantin, tapi Debo masih belum selesai-selesai menghabiskan semangkok bakso.

“buru amat neng” jawab Debo santai setelah memasukan sesuap bakso kemulutnya dan beralih kembali memainkan handphonenya. Sivia kesal karena sedari tadi Debo sibuk memainkan handphonenya ketimbang menghabiskan bakso nya.

“lo ngga makan?” tanya Debo kembali menyuap baksonya.

“ngga. Udah kenyang gue liat lo makan begitu lelet nya”

“ya udah kalo mau cepet, suapin gue gih. Gue sibuk balesin mention fans nih. Numpuk banget” jawab Debo santai masih memainkan handphonenya.

“mau banget?” tanya Sivia dengan nada sinisnya. Debo mengangguk.

“males”

“ya udah kalo lo mau pulang lama. Gue masih betah berlama-lama tuh disini” ancam Debo.

Sivia berpikir sebentar ‘kalo gue ngga nyuapin nih anak, bisa-bisa gue ngga jadi nonton Drama dong? Ah pasrah pasrah’ batin Sivia.

“ya udah kalo gitu gue suapin” ujar Sivia dengan nada pasrahnya. Dia mengambil alih bakso, mangkok dan sendok nya. Sivia duduk dihadapan Debo. Debo tersenyum senang. Lagi-lagi dia bisa menang lawan Sivia.

*

Akhirnya bakso Debo habis juga berkat Sivia yang menyuapi. Kini mereka sudah diparkiran untuk segera pulang.

“mobil lo dimana?” tanya Sivia.

“mobil? Gue ngga bawa mobil” jawab Debo santai.

“lah trus? Kita pulang sama apa dong?” tanya Sivia heran.

“nih” tunjuk Debo ke Cagiva merah yang bertengger disamping mereka berdiri kini. Sivia menatap motor itu tak percaya dan meneguk ludah.

“kenapa? Lo takut bau matahari atau rambut lo rusak gara-gaa naik motor? Ck.. dasar cewek manja”

“bukan gitu. Tapi.. tap.. tapi… seumur hidup gue ngga pernah naik motor. Gue ta..kut..” jawab Sivia polos dengan suara pelannya.

Hah? Debo menganga.

“hahahahaha gegayaan aja lo sok-sokan berani ngelawan redbag. Eh tau nya takut naik motor hahaha” tawa Debo pecah begitu tahu Sivia takut naik motor. Sivia manyun.

“udah.. aman kok kalo boncengan sama gue” Debo meyakinkan Sivia. Kini Debo mulai menaiki motornya dan menstarter. Sivia masih belum naik ke boncengan.

“tunggu apa lagi? katanya lo mau pulang” kesal Debo karena Sivia tak kunjung baik juga.

“tapi jangan ngebut” ujar Sivia manja. Jujur, ini pertama kalinya bagi Sivia naik motor.

“iya” akhirnya Sivia pun naik ke boncengan Debo.

“pegangan” suruh Debo. Sivia menuruti saja tapi dia berpegang pada jaket Debo.

“ck.. bukan disana” lalu Debo meraih tangan Sivia dan melingkarkan tangan Sivia di perutnya sehingga Sivia memeluk tubuhnya. Sivia tersentak karena ini juga pertama kalinya bagi dirinya memeluk cowok selain papa nya.

“gue ngga mau masuk infotainment gara-gara ada kabar bahwa gue udah celakain pacar sendiri dan itu salah satu personil blink yang paling bawel” alasan Debo.

“udah deh buruan jalan. Bawel teriak bawel” gerutu Sivia. Akhirnya pun Debo menjalankan motornya meninggalkan parkiran sekolah menuju rumah Sivia.

Lain halnya dengan Rio dan Ify yang sedari tadi tak henti-hentinya berdebat. Kini mereka sudah berada di rumah Ify. awalnya Ify tidak menawarkan Rio untuk mampir, tapi karena mama Ify melihat Rio mengantarkan putrinya, jadilah mama Ify yang menawarkan Rio untuk makan siang di rumah Ify terlebih dahulu.

“jangan ngomong yang macem-macem lo ya ke nyokap gue” ancam Ify kepada Rio. Mereka kini sedang duduk berdua diruang tamu. Pembantu Ify masih menyiapkan makanannya.

“ngga penting juga” sahut Rio santai.

“satu lagi, jangan sampe nyokap tau kalo kita pacaran” Rio menatap Ify bingung seakan bertanya ‘sejak kapan kita pacaran?’

“oke oke.. gue ralat. Pacaran kontrak. Puas?!” Ify meralat kata-katanya tadi. Rio mengangguk-angguk saja.

“IFY… AJAK RIO KESINI.. MAKANAN UDAH SIAP NIH. MASA PACAR SENDIRI CUMA DIAJAK SAMPE RUANG TAMU SIH?” teriakan mama Ify begitu menggelegar. Bukan suaranya, tapi kata-kata mama membuat Ify kaget ‘dari mana nih mama tau?’

“I.. IYA MA IYA..”

“sayangnya, tanpa gue yang bilang, nyokap lo udah tau duluan tuh” ledek Rio dan langsung berdiri dari duduknya meninggalkan Ify, dia menuju keruang makan.

*

Selama mereka makan, Ify hanya diam dan memanyunkan bibir karena kesal mengapa mama nya mengajak Rio untuk makan siang dulu. Sedari tadi pun hanya Mama Ify dan Rio saja yang banyak berbicara. Mulai dari hal penting seperti kerjaan Rio hingga ke hal yang tidak penting. Sepertinya Rio sangat mudah akrab dengan Mama Ify.

“oh iya nak Rio, tante penasaran nih. Gimana sih ceritanya kok kalian bisa pacaran? Padahal Ify sering cerita ke tante kalo dia itu kesel banget sama kamu” tanya mama Ify ceplas-ceplos tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang yang ditanyanya.

Ify kaget kenapa mama nya tiba-tiba menanyakan hal ini. Ify memang tidak menceritakan perihal kontrak kerjanya dengan Rio. Entah kenapa. Rio pun serasa menohok dihatinya begitu mendengar penuturan Mama Ify bahwa Ify sangat kesal kepadanya.

“jadi Ify beneran benci sama gue?” batin Rio bertanya lirih.

“ngg.. itu ma.. itu ngga usah dibahas aja ya. Malu diomonginnya disini. Oh iya sayang, katanya kamu hari ini ada latihan ya sama anak-anak buat manggung nanti malem? Ya udah gih berangkat sekarang aja ntar ngga enak kalo telat” Ify berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau mama nya bertanya lebih jauh lagi tentang hubungannya dengan Rio.

Rio terlihat bingung dengan maksud Ify. Ify mengedipkan sebelah matanya memberi kode. Rio pun mengerti maksud Ify.

“ah iya sayang aku sampe lupa karena keasikan ngobrol sama mama kamu hehe ya udah tante saya pamit dulu ada janji sama anak-anak” pamit Rio sopan sambil berdiri dari duduknya.

“yaah.. padahal tante masih banyak yang pengen diomongin sama kamu. Tapi ya udah deh gapapa. Besok-besok sering mampir ya temenin tante ngobrol” mama Ify pun juga ikut bangun dari duduknya begitu juga dengan Ify.

“selagi anak tante ngizinin sih saya mau-mau aja tante hehe” Rio melirik ke Ify. Ify bingung maksud Rio barusan.

“loh? Ify kan pacar kamu ya pasti dia ngizinin dong. Iya kan Fy?” tanya mama Ify kini beralih kepada Ify.

“hah? Ng.. i.. iya ma he.. he” jawab Ify asal.

“ya udah Yo aku anterin ke depan yuk” Ify langsung menarik Rio untuk beranjak dari meja makan.

“buruan pulang sana. Ntar nyokap keburu nanya yang engga-engga ke elo” usir Ify kepada Rio begitu mereka sampai didepan rumah Ify.

“sabar sayang.. ini aku mau pulang kok” goda Rio dengan genitnya kepada Ify.

“jangan panggil-panggil gue ‘sayang’! Buruan pulang!”

“curang. Tadi aja lo manggil gue ‘sayang’ dua kali tuh depan nyokap lo”

“kan itu depan nyokap gue. oh iya satu lagi, jangan pernah lo bilang sama nyokap gue kalo kita pacarannya karena kontrak kerja. Gue ngga mau nyokap kecewa”

“kecewa? Kenapa?”

“soalnya… gue belom pernah pacaran. Makanya nyokap seneng banget pas tau gue pacaran sama lo” suara Ify terdengar ragu-ragu sewaktu mengatakan bahwa dia belum pernah pacaran.

Rio manggut-manggut. Ingin ketawa, tapi dia tahan “jadi.. kalo gue beneran jadi pacar lo.. gue pacar pertama lo dong?” tanya Rio sambil menaik-turunkan alisnya. Rio juga mendekatkan wajahnya hingga dekat dengan wajah Ify. Ify jadi malu sendiri.

“ya… ng.. kan lo Cuma pacar kontrak gue bukan beneran. Udah sana pulang”

“iya iya. Besok gue jemput lagi. setengah 7 udah harus siap awas lo ngaret”

“iya iya bawel”

Rio pun langsung meninggalkan rumah Ify segera pulang.

Bersambung…

Hayoo loh udah part 20 loh ini hehe sesuai janji, kalo part 20 bakalan lebih panjang dari part sebelumnya. Ini khusus part 20 panjang ceritanya dua kali lipat loh aku bikin. Dan.. sorry ngaret hehe soalnya kemaren ini aku uas dan sekarang lagi libur makanya bisa lanjutin lagi. Follow twitter/soundcloud/instagram/askfm/line aku ya @elviraeryos haha promosi dikit :p

You Are My Dream *17


 “Yo, lo kenapa? Lo pusing lagi? mau gue bawa ke U…” belum selesai Ify menyelesaikan perkataannya, Rio sudah berdiri dan sedikit menggebrak meja dan berucap “gue duluan” dengan suara, nada, serta intonasi yang sangat amat dingin. Ify semakin bingung dibuatnya.

“dia kenapa?” tanya Ify kepada semua teman-temannya berharap aka nada yang menjawab. Namun nihil, yang ditanya hanya mengangkat bahu menandakan mereka tidak tahu.

‘Rio kenapa sih?’ batin Ify heran dan bertanya-tanya sendiri.

“lo susul Rio gih. Mana tau tuh anak lagi sakit” ujar Gabriel memberi usul.

“iya. Sakit ha-ti” ujar Sivia pelan namun penuh penekanan menyindir Ify. niatnya sih becanda bukan apa-apa.

“sakit apa Vi? Rio sakit? Sakit apa?” tanya Ify bingung.

“hah? Ng..  ngga kok gapapa. Lo susul aja sana” Ify pun pergi menyusul Rio dengan wajah bingungnya.

*

Akhirnya Ify menemukan Rio yang sedang duduk menyendiri di taman belakang sekolah. Dengan langkah ragu tapi pasti, Ify mendekati Rio dan duduk disamping Rio.

“hey” sapa Ify.

Rio tahu bahwa Ify sudah duduk manis disampingnya dan menyapanya dengan senyum manis Ify. tapi entah kenapa dia merasa kesal dengan penggemar-penggemar cowo Ify tadi. Terlebih ketika mendengar pujian cowo-cowo itu untuk Ify.

“hmm” Rio hanya menjawab dengan deheman saja.

“lo marah?”

“ngga”

“trus lo kenapa jadi dingin gini ke gue?”

“ngga ada. Gue lagi kedinginan aja” jawab Rio asal. Ify terlihat kebingungan dengan jawaban Rio. Ify mendongakan wajahnya keatas langit melihat cuaca. ‘cuaca panas terik gini kok dia nya kedinginan?’ bingung Ify.

“lo sakit?” tanya Ify lagi.

“hmm”

“sakit apa?”

“hati”

Ify yang ngga ngerti dengan sindiran Rio tadi malah menampakan wajah khawatir nya “yaampun Yo… kalo lo sakit, kenapa malah sekolah sih? seharusnya lo istirahat aja di rumah. Sakit hati itu parah banget Yo…” belum selesai Ify berbicara, Rio sudah berdiri duluan dan pergi meninggalkan Ify. ify semakin bingung dengan sikap aneh Rio hari ini.

“tadi pingsan, trus pergi gitu aja dari kantin, nah sekarang jutek plus malah ninggalin gue lagi. kenapa sih tuh anak?! Pms?” lama-lama Ify kesal juga dengan sikap neh Rio hari ini.

*

Jam pulang sekolah sudah berbunyi. Selama pelajaran berlangsung tadi, pikiran Ify tidak konsen memperhatikan guru. Tetapi dia malah kepikiran dengan sikap aneh Rio hari ini kepadanya. Selama pelajaran pun Ify tidak menghiraukan Rio yang berbicara kepadanya *inget kan kalo Rio Ify sekarang duduk sebangku?*.

Ify kini sedang membereskan buku-bukunya dengan cepat kedalam tas. Dia ingin segera pulang karena merasa badmood.

“Fy pulang bareng yuk” ajak Rio. Ify diam saja masih terus membereskan bukunya. Shilla dan Gabriel yang duduk dibelakang Rio-Ify saja mendengar ucapan Rio. Rio heran kenapa malah berbalik jadi Ify yang jutekin dia? Shilla-Gabriel juga heran dengan sikap jutek Ify kepada Rio setelah jam istirahat tadi.

“pulang bareng yuk Fy” ajak Rio lagi. Ify masih diam. Kini Cakka, Alvin, Sivia dan Agni juga ikutan bingung. Tak biasanya dua anak ini seperti ini.

“Fy lo pulang sama siapa?” tanya Shilla. Mencoba membantu Rio.

“sama PACAR gue shil. Duluan ya” jawab Ify dengan menakankan ucapannya pada kata ’pacar’. Rio melebarkan matanya ketika mendengar Ify memiliki pacar.

“pa..car?” lirih Rio.

“guys gue duluan ya” Ify langsung berlari duluan keluar kelas. semuanya pun juga terdiam ketika mendengar Ify pulang bersama pacarnya. ‘pacar? Sejak kapan lo punya pacar Fy?’ batin Shilla, Sivia dan Agni.

“Ify punya pa…car?” tanya Rio lirih kepada Shilla, Sivia dan Agni untuk memastikan.

“mungkin sih kan dia sekarang punya banyak fans” jawab Sivia polos gtanpa dosanya . Shilla dan Agni menatap Sivia kesal. Bukannya menenangkan Rio tetapi malah semakin memanas-manasi Rio. Sivia langsung menutup mulutnya ketika melihat kedua sahabatnya menatapnya dengan tatapan membunuh.

“setau gue Ify ngga punya pacar Yo. Ya.. bisa aja dia dijemput sama bokap nya. positif thinking dulu laah” bujuk Shilla.

“bokap nya? jadi maksud lo Ify pacaran sama bokap nya gitu?” tanya Rio heran. Shilla semakin bingung mencari-cari alasan untuk menenangkan Rio. Dia sendiri memukul-mukul kepalanya akibat alasan begonya itu. Gabriel yang berdiri disamping Shilla hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah bodoh Shilla itu.

“ng.. ma.. maksud gue.. Ify kan deket banget tuh sama bokap nya, nah trus dia pernah bilang tuh ke gue, Sivia sama Agni kalo dia sering nyebut bokapnya itu boyfriend nya gitu pacarnya. Iya gitu maksud gue.. be.. bener kan Vi, Ag?” Shilla mengedipkan matanya memberi kode kepada Sivia dan Agni. Yang dikode hanya menganggukan kepala.

“gue harap alasan ngga logis lo itu terkabul Shil” Rio langsung pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya beserta Shilla, Agni dan Sivia dikelas.

“bego bego bego bego” Shilla semakin merutuki dirinya sendiri.

“udah lah, jangan dipikirin. Mereka berdua kan udah aling dewasa, biarin mereka sendiri yang selesaiin masalahnya” hibur Gabriel. Shilla mengangguk saja.

“ya udah sekarang mending kita pulang yuk” ajak Agni.

“bareng gue yuk Ag” ajak Cakka. tak pernah menyerah Cakka untuk mendekati Agni ternyata. Agni berpikir sebentar. Kebetulan dia tidak membawa mobil hari ini. tak ada salahnya juga menerima ajakan Cakka sekali-kali.

“boleh deh” Agni langsung berjalan duluan. Cakka menganga tak percaya Agni mau menerima ajakannya kali ini.

“gue ngga mimpikan kan Iel? Vin? gue ngga mimpikan? Agni mau pulang bareng gue? “ Cakka sudah seperti orang bodoh.

“iya iya lo ngga mimpi kali ini. udah buruan sana susul Agni. Ngga mau kan dia batalin pulang bareng sama lo?” ujar Alvin.

“CAKKAAAA BURUAAAN” teriak Agni dari luar kelas.

“noh si Agni udah ngamuk. Buruan sono”

“IYAA AGGG” Cakka langsung berlari keluar kelas menghampiri Agni. Shilla, Sivia, Alvin dan Gabriel geleng-geleng kepala saja melihat dua anak itu.

Bersambung…